NovelToon NovelToon
BAYI UNTUK BOS MAFIA DINGIN

BAYI UNTUK BOS MAFIA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yudi Chandra

Kael Lucien Raventhorne dikenal sebagai bos mafia paling berkuasa, tampan, dan dingin. Di balik reputasinya yang membuat semua orang segan, ia menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun. Sebuah kecelakaan tragis merenggut harapan terbesarnya setelah dokter memvonisnya mandul. Kehancuran itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Ia berhenti memercayai cinta dan memilih menjalani kehidupan tanpa ikatan, berganti pasangan dari waktu ke waktu demi mengisi kekosongan yang terus menghantuinya.
Namun takdir mempermainkannya.
Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun yang polos dan cantik. Kesalahpahaman dan rangkaian kejadian di luar dugaan membuat gadis itu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kael menganggap peristiwa itu hanya akan menjadi satu bab yang terlupakan, sementara sang gadis berusaha bangkit dari kenyataan yang mengubah hidupnya.
Sebulan kemudian, gadis itu kembali hadir di hadapan Kael dengan kabar yang musta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18

"Didik adikmu dengan benar. Jika tidak, suatu hari nanti, dunia akan menghukumnya jauh lebih keras daripada yang bisa kau bayangkan."

Ucapan itu menggantung di udara, membuat ruangan kembali diselimuti keheningan yang mencekam.

Dada Aurora terasa sesak mendengarnya, harga dirinya seakan diinjak tanpa ampun. Semakin lama ia memandang pria itu, semakin besar amarah yang berkobar di dalam dirinya. Menurutnya, Kael telah bertindak seolah-olah dunia berada di bawah kendalinya.

"Apa sebenarnya maumu?" seru Aurora dengan suara bergetar. "Kau pikir karena memiliki kekuasaan, kau bisa menentukan hidup semua orang? Hidup dan mati tetap milik Tuhan, bukan milikmu. Jangan merasa dirimu paling hebat! Dasar pria menyebalkan, egois, gila kekuasaan... semoga suatu hari nanti kau menerima balasan atas semua kesombonganmu!"

Kata-kata itu meluncur tanpa sempat dipikirkan.

"Aurora, cukup!" Adrian segera menutup mulut adiknya sebelum gadis itu mengucapkan sesuatu yang lebih berbahaya. Wajahnya pucat karena panik. Tanpa membuang waktu, ia menarik Aurora menjauh dari ruangan itu.

Sebagai seorang kakak yang membesarkan adiknya seorang diri, Adrian tahu betul seperti apa sosok Kael. Ia tidak ingin kemarahan adiknya menjadi alasan yang mengancam keselamatan mereka. Satu-satunya yang ada di pikirannya saat itu adalah membawa Aurora pergi sejauh mungkin.

Sementara itu, Kael tetap berdiri di tempatnya.

Rahangnya mengeras. Kedua tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapan matanya berubah semakin dingin. Tidak banyak orang yang berani berbicara seperti itu di hadapannya, apalagi melontarkan kutukan secara terang-terangan.

Saat Adrian dan Aurora hampir melewati ambang pintu, Adrian tiba-tiba teringat sesuatu.

"Cassian," panggilnya kepada asisten Kael dengan nada sopan, "tolong buang tas adikku. Kami tidak membutuhkannya lagi."

Permintaan itu diucapkan tanpa menoleh ke belakang. Adrian hanya ingin segera membawa Aurora keluar dari tempat yang baginya terasa semakin mencekam, sebelum kemarahan Kael berubah menjadi sesuatu yang tidak dapat lagi mereka kendalikan.

Tanpa banyak bicara, Cassian membungkuk untuk mengambil tas milik Aurora yang tergeletak di lantai. Namun karena resletingnya tidak tertutup rapat, saat tas itu terangkat, seluruh isinya berhamburan ke lantai marmer.

Sebuah lip balm menggelinding ke sudut ruangan. Ponsel Aurora terjatuh dengan bunyi pelan. Di antara barang-barang itu, sebuah buku pemeriksaan kehamilan bersampul merah muda ikut meluncur keluar dan berhenti tepat di depan kaki Kael.

Tatapan Kael langsung tertuju pada buku itu.

