Rezza pria tampan dan mempunyai kehidupan cukup mapan sejak lahir dengan terpaksa harus menerima perjodohan dari ibunya dengan seorang wanita yang bernama Artiya sepupu dari kekasihnya sendiri,yang menurut Rezza wanita itu sama sekali tidak menarik dilihat dari segi manapun juga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon triy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENJEMPUT TIYA
Keesokan paginya bu Sanusi bersiap siap akan pergi menjemput Tiya,melihat ibunya yang sudah rapi Anapun bertanya,
"ibu pagi pagi udah cantik mau pergi kemana bu?"
"ibu mau jemput Tiya di kampung embahnya" jawab bu Sanusi bersemangat,
"ibu tau Tiya ada disana siapa yang ngasih info sih bu?"tanya Ana heran,
"Roni"
"owh..."ucap Ana singkat,
"bu...kalo Ana boleh kasih saran,masalah rumah tangga Rezza dan Tiya biar mereka sendiri yang nyelesein deh bu" lanjut Ana,
"maksud kamu?" tanya bu Sanusi kurang senang dengan saran Ana.
"maksud Ana,biarkan Rezza sendiri yang menjemput istrinya disana,biarkan mereka sendiri yang nyari jalan keluar dari masalah yang sedang mereka hadapi bu"
"kita ini sebagai keluarga cukup menasehati mereka,memberi dukungan atas keputusan yang akan mereka buat",
"kita hanya perlu mengarahkan dan menguatkan Rezza agar bisa menjadi seorang kepala keluarga yang bertanggung jawab terhadap masalah yang sedang dia hadapi"
"biar Rezza menjadi seorang laki laki yang lebih dewasa dan bijak lagi bu",
"jangan sampe Tiya merasa tidak nyaman kalo kita ikut campur dalam masalah rumah tangga mereka bu"
"ini sudah empat bulanan Tiya pergi, ibu takut kalo Tiya bakalan minta cerai dari Rezza sebab kesalah pahaman yang belum diluruskan, Ana" ucap bu Sanusi merasa risau,
"Ana yakin Tiya adalah wanita yang baik,dan memiliki pemikiran yang luas bu,tak mungkin dia akan sembarangan minta cerai" panjang lebar Ana berusaha memberi saran pada ibunya.
"mangkanya biar Rezza sendiri yang menjemput dan menjelaskan semua kesalah pahaman yang sedang terjadi antara dia dan istrinya to bu"
"dalam hal ini memang Rezzalah yang salah,dia mengambil keputusan tanpa memberi tau istrinya waktu itu",
"trus Rezza menyembunyikan masalah sebesar itu hingga tiga bulan,dan dia tak punya nyali untuk berterus terang pada istrinya",
"kalo saja ibu tidak membuntutinya,dan Tiyapun tanpa sengaja mengetahuinya, masalah itu tak akan terbongkar juga kan bu?"
"parahnya lagi, yang menjadi istri keduanya Rezza adalah sepupu dari Tiya yaitu Amel",
"apalagi Rezza dan Amelpun pernah menjadi pasangan kekasih lagi",
"tentu saja Tiya dangat kecewa sebab merasa dibohongi dan disakit hatinya to bu",
"sebagai sesama perempuan Ana juga bisa merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Tiyalah bu",
" waktu itu Rezzakan melakukannya sebab terpaksa Ana!", "dia nggak ada pilihan lain selain nikahin Amel",
"toh Rezza dan Amel nikahnya juga sementara aja kan,hanya sampai Amel melahirkan",ucap bu Sanusi membela putranya.
"iya bu...,Ana tau"
"tapi Rezzakan sudah ada seorang istri,apapun yang terjadi seharusnya dia berterus terang dengan istrinya",
"paling tidak menjelaskan kepada Tiya tentang masalah yang dia sedang hadapi waktu itu kan bu?",
"bukannya malah ditutup tutupi terus terusan gitu" sewot Ana,
"menurut Ana,Tiya pasti mau kok memaafkan Rezza dan mau memahami Rezza",
"Ana bisa melihat kalo Tiya itu sangatlah mencintai Rezza bu",
"dan Ana juga yakin, Tiya adalah wanita yang bisa mendampingi Rezza disaat susah maupun senang".
