Brisella merupakan seorang koki dengan karir cemerlang. Namun, segalanya hancur ketika ia dikhianati rekan kerjanya dan diselingkuhi sang suami. Hidupnya berakhir hingga dia terlempar ke dunia lain.
Jiwa Brisella berpindah ke tubuh seorang Tuan Putri dari kerajaan miskin yang terjerat banyak utang. Dia bernama Brisella Sizilien. Setelah mengetahui kondisi kerajaan yang amat memprihatinkan, Brisella diharuskan berpikir dan bertindak membangun kerajaan ini kembali.
Sanggupkah nanti Brisella memanfaatkan kemampuan memasaknya untuk melunasi utang-utang kerajaan serta memakmurkan kerajaan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xeiralana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dendam Penduduk
Troyes terperangah kala dimarahi Lionel. Selain kurang ramah terhadap wanita, Lionel juga dikenal sebagai pembenci bangsawan. Tidak disangka kalau Lionel akan membela Brisella. Terlebih lagi, kemarahan Lionel menyebabkan aura sihirnya meluap-luap keluar hingga nyaris mencekik pernapasan Troyes.
“Cih!” Troyes berdecih kesal, ia pun menundukkan kepala sambil mengambil posisi salam penghormatan. “Salam hormat, Yang Mulia Putri. Maaf atas ketidaksopanan saya terhadap Anda.”
Intonasi suaranya penuh keterpaksaan. Jelas sekali dia membenci Brisella. Hampir semua orang di kerajaan ini menaruh kebencian pada gadis tersebut. Tidak perlu heran karena penyebabnya sudah pasti karena Brisella dianggap sebagai pembawa sial sekaligus pembunuh ratu yang paling dicintai rakyat.
“Tuan Marquess, tampaknya Anda terpaksa meminta maaf kepadaku. Kau punya masalah denganku? Seingatku, ini pertemuan pertama kita, bukan?”
Brisella menyeringai seraya melipat kedua tangan di dada. Apakah pria itu pikir dapat seenaknya merendahkan Brisella? Tentu gadis itu takkan membiarkannya begitu saja.
Troyes terdiam cukup lama. Apa yang baru saja dia dengar? Gadis penakut dan bodoh yang selalu terkurung di kamarnya tiba-tiba bersikap berani. Bahkan, sorot pandangnya tajam, sedikit pun tak gentar melayangkan perlawanan terhadap dirinya.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia tiba-tiba menunjukkan sikap penuh keberanian? Aku selalu mendengar bahwa gadis bodoh ini tak mampu berbicara dengan benar. Apa itu hanya rumor belaka?
Troyes berupaya tetap tenang. Bagaimana situasinya, tidak mengubah kenyataan yang ada di depannya hanyalah seorang gadis kecil yang baru keluar melihat dunia. Troyes merasa menang sebelum melawan Brisella.
“Wah, Yang Mulia, Anda belum pernah belajar etiket? Bisa-bisanya Anda menggunakan bahasa santai kepada saya,” jawab Troyes mencari-cari kesalahan Brisella.
“Kenapa aku harus menggunakan bahasa formal ketika berbicara denganmu? Memangnya kau siapa?”
Raut muka Troyes berubah masam. Lionel menahan tawa kala menyaksikan pemandangan mengejutkan itu. Dia pikir Brisella gadis lemah, rupanya dia jauh lebih berani.
“Lancang!” Troyes tak kuasa menekan emosi nan membara di dada.
Nyaris saja dia menampar pipi Brisella. Secara spontan Lionel mencekal pergelangan tangan Troyes.
“Jangan coba-coba kau sakiti tuan putri. Kau tahu konsekuensinya jika berani melawanku?” Suara dingin Lionel terasa mencekam. Ancaman yang dia lontarkan terdengar menakutkan.
Troyes langsung menurunkan tangannya. Melawan Lionel hanya membuat nyawanya melayang. Jengkel sekali bila harus menurut dengan orang biasa tanpa status bangsawan seperti Lionel. Akan tetapi, Lionel terkenal oleh kemampuan sihirnya setara Cassis sehingga membuat bangsawan kerajaan dan kekaisaran terpaksa tunduk hormat kepadanya.
“Saya hanya ingin mengingatkan Anda bahwa nasib kerajaan saat ini sedang berada di tangan saya. Apabila Anda bersikap kurang ajar, maka saya takkan memberi bantuan untuk melunaskan utang-utang kerajaan. Perhatikan posisi Anda karena Anda tidak lebih dari seorang tuan putri yang tidak berguna. Anda hanya beruntung menyandang status putri raja. Posisi Anda bahkan tidak melebihi rakyat jelata. Dasar pembawa sial!”
Selepas puas menghina Brisella, Troyes beranjak pergi tanpa menundukkan kepala. Kala itu Lionel ingin menghajar Troyes, tetapi Brisella menahan Lionel bersikap gegabah. Terpaksa Lionel menyimpan kejengkelan di hatinya. Dia berencana membalas Troyes nanti tanpa sepengetahuan Brisella.
Aku tahu si tua bangka itu meminjamkan uang karena ada maksud tertentu. Aku perlu bertanya pada ayah perihal apa yang dia tawarkan untuk menerima pinjaman dari bajingn itu. Sial! Hampir saja aku lemparkan batu ke muka jeleknya yang mirip cumi-cumi itu.
