Aku tak menyangka setelah membawa istriku ke rumah ibu, aku tak tahu jika banyak tekanan yang Sari hadapi saat itu. Dimana sifat ibu yang tadinya baik berubah derastis, ia memperlihatkan sifat aslinya.
Setiap malam Sari sering menangis, membelakangi tubuhku, mengabaikan aku. Setiap kali aku bertanya, ia tak pernah menjawab selalu terlelap tidur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Arip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Pov Riki, ( Mengerjai Puja. )
Sudah pukul delapan malam, waktunya aku mengantarkan Puja pulang ke rumahnya.
" Malam ini kamu ikut denganku ya, aku mau mengantarkan Puja pulang. "
" Baik, mas. "
Aku mulai berjalan beriringan dengan istriku, untuk menemui Puja di dalam kamar ibu.
Membuka pintu, aku tak melihat Puja sama sekali.
"Dimana mereka? "
Masuk ke dalam kamar, kami mendengar suara air mengalir.
"Bu, diam dulu. Bau ni. "
"Iy-a ma-a-fi-n ib-u Pu-ja. "
"Ibunya jangan gerak gerak donk. "
Sepertinya Puja tengah mengurus ibu di kamar mandi, terdengar suara Puja terus mengomel pada ibu.
Mereka berdua kini keluar dari kamar mandi, " Riki, Sari. "
"Puja, kami berdua mau mengantarkan kamu pulang?"
Puja terlihat senang sambil tersenyum. Namun saat ia bersiap siap, ibu malah menahan tangan Puja, " ja-nga-n pu-lang."
"Besok lagi ya, bu. Puja banyak urusan. "
Terdengar dari nada bicara Puja ia terlihat begitu kelelahan, berusaha menolak perkataan ibu.
Dimana ini kesempatan yang bagus untuk aku mengerjai Puja, berharap Ibu akan sadar.
"Benar juga kata ibu, kamu menginap saja disini, ibu ingin selalu dekat kamu. "
Ibu memegang tangan Puja, dimana gadis itu berusaha melepaskan tangan ibu, " Lain kali aja ya bu, pasti Puja menginap disini. "
"Pu-ja." Kedua mata ibu terlihat berkaca kaca, membuat aku berkata, " Bu, Puja belum bisa nginap di rumah ibu, karena ia kelelahan mengurus ibu. Jadi …."
Puja tiba tiba menghentikan perkataanku, " tidak, bukan seperti itu."
Aku menatap kembali ke arah wajahnya," jadi, kamu mau menginap disini?"
"I-ya."
Terlihat ibu tampak senang dengan jawaban Puja, membuat aku tersenyum kecil dan menyunggingkan bibir.
"Ya sudah kalau begitu, kami berdua pergi dulu, kebetulan banyak urusan di luar. Ayo sayang kita pergi. " Aku mulai memegang tangan istriku, untuk mengajaknya jalan jalan dan menginap di Hotel, membiarkan Puja menginap di rumah merasakan bagaimana mengurus ibu.
"Kalian pergi, jadi nanti?"
"Puja, sudah jangan takut. Ada Riri, kamu bisa minta bantuan dia!"
"Riki."
"Riki."
Berulang kali Puja memanggilku, membuat ibu menahannya. " Bia-rk-an s-a-ja me-re-ka per-gi."
Aku mulai menaiki mobil bersama istriku, membawanya jalan jalan menghilangkan penat yang ada dalam dirinya.
Karena sudah lama memang aku tidak membawanya keluar rumah untuk sekedar makan makan.
"Mas, apa kita tidak keterlaluan sekali pada Puja. "
Tersenyum, sambil mengendarai mobil," Keterlaluan bagaimana?"
"Ya Puja di suruh suruh ibu, apalagi tadi aku dengar Puja bentak ibu, kasihan ibu!"
"Kasihan? Bukannya itu kemauan ibu. Jadi sudahlah, biarkan saja, jangan pikirkan hal yang malah membuat diner kita terganggu. "
"Iya, tapi aku kuatir dengan keadaan ibu. "
Menghentikan mobil mendadak, membuat Sari terkejut, " Loh, mas kenapa?"
"Aku tahu, kamu begitu menyayangi ibu dan kuatir dengan ibu, tapi kamu jangan bodoh. Jangan mau dihina terus sama ibu, ada saatnya kita melawan dan membuktikan jika keinginan ibu bersama Puja adalah hal yang mustahil, biarkan ibu merasakan bagaimana rasanya diurus oleh Puja."
Sari menundukkan pandangan, " jadi kamu mengerti sekarang?"
"Iya, mas."
"Syukurlah kalau sekarang kamu mengerti. "
Aku mulai melajukkan mobil dengan kecepatan tinggi, mengajak istriku untuk makan di sebuah restoran.
Tidak butuh waktu yang lama, kami berhenti disebuah restoran mewah.
