Menjadi penyebab utama kecelakaan seorang wanita hingga berakhir buta, Yudha memutuskan untuk menikahi korbannya sebagai bentuk pertanggungjawaban. Pernikahan yang dilandasi atas dasar kasihan, dengan rahasia yang ditutup rapat-rapat demi menjaga mental Kalila.
Keduanya bahagia, dan kepribadian Kalila berhasil membuatnya jatuh cinta hingga menjadikan wanita itu sebagai dunianya. Namun, sebaik apapun bangkai disimpan pada akhirnya akan tercium juga. Saat Yudha setengah mati mencintai istrinya, Kalila mengetahui bahwa Yudha adalah penyebab kehancuran dunia dan mimpinya.
Lantas, bagaimanakah pernikahan mereka? Mampukah Kalila menerima pria yang telah menghancurkan dunianya? Atau justru memilih pergi dan turut menghancurkan dunia Yudha?
......
Follow ig : desh_puspita
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 - Andai
Fakta bahwa Soraya mengetahui rahasia di balik pernikahannya membuat Yudha seakan gila. Terlihat santai dan baik-baik saja di luar, tapi isi kepalanya seolah mau meledak. Hendak jujur juga tidak bisa, lidah Yudha seakan berat sekali untuk mengutarakan kejujuran.
Satu ketakutan Yudha, dia takut ditinggalkan, itu saja. Pernah merasakan kehilangan adalah alasannya. Terlebih lagi, mertuanya meminta agar Kalila tidak hanya buta tentang kejadian itu, melainkan tuli dan cukup mereka saja yang tahu bahwa Yudha penyebab hancurnya dunia Kalila.
Karena itu, yang bisa Yudha lakukan hanya menjaga agar rahasia itu tetap menjadi rahasia. Demi menghindari hal yang tidak-tidak, sejak satu bulan terakhir Yudha memperketat penjagaan dan memastikan tidak ada seorang pun yang bisa menemui Kalila tanpa izinnya, termasuk Raja.
Sama sekali Yudha tidak pernah bercita-cita untuk memperlakukan istri layaknya tawanan. Akan tetapi, dia memang terpaksa dan merasa hanya itu jalan yang bisa dia pilih untuk mempertahankan pernikahannya.
Lain halnya dengan Yudha yang merasa begitu bersalah, Kalila justru merasa begitu dipuja sejak satu bulan terkahir. Bagaimana tidak, Yudha benar-benar memperlakukannya bak ratu. Tidak hanya oleh pelayan, tapi Yudha sendiri yang bergerak hingga Kalila tidak pernah merasa kesepian.
Beberapa kali dia memang sempat bertanya, kenapa saudara Yudha tidak ada yang datang berkunjung sejak mereka pindah. Namun, Yudha memberikan jawaban yang memang sangat masuk di akal dan bisa Kalila terima, yakni jarak dan kesibukan yang menjadi penghalangnya.
"Hari ini pulang jam berapa?"
Pertanyaan favorit yang selalu Kalila lontarkan setiap kali Yudha hendak pergi ke kantor. Padahal, pergi saja belum, bahkan Yudha masih berada di hadapannya.
"Maunya jam berapa?" Yudha balik bertanya, senyum Kalila yang selalu mengembang manakala setiap paginya membuat Yudha semakin takut andai harus terpisah.
"Sewajarnya, asal jangan pulang malam lagi," pinta Kalila kemudian, agaknya dia trauma Yudha pulang malam, padahal hanya sekali dan masih dalam tahap wajar sebenarnya.
"Subuh boleh berarti?" tanya Yudha sebelum kemudian sebelum mendapat cubitan dari sang istri tepat di perutnya.
"Ih Yudha!!"
"Bercanda, mana mungkin pulang jam segitu." Dia masih bisa bercanda, tidak peduli meski beban di kepalanya berat luar biasa.
Selagi istrinya masih mengulas senyum yang sama, maka Yudha akan berusaha baik-baik saja. Dibandingkan jujur, Yudha lebih memilih untuk fokus mencari donor kornea mata untuk sang istri. Dia percaya jika Kalila sudah mampu melihat, setidaknya tidak akan sehancur itu.
"Aku pergi ya, jangan tidur pagi!! Kebiasaan kalau ditinggal tidur terus."
Bukannya berpikir, Kalila justru tertawa mendengar omelan suaminya. Hendak bagaimana lagi, Kalila tidak bisa melakukan banyak hal seperti dahulu, sudah tentu tidur adalah pilihan terbaik.
"Kamu ngajak begadang, aku tidur pagi apa salahnya?" Kalila mencebik, dia tidak sadar jika banyak yang mendengar ucapannya. Beruntung saja urat malu Yudha mulai longgar, dia hanya tertawa kecil tanpa peduli meski Jack tengah menunggunya.
Bagian paling malas menurut Jack, menunggu Yudha pamitan hampir sama dengan tradisi sungkeman, lama sekali. Entah apa yang mereka bahas, padahal mereka tidak kekurangan waktu berdua, pikir pria bermata biru itu.