Troyes kembali ke kediamannya dengan perasaan kesal tak berujung. Apabila mengingat perkataan Brisella yang terkesan sebagai penghinaan, ingin rasanya dia memukul habis-habisan gadis kecil itu.
Suasana hatinya kian memburuk daripada sebelum saat dia berjumpa Brisella. Sang tuan putri berhasil mengacak-acak kewarasannya. Setelah melakukan pembicaraan dengan Razen, dia terlihat gembira, tetapi kegembiraan itu tidak bertahan lama.
“Hei, bawakan aku alkohol!” titah Troyes ke salah seorang pelayan.
“Alkohol? Tetapi, Tuan, dokter telah melarang Anda untuk meminum—”
“Cepat bawakan saja kemari! Jangan membantahku!” Troyes membentak si pelayan.
Amarah Troyes meledak-ledak. Terpaksa sang pelayan menuruti perintahnya segera sebelum dia terkena imbas dari kemarahan Troyes tersebut. Meski sebenarnya Troyes sedang dalam masa perawatan dokter sehingga dia tidak diperbolehkan untuk mengonsumsi alkohol.
“Tinggal selangkah lagi bagiku menguasai sebagian wilayah barat. Seandainya aku berhasil menguasainya, maka aku dapat dengan mudah menguasai tambang terbengkalai itu. Raja bodoh itu tidak menyadari sampai sekarang apa yang tersembunyi di balik tambang yang diabaikan selama ini.”
Mudah sekali suasana hati Troyes berubah. Kini dia tertawa kencang sambil membayangkan dirinya tenggelam dalam gemerlap harta melimpah. Dia berpikir rencananya dapat berjalan sesuai apa yang dia harapkan. Sangat disayangkan, beberapa waktu ke depan kemungkinan besar rencana tersebut dikacaukan oleh Brisella.
***
Di hari berikutnya, ketika langit malam berganti langit subuh, Brisella telah menyiapkan segala sesuatu yang dia perlukan untuk perjalanan hari ini, termasuk sepuluh botol sampel minuman instan kaffa yang disiapkan tadi malam.
“Kapan kau membuat sampel minuman ini?” tanya Nirana keheranan.
“Tadi jam satu malam, setelah aku bangun tidur.”
“Jadi, kau bermaksud langsung menuju guild perdagangan ketika menyelesaikan urusan kita nanti?”
Brisella mengangguk sembari menjawab, “Iya, rencananya seperti itu. Akan semakin baik bila aku memulai bisnisku karena Marquess Rimburt tampaknya sedang merencanakan hal mencurigakan.”
Brisella telah mendengar semuanya dari Razen. Dia sempat marah menjelang tahu kebenarannya. Dia pikir Razen sudah menerima pinjaman dari Troyes, ternyata dia belum menerima pinjaman tersebut. Razen harus menjadikan dua daerah di wilayah barat yakni Desa Sharnen dan Desa Shun sebagai jaminan pinjamannya.
“Ayah bilang si tua bangka itu sejak dulu selalu membujuk ayah agar menyerahkan kedua desa itu padanya. Apa yang membuat dia bersikeras menguasai kedua desa di wilayah barat itu? Mencurigakan sekali. Mungkin aku perlu menyelidikinya diam-diam,” gumam Brisella.
Begitu semuanya selesai, Brisella segera berangkat bersama Nirana beserta Hestio yang mengajukan diri menemani Brisella selama dalam perjalanan. Brisella membuang napas sejenak sebelum melangkah masuk ke dalam kereta kuda.
Sungguh kala itu dia sangat khawatir harus menapak ke tanah pemukiman penduduk Sizilien. Sebagaimana yang dia ketahui, dapat dipastikan 90% penghuni kerajaan menaruh kebencian terhadap dirinya. Apakah nanti dia akan diterima ketika masuk ke daerah tempat tinggal penduduk?
“Apa kau sedang khawatir?” Hestio bertanya begitu menyadari sang adik tengah gelisah.
“Sedikit,” jawab Brisella sambil mengulas senyum tipis.
“Jangan khawatir karena mereka takkan berani macam-macam denganmu.” Hestio mencoba menenangkan Brisella.
Brisella hanya mengangguk dan melengkungkan senyum lebar. Berkali-kali Brisella menghela napas demi menenangkan dirinya dari keresahan yang tak kunjung berakhir.
Sesampai di alun-alun ibukota Sizilien, tatkala Hestio membantu Brisella keluar dari kereta kuda, seketika atmosfer sekitar berubah mencekam. Seluruh tatapan mata dari segala penjuru ibukota mengarah pada sang tuan putri. Mereka memandang penuh dendam yang tertanam selama bertahun-tahun.
“Kenapa kau tiba-tiba datang ke tempat ini?!”
“Pergi kau dari sini! Dasar gadis pembawa sial!”
“Pembunuh! Jika bukan karena kau, ratu takkan mati mengenaskan!”
“Jangan injakkan kakimu di pemukiman kami! Sudah cukup kau membawa penderitaan bagi rakyat Sizilien selama lebih sepuluh tahun!”
Satu per satu bebatuan kecil datang menghantam badan Brisella. Hestio dengan sigap melindungi Brisella dari serangan penduduk.
jgn biarkan permaisuri jahat menang, kalo dia licik maka lawan dgn cara lebih cerdik lagi