"Ini bagus banget, mas. "
Aku merangkul bahu istriku, " Pastinya, aku mau kamu makan sepuasnya disini."
Terlihat dari raut wajah Sari memperlihatkan wajah bahagia, ia berjalan cepat untuk segera duduk.
Pelayan datang membawakan menu makanan, " Ayo pesan. Apa saja yang kamu mau."
Sari terdiam, ia menatap wajahku, " Kenapa?"
"Memangnya kamu punya uang, mas. Bukannya uang kamu menipis akhir akhir ini karena ibu sakit. "
Sari menutup menu makanan yang tadinya akan dipilih. " Sudah jangan pikirkan itu, pesan aja. Mas, ada uang lebih kok."
Sari berdiri, ia menarik tanganku, dimana pelayan bertanya, " Jadi pesan apa?"
"Nggak jadi!"
Ia membawakan masuk ke dalam mobil, " Ayo kita cari makanan yang lain saja. "
"Loh, kenapa? Di sini. "
Sari membulatkan kedua matanya, membuat aku menurut," Baiklah. "
Sampailah kami di sebuah warung pinggir jalan, " Mas, kita beli sate aja. Enak kayanya. "
"Kamu beneran."
Sari menganggukkan kepala, ia tersenyum lebar, " Ayo. "
Turun dari dalam mobil, Sari terlihat gembira sekali, ia duduk dan memesan sate yang ia inginkan.
"Sudah kita makan disini saja mas, aku sudah bahagia kok mas."
Sari seperti anak polos, yang tak pernah menuntut sesuatu dariku. Ia selalu mengerti keadaanku saat ini. Dimana akhir akhir ini pengeluaranku untuk membiayai ibu dan Riri begitu banyak. Ditambah lagi setiap minggu ibu harus menjalankan terapi. Agar sarafnya bekerja normal kembali.
"Nanti, mas beliin baju ya. "
Aku ingin sekali menghibur istriku, mengajak ia berbelanja untuk mempercantik dirinya sendiri.
"Tak perlu mas, kamu tak perlu memaksakan diri, untuk membelikan barang untukku, lebih baik kamu fokus ngurus ibu, biar ibu bisa cepat sembuh. "
Memegang tangannya, " Tetap saja, sebagai seorang suami aku harus tetap adil, tak mungkin aku biarkan kamu terus mengalah. Sebagai suami aku juga bertanggung jawab membahagiakan kamu."
"Aku hargai perkataan kamu itu mas, terima kasih. "
Pesanan kami sudah sampai, " Wah, enak mas. "
Kami berdua mulai menikmati sate di pinggir jalan, dengan suasana malam yang terasa indah. Aku merasa jika malam ini adalah malam spesial bersama istriku, tak ada pengganggu.
"Malam ini, kita nginap di hotel ya. "
"Ibu bagaimana?"
"Sudah, biarkan. Ada Puja, bukannya ibu selalu senang saat bersama dengan Puja, ia tak akan pernah menangis!"
Sari terdiam, dimana aku memegang bahunya pelan, " jadi gimana?"
"Ya sudah kalau begitu!"
Aku tersenyum senang, saat Sari menganggukkan kepala, dimana kami berangkat untuk segera pergi ke hotel.
"Wah, hotelnya bagus. Mas. "
"Ini sepesial untuk kamu. Aku sengaja pesan hotel ini untuk kita nikmati berdua. "
Sari duduk, ia terlihat begitu bahagia, sampai dimana aku melingkarkan sebuah kalung pada lehernya.
"Mas, ini apa. "
"Sebuah hadiah kecil untuk kamu. "
"Mas, ini bagus banget. Kamu dapat dari mana. "
Aku membalikkan badan istriku, mencubit hidungnya, " pake tanya lagi, ya beli sayang. Masa nyuri, kebetulan aku dapat bonus dari kantor. Jadi aku belikan kalung ini untuk kamu, hadiah kecil yang aku harap kamu suka."
"Aku suka sekali. "
Sari kini memeluk tubuhku, sampai dimana ponsel berdering. " Mas, ponselmu bunyi. "
Sari mulai melepaskan pelukanku, namun tak kulepas, " mas ponselmu. "
"Sudah biarkan saja, tak penting. Yang terpenting sekarang itu kamu, jadi kita nikmati malam yang panjang ini berdua. "
"Mas."
"Yuk."
" Mas. Ahk. "
Kami bergulat di atas ranjang tempat tidur, menikmati gelora cinta yang membara tanpa gangguan siapapun.
𝚜𝚘𝚊𝚕𝚗𝚢𝚊 𝚍𝚒 𝚏𝚋 𝚐𝚊𝚔 𝚙𝚞𝚊𝚜 𝚗𝚞𝚗𝚐𝚐𝚞 𝚐𝚛𝚎𝚐𝚎𝚝𝚗𝚢𝚊