Dibuang dan dibiarkan mati di kegelapan Alas Purwo, Satria Pamungkas justru membangkitkan "Sistem Penguasa Jagat". Di dunia Nusantara Kuno yang kejam, kesaktian adalah segalanya. Satria tidak peduli pada moralitas; ia menghancurkan musuh hingga ke akar-akarnya dan melipatgandakan energinya setiap kali menaklukkan wanita-wanita paling berpengaruh di jagat raya. Dari seorang buangan, sang anti-hero bangkit menembus ranah dewa, membangun imperium harem tak terbatas, dan memaksa seluruh Dwipantara bertekuk lutut!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIOR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Putusnya Jalur Langit dan Poin yang Melimpah
Kabut asap hitam korosif yang tersisa di pelataran istana dalam Blambangan perlahan-lahan menyusut, tersedot oleh pusaran aura perak murni yang memancar dari bilah hitam Pedang Bintang Tujuh Kedewaan.
Tujuh permata rasi bintang di pedang tersebut kini telah menyala sepenuhnya, memancarkan gelombang Prana dingin yang menggetarkan fondasi Altar Batu Hitam di belakang Adipati Bhre Wirabhumi.
Surokolo, sang kultivator dari Faksi Bajak Laut Laut Selatan, merasakan firasat buruk yang belum pernah ia alami sepanjang sejarah pertarungannya. Udara di sekitarnya mendadak terasa seberat timbunan batu gunung, mengunci pergerakan melayangnya yang semula begitu lincah.
"Kau... siapa sebenarnya kau?!" raung Surokolo, suaranya tidak lagi mendesis sombong, melainkan melengking panik dari balik topeng tulang ikannya. "Teknik pertahanan tubuhmu... itu bukan Ajian lokal biasa! Energi di dalam tubuhmu memiliki sisa esensi kedewaan!"
Satria Pamungkas tidak memberikan jawaban. Sifatnya yang dingin dan penuh perhitungan membuatnya enggan membuang-buang kata dengan mangsa yang sudah berada di ambang kematian. Baginya, kultivator asing ini hanyalah sebuah batu loncatan besar bernilai 60.000 poin sistem yang harus segera dieksekusi sebelum matahari semakin meninggi.
Sret!
Satria mengambil posisi kuda-kuda rendah. Kaki kanannya menapak kuat ke lantai marmer, menciptakan retakan sedalam mata kaki yang menjalar cepat ke segala arah.
"Ajian Pedang Pembelah Lautan... Tebasan Ketiga: Arus Balik Pusaran Ghaib!"
WUSH!
Tubuh Satria melesat maju bagai kilat perak yang memutus garis pandang mata fana. Kecepatannya yang telah digandakan oleh kepadatan struktur tulang baru hasil pil Segoro Wedi membuat Surokolo tidak sempat mengaktifkan mantra pelindung sekundernya.
Dalam kepanikan puncak, Surokolo mencoba menghentakkan kedua kakinya untuk melesat mundur ke udara. Namun, analisis sistem yang telah mengunci titik kelemahannya terbukti sangat akurat. Lintasan pedang Satria bergerak membentuk pola angka delapan yang terbalik di udara, memotong tepat pada jalur aliran energi meridian di pergelangan kaki sang kultivator.
CRASH! CRASH!
"AAAGHHH!"
Jerit histeris memecah kesunyian pelataran istana. Dua kaki Surokolo terputus rapi dari batas pergelangan bawah, menyemburkan darah berwarna hitam pekat yang berbau belerang. Tubuh melayangnya kehilangan keseimbangan spiritual seketika, jatuh berdebam dengan sangat mengenaskan ke atas genangan darah di lantai marmer, tepat di depan undakan Altar Batu Hitam.
Topeng tulang ikan raksasa yang dikenakannya terlepas saat terbentur lantai, memperlihatkan wajah aslinya yang penuh dengan guratan pembuluh darah hitam yang menonjol dan sepasang mata yang telah memerah sepenuhnya karena syok dan rasa sakit.
"Utusan Agung?!" Bhre Wirabhumi yang menyaksikan hal tersebut dari belakang altar berteriak dengan suara parau yang dipenuhi keputusasaan tingkat tertinggi. Seluruh harapan terakhirnya untuk mempertahankan takhta Blambangan runtuh berkeping-keping dalam satu kali tebasan pedang Satria.
Satria berjalan mendekati Surokolo yang merangkak mundur menggunakan kedua tangannya yang gemetar, meninggalkan jejak seretan darah hitam di atas marmer putih istana. Bilah hitam Pedang Bintang Tujuh Kedewaan diturunkan condong ke bawah, siap melakukan eksekusi akhir.
"Jangan... jangan bunuh aku, anak muda!" rintih Surokolo, wajahnya dipenuhi ketakutan yang mendalam. "Faksi Laut Selatan kami memiliki tiga orang Tetua Ranah Senopati puncak dan seorang Pemimpin Besar di Ranah Raja! Jika kau membunuhku di sini, tanda darah di sukmamu tidak akan pernah hilang! Kau akan dikejar oleh seluruh armada perompak ghaib kami hingga ke ujung dunia!"
Mendengar ancaman tentang faksi luar yang lebih kuat, seulas senyum kejam dan dingin justru muncul di wajah tampan Satria. "Tanda darah? Itu bagus. Aku justru berharap mereka semua datang bersamaan agar aku tidak perlu repot-repot berlayar ke tengah samudra untuk memburu mereka."
TEBAS!
