Kematian sang ayah membuat Pandu Mahendra mendaki gunung untuk mencari ketenangan batin dalam bertapa. Alih-alih kesedihannya sirna, pendakian yang dilakukan saat malam Selasa Kliwon itu menelannya dalam entitas gaib yang menjadi momok menakutkan bagi para pendaki. Pandu mendatangi acara ngunduh mantu entitas bidadari sebagai mempelai pria!
Lantas bersama sahabatnya, mampukah Pandu keluar dari situasi pelik yang membuka rahasia keluarganya dan menggemparkan seisi rumahnya?
( Wajib baca Suamiku Seorang Ningrat terlebih dahulu untuk mengerti silsilah keluarga Pandu )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Agak maksa
“Bagaimana keadaanmu?”
Pandu mengamati ibunya yang dia anggap tidak mengetahui apa-apa. Tidak tahu Dewi Laya Bajramaya yang dia sembunyikan dan tidak tahu rahasianya. Batinnya menganggap semua aman.
“Aku sudah baik-baik saja, Bun. Peluk toh.” Pandu merentangkan kedua tangannya.
Ibunya mendesis meski tetap melakukannya, bahkan menciumi wajahnya seakan anaknya masih bocah cilik yang tidak risi karena perlakuannya.
“Aku nggak, Bun?” seloroh Nanang yang tiduran di samping ranjang Pandu.
Pandu dan Rinjani berbarengan menatapnya tajam.
“Sudah ditemani masa gitu.” Nanang memanyunkan bibirnya. “Sedetik juga bisa.” rayunya lagi.
Sebagai janda baru, rayuan Nanang tidak penting bagi Rinjani. Hidupnya kembali meriah dengan kejadian kemarin alih-alih menderita kesepian karena tidak adanya ayah Pandu di hidupnya.
“Besok kapan-kapan kalau khilaf.”
“Semalam kamu berharap tidak mau kehilanganku. Mosok pelukan saja masih perhitungan.”
“Asu sampean!” Rinjani melemparkan gulungan tisu kepadanya.
Nanang tergelak. “Aku sudah pulang, nggak usah sedih.”
Pandu membiarkan ibunya menggerutu sebelum tersenyum geli.
“Sudah, Bun. Nanti baper.”
Rinjani menabok punggungnya lagi. Sudah capek-capek semalaman, paginya harus mengurus pria itu lagi. Duda ganjen dan anak bungsu kurang ajar.
“Kamu bohong sama ibu! Kamu ngerti itu toh? Mau macam-macam lagi sama ibu?”
“Ampun, Bun. Aku khilaf. Aku minta maaf, aku janji gak begitu lagi. Ampun, Bun.”
Saking gemesnya, Pandu terus-menerus menerima tabokan punggung dari ibunya. Tabokan sayang.
“Jangan diulangi lagi, jujur saja toh. Apa kamu itu nggak ingat masmu dulu pernah jatuh di jurang gunung? Mbokyo cukup main-main dengan gunung apalagi main-main sama restu ibu!”
“Ampun, Bun. Sudah.” bujuk Pandu sambil menutup kedua telinganya dengan tangan.
“Aku mau pulang sekarang. Aku ada urusan penting, Bun.” Pandu menurunkan kakinya dari ranjang pasien. Sejak semalam dia sudah menjalani beberapa prosedur medis dan mendapatkan beberapa suntikan vitamin, obat dan infus serta istirahat dengan nyenyak.
Rinjani menahan pergelangan tangannya. “Urusan apa?” tanyanya dengan sorot mata menyelidik.
“Pokoknya ada urusan. Aku janji pasti pulang, ibu.”
“Gak akan ibu izinkan kamu naik gunung itu lagi!”
“Lho kenapa, Bun. Aku nggak naik gunung lagi kok.”
“Terus kamu mau ke mana?” Rinjani melepas pergelangan tangannya.
Pandu menghindari tatapan ibunya. “Pokoknya ada, temanku ketinggalan di gunung.”
