"Kau benar-benar sempit dan nikmat."
Akibat jebakan seseorang, Aksara tanpa sadar meniduri seorang gadis tidak bersalah. Gadis yang tidak dikenalnya, namun menjadi gadis pertama yang ia nikmati.
Bukan hanya gadis itu yang pertama, namun Aksa juga. Dia mengambil mahkota gadis itu secara paksa di bawah kendali obat.
Aksa menyelidiki gadis itu, yang ternyata hanya seorang pengantar makanan di restoran milik paman dan bibinya.
Lalu bagaimana kisah selanjutnya, apakah Aksa akan bertanggung jawab atau justru lari??
Update setiap hari‼️
Follow Ig : Alfianaaa05_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kan anda suami saya
Aksa duduk di meja makan sambil menikmati segelas kopi dan juga sandwich. Ia bangun lebih dulu daripada Ayesha.
Aksara tidak berniat sama sekali untuk membangunkan Ayesha, karena ia tahun dalam kondisi hamil seperti sekarang maka wanita akan mudah lelah.
Di tengah sarapan Aksa, Xyan datang untuk menjemput dirinya seperti biasa. Pria itu mendekati atasannya, lalu memberikan sapaan sopan.
"Selamat pagi, Tuan." Sapa Xyan.
"Berikan." Pinta Aksa mengulurkan tangannya.
Xyan pun lekas memberikan beberapa dokumen yang urgent untuk di selesaikan. Karena hari ini Aksa tidak ke kantor, jadi semua pekerjaan akan ia selesaikan di rumah saja.
"Ada lagi yang anda butuhkan, Tuan?" Tanya Xyan.
"Anak buah Redic, kau sudah mengurusnya?" Tanya Aksara tanpa menatap asisten pribadinya itu.
Xyan membenarkan posisi kacamatanya, ia berdehem singkat lalu menganggukkan kepalanya.
"Mereka semua menolak untuk memberitahu keberadaan Redic saat ini, bahkan mereka lebih memilih untuk mati daripada membongkar keberadaan Redic." Jelas Xyan dengan tenang dan tegas.
"Kalau begitu bunuh mereka." Balas Aksa cuek.
Aksa bangkit dari duduknya, ia membawa laporan yang Xyan berikan ke dalam kamar. Pria itu pergi meninggalkan Xyan begitu saja.
Xyan menghela nafas. "Jadi begini setelah punya istri?" Gumam Xyan lalu pergi meninggalkan apartemen Aksara.
Xyan akan tetap pergi ke kantor karena ini memang sudah menjadi tugasnya. Xyan harus tetap ada di kantor menggantikan Aksa yang masih menikmati masa-masa awal penikahannya.
Sementara di kamar Aksara, pria itu tampak mengerutkan keningnya. Ia tidak melihat keberadaan Ayesha di sana, dan tidak terdengar gemericik air yang menandakan bahwa gadis itu ada di dalam sana.
Aksa melempar asal dokumen di tangannya, ia lalu mendekati kamar mandi dan menggedor-gedor nya.
"Ayesha, kau di dalam?" Tanya Aksara sedikit berteriak.
"I-iya, Tuan." Jawab Ayesha tidak kalah berteriak.
"Sedang apa kau, kenapa tidak terdengar suara gemericik airnya?" Tanya Aksara lagi.
Aksa memegang gagang pintu kamar mandi yang ternyata tidak di kunci. Pria itu menelan gumpalan salivanya lalu masuk meski sedikit ragu.
Saat Aksara masuk, ia melihat Ayesha duduk di atas closet sambil mengatur nafasnya. Tangan kanan nya mengusap-usap perutnya yang rata.
Aksa membelalakkan matanya, banyak dugaan yang langsung bermunculan di kepalanya.
"Ay, ada apa denganmu?" Tanya Aksara langsung berlutut di depan Ayesha.
Mendengar suara Aksa lalu melihat pria itu yang berlutut di hadapannya, Ayesha sontak menutupi tubuhnya dengan kedua tangan.
"Tuan, anda kenapa masuk?" Tanya Ayesha gugup.
"Aku khawatir padamu, eh maksudku pada anakku." Jawab Aksa sedikit meralat ucapannya.