"asal Rezza menghargai keberadaan Tiya disisinya",
"biarkan Rezza menjelaskan dan meluruskan duduk permasalahan mereka yang sebenarnya kepada istrinya bu",
"saat ini ketangguhan cinta mereka sedang teruji bu",
"kalo mereka bisa melalui masalah yang sedang mereka hadapi saat ini, kedepannya pasti hubungan mereka akan lebih kuat lagi",
"apapun keputusan dari Tiya nanti setelah mendengar penjelasan dari Rezza,kita harus menghargainya"
mendengar kata kata Ana yang panjang lebar,bu Sanusipun berpikir sejenak lalu berkata " ya sudah...ibu manut(ngikut) kamu sja, Ana",
Anapun tersenyum lega mendengar keputusan dari ibunya tersebut dan berkata,
"sekarang tugas ibu adalah ngasih tau Rezza dimana Tiya sekarang tinggal"
"biar dia punya semangat untuk cepet sembuh,nggak kayak sekarang!",
"persis zombi,pucat nggak ada semangatnya gitu",
"Anaaa ngomong apa kamu?" ucap bu Sanusi sedikit kesal mendengar Ana menjuluki adiknya seperti zombi.
Ana hanya nyengir kuda mendengar ketidak puasan dari ibunya dan berucap "maaf,Ana cuma menggambarkan keadaan Rezza saat inilah bu".
Hampir sebulan telah berlalu,bu Sanusi juga sudah memberitahu Rezza tentang keberadaan Tiya,dan anehnya setelah Rezza mendapat info tentang keberadaan Tiya istrinya diapun sekarang terlihat lebih bersemangat untuk pulih.
Bu Sanusi dan Anapun sangat bahagia melihat perkembangan Rezza yang sangat pesat,
seminggu sekali Aji datang untuk memberi laporan perkembangan perusahaan pada Rezza,dan Rezzapun hanya mengarahkan dan membantu Aji dalam menangani perusahaan dari rumah.
Semenjak Rezza sakit,Aji harus menggantikannya menjalankan perusahaan untuk sementara waktu,hal itu mengharuskan Aji bolak balik dari Bandung ke kota S.
Melihat Rezza sudah kembali pulih, Anapun telah pulang keBelanda dijemput oleh suami dan anak anaknya,yang datang seminggu setelah kepulangan Rezza dari Singapura.
Hari ini rencananya Rezza akan pergi menjemput Tiya ditemani oleh ibunya,dia merasa sudah tak sabar untuk bertemu dengan Tiya istrinya,antara senang takut bercampur menjadi satu dihati Rezza.
Dengan diantar pak Jono Rezza dan bu Sanusipun sampai dialamat kakung dan utinya Tiya yang sebelumnya didapat dari bu Suriyah.
Rezza mengetuk rumah yang sederhana dan masih bergaya kuno itu dengan perasaan campur aduk.
Tak lama setelah itu keluarlah seorang pria tua namun masih terlihat sehat dia adalah kakungnya Tiya,
"assalamualaikum pak,apa benar ini rumahnya pak Marijan kakeknya Tiya?" tanya Rezza dengan sopan,
"iya benar,kamu pasti Rezza suami dari putuku(cucuku)?"
"iya betul pak" jawab Rezza sedikit minder.
"dan ini ibu saya pak" ucap Rezza kemudian,
"jangan panggil pak,panggilnya mbh kung wae"ucap kakung Tiya sambil menyalami Rezza dan ibunya.
Setelah berbasa basi sebebtar merekapun dipersilahkan masuk oleh kakungnya Tiya.
Awalnya Rezza merasa tegang, sebab dia takut jika kakungnya Tiya bakalan memaki makinya,namun setelah bercakap cakap ternyata kakungnya Tiya adalah orang yang sangat ramah.
