Putri Balqis yang biasa di panggil Balqis adalah gadis muda yang hidup sebatang kara.Gadis cantik dan lemah lembut yang tidak pernah tahu siapa orang tuanya karena ia hidup di besarkan oleh seorang nenek yang menemukannya saat bayi. Hingga akhirnya ia hidup seorang diri setelah sang nenek meninggal.
Muhammad Ibrahim atau yang lebih dikenal dengan panggilan Baim adalah seorang pemuda yang memilih hidup di jalan daripada di rumah. Meninggalnya sang ibu dan merasa ayahnya lebih sayang pada sang kakak membuatnya menjadi pemuda pemberontak yang tidak mau di atur hingga ia memilih menjadi bagian dari geng motor.
Baim jatuh cinta pada Balqis yang telah menolongnya dari pengeroyokan yang menimpanya.
Bagaimana kehidupan keduanya selanjutnya setelah pertemuan hari itu?
Happy Reading!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasa Al Khansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BUB 30 Tes DNA
Balqis Untuk Baim (30)
"Jika dugaan Papa benar, Papa pasti akan sangat melukai Baim, Pah."
"Papah tahu, tapi kalau dugaan Papa benar, mereka tidak bisa bersama."
Ilham menghela nafas.
"Balqis sangat mirip dengan wanita itu,"
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
Baim menatap langit-langit kamarnya. Ia tidak bisa tidur. Entah kenapa ia teringat ayahnya. Teringat akan keterkejutannya bertemu Balqis.
Ia penasaran apa yang membuat sang ayah terkejut. Apa mungkin ayahnya tahu sesuatu tentang Balqis. Namun, entahlah.
"Kenapa Abang belum tidur?," tanya Balqis yang terbangun.
"Belum mengantuk. Kamu kenapa bangun, ini masih malam." Baim melihat jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul sebelas malam.
Balqis diam. Dia tidak enak mengatakannya.
"Sayang, kenapa diam? Kamu mau sesuatu ?"
"Emm, itu,, aku lapar." jawabnya malu-malu. Bagaimana tidak malu, saat makan malam tadi,ia makan cukup banyak. Masakan ART di rumah Baim memang enak.
Baim tersenyum sambil mengacak rambut Balqis dengan gemas.
"Ayo ke bawah, kita cari sesuatu yang bisa di makan."
"Maaf." Balqis merasa tidak enak. Saat ia di ruko, Balqis pun sering terbangun malam karena lapar. Karena itu, ia selalu menyediakan makanan. Semenjak hamil ia memang begini.
"Kenapa harus minta maaf. Ayo, anak kita pasti sudah lapar." Baim menyerahkan kerudung instan milik Balqis. Bagaimana pun, saat ini mereka sedang berada di rumah Baim. Bukan di ruko yang haya di tinggali berdua saja.
"Terimakasih, Abang." Senyum manis Balqis tampakkan. Ia bahagia bersuamikan Baim. Karena ia selalu merasa di ratukan. Padahal ia awalnya khawatir kalau sikap Baim hanya akan lembut di awal saja. Mengingat dimana Baim hidup selama ini.
"Sama-sama,sayang "Baim menggandeng lengan Balqis dan menuntunnya ke dapur.
Malam yang sudah larut, membuat suasana rumah sepi. Lampu-lampu pun sudah di padamkan.
Ceklek
Baim menyalakan lampu di dapur agar penglihatan mereka lebih jelas. Baim mengajak Balqis duduk sementara ia membuka lemari, tempat dimana makanan itu di simpan.
"Aku mau mie saja, Bang. Pakai telur dan sayuran juga." Ucap Balqis yang ternyata sudah ada di samping Baim dan tiba-tiba ingin masak mie instan saat melihat ada mie di dalam lemari.
"Sayang, plisss! Kan tidak setiap hari." Balqis mengatupkan kedua tangannya di dada saat tatapan Baim terasa mengintimidasi.
Baim yang baru membuka mulutnya untuk melarang,kini diam.
"Baiklah. " Balqis tersenyum karena keinginannya di penuhi.
"Tapi, aku mau Abang yang bikin ya. Anak kita mau makanan buatan Ayahnya "
Lagi-lagi Baim mengikuti keinginan Balqis membuat Balqis senang hingga spontan mengecup pipi Baim saking senangnya.
" Aku mau ucapan terima kasih yang lebih dari ini ya!" Baim menaik turunkan alisnya.
"Ish Abang, itu mah nanti kalau kita sudah pulang saja." Balqis mencebik. Ia tahu maksud dari Suaminya tanpa harus di jelaskan secara gamblang.
Baim hanya tertawa. Ia meminta Balqis kembali duduk sementara ia melanjutkan memasak mie instan rasa soto seperti keinginan Balqis. Karena mie itu Balqis sendiri yang mengambilnya dari dalam lemari.