"Sayangku Kalila, suamimu pergi dulu ya," pamit Yudha terakhir kali, wajah Jack sudah masam pertanda dia bosan.
"Nora, tolong jaga istri saya, jika ada apa-apa hubungi saya saja," titah Yudha yang kemudian Nora angguki.
Mereka berlalu pergi dengan kecepatan sedang. Jack menatap bosnya yang selalu merenung setiap saatnya. Tidak hanya hari ini, tapi setiap hari ketika berada jauh dari Kalila dia akan terus memperlihatkan hal yang sama.
"Ehem!! Ada masalah apa, Tuan?"
"Kalau mie gelas diseduh di mangkok, apa mungkin dinamakan pelanggaran, Jack?"
Menyesal Jack bertanya, agaknya dia terlalu berlebihan dalam mengkhawatirkan bosnya. Padahal, untuk berani melontarkan pertanyaan itu juga bukan hal mudah, Jack harus mengumpulkan keberanian karena memang hal itu bersifat privasi dan tidak seharusnya dia ketahui.
"Mungkin saja, tapi saya tidak tahu pastinya." Demi menghormati atasan, Jack tetap menjawab pertanyaan konyol semacam itu.
Yudha tidak lagi menjawab, dia memejamkan mata dan menunggu dengan sabar hingga nanti mereka tiba di kantor. Dia tidak sedang bercanda sebenarnya, hanya saja Yudha memang tidak ingin menjawab pertanyaan Jack untuk saat ini.
.
.
Jika di hadapan Jack dia persis siput masuk angin, di kantor dia kembali terlihat baik. Layaknya seorang pemimpin yang dikenal lemah lembut dan peramah, senyum Yudha tetap menjadi vitamin bagi para karyawan sekaligus penggemarnya.
"Pak Yudha gimana kabarnya? Kok rada pucat?"
"Sehat, Semarang dingin akhir-akhir ini," jawab Yudha seraya mengulas senyum, dia sama sekali tidak sadar jika senyuman itu membuat para wanita di sana masih nekat mendambakannya.
Status Yudha yang dahulu sempat membuat patah hati ternyata tidak mematahkan cinta mereka pada bosnya. Setiap pagi Yudha sudah disambut dengan sapaan manis dari para karyawan yang terkadang berakhir minta naik gaji.
Hal itu mungkin akan membuat beberapa orang risih, tapi bagi Yudha tidak. Sempat merasakan bagaimana berada di bawah mengajarkan Yudha untuk tidak menatap manusia berbeda, statusnya sebagai direktur utama tidak membuat Yudha semena-mena.
"Selamat pagi, Jihan!!" Masih sama seperti biasa, Yudha selalu menyapa sekretarisnya lebih dahulu.
"Eh pa-pagi, Pak Yudha."
Yudha menggeleng pelan, cara Jihan menjawab jelas menunjukkan jika ada sesuatu yang membuat wanita itu tampak tertekan. Bisa jadi kejadian satu bulan lalu, bagi Yudha cukup dijadikan momen lucu saja.
Kembali memasuki ruang kerjanya. Yudha menghempaskan tubuh di atas kursi kebesaran seraya menatap sofa di depan sana, baru juga ditinggal dia mendadak rindu lagi. "Kuajak ke kantor dia tidak mau lagi, kenapa ya."
Belum terjawab pertanyaan yang membelenggu pikiran Yudha, Jack kini masuk dan membawa sesuatu yang selama ini Yudha cari. Wajar saja pria itu mengatakan ada sesuatu yang penting tadi malam, ternyata benda itu kembali setelah lama hilang.
"Ya Tuhan ... bagaimana bisa kau menemukannya?"
"Pelakunya mengembalikan laptop itu kemarin," jawab Jack seketika membuat Yudha yang baru saja hendak memeriksa file-file di dalamnya mengerutkan dahi.
"Kau bercanda?"
"Tidak, ini orangnya ... namanya Johan, apa Anda masih ingat wajahnya?" Jack memperlihatkan sebuah foto yang sempat dia ambil secara diam-diam kala pria bernama Johan itu datang ke apartemennya.
Yudha tampak memicingkan mata, berusaha mengingat mata seorang pria yang sempat membuat darahnya seolah tumpah beberapa bulan lalu. "Bukan dia orangnya," jawab Yudha yakin, dia cukup pandai dalam mengingat dan mengenali wajah seseorang.
"Anda yakin? Lalu apa filenya ada yang hilang?" tanya Jack memastikan, dia sempat terkejut begitu mendengar jawaban atasannya.
"Aman-aman saja, tidak ada yang hilang atau rus_ sebentar, Jack."
Belum selesai Yudha bicara, ponselnya berdering hingga pembahasan itu terpaksa berhenti sejenak. Lagi dan lagi, Yudha dibuat bingung karena masih cukup pagi Nora sudah menghubunginya.
"Apa? Kenapa bis_ astaga, saya pulang sekarang."
.
.
- To Be Continued -
sukur🤣🤣🤣