Kisah cinta dan peliknya kehidupan Nadia Mark Wijaya. Menjadi anak 'brokend home' bukanlah bagian mimpinya.
Saat suami menghianati istrinya..
Papa yang melukai anaknya..
Dan, kekasih yang mematahkan kepercayaan atas cinta!
Hidup Nadia benar-benar berantakan, mulai dari perceraian kedua orang tuanya karena perselingkuhan papanya. Ditambah kenyataan sang kekasih bermain api dengan kakak tirinya.
Berbagai pengkhianatan dari orang-orang terdekatnya membuat Nadia tidak lagi mempercayai cinta. Hanya kebencian yang kini menyelimuti hati wanita itu.
"Aku adalah pemeran utama dalam sandiwara kecil berjudul KITA, namun kau bawa dia dan mengubah alur cerita."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiya Corlyningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tulang Punggung VS Tulang Rusuk
Sonia menatap Ardika dari kaca spion mobil yang kini dia tumpangi bersama Nadia dan juga salah satu pegawai cafenya. Sonia memejamkan matanya, dia tidak sanggup untuk lebih lama lagi berdekatan dengan lelaki yang sampai saat ini masih membuat degup jantungnya berdetak tidak karuan.
Wanita itu memalingkan wajahnya kesamping kiri menatap jendela, rintik gerimis menyertai bersama gerimis yang ada di hatinya. Entah butuh waktu sampai kapan lagi agar Sonia bisa menghapuskan perasaannya.
Ayolah hati, bekerjasamalah dengan pikiran. Dia lelaki yang telah melukai perasaannya dan juga perasaan putrinya. Lelaki seperti itu sama sekali tidak pantas untuk mendapatkan perasaannya seperti dulu lagi. Bahkan Sonia menyesal telah mempercayakan hidupnya dan sepenuhnya menjadi ibu rumah tangga demi lelaki itu disaat dulu karirnya sebagai desainer tengah naik daun.
“Mama nggak apa-apa kan?” tanya Nadia yang merasa khawatir dengan kediaman mamanya.
Sonia menoleh ke arah Nadia, wanita itu tersenyum namun justru terlihat sangat menyedihkan bagi Nadia. Ini semua gara-gara papanya yang selalu saja mengusik kedamaian hidup mereka berdua.
“Mama hanya sedikit lemas,“ jawab Sonia tersenyum.
“Mama tidur saja, nanti kalau sudah sampai Nadia bangunkan,“ ucap Nadia diangguki mamanya.
Nadia menghela napasnya panjang, dia benar-benar tidak bisa seperti ini terus menerus. Keinginannya dan sang mama untuk pindah dari Jakarta ke Bandung demi menghindari papanya dan keluarga kedua papanya. Nadia tidak sanggup melihat keluarga itu, jujur saja Nadia ingin memaki dan menghujat seluruh keluarga itu namun dia tahan demi mamanya yang selalu mengajarkan tentangnya perihal memaafkan. Meskipun Nadia sama sekali belum bisa mempraktekkannya kepada papa dan keluarga baru papanya.
Nadia mengingat kembali masa lampau, dimana papanya sering kali tidak bisa hadir di acara ulang tahunnya sendiri karena Pevita yang lahir ditanggal yang sama dengan dirinya. Nadia tidak tahu apapun saat itu, yang wanita itu tahu hanyalah papanya sedang pergi ke luar kota untuk urusan bisnis.
“Papa kerja untuk beliin Nadia hadiah.“ Itulah kalimat yang selalu mamanya ucapkan untuk menenangkan Nadia kecil yang sangat sedih karena papanya tidak pernah bisa merayakan ulang tahunnya bersama-sama, mungkin hanya dua kali saja seumur hidup Nadia.
Jelas sekali, papanya lebih mementingkan Pevita dan Ferra daripada dirinya dan sang mama.
Getar di ponsel Nadia membuat wanita itu tersadar dari lamunannya, Nadia segera menghapus air mata yang kini siap untuk meluruh.
Nama Olivia tertera di layar ponselnya.
“Iya hallo?”
“Hallo Nad, mama sudah keluar dari rumah sakit?” tanya Olivia.
“Ini perjalanan pulang, ada apa?” tanya Nadia.
“Aku, Kak Rehan dan Kak Fernand mau ke sana, sekalian sama teman-teman lainnya,“ jawab Olivia.
“Hm aku mengerti, tapi bawa makanan sendiri ya,“ goda Nadia membuat Olivia berdecak di sana.
“Baiklah, special for you!” jawab Olivia diikuti tawa dari mereka berdua.
Akhirnya mobil yang mereka tumpangi memasuki pelataran rumah mereka setelan satpam rumah mereka membukakan gerbangnya. Nadia membangunkan mamanya, Nadia membantu mamanya berjalan masuk kedalam rumah. Pelayan rumahnya, Mbak Wulan segera menghampiri mereka untuk membantu Sonia berjalan.
“Duduk dulu Bu,“ ucap Mbak Wulan membantu Sonia untuk duduk di sofa ruang keluarga mereka.
Mbak Wulan membawakan air putih untuk Sonia.
“Diminum dulu Bu Sonia,“ ucap Mbak Wulan diangguki Sonia.
Mbak Wulan lah yang ikut membantu Sonia mengurus keperluan rumah dan Nadia saat wanita itu sibuk di café bakery dan butiknya. Tanpa Mbak Wulan, mungkin saja Sonia akan kerepotan.
“Assalamualaikummm.“
“Waalaikumsalam,“ jawab mereka spontan.
Nadia tersenyum melihat Olivia dan para teman-teman Fernand turut datang ke rumahnya.
“Ini,“ ucap Fernand menyerahkan beberapa plastik makanan dari restaurant pizza kepada Nadia.
“Aku meminta Olivia kenapa kamu yang bawa?” tanya Nadia memicingkan matanya kearah Olivia.
“Hei, Kak Fernand sudah memesannya lebih dulu sebelum kamu meminta,“ jawab Olivia membela dirinya sendiri.
Sonia tersenyum melihat interaksi mereka semua, Mbak Wulan mempersilahkan mereka untuk duduk di ruang tamu. Tapi mereka malah lebih memilih duduk di karpet ruang keluarga menemani Sonia disana.
Banyak celotehan dan juga cerita-cerita lucu mereka yang membuat Sonia terlihat sangat bahagia. Beruntung sekali Nadia dikelilingi orang-orang baik yang sangat menyayangi Nadia dengan tulus. Nadia mengajak teman-temannya untuk mengelilingi taman belakang rumahnya yang terbilang sangat bagus.
Fernand menggenggam tangan Nadia.
“Aku tidak suka melihatmu sedih ataupun menangis,“ ucap Fernand menatap Nadia dalam.
Fernand memutar tubuh Nadia hingga wanita itu menghadap ke arahnya.
“Nadia, kita tukeran tulang saja jika kamu tidak kuat,” ucap Fernando membuat Nadia menyerngit bingung.
“Aku jadi tulang punggungmu, kamu jadi tulang rusukku.“