NovelToon NovelToon
Cinta 'Terkontrak'

Cinta 'Terkontrak'

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Romansa / Slice of Life / Chicklit
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Luckygurl_

Senja Maharani, seorang sekretaris muda yang cerdas, ceroboh, dan penuh warna, di bawah asuhan Sadewa Pangestu, seorang CEO yang dingin dan nyaris tak berperasaan. Hubungan kerja mereka dipenuhi dinamika unik: Maha yang selalu merasa kesal dengan sikap Sadewa yang suka menjahili, dan Sadewa yang diam-diam menikmati melihat Maha kesal.

Di balik sifat dinginnya, Sadewa ternyata memiliki sisi lain—seorang pria yang diam-diam terpesona oleh kecerdasan dan keberanian Maha. Meski ia sering menunjukkan ketidakpedulian, Sadewa sebenarnya menjadikan Maha sebagai pusat hiburannya di tengah kesibukan dunia bisnis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luckygurl_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perhatian kecil.

Siang itu, di ruang kerja Sadewa yang sejuk oleh hembusan AC, suasana terasa sunyi dan serius. Sadewa duduk di meja kerjanya, matanya terpaku pada layar komputer, hari-hari sibuk menari diatas keyboard. Fokusnya tak terganggu, seolah dunia luar lenyap saat ia tenggelam dalam pekerjaannya.

Disudut lain ruangan, Maha duduk di sofa yang nyaman dengan laptop di pangkuannya. Disampingnya, tumpukan berkas menunggu untuk diperiksa. Sudah lebih dari dua jam ia membantu Sadewa menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk.

Meskipun Sadewa telah mengikrarkan bahwa Maha adalah sosok istimewa di hatinya, di ruang kerja ini, perasaan dan pekerjaan adalah dua hal yang tidak saling bersinggungan.

Maha menghela nafas pelan, matanya sesekali melirik kearah Sadewa yang masih sibuk. Perutnya mulai berbunyi, tanda lapar yang tidak bisa diabaikan. Dengan lembut, ia mengusap perutnya mencoba menenangkan rasa lapar yang kian mengganggu.

Lapar… gumam Maha dalam hati. Ia berharap Sadewa akan segera menyadari kehadirannya yang diam-diam mulai gelisah.

Maha menahan diri, tidak berani mengucap sepatah katapun untuk meminta izin meski waktu istirahat sudah lewat lebih dari satu jam. Pesan-pesan singkat dari Niken yang masuk ke ponselnya pun ia abaikan begitu saja. Maha hanya ingin menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin dan keluar dari ruangan yang terasa begitu mencekam baginya.

Sesekali, ia mengangkat wajahnya untuk menatap Sadewa yang duduk sambil dagu bertumpu di tangannya, matanya tetap fokus menatap layar komputer di depannya. Sorot mata Sadewa dingin dan serius, seolah tidak ada hal lain yang penting selain pekerjaannya.

Kalau ingat semalam, rasanya mustahil kalau itu Sadewa. Tapi, kenapa sekarang dia seolah-olah tidak terjadi apa-apa? pikir Maha.

Pikiran Maha mulai berkelana, saat mengingat kejadian semalam yang masih membekas dibenaknya yang membuatnya bingung tidak bisa menyembunyikan rasa gelisah yang melanda.

Selepas kejadian semalam, saat mereka berbagi ranjang, Maha tidak bisa menepis rasa malu dan gugup yang terus menghantui pikirannya. Baginya, hanya dirinya yang merasa canggung setelah semua yang terjadi. Namun Sadewa? Pria itu seolah-olah sama sekali tidak mengingat bagaimana sikap manjanya saat memeluk Maha dengan erat. Seperti malam itu hanyalah ulah bayangan Sadewa yang lain, bukan dirinya yang biasa.

