NovelToon NovelToon
CAMPUS COUPLE

CAMPUS COUPLE

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama
Popularitas:341
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Laila

Menjadi mahasiswa Arsitektur semester tiga dan aktif dalam kegiatan himpunan sudah cukup menguras energi Gea. Kehadiran Jay yang manis terasa seperti tempat peristirahatan di tengah penatnya kegiatan. Pertama kali menjalin kasih, Gea fikir akan berjalan mulus, penuh rasa menggelitik, dan menyenangkan. Namun, kisah romansanya tidak berjalan mulus seperti yang dia bayangkan.
Kecemburuan dan kekangan dari Jay terasa semakin menyesakkan. Kuliah di jurusan yang di dominasi oleh pria, Gea tidak bisa bebas berinteraksi dengan pria, bahkan dengan sahabat dan sepupunya sendiri. Membuat keretakan dan hubungan mereka pun harus kandas.
Saat Gea tidak berpikir untuk menjalin hubungan baru, atau membuka hatinya untuk orang baru, dia dipertemukan dengan seseorang yang menawarkan kenyamanan yang berbeda. Seseorang yang hadir tanpa menuntut.
Bisakah Gea melepaskan luka masa lalunya dan menyambut dengan utuh seseorang yang datang di waktu yang dia tak sangka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LOVE LANGUAGE - Part 1

Sembari menunggu Jay yang sedang berdiskusi di dalam himpunan dengan beberapa pengurus inti, Gea memilih duduk di sisi lain ruang sekre tersebut, dekat pitu masuk. Dengan laptop yang terbuka di atas pangkuannya, jemari Gea bergerak lincah mencicil tugas-tugas yang rasanya tak kunjung berhenti.

“Ya,” panggil Jay, tiba-tiba sudah mendudukkan diri di samping Gea.

“Udah selesai?” tanya Gea, langsung menurunkan layar laptop dan melemparkan senyum manis pada kekasihnya.

Jay menganggukkan kepalanya pelan kemudian berkata, “mau ke Hands Up café gak? Loose up a little bit, kamu keliatan capek banget kayaknya.”

Jay mengulurkan tangan, merapikan beberapa helai rambut Gea yang memang sudah terlihat agak berantakan.

“Aku belom selesai ngerjain tugas struktur. Mana gambar konsep aku juga abis dicorat-coret sama Pak Ari,” keluh Gea, bahunya merosot lemas mengingat revisi tugasnya yang menumpuk.

“Nanti aku bantuin, Ya,” potong Jay lembut.

Kalimat sederhana dari Jay itu seketika mampu membuat hati Gea menghangat. Tidak ada yang lebih menyentuh daripada bantuan tangan untuk tugas-tugasnya setelah di obrak-abrik oleh dosen.

“Oke, yuk! Aku juga udah laper. Makanan di sana enak gak?” Gea dengan semangat mematikan laptop dan memasukkannya ke dalam tas ranselnya.

Mereka jalan beriringan keluar dari himpunan menuju area parkiran Fakultas Teknik. Jay segera melajukan motornya membelah jalanan kota, menuju café yang ia sebutkan sebelumnya.

“Wah, rame banget, Ay,” komentar Gea ketika mereka melangkah masuk. Ia memanjangkan lehernya, berusaha mencari meja yang masih kosong di tengah riuhnya pengunjung café tersebut.

Melihat ada sebuah meja kosong, mereka langsung melangkah ke sana, duduk, dan langsung memesan makanan. Sembari menunggu pesanan mereka datang, Jay dan Gea duduk menikmati alunan live music yang sedang membawakan lagu bergenre pop akustik.

“Aku disuruh maju buat pencalonan kahim nanti, Ya,” ucap Jay membuka obrolan. Kahim adalah singkatan untuk Ketua Himpunan.

“Oh ya? Terus kamunya gimana? Mau? Tertarik buat coba?” tanya Gea dengan senyum manis di wajahnya. “Kamu sendiri pengen gak jadi kahim?”

“Belom pernah kepikiran sih sebenernya.”

“Coba di pikir-pikir aja dulu, Ay. Tapi kamu perlu inget, jadi kahim kan gak gampang juga dan tanggung jawabnya juga gede.”

Jay menganggukkan kepalanya, lalu menatap Gea dengan senyum jahil, berkata, “kalo nanti aku jadi kahim, berarti kamu jadi ibu kahim dong,” ledeknya jenaka.

Gea tertawa dan berkata, “mana ada kayak gitu.”

“Ada tau. Istrinya Pak RT aja di panggil Bu RT. Terus istri presiden dipanggil ibu negara. Kamu juga nanti bakal kayak gitu.” Jay tertawa, menanggapi obrolan itu dengan pembawaannya yang santai.

Bagi Jay, tawaran dari senior itu adalah kesempatan yang menarik. Prinsipnya, kalau memang jalannya dan terpilih, ya tinggal dijalani dengan totalitas. Gea yang melihat binar santai di mata kekasihnya itu hanya bisa tersenyum simpul, ikut senang melihat Jay yang selalu optimis dan siap menghadapi tantangan baru di kampus.

“Ada-ada aja ah kamu… Oh?” Kalimat Gea terputus. Mata Gea tertuju pada sosok yang familiar di belakang Jay.

Dia langsung melambaikan tangan dengan senyuman lebar. Jay menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang disapa oleh kekasihnya. Tampak Risa dan Daniel sedang berjalan bergandengan tangan mendekat ke arah meja mereka.