Kakungnya Tiya sempat menanyakan kenapa terlalu lama Rezza tak menjemput Tiya istrinya,
sudah berkali kali kakung dan utinya Tiya membujuknya agar segera pulang kerumah suaminya,namun Tiya hanya akan menangis mendengar bujukan dari kakung dan utinya Tiya tanpa mau bercerita ada masalah apa diantara Tiya dan suaminya.
Kemudian bu Sanusipun menjelaskan jika Rezza mengalami kecelakaan yang cukup parah dan sempat koma saat akan menjemput Tiya dan harus mendapatkan perawatan beberapa bulan ini.
Mereka tak dapat mengabari Tiya sebab ponselnya selalu diluar jangkauan dan tak bisa dihubungi.
Mendengat penjelasan dari bu Sanusi kakung Tiya merasa bersalah sebab tak mengetahui jika Rezza yang mengalami kecelakaan.
Rezza dan bu Sanusipun menceritakan tentang permasalahan antara Rezza dan Tiya yang sebenarnya,kemudian Rezza memohon maaf kepada kakungnya Tiya atas kesalahanya pada Tiya.
Dan kakung Tiyapun bisa memaklumi kenapa cucu perempuannya bisa pergi meninggalkan suaminya tanpa memberi tahu suaminya terlebih dahulu,dan beliaupun tak membenarkan apa yang sudah Tiya lakukan teŕsebut.
Setelah bercakap cakap panjang lebar,dan menjelaskan dengan sejelas jelasnya pada kakungnya Tiya, Rezzapun menanyakan keberadaan Tiya sekarang,
kemudian kakung Tiyapun akan memanggil Tiya dan utinya untuk pulang,supaya Tiya bisa bertemu dengan suami dan mertuanya.
Namun Rezza menolaknya dengan sopan,Rezza ingin menemui Tiya sendiri dan meminta maaf padanya secara langsung,lalu Rezzapun meminta petunjuk dari kakungnya Tiya,kira kira dimana letak warung utinya Tiya.
Kemudian Rezza menyusul Tiya dengan meminjam sepeda ontel kakungnya Tiya yang terparkir diserambi rumah,
Rezzapun meninggalkan ibu dan kakungnya Tiya yang masih asik berbincang bincang tentang keluarga mereka masing masing,dan Rezza juga meminta pak Jono untuk beristirahat terlebih dahulu.
Rezza mengayuh sepedanya dengan semangat,dia menikmati sepanjang perjalanan yang sangat indah dengan pemandangan sawah yang terhampar luas disetiap tepi jalanan.
Tak terasa Rezzapun telah sampai diwarung kecil yang terlihat ramai pengunjungnya.
Rezza mengamati warung itu,matanya menyisir disetiap sudut warung itu mencari keberadaan Tiya istri yang sangat ia rindukan, namun sama sekali tak bisa ia temukan.
Lalu Rezzapun melangkah menuju samping warung,mata Rezza terpaku melihat sosok yang ia cari sebentar tadi,Tiya sedang duduk sibuk mengelap mangkuk,ditemani seorang laki laki berseragam coklat muda.
Seketika hati Rezza terasa nyeri melihat pemandangan itu,
Lama Rezza melihat kedua orang itu, yang sesekali mereka terlihat tertawa bersama,
hati Rezza menjadi memdidih melihat istri yang ia rindukan selama ini terlihat akrab dengan laki laki lain,yang Rezza tidak mengenalnya sama sekali.
Awalnya Rezza ingin sekali menghampiri Tiya lalu menariknya kedalam pelukan Rezza,
dalam hati Rezzapun sangat ingin menghajar laki laki yang sudah berani mendekati istri tercintanya,
kemudian iapun mengurungkan niatnya tersebut,sebab tujuan utama dari Rezza kewarung itu adalah meminta maaf pada Tiya dan ingin meluruskan kesalah pahaman yang sudah terjadi diantara mereka berdua.