Maha menghela nafas, ia kembali mengusap perutnya, kini bukan karena lapar melainkan karena kenangan sentuhan hangat Sadewa yang masih terasa jelas dibenaknya. Sentuhan itu membuatnya merasa aman, sesuatu yang tidak pernah ia duga akan ia rasakan dari pria yang terkenal dingin seperti Sadewa.

Hal itu pun membuat Maha terkekeh kecil, suara tawa lembut yang nyaris tidak terdengar di ruang kerja yang sunyi. Ia tidak bisa memungkiri, semalam ia juga menikmati kehangatan Sadewa. Meskipun canggung dan malu, ada sisi dari dirinya yang merasa nyaman dalam pelukan itu.

Perasaan itu membingungkan, tetapi juga memberikan secercah kehangatan dihatinya. Di tengah dinginnya suasana, Maha tahu jika ada sesuatu yang perlahan tumbuh di hatinya, meskipun ia belum sepenuhnya memahami apa itu.

Sementara itu, Sadewa mengalihkan pandangannya dari layar komputer, matanya tertuju pada Maha yang duduk di sofa. Wanita itu tengah mengusap perutnya sambil tersenyum kecil, membuat Sadewa merasa bingung.

Kenapa dia? Pikirnya sambil mengernyit dahi. Ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah lewat jam makan siang dan Maha sama sekali tidak memberitahunya.

Oh, sudah lewat jam makan siang? Kenapa Maha tidak bilang? Sadewa bertanya-tanya dalam hati, lalu buru-buru meraih ponsel yang tergeletak di samping komputer. Jari-jarinya dengan cepat mengetik pesan.

To: Maya - Tolong belikan saya makan siang, porsi untuk dua orang.

Setelah pesan terkirim, Sadewa kembali menatap Maha yang masih tenggelam dalam dunianya sendiri. Ia bersandar pada punggung sofa, matanya tak lepas dari senyum kecil yang tersungging di bibir Maha. Ada sesuatu yang hangat menyusup kedalam hatinya, sesuatu yang jarang ia rasakan.

Sadewa mengusap wajahnya perlahan tatkala ia mengingat kejadian semalam. Untuk pertama kalinya, ia mendekap Maha dalam pelukannya hingga pagi, tanpa perlawanan dari gadis itu. Ingatan itu membuat hatinya bergetar, ada kebahagiaan sederhana yang melingkupi dirinya saat itu. Ia tidak menyangka kehadiran Maha bisa memberikan dampak sebesar ini padanya.

Sekitar tiga puluh menit menunggu, akhirnya Maya datang ke ruangan Sadewa dengan membawa beberapa paper bag di tangannya. Langkah kakinya mantap menuju sofa, tempat dimana Maha duduk memperhatikannya dengan tatapan penuh harap.

Wih, makan. Pasti enak, nih… batin Maha saat melihat Maya yang mulai menyajikan makanan di meja. Aroma yang menggoda langsung memenuhi ruangan, membuat perut Maha semakin keroncongan.

“Silahkan, Tuan.” Ucap Maya sopan, sebelum beranjak keluar.

Sadewa bangkit dari tempatnya dan berjalan ke arah sofa, sebuah senyum kecil menghiasi wajahnya saat melihat Maha yang sibuk mengusap sudut bibirnya yang basah oleh air liur. Ia tahu, gadis itu pasti sudah sangat lapar.

“Makanlah, saya membelinya untuk kita makan bersama. Ini makanan mahal, semoga cocok di lidahmu.” Kata Sadewa, duduk disamping Maha.

Sialan! Sadewa pikir aku nggak pernah makan enak?! Ya pernah lah, tapi pas gajian, batinnya sambil mendengus pelan.

Namun, Maha tidak memperdulikan Sadewa. Ia langsung menyantap makanan yang menggoda di depan matanya dengan lahap. Sementara itu, Sadewa tertegun kala melihat Maha yang makan seperti orang yang sudah lama tidak makan.

