Hidup Syakila hancur ketika orangtua angkatnya memaksa dia untuk mengakui anak haram yang dilahirkan oleh kakak angkatnya sebagai anaknya. Syakila juga dipaksa mengakui bahwa dia hamil di luar nikah dengan seorang pria liar karena mabuk. Detik itu juga, Syakila menjadi sasaran bully-an semua penduduk kota. Pendidikan dan pekerjaan bahkan harus hilang karena dianggap mencoreng nama baik instansi pendidikan maupun restoran tempatnya bekerja. Saat semua orang memandang jijik pada Syakila, tiba-tiba, Dewa datang sebagai penyelamat. Dia bersikeras menikahi Syakila hanya demi membalas dendam pada Nania, kakak angkat Syakila yang merupakan mantan pacarnya. Sejak menikah, Syakila tak pernah diperlakukan dengan baik. Hingga suatu hari, Syakila akhirnya menyadari jika pernikahan mereka hanya pernikahan palsu. Syakila hanya alat bagi Dewa untuk membuat Nania kembali. Ketika cinta Dewa dan Nania bersatu lagi, Syakila memutuskan untuk pergi dengan cara yang tak pernah Dewa sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian jebakan
Zara tersenyum lebar saat deretan angka di saldo rekeningnya sudah bertambah. Tak mengapa menderita sedikit. Yang penting, dia bisa dapat uang sebanyak itu hanya dalam waktu satu hari.
"Cih, hanya dapat uang receh saja sudah sesenang itu," cibir Arthur dengan dua tangan yang berada didalam kantong celananya.
"Ini bukan uang receh. Bagi sebagian orang, ini uang yang sangat besar," balas Zara.
Kini, dia sudah tidak setakut tadi. Setelah Arthur melepas topengnya, dia semakin terlihat seperti anak orang kaya manja yang pemberontak. Bukan lagi seorang psikopat.
"Zara, apa kamu masih berminat bekerja di sini?" tanya Nyonya Eria.
"Memangnya, masih boleh?" Zara balik bertanya.
"Tentu saja," angguk Nyonya Eria.
"Saya mau, Nyonya. Sangat mau," balas Zara bersemangat.
Walaupun Tuan Muda di keluarga itu sangat mengerikan, namun Zara tetap butuh pekerjaan ini. Dia tak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Semua demi masa tuanya yang mungkin saja akan dia habiskan sendirian.
Kalau tak ada uang tabungan, bagaimana bisa masa tuanya dilalui dengan tenang?
"Kalau begitu, kita tanda tangan kontrak dulu, ya!" usul Nyonya Eria.
Zara mengangguk tak sabaran. Sementara, Eria segera memerintahkan kepala pelayan yang bernama Din, untuk mengambilkan surat kontrak untuk Zara.
"Saya akan baca dulu," ucap Zara yang sudah siap untuk membaca.
"Tidak usah," cegah Nyonya Eria sambil menutupi tulisan di kertas tersebut dengan telapak tangannya. "Isinya hanya sekadar basa-basi. Kamu akan lelah jika membaca semuanya. Lebih baik, segera tanda tangani saja."
"Tapi..."
"Tidak ada hal yang istimewa dalam kontrak itu. Lebih baik, Tanda tangani saja!" celetuk Paman Din.
Entah kenapa, firasat Zara sedikit tak enak. Nyonya Eria dan kepala pelayan Din, sepertinya sedang berusaha menyembunyikan sesuatu.
"Kamu... Tidak percaya padaku? Apa wajahku mirip seorang penipu?" tanya Nyonya Eria dengan tampang memelas.
Ayolah! Zara mana tega melihat ekspresi seperti itu muncul di wajah Nyonya Eria yang elegan, cantik, dan berwibawa. Tapi, tetap saja dia harus waspada, kan?
"Tapi, saya harus tetap membacanya. Tidak apa-apa, kan?"
Nyonya Eria mendesah samar. Dia mengalah. Membiarkan Zara membaca sebagian isi perjanjian kontrak tersebut meski dengan jantung berdegup kencang.
"Semuanya... tampak normal," gumam Zara.
Ia hanya diminta untuk bangun setiap jam 5 pagi. Bersedia mengurusi segala kebutuhan sang atasan, kapanpun dibutuhkan. Ikut kemana pun sang atasan pergi. Dia juga harus memasak, membereskan barang-barang sang atasan, dan juga merawat sang atasan jika suatu saat sedang sakit atau cedera.
"Untuk gaji sebesar ini, seharusnya hal-hal ini bukan masalah," lanjutnya bermonolog, nyaris tanpa suara.
"Bagaimana? Sudah baca isinya, kan?" tanya Eria tak sabaran.
"Sudah,"angguk Zara. "Tapi, masih sebagian."
"Poin pentingnya hanya sampai di situ. Sekarang, tanda tangan!" titah Eria sekali lagi.
Zara akhirnya menandatangani perjanjian itu. Menurutnya, semua poin yang ada di dalam perjanjian pra kerja tersebut adalah sesuatu yang cukup sanggup dia lakukan.
"Sekarang, naiklah ke atas! Lihat, apakah Arthur sudah minum obat atau belum."
"Eh?" Zara terkejut. "Ke-kenapa saya harus menemui Tuan Arthur lagi?"
"Itu tugasmu sebagai asisten pribadinya," jawab Eria tanpa beban.
"Apa!?" pekik Zara tak percaya. "Sa-saya jadi asisten Tuan Arthur?"
"Ya," angguk Eria.
"Saya melamar bekerja sebagai seorang pelayan. Bukan asisten pribadi untuk putra Anda, Nyonya."
"Tapi, perjanjian yang baru saja kamu tanda tangani adalah perjanjian menjadi asisten pribadi untuk Arthur," balas Eria dengan senyum tanpa dosa.
Dia tak merasa bersalah sama sekali setelah menjebak Zara ke dalam masalah besar.
"Hah?"
Zara menyambar surat perjanjian yang baru saja dia tanda tangani. Tertulis dengan ukuran sangat kecil dibagian bawah bahwa dirinya akan menjadi asisten pribadi untuk Arthur Avilas.
"I-ini jebakan," ucap Zara. "Tadi, saya sama sekali tidak melihatnya."
Eria menepuk-nepuk pundak Zara. "Oww, berarti kamu yang salah, Cantik. Kamu kurang teliti."
"Saya ingin membatalkan perjanjian ini. Saya tidak jadi bekerja," ucap Zara panik.
Eria hanya tersenyum tenang dengan ekspresi berpura-pura prihatin.
"Boleh saja. Tapi, kamu harus baca isi perjanjian di lembar kedua."
Zara menurut. Dia membuka lembar kedua dari isi perjanjian itu.
"Jika suatu saat saya tiba-tiba ingin berhenti sebelum kontrak yang disepakati selesai, maka saya rela membayar denda kontrak sebesar 10 miliar. Dan, jika saya tak sanggup membayar dalam waktu dua hari, maka saya bersedia dijebloskan ke dalam penjara."
Glek. Zara meneguk ludahnya dengan susah payah. Seluruh tubuhnya mendadak gemetar. Astaga! Dia benar-benar tertipu oleh wajah teduh dan bersahaja milik Nyonya Eria.
Kelihatannya seperti orang baik-baik. Tapi, wanita itu ternyata memiliki banyak tipu muslihat.
"Jadi, kapan kamu akan membayar uang dendanya?" tanya Nyonya Eria.
"Sa-saya tidak punya uang sebanyak itu," lirih Zara.
"Kalau begitu, mau bagaimana? Mau tetap berhenti atau lanjut bekerja?"