Entah mengapa, ada sesuatu yang membuatnya terpaku. Perlahan ia membungkuk, lalu memungut buku tersebut. Saat matanya membaca nama yang tertera di sampul, dahinya langsung berkerut.

Ny. Aurora Elise Beaumont.

Namun, tepat di bawah identitas Aurora, tertulis nama suami yang membuat napasnya tertahan sejenak.

Tn. Kael Lucien Raventhorne.

Untuk pertama kalinya sejak pertemuan mereka, ketenangan di wajah Kael terusik. Gadis itu... bahkan telah menuliskan namanya sebagai suami di buku pemeriksaan kehamilan. Sebuah tindakan yang, menurutnya, menunjukkan harapan yang begitu besar sekaligus ketulusan yang tak pernah ia sadari.

Kael menatap buku itu beberapa saat tanpa berkata-kata.

"Tuan, biar saya saja yang membuangnya."

Cassian mengulurkan tangan, bermaksud mengambil buku itu. Namun Kael hanya mengangkat satu tangannya sebagai isyarat agar asistennya tidak ikut campur.

"Tidak usah."

Nada suaranya tetap datar, tetapi sorot matanya tidak pernah lepas dari buku tersebut.

Perlahan ia membuka halaman demi halaman. Setiap lembar dipenuhi catatan hasil pemeriksaan yang tidak begitu ia pahami. Hingga ketika sebuah lembar kecil terselip di tengah buku meluncur jatuh ke lantai.

Kael segera memungutnya.

Begitu melihat gambar hitam putih di atas kertas itu, ia langsung mengenalinya.

Itu adalah hasil foto USG.

Tatapan tajamnya mendadak membeku. Jemarinya mencengkeram lembaran kecil itu sedikit lebih erat, sementara untuk pertama kalinya sejak lama, dadanya diliputi perasaan yang tak mampu ia jelaskan. Ruangan yang semula terasa biasa kini mendadak sunyi, seolah hanya menyisakan dirinya dan selembar foto yang perlahan mengguncang keyakinannya.

Tatapan Kael tak beranjak dari foto USG yang berada di tangannya. Di bagian atas lembaran itu terpampang jelas nama Aurora, disertai keterangan usia kehamilan yang baru menginjak tiga minggu.

Dalam sekejap, dunia di sekelilingnya seolah berhenti berputar.

Jemarinya bergetar hebat hingga sudut foto itu ikut bergetar. Napasnya berubah tidak beraturan, sementara dadanya dihantam gelombang emosi yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya. Selembar kertas kecil itu terasa memiliki bobot yang jauh lebih berat daripada apa pun yang pernah ia genggam.

Matanya terus terpaku pada bayangan hitam putih di foto tersebut.

Ada sesuatu yang mengusik sisi terdalam dirinya. Tenggorokannya tercekat. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya, sementara pandangannya perlahan mengabur oleh embun yang memenuhi kedua matanya. Kael, pria yang selama ini dikenal dingin dan tak tersentuh emosi, untuk pertama kalinya merasakan dorongan kuat untuk menangis. Namun harga dirinya membuatnya tetap membeku di tempat.

Ia menarik napas panjang, berusaha mengendalikan gejolak yang mengacaukan pikirannya.

Beberapa detik kemudian, Kael mengangkat wajahnya dan menoleh kepada asistennya yang masih berdiri tak jauh darinya.

"Cassian." panggilnya pelan, tetapi suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.

"Ya, Tuan."

"Bagaimana hasil penyelidikanmu tentang gadis itu?"

Pertanyaan itu meluncur singkat, tetapi mengandung arti yang jauh lebih dalam daripada sebelumnya. Kali ini, Kael tidak lagi bertanya karena rasa curiga.

Ia ingin mengetahui seluruh kebenaran tentang Aurora. Tidak boleh ada satu pun fakta yang terlewat.

Cassian menarik napas pelan sebelum mulai menyampaikan hasil penyelidikannya.

"Tuan, saya sudah memeriksa latar belakang Nona Aurora secara menyeluruh. Selama ini ia tidak pernah terseret isu hubungan yang buruk dengan pria mana pun. Bahkan, sejauh yang saya temukan, ia belum pernah menjalin hubungan asmara."