“Siapa temanmu? Teman hantumu, Laras dan Genta? Terus kamu nggak kapok ditipu pamong ayahmu.”
“Dia cuma korban, Bun.” sanggah Pandu. “Ki Pawiro juga cuma di tipu.”
“Di tipu siapa?”
“Ah, mbuh. Pokoknya aku harus pergi sekarang!” Pandu mencopot sendiri jarum infus dari punggung tangannya.
Rinjani menggelengkan kepala. “Gitu caramu ngomong sama ibu setelah hilang? Hilang sopan santunmu sama ibu?”
Pandu mengusap wajahnya dengan kasar. “Aku frustasi, Bun. Cuma aku benar-benar buru-buru. Nanti aku jelaskan setelah selesai!”
Rinjani mencebikkan bibir. “Sana pergi, paling-paling kamu tidak akan menemukan apa yang kamu cari.”
Pandu menatap ibunya yang menghampiri Nanang setelah mencuekinya.
“Anak gadismu di hotel, jangan lupa bayar sendiri biayanya.”
Nanang menyunggingkan senyum seraya memalingkan wajahnya ke arah Pandu.
“Ibumu sudah bawa turun Dewi Laya Bajramaya, gak perlu kamu ke sana.”
“Ibu lho sukanya mancing-mancing dulu.” Pandu memeluknya dari belakang. “Gimana ceritanya ibu bisa ketemu dia?”
Rinjani mengurai pelukannya. “Kecut kamu itu, lepas!”
Pandu menggaruk lehernya saat Rinjani menatapnya dari atas ke bawah.
“Kenapa ibu lihat-lihat aku kayak gitu? Ibu mikir apa?”
“Mikirin kamu sama istrimu. Mikir apa, mikir apa!” sentak Rinjani.
Pandu masih menggaruk lehernya sambil menundukkan kepala. “Bukan mauku, Bun. Bukan aku yang minta nikah secepat ini dengan seorang bidadari. Aku maunya sama anak Kyai Arya. Aisyah. Tapi nggak mungkin toh.”
Rinjani dan Nanang sama-sama menyunggingkan senyum geli.
Rinjani mengelus bahunya. “Kamu pastikan kesehatanmu pulih dulu. Ibu yang ke basecamp untuk pamitan dan jemput rombongan.”
“Aku ke hotel saja.”
“Mau apa?”
“Ibu kenapa harus tanya-tanya toh? Ibu sudah tahu Dewi Laya Bajramaya gimana. Cupu banget, kasian.”
“Oh kasian. Ibu kira kamu ke hotel mau...”
Nanang berdehem. “Gak usah begitu, anaknya malu.”
“Daripada kamu malu-maluin!” sergah Rinjani seraya menarik kursi tunggu.
“Wes sekarang kita diskusi dulu ini mau gimana kasus Pandu dan Dewi? Orang-orang pasti akan menanyakan perihal pulangnya Pandu. Ibu tidak mau banyak orang kepo!”
Pandu setuju dan dirinya langsung memutuskan untuk tinggal di luar rumah utama sepulang dari Jawa Timur.
Oh Rinjani dan Nanang langsung sama-sama memberi lirikan mata penuh duga. Tapi agaknya menjadi ide bagus daripada Dewi Laya Bajramaya langsung terjun ke rumah utama yang memiliki banyak manusia penuh perangi.
“Boleh, bilang dulu sama bapaknya boleh tidak bawa anak gadisnya tidur satu atap?”
“BUN!”
Rinjani meringis. “Jangan cepat-cepat ngasih ibu cucu yaa...”
Pipi Pandu langsung merona. Dia mengambil tas ibunya lalu mengambil kunci mobilnya.
“Di mana ibu nginap?”
“Mobilnya mau ibu pakai ke basecamp.”
“Ibu bareng tim SAR dan kalo ada yang ingin tanya-tanya, jadikan om Nanang narasumber.”
