Ini kisah tentang masa muda, masa dimana masih mencari dan meraba cita cita, begitu menggebu jika menyoal sebuah rasa yang bernama cinta, jika ingin membaca sebuah kisah romansa yang berakhir bahagia, bukan di sini tempatnya, novel ini hanyala pembuka, sebuah awal dari kisah lima anak muda, para generasi ketiga keluarga Geraldy, tentunya dengan sedikit nostalgia, semoga penggambaran othor sesuai dengan ekspektasi pembaca.
selamat berpetualang kembali bersama Daniel, Darren, Luna, Dean, dan Danesh, di sini awal mula kisah mereka, sebelum mereka menempati buku mereka masing masing.
Happy Reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#30
#30
"Sayang… bisakah kamu tak terlalu jujur pada saudara saudaramu?" Tiba tiba Evan bersuara, terang saja gadis itu segera menoleh ke belakang, menatap Evan dengan pandangan kesal, namun yang di tatap semakin bertingkah tak tahu aturan, "Bukankah 'Milikku' juga akan menjadi ‘milikmu’ di masa depan? bahkan menjadi penentu kelangsungan hubungan kita." Lanjutnya tanpa perasaan, dan yang jelas kembali memancing huru hara.
Wajah Luna bahkan sudah memerah tak karuan, mendengar kalimat vulgar yang Evan ucapkan.
"Haruskan aku mengulanginya lagi? Apa kamu benar benar ingin aku menghancurkan 'MILIKMU'?" Balas Luna dengan menekan kata terakhirnya.
"Ganyang Sistaaaahh… aaaahhh … sakit b*go." Pekik Danesh, hendak memberi semangat pada Luna, sayangnya harus berakhir teriakan ketika tanpa sengaja Dean menekan luka di keningnya.
“Iya maaf … makanya jangan banyak gerak ini lagi di obati.” ujar Dean gemas, karena adik kembarnya tersebut, tak bisa diam sejenak.
Mereka benar benar melanjutkan keributan di unit kesehatan sekolah, Luna yang sudah terlanjur malu, kini tak lagi peduli, toh mereka semua sedang berada di ruangan tertutup, hanya ada dokter Sari sebagai pendengar dan penengah jika dibutuhkan.
"Waaahhh semakin garang semakin menggemaskan." Evan pun semakin terang terangan, kini kakak, bahkan adik adik sepupu Luna sudah jelas tahu perasaannya pada Luna, jadi sudah basah sekalian mandi.
“Emang dasar gak bisa didiemin nih bocah.”
Prang … Brak …
Tiba tiba Darren mendorong tubuh Evan hingga membentur rak obat obatan, bahkan Evan ikut ambruk di lantai.
Tapi Evan tak peduli, ia justru tertawa cengengesan, sudah kepalang tanggung, dan ia tak akan menyerah demi mendapatkan sang gadis pujaan.
“Darren sudah …” Cegah Luna, tak akan selesai jika masing masing masih memperturutkan emosi.
“Cukup Van, sebaik nya jaga kata katamu, jangan bicara hal hal yang mengusik ketenangan.” pinta Luna yang tengah susah payah
“CUKUP!!! hentikan!!!” Dokter Sari ikut angkat suara, “Jika tak bisa berhenti, silahkan lanjutkan perdebatan di lapangan, biar kalian puas meluapkan emosi, bahkan tak perlu takut memecahkan barang barang di ruang kesehatan.” Dokter Sari yang sejak tadi diam, kini mulai terpancing, “gimana ?? mau sekalian disaksikan teman teman kalian?”
Seisi ruangan mendadak diam, tak berani buka suara.
“Setidaknya kalian harus diam, dan biarkan aku menyelesaikan pekerjaan, setelah itu terserah kalian.” lanjut dokter Sari.
“Luna … terima kasih sudah membantu, sekarang kembalilah ke kelas, biar ku tangani para superhero kesiangan ini.” pungkas dokter Sari dengan nada sindiran.