Kael tetap diam, memberi isyarat agar Cassian melanjutkan.

"Memang ada beberapa pria yang pernah mencoba mendekatinya. Namun semuanya ditolak dengan baik. Tidak ada bukti bahwa ia pernah menerima pernyataan cinta dari siapa pun."

Cassian berhenti sejenak sebelum mengucapkan kalimat berikutnya dengan lebih hati-hati.

"Karena itu... kemungkinan besar Nona Aurora mengatakan yang sebenarnya. Sangat besar kemungkinannya bahwa bayi yang dikandungnya memang adalah darah daging Tuan."

Ruangan mendadak sunyi.

Kael tidak segera memberikan tanggapan. Rahangnya mengeras, sementara tatapannya kembali jatuh pada buku pemeriksaan kehamilan yang masih berada di tangannya. Semua informasi yang baru saja ia dengar perlahan menyusun potongan-potongan kejadian yang selama ini ia abaikan.

Beberapa saat kemudian, ia menutup buku itu dengan perlahan.

"Tinggalkan aku sendiri."

"Baik, Tuan."

Cassian membungkukkan badan hormat sebelum melangkah keluar, meninggalkan Kael seorang diri di ruangan yang kini terasa jauh lebih sunyi daripada sebelumnya.

Kael membawa buku pemeriksaan kehamilan milik Aurora menuju kamarnya. Setiap langkahnya terasa lebih berat dari biasanya. Untuk pertama kalinya, pria yang selalu mengambil keputusan tanpa keraguan itu membutuhkan waktu untuk berpikir.

Di dalam kamar, ia meletakkan buku tersebut di atas meja, lalu berdiri memandangnya dalam diam. Pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan dan penyesalan yang mulai muncul satu per satu.

Kini ia harus menentukan langkah berikutnya.

Dan keputusan yang akan diambilnya bukan hanya akan mengubah hidupnya sendiri, tetapi juga nasib Aurora dan bayi yang sedang dikandungnya.

...****************...

1
Badkill 99
cerita nyaa baagus..tpi diaalog nyaa sedikit bngt...
maap,unfollow dan unsubscribe
Badkill 99
dialog nya dikit banget,
Lisa
Halo Kak..aku mampir nih
Nur Halida
kenapa gak kamu aja kel yg gantiin brema malah gak datang juga terus aurora gimana kalo gak ada yg nikahin .. gak ngerti d3h sama jalan pikirannya si kael ini
Nur Halida
ihhhh .. masih saja gak percaya kalo itu anakmu..
Yudi Chandra: sabar ya bu🤭🤭🤭🤭 jangan emosi🤗 calm down😘
total 1 replies
Nur Halida
gimana kael ???kamu rela aurora nikah sama orang laen?? buang itu ke egoisan kamu
Yudi Chandra: hahhaha...jahat banget🤭
total 1 replies
Enz99
bagus
Yudi Chandra: makaciiiiiih🙏😘
total 1 replies
Nur Halida
dasar kael .. awas ya nanti kalo anakmu lahir dan mirip kamu entr kamu rebut dari aurora .. sok sok an gak mau ngakuin anakmu sekarang
Yudi Chandra: Hahaha....smoga dapat karma dia🤭
total 1 replies
Nur Halida
kael ini umur berapa sih??
Yudi Chandra: 35 kalo nggak salah😅
total 1 replies
Nur Halida
ku kira waktu kael nyelametin aurora di rumah sakit dia udah bisa menerima aurora dan bayi dalam kandungannya .. sampe katanya mau melindunhi aurora dari siapapun yg akan menyakiti aurora tapi ternyata kael balik lagi ke mode egois dan kek karakternya cenderung plin plan .. tumben kak author bikin karakter cowok yg plin plan kek si kael ini.. gak kayak karakter ethan, aiden atau ryuga yg tegas dari awal
Nur Halida
loh kok kael gitu lagi sikapnya??bukannya tafi katanya fia mau melindungi aurora??
Resti Guriangdani
seruuuuuuuuu
Yudi Chandra: Makaciiiiiih😘🙏
Ku harap kamu nggak bosen sama ceritanya ya😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!