“Maha, kamu ini perempuan. Bagaimana bisa makan seperti orang kesurupan?” Tanya Sadewa

“Hehe… maaf, Pak. Sumpah, saya laper banget. Terus ini makanannya enak banget, jadi saya kalap. Maaf ya, Pak…” jawab Maha yang terdengar samar karena mulutnya penuh.

Sadewa hanya bisa tersenyum kecil saat melihat Maha yang begitu menikmati makanannya. Ia merasa terhibur dengan tingkah gadis itu. Pandangannya kemudian tertuju pada minumannya yang belum terbuka. Dengan gerakan pelan, ia mengambil cup minuman miliknya, membukanya, lalu mengganti minuman Maha dengan miliknya yang sudah terbuka.

Perhatian kecil itu mungkin tidak terlihat besar, tapi begitulah Sadewa. Dibalik sikap dinginnya, ada perhatian tulus yang tidak main-main, meski ia bukan tipe pria yang pandai merangkai kata-kata romantis.

Maha yang sibuk menikmati makanannya, pun tak menyadari gestur kecil itu. Namun, di hati Sadewa, ada kehangatan yang tumbuh, melihat Maha begitu nyaman didekatnya.

“Besok ikut saya untuk bertemu dengan ibu. Beliau selalu menanyakan mu, setelah saya bilang kalau saya mempunyai kekasih.” Ceplos Sadewa dengan nada santai, seolah hal itu bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan.

Uhuk! Uhuk! Uhuk!

Maha tersedak makanannya, ia terkejut kala mendengar ajakan tak terduga itu. Sadewa dengan sigap mengambil minuman yang sudah terbuka dan memberikannya kepada Maha, wajahnya berubah serius melihat gadis itu terbatuk-batuk.

“Saya, ‘kan, sudah bilang! Kalau makan itu pelan-pelan!”! Sungut Sadewa sambil menepuk-nepuk punggung Maha dengan lembut. Kekhawatiran tergurat di wajahnya, melihat wajah Maha yang memerah karena tersedak.

“Bagaimana saya tidak terkejut kalau Anda tiba-tiba mengajak saya untuk bertemu dengan ibu Anda besok. Saya belum ada persiapan, Pak,” ujar Maha sambil mengusap dadanya, berusaha menenangkan jantungnya yang berdebar kencang.

“Ibu saya bukan presiden atau pejabat. Jadi untuk apa bersiap-siap?” Balas Sadewa, keningnya berkerut menatap Maha dengan ekspresi bingung.

“Tapi, ‘kan, first impression itu harus baik, Pak. Apalagi saya punya predikat kekasih Anda, walaupun pura-pura,” jawab Maha.

Sadewa menghentikan pergerakannya sejenak, menatap Maha dalam diam. Tatapannya membuat Maha mengerutkan alis, bingung dengan perubahan ekspresi pria didepannya.

“Maha! Bisa panggil saya ‘Mas’ saja tidak?! Bukankah saya sudah meminta mu untuk memanggil saya ‘Mas,’ bukan ‘Pak’! Ucap Sadewa, suaranya meninggi menampilkan ketidaksukaan.

“Pak, ini di kantor. Bagaimana bisa saat ini saya panggil Anda dengan sebutan ‘Mas’?” Jelas Maha dengan bingung.

“Memang, tapi sekarang tidak ada orang, ‘kan? Jadi tolong pahami situasi.” jawab Sadewa lebih santai.

Tanpa menunggu jawaban, Sadewa beranjak dari tempatnya dan melangkah menuju pintu, meninggalkan Maha yang masih duduk di sofa. Namun, langkahnya terhenti diambang pintu. Ia berbalik, matanya kembali menatap Maha yang masih terdiam ditempatnya.

“Oh iya, satu lagi. Ibu saya tidak suka perempuan yang berpakaian tidak sopan. Jadi besok, pakailah pakaian yang sopan dan rapi,” kata Sadewa, pesannya terdengar tegas. Namun, tetap penuh perhatian.