Luna mengangguk, kemudian bergerak meninggalkan ruang kesehatan, karena bel tanda istirahat pun sudah berbunyi sejak beberapa saat lalu.
Evan menatap kepergian Luna dengan pandangan penuh minat, tak peduli pada tatapan Daniel dan Darren yang sungguh mengancam.
“Kakak ipar … jangan terlalu garang, aku akan buktikan, kalau aku layak menjadi calon pendamping adik kalian.”
“Sebaiknya berhenti sampai di sini saja, kami tak akan biarkan lelaki sepertimu, menjadi pendamping saudari kami.” Daniel.
“Kami akan pastikan hanya lelaki baik yang menjadi pendampingnya.” Darren.
“Dan aku akan buktikan, lelaki baik itu adalah aku.” Balas Evan dengan tingkat kepercayaan diri yang tak main main.
Usai menerima pengobatan, ke delapan siswa tersebut mendapatkan hukuman kedisiplinan dari pak Cipto selaku guru BP, pastinya hukuman tersebut tak akan pernah mereka lupakan.
.
.
Cekrek
Cekrek
Cekrek
Danesh sengaja berswafoto memperlihatkan beberapa bagian wajahnya yang babak belur, kemudian dengan isengnya mengirim gambar gambar dirinya ke Renata, tentu untuk tujuan iseng, tapi tanpa diduga segera mendapatkan jawaban cukup menyenangkan.
-Kenapa wajahmu?-
-Apa pengawalku yang melakukannya?-
-Kenapa kamu tak melawan mereka?-
-Jawaaaaabbb jangan membuatku khawatir-
Danesh tersenyum sumringah mendapatkan banyak pertanyaan dari Renata, “Apa sekarang kamu tahu, bagaimana rasa sakitnya di abaikan?” gumam Danesh usai membaca pesan kekhawatiran Renata.
Tapi dengan isengnya ia sengaja tak membalas pesan Renata, karena rencananya siang nanti ia akan memberi kejutan pada Renata, walau nyalinya pernah menciut kala mendengar fakta tentang Renata yang memiliki tunangan, tapi tentu hal itu tak serta merta membuat Danesh menyerah.
Danesh menatap mainan baru nya dengan tatapan berbinar, “Hari ini kita akan membuat kejutan yang tak akan Rena lupakan.” gumam Danesh pada mainan barunya.
Sementara itu di kamar sebelah, Dean pun tengah mengadu pada sang kekasih, “Gimana nih, apa aku terlihat jelek?” rengek Dean manja ketika melakukan panggilan video bersama Adhis.
“Nggak kak, kamu tetap tampan seperti biasa.” puji Adhis malu malu. “kenapa wajahmu bisa babak belur gitu?”
Dean tersenyum senang, pujian sederhana tersebut, cukup membuat sang playboy melayang saking bahagia nya. “janji kamu tetep cinta?”
“Iyaa … takut amat.” balas Adhis gemas, jika menilik usia dirinya jauh lebih muda, tapi urusan manja, Dean seakan tak mau kalah, kadang si tampan ini begitu dewasa ketika Adhis menggerutu atau ngambek, tapi di lain waktu Dean bisa bersikap manja mengalahkan Leon, adik sepupunya. “Kak acara party nanti …”
“Kenapa? kamu masih ragu dateng atau nggak?” tanya Dean tak suka, beberapa hari lalu ketika mereka kencan di cafe, perdebatan ini masih alot diperbincangkan, Adhis mengatakan, ia enggan datang, karena ia pasti ilfil berada di tengah teman teman sang kekasih, pastinya para gadis pun akan mengerubungi nya, sudah barang tentu semakin meningkatkan rasa cemburu, walau Dean berkali kali memberi penjelasan, bahwa ia tak akan berpaling hati, tapi entahlah, sulit bagi Adhis untuk percaya begitu saja.
