Setelah kejadian kecelakaan kerja di laboratorium miliknya saat sedang meneliti sebuah obat untuk wabah penyakit yang sedang menyerang hampir setengah penduduk bumi, Alena terbangun di suatu tempat yang asing. Segala sesuatunya terlihat kuno menurut dirinya, apalagi peralatan di rumah sakit pernah dia lihat sebelumnya di sebuah museum.
Memiliki nama yang sama, tetapi nasib yang jauh berbeda. Segala ingatan tentang pemilik tubuh masuk begitu saja. Namun jiwa Alena yang lain tidak akan membiarkan dirinya tertindas begitu saja. Ini saatnya menjadi kuat dan membalaskan perlakuan buruk mereka terutama membuat sang suami bertekuk lutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenapa istriku, apa kamu merindukanku?
Terjadilah momen saat ini dimana Alena duduk di kursi kerja di bawah kungkungan Althaf. Gilbert terpaksa harus pergi, setelah mendapatkan kode keras dari atasannya itu. Alena terpojok, tak bisa lepas begitu saja. Kali ini dirinya sudah seperti terpidana yang akan disidang, ditanyai segala macam hal.
Sudah pasti Alena akan diinterogasi habis-habisan oleh Althaf terkait lisensi atau hak cipta brand fashion terkenal asal Prancis. Apalagi dengan nilai yang sangat besar mencapai £ 1.000.000 atau setara dengan 20 miliar. Nilai yang sangat fantastis untuk sebuah kontrak kerjasama dengan brand fashion luar negeri.
Yang paling tidak dimengerti oleh Althaf adalah bagaimana bisa Alena mendapatkan kerjasama eksklusif dengan brand fashion padahal Alena lulusan manajemen bisnis. Rupanya masih banyak hal yang belum Althaf ketahui tentang Alena.
Hembusan nafas Althaf yang menderu terasa di wajah Alena, jarak mereka begitu dekat. Alena berusaha menahan detak jantungnya yang semakin kencang manakala wajah tampan Althaf terpampang nyata di hadapannya.
“Mas Al …” Alena berusaha memecah kesunyian di antara mereka berdua, membuang kecanggungan yang tercipta.
Althaf tak menggubrisnya, bola matanya sibuk memindai kecantikan Alena yang begitu asing. Entah sejak kapan wajah cantik istrinya itu dilukis dengan make up. Meskipun natural tetapi Althaf tahu jika istrinya itu tak sekedar hanya memakai sapuan tipis bedak, tetapi ada pewarna kelopak mata, perona pipi dan yang paling jelas pemerah bibir. Meskipun Althaf suka, tapi dia benci Alena yang begitu cantik itu dilihat oleh pria lain. Rasa cemburu mulai terbentuk di hatinya perlahan, menyadari jika Gilbert dan Zaldo menikmati apa yang sejatinya menjadi miliknya seorang.
Kecantikan istrinya ternyata melupakan tujuan Althaf yang ingin mengintrogasi perihal hak cipta yang Alena dapatkan.
“Mas Al, ka-kakiku keram,” dalih Alena supaya Alena bisa terbebas dari kungkungan tubuh Althaf. Tubuhnya sama sekali tak bisa digerakkan, seolah terkunci dan terhipnotis oleh pesona ketampanan Althaf.
Cup
“Terimakasih, Sayang.” Usai mengecup kening Alena, Althaf meninggalkannya begitu saja.
Dia urung bertanya kepada Alena, memutuskan untuk mencari tahu sendiri. Ada rasa kecewa pada dirinya karena masih banyak hal yang tidak dia ketahui Alena terutama rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan. Makin kesini makin hari, semakin Althaf merasa Alena tak seperti istrinya yang dahulu polos dan lugu. Alena berubah menjadi sosok lain yang sama sekali Althaf tak ketahuan. Terkadang Althaf merindukan sosok istrinya yang lugu dan penurut.
“Mas Al, apa Lena ada salah?” Alena berhasil menarik tangan Althaf sebelum suaminya itu pergi lebih jauh meski harus menahan rasa sakit di kakinya.
Tiba-tiba bergerak dan berjalan membuat otot kakinya tegang dan tertarik, itulah yang menyebabkan rasa sakit yang dialami Alena.
Althaf memandang lekat bola mata Alena yang masih sama seperti dulu, jernih dan kecoklatan menepis keraguan dalam hatinya. Dia masih sosok Alena yang dulu, mungkin faktor amnesia yang merubah sedikit karakter dan sifatnya. Kedua tangan Althaf mencangkup pipi istrinya yang mulai berisi, bulu matanya yang lentik terlihat semakin menggemaskan.
“Kenapa istriku, apa kamu merindukanku?” goda Althaf sambil mengedipkan sebelah matanya.
Alena jadi gugup, lupa apa yang hendak dia katakan. Sikap Althaf yang genit membuatnya sedikit kesal.
“Iiisssshhhh apaan sih!! Bukan itu maksudnya,” jawab Alena, kedua pipinya menggembung.
“Lalu?”
Melihat ekspresi Alena yang kesal namun tetap cantik dan manis.
“Ga tau aahhh….” Alena melipat kedua tangannya di depan perut, kemudian memalingkan tubuhnya.
Althaf tentu saja tertawa melihat tingkah Alena yang bersikap merajuk seperti anak kecil. Entah Althaf bisa membaca pikiran dan hati Alena, sebenarnya dia mengetahui apa yang diinginkan oleh istrinya itu.