Maha mengangguk. “Terus, ini kamu mau kemana, Mas?” Tanyanya ketika melihat Sadewa hendak membuka pintu.

“Pantry. Saya ingin membuat kopi,” jawab Sadewa singkat sambil menoleh, menatap Maha.

Maha segera berdiri saat menyadari posisinya sebagai sekretaris. “Mas, biarkan saya saja yang buat,” ujarnya, penuh tanggung jawab.

Sadewa menggeleng pelan. “Tidak usah. Lanjutan makan siangmu saja,” balasnya.

“Baiklah.” Maha hanya bisa mengangguk pelan, kembali duduk dan menikmati makan siangnya lagi.

Tapi pikirannya masih melayang pada perhatian kecil yang Sadewa tunjukkan. Hatinya menghangat, merasa ada yang istimewa dalam setiap tindakan Sadewa, meskipun terbungkus dalam sikap dinginnya yang biasa.

Sikap Sadewa tetap seperti biasa, dingin dan seolah tak peduli. Saat ia mengingatkan Maha untuk berpakaian rapi, saat bertemu dengan ibunya. Maha merasa cemas, namun ia segera mengingat bahwa semua ini hanyalah bagian dari kontrak mereka. Tidak ada yang perlu diharapkan lebih, ini hanya pekerjaan, pikirnya.

Tidak ada ruang untuk perasaan, meski demikian, disudut hatinya ada sedikit rasa kecewa yang mencoba merayap. Namun, Maha menepisnya cepat. Ia tahu, jika terlalu berharap hanya akan membuatnya terlihat terluka.

...****************...

Rumah Niken.

Kedua wanita yang masih mengenakan pakaian kantor, duduk santai diruang tamu sambil menikmati cemilan yang sempat Maha beli di perjalanan pulang. Suasana terasa nyaman, namun segera berubah ketika Niken mendengar cerita Maha tentang kedekatannya dengan Sadewa.

“APA?!” Pekik Niken dengan mata membelalak, hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. “Seriusan?!” Niken kembali memekik, kali ini lebih antusias.

“Iya, Ken. Hubungan ku sama Sadewa, tuh, udah kayak suami istri,” ucap Maha santai sambil mengunyah chips yang ada di tangannya.

Niken hanya bisa menggelengkan kepala, merasa sulit memahami situasi yang dialami sahabatnya itu. “Atau mungkin ini caranya Sadewa buat bisa deket sama kamu? Ya, kita tahu sendiri, ‘kan, gimana dinginnya dia. Jadi, mungkin dia pilih cara ini biar bisa deketin kamu dengan paksa,” tebaknya, mencoba mencari logika di balik hubungan aneh itu.

Maha mengangguk kecil, seolah-olah membenarkan dugaan Niken. “Aku juga sempet mikir kayak gitu, Ken. Tapi yang nggak habis aku pikir, tuh, kenapa harus aku? Padahal ya, temen-temen Sadewa itu cantik-cantik banget. Kalau dibandingin mereka, aku mah nggak ada apa-apanya…” jelasnya.

Niken mengerutkan kening. “Kok, kamu tahu? Apa kamu udah di kenalin ke temen-temennya?”

“Iya, waktu itu aku di ajak ketemu sama temen-temennya,” ungkap Maha santai, sambil memainkan sisa chips di tangannya.

“Sebagai apa, huh?!” Sambar Niken, matanya membelalak.

“Kekasih lah, apalagi?” jawab Maha.

“Nah! Tuh, ‘kan! Sadewa itu suka sama kamu, tapi ketutup gengsi doang!” Cibir Niken. “Tapi, kamu menikmati hal ini? Ah, maksudku kontrak ini?” Lanjutnya.

Maha terdiam sejenak, memikirkan perasaannya sendiri. Tatapannya bertemu dengan Niken, lalu ia mengangguk cepat. Sebuah senyuman kecil tersungging di bibirnya.

“Anjir! Emang sama-sama gila kalian!” Pekik Niken, seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar.

