Dia dipandang rendah oleh keluarga istrinya, bahkan dia selalu mendapatkan hinaan, hanya karena dia seorang pria miskin.
Hanya Bastian dan Raisa yang tahu bahwa pernikahan mereka hanya sementara, itu semua agar Raisa mendapatkan warisan dari keluarganya. Dan Bastian rela menjadi suami sementara Raisa, untuk menebus hutang pada Raisa.
Namun, bagaimana kalau ternyata takdir membuatnya berubah? Sebenarnya Bastian berasal dari keluarga kaya raya, dia adalah sang pewaris dari perusahaan nomor satu di Indonesia. Sudah tiga tahun dia diusir oleh kakeknya karena sering menghamburkan uang.
Bastian akhirnya tau bagaimana susahnya mencari uang, ketika dia mendapatkan warisan dari sang kakek, dia bisa menjadi pemimpin perusahaan yang begitu mengagumkan, walaupun dia harus menyembunyikan identitasnya dari keluarga istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DF_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
"Tuan Edgar, apa anda tidak berlebihan mengeluarkan uang yang sangat banyak untuk menolong mereka?" tanya Zicko pada Bastian, saat ini Bastian dan Zicko sedang mengawasi lahan yang akan dijadikan pemukiman oleh orang-orang miskin yang dia tolong.
"Aku selalu teringat kata-kata papa, papa bilang jika aku sudah dewasa nanti, jika suatu saat nanti aku sukses, jangan pernah bersikap angkuh dengan harta yang kita miliki, tapi kita harus tetap rendah hati dan mengulurkan tangan pada orang yang membutuhkan bantuan kita."
Zicko menatap kagum pada Edgar. "Ya Tuan Andi William memang sangat baik, beliau juga yang telah mengadopsi saya dari panti asuhan, padahal dulu William Group belum sesukses sekarang."
Bastian selalu merasakan hatinya sakit saat mengingat bagaimana orang tuanya meninggal secara tragis.
14 tahun yang lalu orang tuanya Bastian sedang dalam perjalanan pulang, mereka sudah membeli kue dan juga hadiah untuk ulang tahun Bastian, mereka sengaja dari pagi bersikap cuek pada Bastian, seolah-olah mereka lupa dengan ulang tahun Bastian.
Saat mendengar kabar kecelakaan yang menewaskan ayah dan ibunya, Bastian ikut Tuan Athar untuk datang ke lokasi kejadian kecelakaan, betapa sedih dan sakitnya hati Bastian saat melihat di mobil yang telah rusak itu terdapat kue dan hadiah yang sudah tak terbentuk lagi, membuat Bastian menangis histeris.
Bastian menghela nafas dalam-dalam, nafasnya teras sesak jika mengingat kejadian 14 tahun silam.
Pa, Ma, Edgar sudah tumbuh dewasa sekarang, Edgar janji Edgar akan membuat William Group menjadi perusahaan yang semakin sukses dan Edgar tidak akan lupa diri dengan pencapaian yang telah Edgar raih._ lirih hati Bastian.
Sifat Edgar Bastian William dari dulu memang sangat hangat, walaupun sekarang ini dia harus berpura-pura angkuh di depan Raisa dan keluarganya, demi menyembunyikan identitas aslinya.
...****************...
Malam ini Bastian telah sampai ke Mansion sang istri, tumben sekali Raisa tidak mengirim pesan untuk membawa makanan atau hal lain padanya, bahkan ketika dia telah masuk ke dalam Mansion pun, Raisa tak nampak batang hidungnya.
"Kemana dia? Apakah dia sudah tidur?" gumam Bastian.
Tidak mungkin Bastian mengecek kamar Raisa, dia memang tidak diperbolehkan masuk ke dalam kamar sang istri, kecuali dalam situasi mendesak, seperti Raisa mabuk waktu malam pesta perayaan ulang tahun Montana.
Bastian lebih baik masuk ke dalam kamarnya sendiri, dia merebahkan tubuhnya, pekerjaan hari ini memang sangat melelahkan, apalagi dia harus melakukan penyamaran, siangnya menjadi Edgar, dan malamnya harus menjadi Bastian. Bukan hanya penampilan saja, karakter dan suara mereka pun sangat berbeda.
Tapi Bastian teringat dengan pekerjaan yang belum sempat dia selesaikan, Bastian bangkit kembali, dia segera membersihkan dirinya. Dia harus menyegarkan tubuhnya agar bisa konsetrasi bekerja.
Setelah mandi dan juga sudah berpakaian lengkap, Bastian membawa laptop yang disembunyikan di dalam lemari.
Kemudian Bastian memasukkan flashdisk ke dalam laptop, dan mulai mencari file yang harus dia kerjakan malam ini.
Tok...
Tok..
Tok...
Bastian kaget saat mendengar suara seseorang mengetuk pintu kamarnya. Tidak salah lagi, pasti Raisa.
Bastian segera menyembunyikan laptopnya di dalam lemari pakaian, kemudian dia membuka pintu kamar.
Bastian melihat Raisa yang sedang berdiri di depan pintu, gadis itu masuk begitu saja memperhatikan suasana di kamar Bastian, membuat Bastian merasa grogi karena harus berduaan dengan Raisa di dalam kamar, apalagi Raisa hanya mengenakan piyama tidurnya.
"Raisa, kenapa malam-malam datang ke kamar aku?"
Raisa menyilangkan tangannya di dada, dia memandangi Bastian dengan ekspresinya yang datar. "Cepat buka bajumu!"
"Hah? A-aku... aku harus buka baju?" Bastian nampak kaget mengapa Raisa menyuruhnya buka baju, apa gadis itu akan memberikan dia perintah untuk menidurinya.
"Iya." jawab Raisa, singkat.
Padahal Raisa ingin tahu mengapa Bastian tidak ingin Raisa melihat punggungnya, sehingga dia berpura-pura baik-baik saja padahal punggungnya terluka karena sudah menolongnya, sampai dilarikan ke rumah sakit.
kamu terlalu naif mengharap banjingan sekelas Tristan, saat kalian menikah kelak kamu akan tau belangnya dan rasa sakit hatimu akan berlipat ganda
gk di novel ini atau di novel yg lainnya sakitnya flu sama batuk... wkwkwkwkwk
Juga tidak banyak ulangan yang sekadar hanya untuk memperpanjangkan novel. Syabbash!!!