Tanpa ragu sedikit pun, Satria mengayunkan pedangnya dari atas ke bawah. Bilah hitam itu memotong leher Surokolo dengan sangat bersih, mengakhiri hidup sang kultivator asing dalam sekejap mata. Jiwa hitam Surokolo yang mencoba melarikan diri dari jasadnya langsung tersedot dan hancur lebur oleh hawa dingin tujuh permata rasi bintang.
[Bip! Anda telah menumpas Utusan Faksi Bajak Laut Laut Selatan 'Surokolo' (Ranah Senopati Tahap 5).]
[Mendapatkan bonus poin keterlibatan faksi luar alur!]
[Mendapatkan: 60.000 Poin Sistem!]
[Saldo Poin saat ini: 129.000 Poin!]
[Pemberitahuan: Akumulasi poin telah melampaui 100.000. Toko Kategori 3 (Ranah Senopati & Teknik Langit) kini telah terbuka penuh!]
Mendengar konfirmasi dari sistem di dalam benaknya, Satria menarik napas dalam-dalam, merasakan kepuasan batin yang luar biasa. Angka 129.000 poin adalah modal yang lebih dari cukup untuk menembus batasan ranahnya saat ini menuju tingkat yang jauh lebih tinggi.
Ia membalikkan badannya perlahan, menatap langsung ke arah Adipati Bhre Wirabhumi yang kini telah jatuh berlutut di atas altar ghaibnya sendiri. Tubuh tua sang Adipati tampak layu dan kehilangan seluruh wibawa penguasa kadipaten; ia tidak lebih dari sekadar orang tua ringkih yang sedang menunggu vonis kematian.
Di samping Satria, Dyah Sekar Ayu berjalan mendekat. Selendang sutra hijaunya berputar pelan, memancarkan jarum-jarum cahaya kecil dari Mantra Cundamani yang mengunci setiap sudut pelarian sang Adipati. Matanya yang jernih menatap dingin ke arah pria tua yang setahun lalu memerintahkan pembantaian terhadap faksi-faksi sekutu Kadiri di perbatasan.
"Bhre Wirabhumi," ucap Sekar Ayu, suaranya merdu namun sedingin es musim dingin. "Hari ini, utang darah yang kau ukir di Alas Purwo dan tanah perbatasan akan dibayar lunas dengan runtuhnya dinastimu."
Bhre Wirabhumi mengangkat wajahnya yang pucat, menatap bergantian ke arah Sekar Ayu dan Satria dengan tawa hambar yang dipenuhi kegilaan. "Hahaha... runtuh? Ya, Blambangan mungkin runtuh hari ini di tangan kalian! Tapi ingat, Putri Kadiri... bocah di sampingmu ini adalah iblis yang sesungguhnya! Dia tidak peduli dengan kerajaanmu, dia tidak peduli dengan hukum Dwipantara! Kalian semua hanya akan menjadi pijakan bagi ambisinya!"
Satria tidak terpengaruh oleh upaya terakhir Bhre Wirabhumi untuk memecah belah hubungannya dengan Sekar Ayu. Baginya, kesetiaan Sekar Ayu telah terkunci rapat oleh hubungan mistis Asmaragama Siphoning dan ketakutan serta kekaguman yang mutlak.
"Kau terlalu banyak bicara untuk seorang rubah yang sudah terjebak di ujung lubang, Wirabhumi," ucap Satria datar.
Satria mengangkat tangan kirinya ke arah depan, mengaktifkan aliran Prana Ranah Wira Tahap 7 miliknya yang dipadukan dengan sisa energi pengikis tulang yang baru saja diserap pedangnya. Sebuah pusaran angin hitam keperakan meledak dari telapak tangannya, menciptakan daya tarik ghaib yang luar biasa kuat.
WUSH!
Tubuh tua Bhre Wirabhumi tersedot maju dari atas altar, terbang tak berdaya menembus udara sebelum akhirnya lehernya dicengkeram dengan sangat erat oleh tangan kiri Satria yang sekeras besi suci. Sang Adipati mencengkeram pergelangan tangan Satria dengan sisa kekuatannya yang lemah, kakinya menendang-nendang udara dalam keputusasaan yang tragis.
"Sekar Ayu, potong aliran Altar Ghaib di belakangnya. Aku tidak ingin sisa energi darah ini mengotori jarahan kita," perintah Satria tanpa menoleh.
"Baik, Satria," jawab Sekar Ayu patuh. Ia mengayunkan tangan kanannya, melepaskan puluhan jarum cahaya Cundamani yang langsung menghantam delapan cawan perunggu kuno di sekeliling altar hingga hancur berantakan. Kobaran api hijau keunguan padam seketika, mengembalikan atmosfer halaman istana menjadi normal kembali meski bau amis darah tetap menyengat.
Satria menatap mata Bhre Wirabhumi yang kian meredup dari jarak dekat. "Perjalanan Blambangan berakhir di sini. Dan kepalamu akan menjadi pengumuman pertama bagi seluruh penguasa Dwipantara bahwa era baru telah dimulai."
Dengan satu sentakan bertenaga murni, Satria mematahkan leher sang Adipati, mengakhiri kekuasaan rubah tua Blambangan untuk selamanya. Jasad tanpa nyawa itu dijatuhkannya begitu saja ke atas tanah, sementara fokus batin Satria langsung tertuju pada menu sistem yang berkilau cerah, bersiap untuk melakukan peningkatan kekuatan besar-besaran sebelum faksi-faksi lain menyadari hilangnya Kadipaten Blambangan dari peta bumi pertiwi.