Maha terkekeh, mengunyah chips terakhirnya. “Ya, gimana nggak menikmati, Ken. Aku kerja begitu aja, tapi dibayar gede banget. Terus kontrak itu setahun, masa iya aku marah-marah tiap hari? Cepet tua nanti aku. Jadi ya udah, nikmati aja,”

“Iya juga, sih. Tapi, terus… Mas Danu, gimana?” Tanya Niken.

Maha menghela nafas panjang, bahunya merosot seiring kelelahan yang ia rasakan. “Aku juga tahu, Ken. Kasihan Mas Danu, dia selalu ajak aku ketemuan, tapi aku sering tolak. Soalnya Sadewa itu nggak suka kalau aku deket-deket sama Mas Danu,” jelasnya, bibirnya mencebik kesal.

Niken menatap Maha dengan penuh simpati. “Danu itu orang baik, Maha. Kamu nggak bisa terus-terusan gantungin dia,”

“Iya, aku tahu, Ken. Tapi situasinya rumit. Sadewa itu ya, dia keras kepala. Dan aku juga bingung kenapa, padahal hubungan ini cuma pura-pura,” ujar Maha, merasa bingung.

“Maha, ini tuh udah masuk toxic relationship nggak, sih? Sadewa pegang kendali penuh atas hidupmu,” ucap Niken, ia menatap Maha dengan cemas tak habis pikir dengan batasan yang Sadewa berikan pada sahabatnya.

“Tapi ini cuma kontrak, Ken. Nggak lebih dari itu,” jawab Maha, berusaha meredakan ketegangan. Meski hatinya tak sepenuhnya yakin.

Niken mendesah, jelas tak puas dengan jawaban itu. “Persetan sama kontrak itu ya, Maha. Kamu itu lagi dikendalikan Sadewa dan setahun itu bukan waktu yang sebentar. Sekali-kali kamu harus vocal, bilang kalau ini sudah diluar batas. Ini jelas merugikan kamu, nggak bisa terus-terusan diem aja!" Seru Niken, nadanya tegas mencoba menyadarkan Maha.

Maha terdiam sejenak, matanya menatap lantai. Ada kekhawatiran disana, tapi juga kebingungan. “Aku tahu, Ken. Tapi Sadewa itu, dia nggak gampang dihadapi. Aku nggak tahu gimana caranya biar bisa vocal tanpa memperburuk keadaan,”

Maha tahu benar apa yang Niken cemaskan. Ia merasakannya dalam setiap kata yang sahabatnya ucapkan. Dalam hati, Maha tahu bahwa hubungan dengan Sadewa ini memang tidak sehat. Selalu ada rasa terjepit, seperti terperangkap dalam sebuah kontrak yang tidak pernah ia inginkan.

Sadewa mengontrol hampir setiap aspek hidup Maha—dari apa yang ia kenakan, hingga bagaimana ia harus bertindak.

Maha tahu betapa sulitnya menjadi dirinya sendiri di tengah hubungan yang begitu penuh tekanan. Terkadang ia merasa tidak didukung, komunikasi yang seharusnya membangun malah penuh dengan sarkasme dan kritik yang tajam, kadang bahkan penghinaan yang tersembunyi di balik kata-kata manis.

Setiap kali ada pertanyaan, ada kecemburuan yang mencuat dan itu selalu diikuti dengan kecurigaan yang membuat Maha merasa tidak dipercaya. Rasa cemas yang menyelubungi hari-harinya membuat Maha merasa tertekan. Ada kecemasan yang membayangi, seperti bayangan gelap yang tidak bisa ia hindari.

Pasangan yang terus-menerus mengontrol perilaku, membuat Maha merasa stres dan seolah-olah kehilangan dirinya. Semua itu membuatnya merasa begitu lelah, tetapi juga merasa tidak punya pilihan.