“Ketemu lo lagi ih, males banget gue,” canda Risa begitu sampai di depan meja.

“Halah, gaya lo! Sini gabung aja,” ajak Gea.

Jay yang awalnya duduk di seberang Gea langsung bergeser pindah duduk ke sebelah sang kekasih. Risa dan Daniel Pun pun segera mendudukkan diri di bangku kosong di seberang mereka.

“Dari mana, Ris?” tanya Gea.

“Habis dari Neo tadi gue. Nemenin Dan latian, dia ada lomba archery,” sahut Risa sembari meletakkan tasnya.

“Wiiih, kereeeen! Kapan lombanya, Dan?” tanya Gea.

Obrolan di antara keempatnya pun mulai mengalir dengan sangat seru. Di sela-sela obrolan itu, Gea diam-diam mengamati bagaimana Daniel dan Risa bisa terlihat begitu domestik. Sesederhana Daniel mendorong gelasnya agar Risa bisa mencicipi minumannya atau Risa yang menyuapkan potongan makannya ke mulut Daniel sembari mata mereka saling bertatapan dan berbicara dengan volume suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.

“Hebat banget pacar aku, makannya habis. Kamu mau nasi curry katsu lagi atau mau apa, Chagiya?” tanya Daniel dengan binar mata penuh bangga, sembari mengelus punggung Risa gemas.

Risa hanya bisa mencibir malu tapi tidak bisa menyembunyikan senyum senangnya. Gea bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana tatapan mata Daniel kepada Risa selalu terlihat teramat hangat, penuh binar, dan memuja. Terasa sangat tulus dan aman.

“Kamu kenapa, Ay?” tanya Gea pelan, menyenggol lengan Jay saat mendapati kekasihnya itu juga sedang memperhatikan pasangan yang duduk di depan mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Ah? Enggak...,” Jay mengerjap, mengalihkan pandangannya sejenak. “Gak biasa aja liat Risa manja-manjaan. Kalo di kampus gak keliatan kayak cewek yang suka manja-manjaan.”

Risa yang mendengar ucapan Jay langsung tertawa keras, begitu juga dengan Daniel.

“Risa kalo udah sama Daniel emang gitu, Ay. Kamu gak usah kaget,” timpal Gea ikut terkekeh.

“Emangnya kalo di kampus, Risa kayak gimana?” tanya Daniel penasaran. Senyuman dan binar di matanya sama sekali tidak hilang, terlebih subjek obrolan mereka adalah kekasihnya.

“Cewek cool dan sassy,” jawab Jay jujur dan santai.

Daniel tertawa geli mendengar penilaian Jay, lalu dengan gerakan penuh kasih sayang, ia mengusap puncak kepala Risa dan berkata, “well, she can be cool, sassy, cute and lovely, tergantung mood dia lagi gimana, dan gue suka semua sisinya,” kata Daniel jenaka, membuat pipi Risa mendadak merona merah.

Menyaksikan hal itu, dada Gea mendadak terasa sedikit tercubit. Jay tentu sering menatapnya dengan lembut dan memujinya, tapi itu hampir selalu terjadi saat mereka hanya sedang menghabiskan waktu berdua, di dalam mobil atau melalui sambungan panggilan video di malam hari. Jay cenderung lebih menahan diri dan menutup rapat ruang privat mereka jika sudah berada di tempat ramai. Sikap kaku itu sering kali kedok dari rasa insecure-nya sendiri. Sebuah ego yang terlalu takut terlihat rapuh atau dihakimi oleh pandangan orang lain di luar sana.

Kontras kecil itulah yang entah kenapa membuat Gea mendadak merasa ada sudut yang sedikit kosong di hatinya malam ini. Namun, Gea cepat-cepat mengusir pikiran itu dari kepalanya. Ia melirik Jay yang kini kembali fokus pada ponselnya di bawah meja, lalu tersenyum maklum.

“Eh, lo udah denger belom, Ge?” tanya Risa penuh semangat, mengalihkan fokus Gea kembali ke meja.

“Apaan?”

“Pengurus inti katanya udah mulai nyari nama buat calon kahim buat pemilihan besok.”

“Ooh, iya. Ini si Jay barusan dideketin dan disuruh maju buat jadi calon,” Gea menunjuk pria di sebelahnya dengan ibu jari.

“Iya? Siapa lagi Jay kira-kira calonnya selain lo?” tanya Risa kepo.

“Belom tau gue siapa aja yang bakal nyalonin,” jawab Jay seadanya.

Daniel melirik kekasihnya yang tampak sangat antusias, lalu mencubit pelan hidung Risa dengan gemas.

“Kamu kenapa semangat banget, hm?”

“Seru tau!”

“Apanya yang seru, Chagi?” tanya Daniel lagi sembari terkekeh, tangannya kini beralih menggenggam jemari Risa di atas meja, mengusap punggung tangan perempuan itu dengan ibu jarinya.

“Itu nanti pas debat. Aku suka pas liat debat kahim taun kemaren. Kayak panas banget, mana di cecer banget kan.”

obrolan di meja mereka pun terus bergulir dari pembahasan tentang pencalonan ketua himpunan, tentang panahan, rekomendasi film, hingga obrolan ngalor-ngidul yang membuat meja itu penuh dengan suara tawa.

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!