Rezza hanya memilih duduk dibangku bagian luar warung kecil itu, sambil mengamati istrinya yang sedang mengobrol ria dengan laki laki asing yang sama sekali tidak Rezza kenal.
Jika saja Tiya tak sedang marah padanya,pasti Rezza sudah menarik Tiya dan segera membawanya pergi menjauh dari laki laki jelek(menurut pandangan Rezza sebab sedang cemburu) disamping Tiya.
Rezza mengamati laki laki itu dengan seksama,menurut penilaian Rezza laki laki itu masih kalah jauh dibandingkan dengan dirinya,
dari segi fisik Rezza memang lebih unggul beberapa tingkat dari laki laki itu.
Akan tetapi Rezza sangat merasa cemburu dengan keakraban yang terlihat diantara istrinya dan laki laki asing itu,hatinyapun menjadi tak tenang,
" punya suami berwajah ganteng kayak aku ini saja belum bisa membuat Tiya bahagia apa?",gumam Rezza dengan narsisnya,
"apa cintanya buatku udah pudar ya?"
"kita nggak ketemukan lumayan lama sih"
"buktinya dia bisa tertawa riang gitu sama cowok laen,tanpa memikirkan gimana perasaan aku kalo ngeliat mereka" lanjut Rezza merasa tak terima,
Rezza bergumam sendiri,sambil melihat kearah istrinya.
Dari dalam warung,uti Tiya melihat ada seorang pemuda yang sangat tampan,berperawakan tinggi sedikit berotot,berkulit bersih mengenakan topi dikepalanya yang hanya duduk tanpa memesan apa apa,pemuda itu terlihat bukan dari kalangan orang biasa.
Dia terlihat hanya memandangi cucu perempuannya dari luar warung,utinya Tiyapun datang mendekatinya dan bertanya "maaf mas,mau pesan apa?"
Rezza yang tak menyadari kedatangan utinya Tiyapun merasa kaget dan gelagepan,sebab Rezza terciduk sedang serius mengawasi istrinya.
"oohhh....maaf bu,saya kesini sedang mencari istri saya" ucap Rezza sopan.
"kamu nak Rezza ya?",uti Tiya langsung tanggap dengan perkataan Rezza barusan,
"suami dari Tiya?"lanjutnya,
"iya bu" jawab Rezza agak canggung,
"ojo nyeluk bu!"(jangan panggil bu),
"panggil uti wae!",
Rezza baru menyadari wanita yang jauh lebih tua dari ibunya dan masih terlihat bugar tersebut adalah mbah utinya Tiya.
"kenapa nggak langsung kesana aja?"tanya utinya Tiya sambil menunjuk kearah Tiya duduk,
"ayo masuk kedalam" ajak utinya Tiya pada Rezza sebelum Rezza sempat menjawab.
lalu Rezzapun mengikuti utinya Tiya dari belakang untuk masuk kedalam warung kecil tersebut,saat Rezza akan melewati puntu masuk ,
"aduh...." teriak Rezza sepontan,
kepala Rezza terjedot pintu bagian atas warung yang menurut Rezza sangatlah rendah baginya,ya..dengan ketinggian Rezza yang mencapai 186cm itu.
Sebenarnya Rezza sudah membungkukan badannya saat akan masuk kedalam,tapi sebab kurang fokus dia kejedot juga,kepala Rezza yang baru sembuh dari operasipun terasa pusing berkunang kunang.
Rezza hampir kehilangan keseibangan saat itu,jika tidak dibantu para pelanggan yang sedang duduk didekat pintu masuk pasti Rezza sudah terjatuh.
Melihat Rezza yang memucat utinya Tiyapun meminta Rezza untuk duduk diluar warung saja,lalu iapun masuk kedalam warung untuk membuatkan teh hangat untuk Rezza.
Tiya yang mendengar ada orang berteriak mengaduh tadipun bangun dari duduknya diikuti Herman dibelakangnya,untuk memeriksa siapa orang tersebut dari sisi luar warung.