Selama Baim memasak, Balqis terus memperhatikan gerak-geriknya.
"Ini, makanlah selagi hangat." Baim meletakkan semangkuk mie yang masih panas dengan toping sesuai keinginan Balqis.
"Abang mau?"
"Tidak. Kamu saja."
Balqis pun memakannya dengan lahap. Terasa lebih nikmat karena ditemani suami tercinta.
Tiba-tiba air mata Baim menetes. Namun, ia langsung menghapusnya agar tidak terlihat oleh Balqis.
" Abang kenapa?." Balqis menyadari tatapan sendu Baim.
"Aku jadi ingat Mama." jawabnya.
Dulu, saat ia sering begadang untuk belajar, ibunda Baim terkadang membuatkannya mie instan malam-malam. Karena ketika sibuk, Baim selalu lupa makan malam dan lebih senang mie instan jika Waktu makan malam telah lewat.
Namun, mirisnya sejauh apapun usaha Baim, tetap dimata sang ayah tidak ada artinya. Karena kak Ilham lebih baik dari dia.
"Apa, almarhumah di makamkan di kota ini?" tanya Balqis.
"Hmm."
"Bagaimana kalau kita berziarah ke makam Mama. Mumpung kita masih disini." ajak Balqis.
"Tentu. Aku juga sudah lama tidak berziarah ke makam Mama.
...******...
"Bagaimana?."
" Aku sudah mengirimkan sampel untuk tes DNA ke dokter tadi pagi."
"Kapan hasilnya akan keluar?"
"Paling cepat satu Minggu."
Pak Angga menghela nafas. Ia berharap semuanya tidak seperti yang ia bayangkan.
"Apa rencana Papa jika Balqis benar anakmu?."
"Mau tidak mau kita harus membuat Baim dan Balqis berpisah." Ada rasa khawatir. Kebencian Baim akan sikap buruknya di masa lalu saja belum termaafkan. Lalu, sekarang ia pun harus menghancurkan masa depan Baim.
Ilham mendengus. Ia benci berada di posisinya saat ini.
"Rasanya kata maaf tidak cukup untuk menebus semua kesalahan Papa." Pak Angga menutup wajahnya. Penyesalan memang selalu datang terlambat.
Kehilangan sang istri merupakan salah satu pukulan yang menyakitkan. Ia meninggal dengan membawa kebencian. Kebencian pada suaminya yang selalu menganaktirikan putra bungsunya.
"Kapan Papa bisa keluar dari rumah sakit?"
"Dokter bilang sore ini. Setelah dilakukan pemeriksaan untuk memastikan kondisi Papa sebelum pulang." Pak Angga mengangguk.
"Bagaimana dengan Baim dan Balqis. Apa ia jadi menginap? "
"Begitulah."
"Bagaimana dengan Laras? Bukankah hari ini ia akan memeriksakan kandungannya?." Pak Angga tentu mengkhawatirkan kondisi sang menantu yang akan memberikan cucu pertama baginya.
"Sebentar lagi aku akan keluar. Aku akan menunggunya di depan rumah sakit."
"Semoga hasil pemeriksaannya bagus."
"Aamiin."
...******...
" Kenapa?." tanya seorang perempuan pada sahabatnya yang terlihat lesu.
" Aku pusing. Kemana lagi aku harus mencari donor sumsum tulang belakang untuk Tiara." Jawabnya sambil mengaduk makanan yang ia pesan.
Rini merasa iba pada sang sahabat. Namun, ia tidak bisa berbuat banyak.
"Harusnya aku tidak membuang anak itu. Aku sudah mencarinya ke tempat aku membuangnya. Tapi, tidak ada informasi apapun." sesalnya.
"Mela, tidakkah kamu merasa bersalah karena telah membuang darah dagingmu sendiri?. Sekarang kamu mencarinya hanya untuk menjadikannya obat bagi anakmu yang lain?." Geram Rini yang yg tidak paham dengan jalan pikiran sahabatnya.
"Dia hanya anak yang tidak aku harapkan."
"Tapi, ia ada karena kebodohanmu yang hanya karena putus cinta malah
melampiaskannya dengan minum-minum dan berakhir di kamar hotel."
Mela diam. Semua malapetaka memang berawal dari kebodohannya. Hingga ia harus kehilangan mahkota yang ia jaga.
Naasnya, ia tidak tahu siapa yang menghabiskan malam panjang itu dengannya. Apalagi orang itu memesan kamar hotel dengan identitasnya.
"Jangan lagi cari dia. Sekalipun dia masih hidup, ia akan semakin membencimu. Karena kamu membuangnya saat bayi dan mencarinya saat kamu butuh bantuannya."
"Tapi, dia satu-satunya harapanku saat ini."
TBC
...----------------...
...Dukung terus ya, supaya Author nya tambah semangat upload.....
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar dan subscribe...
...Terima kasih atas dukungannya...
...🥰🥰...