Diana seorang gadis yang tidak pernah kenal siapa orangtua kandungnya bertemu dengan Adi Pramono seorang Presdir secara tidak sengaja bertemu di taman.
****
"Diana." Teriak Beni cukup keras sehingga orang-orang melihat Beni.
Diana tersentak kaget mendengar suara papanya yang cukup keras, tiba-tiba rasa takut menghampirinya.
"Apa papa marah padaku, tidak pernah papa teriak sekeras itu padaku." pikir Diana.
Beni berjalan dengan sangat cepat, dan terlihat Meri tersenyum sangat manis pada Beni.
Seketika Meri merasa ketakutan melihat Rudi masuk bersama polisi. Beni dan Rudi telah melaporkan kejahatannya pada polisi dan bukti yang mereka miliki tidak bisa disangkal Meri meskipun kejadian bertahun-tahun yang lalu.
Meri marah pada Beni karena Diana dan akhirnya melampiaskan kemarahannya dengan mengatakan semua rahasia yang selama ini ditutupi Beni.
"Anak haram, kamu itu anak haram Diana." ucap Meri membuat Diana terkejut dan terpukul hingga memutuskan untuk lari menjauh dari mereka semua. Diana terus berlari sampai dia lelah dan akhirnya berhenti di sebuah taman dan menangis tersedu.
"Hapus air matamu. Kau mau disini terus atau ikut denganku?" ucapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darmayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode tiga puluh
Adi terus menatap wajah Diana, entah mengapa ada gejolak aneh di dadanya. Perasaan yang begitu menginginkannya.
"Ah, apa lagi ini. Kenapa aku merasa gugup dan kecanduang melihat wajah polos gadis ini. Lebih baik aku ke kamar dulu, lama-lama disini aku bisa lepas kendali." Pikir Adi.
Adi meletakkan plastik berisi pakaian Diana dan bungkusan makan siang di atas meja kemudian berlalu kekamarnya.
Diana yang merasa mendengar ada suara terbangun dari tidurnya.
"Hoamm, apa dia sudah pulang? Ini bungkusan apa? Hem, dibuka atau tidakya."
Karena penasaran Diana membuka plastik di atas meja dan dia terkejut.
"Hah, pakaian perempuan dan sepertinya ini ukuran ku." Gumam Diana.
Diana yang sedang fokus melihat pakaian tersebut tidak menyadari jika Adi sudah berdiri didepannya.
"Kau sudah melihatnya?"
"Oh, eh iya. Maaf pak."
"Hem tidak apa-apa, itu memang untukmu. Mandilah dan ganti pakaianmu, baumu sangat mengangguku." Jawab Adi ketus.
"Eh iya pak." Diana menjawab dengan masih menundukkan kepalanya. Dia tidak berani mengangkat kepalanya mengingat ancaman dari Adi, jadi dia hanya menurut saja apa yang dikatakan Adi.
"Ayo, apa lagi yang kau tunggu. Apa kau mau membuat ku mati kelaparan karena menunggumu heh!" Suara Adi sedikit membentak membuat Diana terkejut dan seketika mengangkat kepalanya dan pada saat itulah pandangan mereka beradu.
"Tampan sekali wajahnya, sungguh sangat tampan." Gumam Diana dalam hatinya.
Adi yang merasa salah tingkah dengan tatapan Diana yang tidak bergeming mengeluarkan suaranya.
"Heh sudah puas kau melihat wajahku, aku tahu wajah ku sangat tampan. Tapi cepatlah bergegas jika tidak mau ku hukum." Bentak Adi membuyarkan lamunan Diana.
"Eh iya pak, maafkan saya." Jawab Diana sambil menundukkan kepalanya. Diana setengah berlari menuju kamar mandi dengan wajah yang memerah.
Diana yang tergesa kekamar mandi baru sadar jika dia tidak membawa handuk.
"Ah sial, aku tidak membawa handuk. Bagaimana caranya aku mengeringkan badan." Umpat Diana kesal.
Dengan malas Diana kembali keluar dari kamar mandi berjalam ke arah Adi.
"Mm maaf pak, itu mmm...." Diana terdiam memikirkan kata-kata yang pas untuk meminjam handuk.
"Eh gadis bodoh bicara yang jelas." Bentak Adi.
"Pinjam handuk pak." Jawab Diana kaget.
"Ah dasar gadis bodoh, kenapa kau berteriak. Apa kau pikir telinga ku tuli apa."
"Ma maaf pak, habis kenapa bapak membentak bicaranya jadi ya saya kaget." Jawab Diana polos.
"Ah kau ini, kenapa kau pinjam handukku?
Memang dikamar nggak ada handuk?" Tanya Adi heran.
"Kamar mandinya nggak ada handuk pak."
"Kamar mandi?" Tanya Adi bingung.
"Iya, kamar mandi yang dipojok itu pak. Didalamnya cuma ada tempat cuci tangan serta perlengkapan buat gosok gigi sama cuci tangan saja jadi saya bingung mau mandi caranya bagaimana?"
"Astaga, Diana. Kenapa kau bodoh sekali, kan aku sudah bilang kau boleh memakai kamar mana saja asal yang ada di lantai satu ini." Jawab Adi sedikit kesal.
"Ma maaf pak, saya bingung kamar yang mana pak. Saya takut salah nanti bapak memarahi saya lagi." Jawab Diana ketakutan.
"Huh, dasar gadis bodoh. Kamu pakai kamar yang tadi malam saja, dalam kamar mandinya ada handuk dan perlengkapan mandi. Silahkan kamu pakai. Dan ingat, cepat mandinya."
"Ba baik pak." Diana segera bergegas ke kamar tamu yang ditempatinya tadi malam dan langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Hemmmm segarnya, akhirnya aku bisa mandi. Badan ku lengket semua karena dari kemaren tidak mandi. Gila, ini baju atau apa. Harganya mahal banget. Ini bisa buat aku beli baju berapa stel ini, gumam Diana."
"Huh dasar orang kaya, suka hambur-hambur uang." Ujar Diana sambil melihat baju yang dibawanya.
"Apa-apaan ini, sampai pakaian dalam ku dibelikan. Mm tunggu, kenapa pas dengan ukuran ku. Apa mungkin dia? Ah tidak mungkin, tidak mungkin dia melakukan itu."
Tiba-tiba pikiran aneh mendadak muncul di benak Diana.
lagi vakum nulis novelnya, sekali lagi maafya. mgkn nanti dilanjutkan lagi 🙏🙏🙏