Tiya sangat kaget melihat seseorang yang mirip suaminya yang sedang duduk dibangku teras warung,
dia terlihat menyandar didinding luar warung sambil memegangi kepalanya, laki laki itu terlihat sangat kesakitan.
Lalu dengan perlahan Tiya mendekati pria tersebut untuk memastikan bahwa dia benar benar Rezza suaminyan.
Tiya berdiri disisi sebelah tempat dimana Rezza duduk, lalu berkata "mas Rezza?"
mendengar namanya dipanggil Rezzapun menurunkan tangannya yang sedang memijit mijit kedua belah pelipisanya,lalu melihat kearah sumber suara tersebut.
Rezza terpaku melihat istrinya yang berdiri disampingnya,mata Rezzapun memerah menahan air mata yang hampir menetes sebab menahan kerinduan dan rasa bersalah pada istrinya itu.
Mulut Rezza menjadi kelu tak dapat mengucapkan sepatah katapun pada Tiya,dengan susah payah Rezza menelan ludahnya sendiri sebab tak mampu berucap.
Melihat wajah suaminya yang mengiba tersebut ,Tiyapun meraih tangan suaminya lalu menciumnya dan mengucap salam "assalamualaikum mas", "apa kabar?"
Rezza tak bisa menahan air matanya lagi,lalu iapun memeluk istrinya yang berdiri disampingnya sambil terduduk.
Rezza merasa ada yang menonjol dan terasa ada yang bergerak gerak dari bagian perut istrinya,
lalu Rezzapun meraba perut Tiya sambil mendongak melihat kearah Tiya meminta penjelasan.
Tiya hanya menganggukkan kepalanya dan membalas pelukan dari suaminya.
Dalam isak tangisnya Rezzapun mengeratkan pelukkanya pada perut istrinya dan menciuminya berulang ulang.
Semua yang ada diwarung itu tampak ikut terharu melihat Rezza dan Tiya yang menjadi pusat perhatian mereka saat ini,
namun tidak dengan Herman yang merasakan nyeri dihatinya.
Herman memilih pergi, sebab tak tahan melihat Tiya berpelukan dengan laki laki yang Herman rasa adalah suami dari Tiya,dan benar saja apa yang Tiya bilang bahwa dia sedang mengandung.
Sebelumnya Herman tak mempercayai perkataan Tiya yang sedang hamil,sebab perut Tiya tak terlihat sama sekali dibalik baju longgarnya dan masih tertutupi oleh hijabnya itu.
Herman baru bisa melihat perut Tiya yang menonjol saat Rezza mengelusnya tadi,
kemudian Herman berjalan kembali ke kantor kecamatan membawa hatinya yang kecewa.
Setelah beberapa saat memberi waktu untuk Rezza dan Tiya melepas rindu,utinya Tiyapun menghampiri mereka berdua sambil memberikan teh hangat untuk Rezza pada Tiya.
"lebih baik kalian berdua pulang kerumah dulu!" ucap utinya Tiya.
"disini banyak orang" lanjutnya,
"iya ti" jawab Tiya,
Setelah meminum tehnya dan merasa pusing dikepalanya agak mendingan,Rezza dan Tiyapun menyalami utinya Tiya dan berpamitan untuk pulang kerumah kakung dan utinya.
Rezza mengkayuh sepedanya dengan pelan,sebab dia ingin menikmati kebersamaanya dengan Tiya istrinya yang membonceng dibelakang.
Disepanjang perjalanan mereka hanya diam seribu bahasa tanpa ada yang berani memulai pembicaraan,
sewaktu Rezza pergi berangkat mencari keberadaan warung soto utinya Tiya tadi, dia melihat ada sebuah gubuk ditengah persawahan,kini Rezzapun membelokkan sepedanya menuju kegubuk itu.
Ia ingin meluruskan kesalah pahaman yang terjadi antara mereka berdua sebelumnya digubuk itu,supaya merasa lebih nyaman dan tenang saat berbicara.