Kinanti Larasati, seorang ibu rumah tangga yang sudah memiliki 2 orang anak. Kesehariannya hanya mengurusi urusan rumah dan buah hatinya.
Sebagai seorang istri, Kinanti ingin diperlakukan manis oleh sang suami, tapi nyatanya, suaminya itu tidak peduli. Yang ada, suaminya itu selalu mengomel dan menuntut setiap apa yang dikerjakan oleh Kinanti.
Hingga suatu hari, Kinanti lelah dengan sikap suaminya yang tidak memperdulikannya dan juga kedua anaknya.
Follow Ig dan FB othor.
- Ig : Roliyah579
- FB : Roliyah Roliyah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roliyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Setiap deretan kata yang dilontarkan Kinanti, mampu membuat lobang besar di hatinya dan semakin besar lobang itu, semakin gelap dan seolah tak berujung.
Berkali-kali Yoga membuang napasnya. Perkataan Kinanti selalu saja membuat hatinya perih.
"Apa tidak ada kesempatan lagi buat ku?" Lagi, Yoga berkata dengan suara lirih.
Kinanti diam menatap wajah lelaki yang sudah memporak-porandakan hidupnya. Menjungkir balikan hatinya, sampai dirinya merasakan rasa sakit yang teramat.
"Maaf." Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.
Yoga mengadahkan kepalanya, mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh membasahi pipinya. Lalu, dengan perasaan lesu Yoga bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari sana.
Bohong rasanya kalau Kinanti tidak mencintai Yoga. Perasaan itu masih sama dan tidak berubah. Tapi ia harus melepaskan semua cintanya demi menjaga hatinya. Kinanti tidak ingin hatinya semakin terluka.
Bercerai adalah jalan satu-satunya untuk bisa terbebas dari yang namanya sakit hati.
***
Waktu pun silih berganti, sudah hampir satu bulan Yoga belum berhasil meraih kembali pemilik hatinya. Padahal Yoga sudah melakukan berbagai cara agar bisa mendapatkan hati ibu dari anak-anaknya.
Yoga semakin gelisah, mendekati waktu yang disepakati bersama. Di mana dalam satu bulan ini ia akan diceraikan oleh Kinanti.
"Apa lagi yang harus aku lakukan?" Lirih Yoga.
"Papa ...." Amar memanggilnya.
Yoga menoleh dan menjawabnya. "Apa?"
"Dua hari lagi kan libur panjang. Mm ...." Amar tampak ragu mengutarakan keinginannya. "Abang ingin liburan kali ini pergi ke puncak." Kedua tangannya saling meremat. Takut kalau keinginannya di tolak dan membuat sang ayah marah.
Melihat papanya terdiam tak berekspresi, membuat hati Amar semakin takut.
"Yakin ingin liburan ke puncak?" tanya Yoga, yang di jawab anggukan kepala.
"Baiklah. Lusa kita liburan ke puncak dan papa harus mengajukan cuti dari sekarang," tukas Yoga.
Rasa takut kini berubah sebuah senyuman. Amar sangat senang mendengar bahwa sang papa mengabulkan permintaannya.
"Terima kasih, papa," ucap Amar.
"Sama-sama," jawab Yoga.
Hari yang dinanti-nanti pun tiba, Amar sejak pagi sudah sangat antusias untuk segera pergi liburan. Bahkan dari semalam Amar sudah mempersiapkan segala sesuatunya sendiri tanpa bantuan orang tuanya.
"Ayo, pa. Kita segera berangkat," ujar Amar.
"Tunggu, mama belum selesai siap-siap nya," sahut Yoga.
Amar harus sedikit bersabar menunggu sang mama selesai merias diri. Tidak berselang lama, Kinanti keluar dengan pakaian kasual.
Kinanti berjalan tanpa tongkat lagi. Kakinya sudah sembuh, tapi terkadang rasa pegal masih Kinanti rasakan.
