Pertemuannya dengan seorang gadis bernama Kanaya, membuat Ray bersumpah akan membuat gadis itu menyesal karena telah mengganggunya.
Namun ternyata sumpah itu berbalik padanya, dan membuat dunianya berubah. Bagaimana kisah mereka berlanjut?
Kisah ini bukan hanya sekedar tentang cinta, kalian akan menemukan badai yang besar di setiap kisahnya.
Maka siapkan hati untuk menerima setiap sentuhan yang Ray berikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Single elit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 30
Byurrr
Raka tersentak ketika air mendarat di wajahnya dengan kasar, bahkan cairan itu masuk ke dalam rongga pernafasannya hingga membuatnya terbatuk.
Raka mengerjapkan matanya pelan manik hitamnya menyesuaikan cahaya lampu yang tepat di atasnya. Kepalanya begitu pusing seakan mau pecah, dan sekujur tubuhnya terasa amat sakit.
Kepalanya tertarik untuk mendongak Ketika sebuah tangan menarik rambutnya kasar. Terlihat oleh pandangannya yang sedikit mengabur, seorang pria bertubuh tinggi besar berdiri di hadapannya dengan wajah yang di penuhi tatto.
" Raka...Raka...selamat datang di neraka. Hahahah "
Pria bertatto itu berbicara di depan wajah Raka, hingga bau alkohol begitu menusuk indra penciuman Raka.
" Ciih..pengecut!! " Raka meludah tepat di wajah pria bertato itu dan mengumpat dengan nada lemah. Kenapa begitu banyak banci yang sok seram seperti ini?
Pria bertato itu merogoh saku celananya mencari sapu tangan untuk mengusap wajahnya yang terkena ludah. " Lo udah bosen idup ternyata "
Pria bertato itu adalah Bastian, ayah Nino. Senyum menyeringai terukir di wajah Bastian, lalu melemparkan sapu tangan itu asal.
bugh bugh bugh
" Arrkk..."
Sebuah pukulan Bertubi mendarat di perut Raka yang kini duduk di kursi dengan posisi terikat kuat. Bahkan wajah tampannya tak luput dari serangan brutal Bastian.
Cairan merah mengalir begitu saja dari mulut Raka, pelipis dan hidungnya. Raka tidak dapat berbuat apa-apa, tubuhnya benar-benar sakit bahkan rasanya seperti akan mati.
" Jangan mancing emosi gue kalo Lo masih pengen ketemu sama bokap lu yang penghianat itu " Bastian bangkit lalu menendang kursi yang tadi ia duduki.
Raka mengangkat wajahnya untuk menjangkau wajah pria bertato itu, memicingkan mata sayunya memperhatikan pria itu lekat lekat.
" Apa mau Lo ? " Tanya Raka kemudian.
Bastian menoleh menghadap Raka yang menatapnya, wajah Raka sungguh mengenaskan rambut yang berantakan sedikit menutupi matanya, serta darah yang menghiasi wajah tampannya.
" Gue mau Martin hancur!! "
Bastian berjalan mendekat berdiri tepat di depan Raka denga berkacak pinggang. " Dan ini balasan karena Lo udah bunuh Nino!! "
Gubrak
Bastian menendang menendang keras wajah Raka hingga terjatuh kesamping. " Arkkhh "
Tawa Bastian dan anggotanya menggema di dalam ruangan itu, ruangan yang gelap dan pengap hanya ada lampu gantung di bagian atas Raka.
Sungguh Raka merasakan tulang kanannya patah karena tangannya yang lebih dulu mendarat di lantai, serta kepalanya yang turut absen di lantai itu. Pandangannya terasa mengabur hingga Raka memejamkan matanya perlahan karena tidak sanggup menahan rasa sakit itu.
****
Kanaya menyembunyikan wajahnya di dada bidang Ray, sungguh saat ini pipinya pasti sudah Semerah tomat.
Perlakuan Ray padanya sungguh membuat ia malu, Kanaya tidak mengerti kenapa degub jantungnya begitu keras jika bersama Ray.
" Jangan pasang muka kaya gitu " ucap Ray setelah meletakan Kanaya di atas ranjangnya. Ray sengaja membawa Kanaya ke dalam kamarnya, karena jika di kamar tamu jaraknya terlalu jauh dengan kamarnya.
" Kenapa? " Tanya Kanaya dengan wajah polosnya.
" Gue takut hilaf " bisik Ray di telinga Kanaya. Dengan menampilkan senyum mesumnya.
Kanaya membulatkan matanya, mendengar ucapan Ray yang tanpa sensor di depannya. Tidak kah Ray tau ia lugu? Dan polos?! Tolong catat.
Kanaya menjambak rambut hitam Ray yang sedikit panjang, hingga terdengar suara mengaduh.
" Awwww " pekik Kanaya seraya menyentuh bahunya yang terluka.
" Lo kenapa? Masih sakit? " tanya Ray panik melihat Kanaya kesakitan.
" Sakit banget, aku lupa belum sembuh " Kanaya menatap Ray dengan mata teduhnya. Suasana kamar yang dominan warna gelap membuat setan dalam diri Ray bergejolak. Ya Tuhan, cobaan macam apa ini.
Ray menyentuh tangan Kanaya lalu mengecupnya pelan. Kanaya terdiam mendapat sentuhan lembut di tangannya, hingga tanpa sadar Kanaya memejamkan matanya.
Melihat reaksi Kanaya yang terdiam menerima sentuhan darinya, Ray ikut memejamkan matanya lalu mendekatkan wajahnya. Kecupan ringan di pipi hanya sekilas. Sial!
Ray menangkup kedua pipi Kanaya, menempelkan hidung mancungnya dengan hidung Kanaya. Matanya memerah seakan menahan sesuatu dalam dirinya yang sedang meronta. Nafas memburu hingga Kanaya merinding di buatnya.
