Aline gadis cantik yang berusia 23 tahun, tidak pernah menyangka saat ia menghadiri pesta adik tirinya menjadi sebuah bencana yang membuatnya harus kehilangan keperawanannya.
Puncak dunia Aline hancur saat ayahnya yang seharusnya mendukung dan melindunginya, dengan teganya mengusirnya dari rumah setelah mengetahui bahwa dia sedang hamil dan lebih memilih percaya pada istri dan adik tirinya.
Tidak berselang lama Aline akhirnya bertemu dengan pria yang tidur dengannya, akankah hidup Aline bahagia setelah memilih ikut dengan pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 10 MENGETAHUI WAJAH AYAH ANAKKU
"Sebelumnya..." Sang Dokter itu menjeda kalimatnya sejenak, sebelum akhirnya mengatakan hasil pemeriksaannya terhadap Aline.
"Ada apa? Dokter cepat katakan!" desak Dimas yang tidak sabar mengetahui kebenaran tentang putrinya.
Dokter itu menghela napas sejenak sebelum akhirnya mengatakan semuanya. "Dari seluruh hasil pemeriksaan menyatakan! Bahwa ternyata putri Anda sedang mengandung."
DEGH!
Jantung Aline dan ayahnya nyaris terlepas dari tempatnya, mereka sama-sama tidak percaya dengan kabar tersebut.
Dimas menatap putrinya dengan amarah dan kekecewaan yang tidak bisa lagi ia sembunyikan, anak yang dititipkan alm.Istrinya harus mencoreng nama baiknya dan juga mengotori wajahnya.
Air mata Aline akhirnya luruh, pertahanan yang berusaha ia bangun akhirnya runtuh dan tidak sanggup lagi ia tahan, kenyataan ini bagaikan vonis antara hidup dan mati.
"Itu pasti salah Dokter, saya nggak mungking hamil dan saya nggak merasakan apapun." bantah Aline di sela isak tangisnya.
Dokter itu menyerahkan kertas hasil pemeriksaan kepada Aline dan juga ayahnya.
"Ini hasil test darah Anda dan hasilnya mendeteksi kadar hCG yang sangat rendah beberapa hari sebelum Anda terlambat menstruasi. Saya pastikan pemeriksaan saya tidak mungkin salah karena pemeriksaan ini lebih sensitif mendeteksi kehamilan dibandingkan test fack urin sendiri." jelas sang Dokter.
Aline memegang kertas itu dengan tangan gemetar, lututnya seperti jeli yang tidak mampu menopang tubuhnya.
"Puas kamu Aline! Puas sudah merusak nama baik Ayah dan juga mencoreng wajah Ayahmu ini?!" marah Dimas.
Di luar ruangan, Sinta dan Nana merapatkan telinganya hingga menempel pada daun pintu, samar-samar namun masih cukup jelas mereka mendengar keributan dari dalam sana.
Tiba-tiba, Nana meloncat kegirangan. Seolah ia baru saja mendapatkan sebuah jackpot saat mendengar kabar tersebut. "Ibu! Dia beneran hamil, sekarang kita pemilik resmi seluruh kekayaan Ayah." seru Nana dengan suara yang tertahan agar tidak terdengar yang lain.
"Hush... jaga sikapmu jangan sampai orang lain melihat terutama Ayahmu." bisik Sinta.
Ia takut jika suaminya melihat sikap mereka, bukannya bersedih malah menertawakan nasib putri kandung dia dan malah akan menimbulkan masalah.
Nana langsung mengangguk cepat dan berusaha bersikap normal kembali.
*
*
*
Di tempat lain, Erlangga sedang memarkirkan mobilnya di depan gedung rumah sakit tersebut. Namun, tiba-tiba ia melihat sahabatnya Reno dengan seorang gadis melangkah ke arah tujuan yang sama.
Dengan cepat Erlangga menghampiri sahabatnya itu. "Ngapain kamu di sini?"
Reno yang hanya fokusnya tertuju kepada keadaan Aline tidak menyadari bahwa Erlangga ada di dekatnya.
"Nanti saja kalau mau bertanya kita buru-buru." sela Luna yang langsung menarik tangan Reno masuk ke dalam rumah sakit.
Erlangga melongo melihat sahabatnya di tarik seorang gadis yang hanya terlihat pasrah.
Kini ia juga sama hal nya langsung bergegas masuk mencari wanitanya. Ia tidak menghiraukan Reno yang masih terlihat gelisah bersama gadis itu, tujuannya hanya satu menemukan Aline.
Ia menyusuri setiap koridor rumah sakit, matanya bergerak gelisah mencari keberadaan Aline. Ia melirik ke sana ke mari berharap menemukan petunjuk.