"Pa, ayo berangkat. Mama sudah selesai," ujar Sasa, yang sama tak sabaran untuk pergi liburan.
Mereka semua segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya membelah jalanan.
Amar dan Sasa sangat menikmati setiap perjalanan yang mereka lalui, meski jalannya macet di beberapa titik.
Kurang lebih dua jam menghabiskan waktu, akhirnya mereka sampai juga di sebuah penginapan dengan pemandangan yang indah dan pastinya udara sejuk menyambut keluarga kecil itu.
"Kita sudah sampai," seloroh Yoga.
Kedua bocah itu langsung turun dari mobil dan tersenyum senang melihat tempat yang akan menjadi destinasi kali ini. Amar dan Sasa segera mengikuti langkah orang tuanya masuk ke dalam bangunan yang Amar tahu itu tempat bayar penginapan.
Barang-barang mereka di bawa sama pelayan resort dan mengikuti langkah pelayan resort menuju kamar mereka.
Rumah mungil dengan 2 kamar tidur, satu ruang keluarga dan dapur yang merangkap jadi satu ruangan. Sasa dan Amar berlari ke kamar yang ada dua tempat tidur.
"Adek tidur di sebelah sini," ucap Sasa yang memilih ranjang sebelah kanan.
Sementara Kinanti dan Yoga ke kamar yang satunya lagi. Di sana hanya ada satu ranjang berukuran sedang. Yoga membuka jaketnya dan meletakkan di atas tempat tidur. Lalu Yoga merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Punggungnya yang menyentuh kasur empuk, seketika nyaman merasakan punggungnya yang terasa pegal.
"Kita istirahat dulu. Nanti sore, baru kita keluar," ucap Yoga.
Kinanti menjawabnya dengan anggukan kepala. Lalu Kinanti berlalu dari sana dan menuju kamar anak-anak.
Seperti ucapannya, Yoga mengajak anak dan istrinya pergi jalan-jalan. Yoga mengajak keluarga kecilnya berkuliner di daerah puncak.
"Papa adek mau jagung bakar," pinta Sasa, ketika mobil mereka melewati pedagang jagung bakar.
"Oke," jawab Yoga dan menghentikan laju mobilnya.
Amar dan Sasa langsung memesan jagung bakar, sementara Kinanti hanya diam melihat kebahagiaan keduaa anaknya. Kinanti senang melihat keceriaan anak-anaknya.
"Kamu mau jagung bakar juga gak?" Tawar Yoga.
"Tidak. Terima kasih," sahut Kinanti, sembari mengambil kursi plastik dan mendudukinya.
Tidak lama jagung bakar pun sudah jadi, Amar dan Sasa segera menikmatinya.
"Pelan-pelan. Jagungnya masih panas," ujar Yoga kepada Sasa.
"Papa ke sana dulu, beli minuman," sambung Yoga.
"Iya," jawab Sasa lagi.
Yoga segera membeli minuman di warung sebelah.
Kinanti yang begitu serius memandangi kedua anaknya, terkejut ketika seseorang menyapanya.
"Kinanti ...." Sapa orang tersebut.
"Kevin ...." Kinanti terpaku melihat Kevin ada di sini.
Bibir Kevin melengkung seperti bulan sabit. Ia tak menyangka akan bertemu dengan Kinanti di sini.
"Kamu lagi liburan?" tanya Kevin.
"Iya, anak-anak pengen liburan ke sini," sahut Kinanti.
Tanpa permisi Kevin duduk di samping Kinanti.
"Mau minum," tawar Kevin kepada Kinanti.
"Tidak. Terima kasih." Tolak Kinanti halus.
Dari warung Yoga menatap tajam lelaki yang duduk di samping istrinya. Lelaki yang bernama Kevin tampak akrab dengan Kinanti, membuat hatinya kebakaran lokal.
"Berani sekali lelaki itu!"