" Jangan pernah nguji kesabaran gue Kanaya " desisnya pelan di depan wajah polos itu dengan masih posisi yang sama.
" Ma--maksudnya? " Kanaya tidak bisa mencerna perkataan Ray, otaknya terasa konslet, akal warasnya seakan hilang. Membuat Kanaya seperti orang bodoh seketika.
" Mending Lo istirahat, gue ke bawah dulu "
Ray menutupi tubuh kanaya hingga batas pinggang lalu pergi meninggalkan gadis itu begitu saja tanpa suara. Lebih baik ia segera pergi daripada nanti ia lepas kendali.
Ray berjalan keluar setelah menutup pintu kamarnya perlahan. Menuruni anak tangga dengan perasaan gelisah, seperti ada yang meronta di dalam tubuhnya, ia butuh kamar mandi saat ini. Sial!
Setelah beberapa saat ia menghabiskan waktunya di kamar mandi tiba tiba perutnya berbunyi, ia merasa lapar. Hmm ada ada saja.
Ray berjalan keluar dari kamar tamu hanya memakai celana panjang saja tanpa baju, jelas sekali memperlihatkan dada bidang dan perut sixpack-nya. Ia fikir Kanaya sudah tidur jadi ia santai hanya memakai celana saja.
Ray membuka lemari pendingin itu lalu menutupnya dengan keras. Ia kesal karena isi kulkasnya hanya ada minuman dingin saja. Kenapa gue lupa beli stok bahan makanan? Gumamnya sendiri di dapur.
Ia membuka laci penyimpanan makanan, hanya ada mie instan disana dan spaghetti. Setelah berfikir sesaat Ray memutuskan untuk memasak spaghetti saja.
Ray memang tidak pandai memasak, tapi jika hanya spaghetti saja itu hal mudah. Setelah beberapa menit Ray berkutat di dapur lalu Ray membawa sepiring spaghetti itu ke ruang tengah, ia ingin menonton televisi lebih dulu untuk menghilangkan fikirannya tentang Kanaya.
Kini Ray terduduk sendiri di sofa sembari memakan spaghetti buatannya, meskipun tidak seenak buatan restoran tapi lumayan untuk mengganjal perutnya yang lapar.
Kanaya berjalan menuruni anak tangga perlahan untuk mencari keberadaan Ray, ia merasa lapar. Ketika ia menuruni anak tangga terkahir terdengar suara televisi dari ruang tengah, Kanaya segera berjalan kesana.
" Astaghfirullah, aku gak liat aku gak liat!! "
Pekik Kanaya sembari menutup kedua matanya. Sontak Ray menoleh mendengar suara Kanaya yang begitu nyaring. " Sstt jangan berisik, ini udah malem. "
Ray meletakan piring itu kenatas meja lalu berjalan mendekat ke arah Kanaya. Sungguh saat ini Kanaya merasa sesak nafas, jantungnya terasa ingin meledak.
" Stop!! " Ucap Kanaya karena melihat bayangan tubuh Ray yang berjalan mendekat ke arahnya. " Ka--kamu pake baju dulu, ja--ngan deket deket. "
Ray menaikan sebelah alisnya, memangnya kenapa kalau dia tidak memakai baju? Ray memandangi tubuhnya sendiri lalu menatap wajah Kanaya yang kini merah padam menahan malu. Jujur Kanaya akui Ray begitu sexy. Eh?
Ray menyentuh tangan Kanaya yang satunya, lalu menuntunnya untuk duduk di sofa.
" Buka mata Lo "
Kanaya perlahan membuka matanya, kini Ray sudah memakai kaos putih polos yang tipis. Masih terlihat lekukan roti sobek yang timbul dari balik kaosnya.
" Ngapain Lo turun? Lo kan mesti istirahat. "
" Aku laper " ucap Kanaya malu malu.
Ray tertawa kecil menatap wajah Kanaya yang tersipu malu. " Nih spaghetti, kita makan bareng. "
Ray menyodorkan piring itu di depan Kanaya, spontan Kanaya menelan ludahnya ketika melihat makanan itu yang terlihat enak. Kanaya langsung menyambar garpu itu, namun tangannya di tepis oleh Ray.
" Gue suapin aja "
Grrrr ... Mana enak di suapi, ia kan sangat lapar. Dasar kau!!
Dengan malu malu Kanaya membuka mulutnya, rasanya tidak terlalu buruk. " Ini kamu yang bikin? "
" Kenapa? Gak enak? " Tanya Ray spontan.
" Enak kok, aku baru tau kamu bisa masak. "
Ray tersenyum tipis, lalu kembali menyuapkan spaghetti itu untuk Kanaya dan juga dirinya.
" Udah malem mending kamu tidur. " Titahnya setelah selesai makan.
" Aku gak bisa tidur Ray, dari kemarin aku tidur terus di rumah sakit. Bosen " ujarnya dengan memajukan bibirnya.
Ekspresi kanaya sungguh menguji imanya Ray merasa sangat gemas. Ya Tuhan cobaan apa lagi ini? Bisa bisa ia bolak balik kamar mandi kalau Kanaya tetap disini.
Ray menghela napas kasar menyandarkan tubuhnya di sofa itu sembari memejamkan matanya, mungkin saja ia bisa tertidur dengan cepat sebelum ada desakan yang memaksa dirinya untuk pergi ke suatu tempat. Ah, sial!
🍁🍁🍁
Cut sampe sini dulu. Aku mulai gerah 😂
Gerah karena belum turun hujan😌
Mau tanya, kalian lebih suka alur yang kaya gini? Atau yang biasa aja? 🤔
Di tunggu komennya.
Okeh see you 😉