“Hais... Jadi narasumber, jadi bapakmu kapan?” sahut Nanang setengah jengkel.
“Kapan-kapan kalo ibu mau. Gak udah maksa, Pandu semalam bisa keluar karena ikut aroma ayahanda. Ayahanda masih di sisi kami.”
“Iyo-iyo... Lagian kamu nikah sama anakku, aku bapak mertuamu. Ayo yang sopan, salim sama bapak.”
Pandu melengos sebelum kembali lagi. Dia mengambil tas kerilnya yang tergeletak di bawah ranjang pasien, lalu meminta uang ibunya.
“Ada di hotel ..., nomer ...”
Pandu menerima selarik kertas dari ibunya dan lima lembar yang seratus ribu.
“Hotel sudah ibu bayar, sebelum ke sana belikan Dewi baju ganti. Ukurannya XL.”
Pandu berdehem sembari melambaikan tangan. “Makasih, Bun, Om.”
Rinjani dan Nanang menghela napas panjang. Dan karena Rinjani penasaran, dia ingin menjadi orang pertama yang mendengar rahasia anaknya dan kahyangan.
Rinjani kembali duduk dan menghadapinya. “Apa boleh seperti itu?”
Nanang menarik selimutnya untuk menutupi wajahnya.
“Jangan sekarang.”
“Aku sudah lama menunggu, putrimu merindukanmu.”
“Aku juga merindukan kalian.” Nanang mengintipnya. “Jangan sekarang, tolong. Besok saja di rumah.”
Rinjani bersedekap sembari mengangguk. “Kehilangan mas Kaysan memicu banyak persoalan.”
“Selama masih bisa menjalaninya dan sehat, tidak ada gunanya mengeluh.”
Nanang batal menyentuh ujung jemarinya ketika Pandu kembali ke dalam.
“Ibu parkir di mana?”
“Di pojokan timur.”
”Aku pinjam ces hp ibu. Hpku mati, sekalian kunci kamar.”
Rinjani menggaruk alisnya lalu mengeluarkannya dari dalam tasnya.
“Sudah sana buruan ke hotel. Ibu kok rasanya khawatir Dewi kenapa-kenapa. Makan jangan lupa, Ndu.”
Pandu mendengus seraya menatap tingkah ibu dan omnya.
“Awas kalian dekat-dekat terus!”
“NGGAK!”
Pandu menghujani tatapan Nanang dengan serius sebelum pergi ke hotel. Dia membawakan makanan dan baju ganti untuk Dewi Laya Bajramaya.
Kurang dari satu jam, Pandu membuka kamar hotelnya dan mendapati Dewi Laya Bajramaya hanya duduk di tepi ranjang, nonton tv.
Pandu hendak menyunggingkan senyum, tapi muka si Dewi Laya Bajramaya tidak tampak senang. Tidak genit dan tampak layu.
“Dari tadi duduk?” tanyanya penasaran sambil menaruh barang bawaannya.
“Duduk, tunggu ibu sampai datang!” Dewi Laya Bajramaya mengulangi titah Rinjani tadi.
Pandu menyunggingkan senyum seraya mengeluarkan putik bunga teratai emas dari dalam tasnya.
“Kamu makan ini.”
Dewi Laya Bajramaya memandanginya putik itu dengan ekspresi berpikir keras.
“Di makan saja, kamu kemarin sudah janji nurut sama aku jika kita berhasil keluar dari kahyangan.”
Dewi Laya Bajramaya mengulang kalimat kahyangan berulang kali.
Gemas, Pandu langsung memaksanya menelan itu sebab ia berharap ada satu ingatan dipikirannya yang kembali hingga ia tidak cupu sekali.
...***...
apa Dewi balik LG kebumi trs hidup LG sama pandu begitu
jadi Dewi ini to yg dilepas sama bapak nya pandu .njur Saiki jadi bojonya pandu Owalh jann..mantab ayah ku jadi istriku ya Ndu