"Sebenarnya pergi kemana mereka?" gumam Erlangga. Ia nyaris frustasi saat kehilangan wanitanya lagi.
Tiba-tiba, Erlangga melihat dua orang wanita berbeda usia yang sedang berdiri di depan ruangan dokter.
Erlangga hendak melangkahkan kakinya guna mendekat ke arah mereka. Sebelum itu terjadi tiba-tiba saja pintu tersebut terbuka.
"Hiks... Hiks... Ayah! Aku minta maaf, Ayah. Semuanya terjadi secara nggak sengaja... aku nggak pernah berniat mengecewakan Ayah."
Aline terus mengejar langkah kaki ayahnya sambil menangis histeris.
Namun, Dimas tetap tidak menghiraukannya. Ia tetap melanjutkan langkahnya meninggalkan putrinya.
Nana dan Sinta yang melihat itu hanya berdesis sinis.
Di sisi lain, Erlangga yang melihat kejadian itu mengepalkan kedua tangannya sangat kuat sampai giginya bergemeletuk menimbulkan suara tanda bahwa ia sangat marah besar. Ia ingin merengkuh wanitanya ke dalam pelukkannya dan melindunginya. Namun, sebelum itu Erlangga ingin melihat sejauh mana mereka memperlakukan wanitanya seperti itu.
Aline masih terus mengejar langkah kaki ayahnya, hingga mereka tiba di parkiran rumah sakit. Sebelum ayahnya masuk ke dalam mobil dengan cepat Aline memeluk kaki ayahnya.
"Aa-yah! Aku mohon maafkan aku..."
Aline menangis tersedu-sedu bahunya bergetar hebat. Ia tidak perduli jika orang lain melihatnya dalam keadaan kacau seperti ini. Sekarang yang ia takutkan adalah ayahnya membencinya.
"Semua ini bukan sepenuhnya kesalahanku, Ayah!" lirih Aline, lalu ia mengangkat kepalanya untuk menatap kedua wanita yang sudah membuat hidupnya hancur. "Mereka lah yang menjebakku?!" tunjuk Aline kepada Santi dan Nana.
Dimas langsung melepaskan kakinya dari pelukkan putrinya dengan kasar. Ia mendorong Aline hingga membuat wanita itu tersungkur dan meringis saat merasakan perih pada kedua tangannya.
"Setelah semua yang sudah terjadi! Masih berani kamu menyalahkan mereka, hah?!" murka Dimas.
Nana langsung memasang wajah sedih yang dibuat-buat. "Kak Aline, selama ini aku kan sudah memperingatkan Kakak untuk tidak bermain-main di luaran sana, tapi Kakak sendiri yang tidak pernah mendengarnya. Sekarang, Kakak harus menerima kenyataan kalau Kakak sedang mengandung anak dari pria yang sudah tidur dengan Kakak." sambung Nana dengan nada suara yang sengaja dikeraskan agar orang lain mendengarnya.
Namun, dalam hati Nana menjerit kesenangan. Ia membayangkan bahwa ayah dari anak yang di kandung kakak tirinya adalah pria tua dan jelek.
Bisik-bisik mulai terdengar, ada sebagian orang yang menghujat Aline bahwa ia adalah wanita nakal dan pantas mendapatkan karma seperti itu, ada juga yang memuji Nana bahwa ia adalah adik yang begitu perhatian terhadap kakaknya.
"Cih! Makan nya jadi wanita tuh harus punya harga diri, syukurin deh, sekarang baru nyesel kan." cemooh salah satu orang yang berada di sana.
"Adiknya baik banget ya, mau ngingetin kakaknya. Tapi yang dikasih tau malah nggak tau diri."
Erlangga yang sejak tadi memperhatikan semuanya sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi, dengan gagah dan jas dokter yang masih melekat di tubuh tegapnya. Ia melangkah maju mendekat ke arah Aline yang masih berada di atas trotoar lalu membantu wanitanya untuk berdiri.
"Kamu nggak perlu takut ada aku di sini, hmm!" Suara lembut Erlangga membuat Aline terpaku, ia sama sekali tidak tau siapa pria yang tiba-tiba datang ini.
Erlangga menatap semua orang lalu beralih menatap ayah Aline dengan pandangan dingin yang menusuk. "Saya lah, Ayah dari anak yang dia kandung." Suara tegas Erlangga membungkam mulut orang-orang julid di sana.
Nana yang mendengar itu shok bukan main, ia berusaha untuk tetap sadar.
"Ini tidak mungkin." gumamnya menatap pria itu dengan pandangan tidak percaya. Kenapa ayah dari anak itu harus sesempurna itu. Ia tidak terima seharusnya pria itu menjadi miliknya, pikir Nana.
Semoga si Iblis bernama Anita itu, binasa aja🤣