Adhis mengangguk lemah, bibir nya cemberut, tak tega menolak keinginan Dean, tapi ia masih takut, banyak pertimbangan yang mendasarinya jika hubungan mereka terekspose, ia belum sanggup bersaing dengan banyaknya gadis yang berada di sekitar Dean, tentunya perasaan Sabrina tetap menjadi alasan utama, walau sebenarnya cinta tak bisa memaksa kemanakah hati akan berlabuh, mengingat mereka masih terlalu muda jika membicarakan masa depan sebuah hubungan.
“Kenapa Dhis, aku serius loh, bahkan tak masalah jika akhirnya hubungan kita diketahui banyak orang, termasuk keluarga ku,”
“Sepertinya kakak sudah sangat yakin?” tanya Adhis.
“Tentu saja, walau usiaku baru 17 tahun, aku yakin, karena para gadis di luaran sana, hanya sebatas persinggahan semata, aku ingin meyakinkan diriku, bahwa kamu adalah pelabuhan terakhir,” ucapan Dean sungguh meyakinkan, tanpa Adhis ketahui bahwa Dean memiliki maksud terselubung, perihal gadis yang akan menjadi tunangannya, Dean akan menjadikan Adhis perisai agar kedua orang tuanya dan opa Alex membatalkan rencana pertunangannya, disamping dirinya memang kini semakin menyayangi sang kekasih.
“Jadi beneran, aku harus dan wajib datang?”
“Ya iyalah sayang, nanti aku jemput, cape tau diem dieman gini, main sembunyi sembunyi, memang apa salahnya kita berhubungan, Aku gak punya pacar, kamu juga gak punya pacar, kenapa harus disembunyikan, udah kaya punya selingkuhan aja.” Gerutu Dean panjang lebar.
“Tapi kak Sabrina gimana?” tanya Adhis yang masih mencemaskan sang kakak sepupu.
Dean menarik nafas jengah, “Sabrina lagi, pelan tapi pasti, cepat atau lambat, Sabrina harus tahu, dan mulai menerima, bahwa yang aku cinta itu kamu, aku gak mau lagi kasih harapan buat dia yah,” Dean kembali cemberut, walau sudah lama menjadi casanova gadungan, tapi ia ingin kembali pada jalan kebenaran, kalo kata othor mah, tobatnya kecepetan, bahkan terkesan meragukan. “Masih belum percaya sama aku?”
“Percaya … maaf yah…” Ucap Adhis pada akhirnya, jika Dean sudah sedemikian meyakinkan, ia pun tak ingin meragukan kesungguhan Dean yang ingin segera memproklamirkan hubungan mereka.
“Nah gitu dong, kan bikin aku makin cinta … mmmuuuaacchhh …” Dean semakin berani menunjukkan perasaannya.
“...”
Suasana sunyi sesaat.
“Mmmm … kak, aku juga mau bilang sesuatu.”
“Hmm … apa itu, pokok nya jangan ada rahasia.”
Adhis diam sesaat. “Kok diam?” tanya Dean tak sabaran.
“Sebenernya aku …”
“Deaaann … bisa bantu mommy sebentar?”
Pembicaraan tersebut terjeda, karena tiba tiba mommy Bella membuka pintu kamar Dean.
“Bentar mom, lagi telepon.”
“Sebentar aja sayang, mommy gak kuat angkat nya, kayaknya perlu tenaga kamu deh.”
“Iya iya … aku pamit dulu yah.”
“Mommy tunggu di bawah,” mommy Bella pun menghilang dari balik pintu.
“Nanti aku telepon lagi yah, kaya nya mommy butuh bantuan.”
“Oke …”
Belum sempat Adhis menyelesaikan kalimatnya, wajah Dean sudah menghilang dari layar ponselnya.
Adhis menghela nafas sejenak. “Yah mungkin ngomong nya nanti pas party aja.” gumam Adhis.
itu namanya menyerahkan nyawa dengan sia sia👻
Evan noh👍🏼😆👻
biar inisial D semuanya 😁
senjata makan tuan Alex 👻😆
barusan dari lapak Dean
seharusnya baca ini dulu ya👻
trus lanjut kemana ini awak bacanya 😁