Sejak bangku SMA Lili dan Anjas bersama, berangan-angan menikah dan memiliki pernikahan impian, memiliki banyak anak dan hidup menua bersama.
Rencana itu begitu indah, hingga sebuah malapetaka menguji cinta mereka.
"Gugurkan, dia bukan anakku," ucap Anjas.
Lili termenung, menyentuh perutnya yang berdenyut nadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DW Bab 30 - Berubah Pucat
"Permisi Pak, saya mengantar kopi hangat milik Anda," ucap Felin ketika dia sudah berdiri tepat di hadapan meja sang atasan.
"Apa aku memintamu untuk mengantarkan kopi itu?" tanya Anjas pula, lengkap dengan sorot matanya yang nampak begitu tajam.
Felin bahkan sampai menelan ludahnya sendiri dengan kasar ketika melihat tatapan itu, dia tak menyangka jika berhadapan secara langsung seperti ini terasa begitu mengerikan, padahal ketika dia membayangkan di luar tadi semuanya tak semenegangkan ini.
"Maaf Pak, biasanya di jam seperti ini anda selalu meminta saya Untuk mengantarkan kopi. Sejak tadi anda tidak keluar dari ruangan, karena itu saya mengantarkannya langsung_"
"Jangan lancang," ucap Anjas, dia bahkan sampai memotong ucapan sang sekretaris.
Beberapa hari terakhir dia merasa Felin sudah terlalu banyak mengambil sikap di luar perintahnya dan itu sungguh membuatnya merasa geram, sementara Anjas ingin semua orang hanya mematuhi apa yang dia perintahkan.
"Maaf Pak, saya hanya merasa iba pada pak Anjas. Karena itulah saya berusaha untuk membuat anda tidak semakin tertekan dengan keadaan," jelas Felin pula, dia bicara dengan wajah yang menunduk. Meski merasa begitu takut tapi Felin tidak ingin mundur lagi, Karena sekarang adalah waktu yang tepat untuk dia masuk di antara hubungan Lili dan Pak Anjas.
"Apa maksud mu?" tanya Anjas, dia sungguh tidak memahami kemana arah pembicaraan wanita di hadapannya ini.
"Maaf Pak, beberapa minggu lalu saya tidak sengaja mendengar pertengkaran anda dan ibu Lili, saya tau jika anak yang dikandung oleh ibu Lili bukanlah anak anda," terang Felin secara gamblang.
Dan Anjas yang mendengar ucapan itu seketika terdiam, karena akhirnya ada salah satu karyawannya yang mengetahui tentang fakta ini.
Semakin lama semua orang pun akan mengetahuinya juga, mereka tidak akan pernah bisa selamanya menyembunyikan bangkkai.
"Saya tahu Anda begitu terpukul mengetahui tentang kebenaran tersebut, harusnya ibu Lili menggugurkan kandungannya dan menjaga nama baik anda. Tapi beliau justru mempertahankan kehamilannya yang tidak jelas," timpal Felin lagi, setelah mengucapkan kalimat itu rasanya lega sekali hati dia.
Akhirnya apa yang selama ini dia pendam terucap juga.
Felin bahkan mulai berani mengangkat wajahnya dan membalas tatapan sang tuan, melihat raut wajah pak Anjas yang nampak gamang.
Felin ingin pak Anjas merasa bahwa dia ada di pihaknya, seseorang yang selalu mendukung apapun keputusannya.
"Harusnya ibu Lili tidak keras kepala seperti itu, bahkan sampai berani melawan Anda. Jelas-jelas itu adalah anak haram," ucap Felin pula, bicara dengan suara yang begitu lembut dan penuh rasa prihatin.
Sungguh, Felin ingin pak Anjas tau bahwa dia sangat peduli, rela jadi teman berbagi untuk masalah ini.
Dan setelah cukup lama diam dan hanya mendengarkan semua ucapan Felin, akhirnya Anjas mengambil pergerakan.
Dia tidak langsung menjawab tapi lebih dulu bangkit dari duduknya.
Deg! Felin langsung berdegup jantungnya ketika melihat Pak Anjas berjalan mendekati dia. Jantungnya berdebar tak bisa menebak Apa yang akan terjadi setelah ini.
Mungkin pak Anjas akan memeluk dia, bersandar dan menyuarakan isi hatinya yang gundah.
Felin sudah menatap penuh harap, namun kemudian yang dia dapatkan bukanlah sebuah pelukan, melainkan tamparan yang begitu kuat.
Plak!
Felin sampai terhuyung dan nyaris jatuh, untunglah dia masih bisa menyeimbangkan tubuhnya.
"Jaga mulut mu, jangan lancang membicarakan tentang istriku. Ini adalah terakhir kalinya kulihat kamu bertindak sejauh ini, jika masih kamu lakukan Aku tidak akan segan memecat mu dari perusahaan ini," tegas Anjas.
Dan Felin seketika itu juga wajahnya berubah pucat.
rasa sayangmu pada anakmu itu wajar walaupun hasil pelecehan.
dan rasa sakit hati anjas juga wajar karna hargadiri laki itu besar
yg salah kalian tidak bicarakan tuntas dr awal sebelum menikah...
tidak ada anak haram dan rasa sayang pada anak itu alami bagi setiap ibu terlepas itu hasil dr hal bejat.