Namun, ada satu hal yang membuatnya bertahan—nominal yang Sadewa berikan padanya. Angka yang tidak bisa dipungkiri, memberikan banyak kenyamanan secara materi. Itu yang membuat Maha tetap berada di posisi ini. Untuk menuntut lebih atau keluar dari semua ini, Maha merasa tidak punya daya. Semua terasa sulit, seperti berperang dengan dirinya sendiri.

“Aku tahu ini salah, Ken. Aku tahu aku harusnya bisa lebih tegas, lebih berani untuk melangkah keluar. Tapi… ada banyak hal yang membuatku ragu. Dan apa yang Sadewa kasih juga nggak bisa aku abaikan begitu saja,” kata Maha, menatap kosong ke depan, berusaha meredakan perasaan yang campur aduk.

“Aku ngerti, Maha. Tapi kamu juga harus lihat dirimu sendiri. Jangan cuma mikirin nominal itu, jangan sampai kamu terjebak sama yang nggak seharusnya. Kamu lebih dari itu.” balas Niken, ia menyadari beratnya beban yang Maha bawa.

Maha menunduk, meresapi kata-kata sahabatnya. Sesaat, suasana menjadi hening. Hanya ada suara detakan jam dinding yang seolah mengingatkan waktu yang terus berjalan. Tetapi, Maha merasa terjebak dalam perasaannya, meskipun dalam hatinya, ia tahu bahwa suatu saat ia harus bisa memilih.

1
Bunda Mimi
Apakah Maha hamil???
Lucky ᯓ★: waduhhhh/Gosh/
total 1 replies
Rian Moontero
lanjuuutt👍🤩🤸🤸
Lilis Yuanita
ngapain ngarepin maha klo maha d acuhin
Lucky ᯓ★: pria tsunder kan begitu kak /Chuckle//Chuckle//Chuckle/
Lucky ᯓ★: pria tsunder kan begitu kak /Chuckle//Chuckle//Chuckle/
total 2 replies
Bunda Mimi
makasih thor, hari ini update nya 2x,,, trus byk lagi dialog antar tokoh😍😍😍
Bunda Mimi
pokoknya tetap Tim Dewa dan Maha y thor, Danu sama Niken aza😅
Lucky ᯓ★: waduh, plot twist sekali ini bunda /Facepalm/
total 1 replies
Bunda Mimi
terima kasih update nya thor
Lucky ᯓ★: sama-sama bunda /Rose/
total 1 replies
Bunda Mimi
gedeg liat Sadewa🤬
Lucky ᯓ★: aaa aku baru tahu /Cry/ terimakasih bunda /Kiss//Kiss//Kiss/
Bunda Mimi: pasti bisa🤣
total 9 replies
Bunda Mimi
udah panjang bab nya,,,, tapi selalu merasa kurang thor😅
Bunda Mimi: di tunggu crazy up nya thor🤣
Lucky ᯓ★: eiiii sabar dong /Proud/
total 2 replies
Bunda Mimi
Baguss,,,,,, Suka Alur nya
Lucky ᯓ★: ahhh aku melting, terimakasih bebi /Kiss//Kiss//Kiss/
total 1 replies
Bunda Mimi
Tq thor update nya,,,,,
Lucky ᯓ★: iya bebi, sama-sama. Terimakasih juga sudah setia membaca /Kiss/
total 1 replies
Bunda Mimi
thor bab 21 dan 22 nya kok sudah tidak ada ya
Bunda Mimi: ok siap thor
Lucky ᯓ★: terimakasih atas dukungannya kak, dan mohon maaf jika nanti update ulang dengan isi yang sama. aku revisi karena biar lebih nyaman untuk dibaca, juga ini saran dari editor saya
total 4 replies
Wayan Sucani
Luar biasa
Wayan Sucani
Rasanya berat bgt
catalina trujillo
Bikin ketawa sampe perut sakit.
Lửa
Ngakak sampai sakit perut 😂
Kiyo Takamine and Zatch Bell
Asiknya baca cerita ini bisa buat aku lupa waktu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!