Sekali lagi Althaf mengecup kening Alena, kali ini lebih lama dan lebih meresapi.
“Jangan ngambek seperti ini, atau akan aku gigit. Besok ikut ke kantor.”
Setelah berkata demikian, Althaf meninggalkan Alena begitu saja. Seakan masih terhipnotis, Alena hanya berdiri tak melakukan apapun padahal Althaf sudah menghilang dari pandangannya.
Alena menghentakkan kedua kakinya berulang kali dengan kesal saat menyadari sosok Althaf telah pergi. Padahal ada yang ingin dia bicarakan dengan suaminya itu. Namun ada kelegaan dalam hatinya saat Althaf telah menceraikan istri ketiganya.
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
Terpaksa Dyah bersembunyi sementara waktu di sebuah motel kecil di pinggiran kota. Kondisinya yang tengah hamil besar, membuat mobilitasnya terhambat. Mengetahui jika Althaf sedang mencari keberadaannya, Dyah yang kala itu sedang pulang ke rumah ibunya langsung meminta perlindungan. Dia sadar telah melakukan kesalahan telah membuat Alena terjatuh dari kursi rodanya.
“Mah.. sampai kapan aku harus disini? Dyah bosan, mana pengap, bau, ga ada AC,” keluh Dyah, saat ini Helena sedang berkunjung sambil membawakan anaknya makanan.
“Ini semua salahmu!! Terlalu banyak tingkah, ceroboh sekali. Tinggal tidur, makan, shopping, apa -apa tinggal perintah pelayan, malah cari perkara bikin masalah dengan si Upik Abu itu,” gerutu Helena, kesal dengan kelakuan anaknya.
“Terus ini bagaimana Mah? Dyah ingin pulang, tapi takut terjadi sesuatu,” rengek Dyah.
“Bisa ga sih bikin hidup mamah tenang sebentar saja, pusing mamah mendengar ocehanmu!!!”
Akhirnya Dyah memilih diam, duduk di atas ranjang yang sedikit lapuk. Namanya saja motel di pinggiran kota susah pasti fasilitas seadanya. Tidak mungkin Dyah bersembunyi di hotel mewah, mungkin keberadaannya bisa ditemukan oleh anak buah Althaf. Meskipun bukan salah Dyah sepenuh, yang jelas Althaf tidak akan membiarkan dirinya hidup tenang karena telah berbuat jahat kepada Alena. Apalagi Dyah sebelumnya sudah mendapatkan peringatan agar tidak menyentuh Alena seujung rambutnya.
Kondisi yang sebenarnya dia khawatirkan adalah janin yang berada dalam kandungannya. Althaf sama sekali tidak peduli atau perhatian sedikitpun dengannya, sehingga Althaf pasti tak akan segan-segan memberi hukuman berat karena telah mengabaikan peringatannya.
Terdengar bunyi ketukan pintu yang cukup keras hingga Dyah terlonjak kaget. Instingnya mengatakan jika anak buah Althaf telah menemukannya, padahal dia sudah berusaha mencari tempat yang paling aman. Dyah memeluk kedua kakinya ketakutan, tidak siap jika harus menghadapi hukuman. Althaf.
“Mamah, Dyah takut. Bagaimana ini, Mah? Dyah tidak ingin mati sekarang,” rengek Dyah ketakutan, air matanya merembes begitu saja.
“Diam, jangan berkata sembarangan. Mamah tidak akan biarkan psikopat itu melukaimu apalagi menyentuhmu,” ucap Helena berusaha menenangkan anaknya.
Padahal dia sendirian juga memiliki ketakutan tersendiri, tak bisa membayangkan anaknya disiksa oleh pria kejam seperti Althaf. Salahnya Helena tidak membawa polisi atau pengawal pribadi untuk mengantisipasi jika keberadaan Dyah ditemukan. Tak ada waktu lagi untuk menghubungi orang terdekatnya untuk meminta pertolongan. Helena berusaha mencari cara agar Dyah bisa lari dari tempat ini untuk sementara, sedangkan dirinya akan menahan anak buah Althaf agar tidak mengejar anaknya.
Namun gedoran pintunya yang keras membuat otak Helena menjadi buyar, tak bisa memikirkan jalan keluar.
“Mamah, Dyah takut!!” Serangan panik semakin tak terhindarikan, bayang-bayang gelap mulai berputar di kepalanya.
“Cepat kamu keluar dari jendela itu sebelum mereka berhasil menerobos masuk ke kamar ini!! Mamah akan berusaha menahannya sementara waktu,” usul Helena saat melihat sebuah jendela yang mengarah ke bagian belakang motel.
“Tapi Mah?” Dyah tampak ragu, tidak mungkin dia meninggalkan ibunya.
“Cepat, sudah tidak ada waktu!!” Helena berusaha mendorong tubuh anaknya agar mendekat ke arah jendela.
Dyah pasrah, setidaknya nyawa janin dalam kandungannya bisa diselamatkan. Dengan susah payah, Dyah menaiki jendela yang lumayan tinggi, apalagi kondisinya yang hamil besar menyulitkannya untuk mengangkat kaki.
Namun sayangnya, gebrakan pintu yang berhasil terbuka menghentikan gerakan Dyah saat itu juga.
lah suaminya ngga ada fungsinya.
aturan Alena Ama Gilbert aja.
ada y CEO kaya gitu.
bikin bumerang aja
yg ada tuh laki entar nyuruh Lena buat cerai.