Ayesha mundur, dengan kedua tangan yang masih menyilang di dada. Melihat itu, Aksa semakin kebingungan.
"Ada apa sebenarnya, Ay?" Tanya Aksara.
"Baju, baju saya terbuka, Tuan." Jawab Ayesha pelan.
"Jika terbuka ya tinggal tutup, apa kau anak kecil yang harus di beritahu dulu." Sahut Aksara lalu bangkit dari posisinya.
"Dimana resletingnya, biar aku membantumu." Kata Aksara.
Ayesha menggelengkan kepalanya. "Bukan resleting, tapi ini." Ujar Ayesha lalu membuka tangannya yang menyilang di dada.
Melihat pemandangan di depannya, Aksara seketika melotot. Reaksi Aksara yang seperti itu kembali membuat Ayesha menutupi tubuhnya.
"Saya tidak menemukan baju lain, Tuan. Saya malu, bingung mau keluar jika dalam keadaan seperti ini." Ucap Ayesha kembali menjelaskan.
Aksara berdehem, ia mengalihkan pandangannya kemudian mengantungi sebelah tangannya di saku celana rumahannya.
"Jika kau keberatan pakai baju itu, lebih baik tidak usah pakai baju sekalian." Ucap Aksara dengan entengnya.
"Tuan, kita bukan orang primitif." Sahut Ayesha dengan polos.
Aksa menatap istrinya, ia memijat pelipisnya lalu menarik tangan Ayesha untuk bangkit dari duduknya.
"Tuan, anda mau apa?" Tanya Ayesha ketakutan dan gugup.
"Menjenguk anakku." Jawab Aksara ambigu.
"Menjenguk bagaimana? Anda mau saya ke rumah sakit dalam keadaan terbuka begini? Anda bercanda kan, Tuan?" Tanya Ayesha bertubi-tubi.
Aksa tidak menyahut, ia mendudukkan Ayesha di pinggir ranjang lalu mendekati lemari pakaian. Aksa membuka lemari pakaian itu dan menunjukkan baju milik Ayesha di sana.
"Matamu itu dimana, ini semua baju. Kau sengaja ingin pakai baju terbuka begitu untuk menggodaku, iya kan?" Tebak Aksara.
"Tidak, saya tidak pernah punya niat begitu." Jawab Ayesha.
"Saya tidak membuka lemari pakaian sama sekali, karena anda pernah bilang untuk jangan menyentuh barang-barang anda, jadi saya nurut." Tambah Ayesha.
Aksa berdecak, ia mengambil dress selutut berwarna merah muda lalu memberikannya pada Ayesha.
"Pakai." Kata Aksara.
"Lagipula kenapa kau sangat nurut, apa jika aku memintamu untuk lompat dari gedung kau mau?" Tanya Aksara.
"Anda sudah siap jadi duda, Tuan?" Tanya Ayesha balik.
Aksara menghela nafas, kemudian mengacak-acak rambutnya.
"Cepat pakai baju itu, sebelum aku memakai mu." Ucap Aksara geram.
"Ha?" Ayesha menyahut ketika telinganya seperti mendengar sesuatu yang asing.
"Pakai, Ayesha." Tutur Aksa dengan sabar.
"Iya, Tuan. Saya akan memakainya, sebentar." Balas Ayesha lalu siap membuka baju yang ia kenakan saat ini.
"Ay, kau mau membuka bajumu di depanku? Kau mau aku kembali bersarang dalam dirimu?" Tanya Aksara.
"Maksud anda? Aaahh iya, bukan masalah kan jika saya buka baju di depan anda, kan anda suami saya." Kata Ayesha.
"AYESHA!!!" Panggil Aksara lantang.
Aksa mengepalkan tangannya, ia memegang kedua bahu Ayesha lalu mendorongnya sampai berbaring di atas ranjang.
Persetan dengan pakaian, sekarang ia yang akan memakai istrinya. Aksa sudah tidak bisa lagi menahan diri setelah sejak semalam melihat pemandangan yang begitu menggoda.
MBAK AYESHA, RUN NGGAK? NGGAK DONG🤣
Bersambung............................