NovelToon NovelToon
Jalan Dao Pendekar Mata Duitan

Jalan Dao Pendekar Mata Duitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: momon Joy

Di Benua Tianyu, kekuatan adalah segalanya.

Para kultivator menghabiskan seluruh hidup mereka untuk bermeditasi, berburu harta surgawi, dan mengejar puncak Dao.

Keluarga-keluarga besar berlomba melahirkan jenius.
Sekte-sekte kuat mencari murid berbakat.

Namun di tengah dunia yang memuja kekuatan itu, lahirlah seorang anak yang cukup aneh.

Namanya Feng Bai hu
Anak bungsu dari empat bersaudara keluarga Fang, keluarga kalangan menengah ,
Ketiga kakaknya dikenal sebagai jenius yang rajin berkultivasi dan menjadi kebanggaan keluarga.

Sedangkan Feng Bai hu terkenal karena satu hal:

Malas.
Ia sering kabur dari sesi latihan.
Tidur saat kelas kultivasi.
Menghilang ketika guru mengajarkan teknik baru.
Bahkan pelayan keluarga lebih sering melihatnya di pasar daripada di ruang latihan.

Namun yang membuat semua orang kesal adalah kenyataan bahwa meskipun malas, kultivasinya selalu mampu menyamai bahkan melampaui para jenius seusianya.
ayo ,, ikuti keseuan ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momon Joy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Menuju Kota Qingyun

Barisan panjang kereta bergerak perlahan menyusuri Jalan Batu Selatan.

Di depan, lebih dari seratus murid Sekte Awan Langit memimpin perjalanan. Mereka mengenakan jubah putih dengan pedang tergantung di pinggang. Tatapan mereka terus mengawasi hutan di kanan dan kiri jalan.

Di tengah rombongan berjalan para penyintas.

Ada yang mendorong kereta berisi orang tua.

Ada yang menggendong anak-anak yang tertidur karena kelelahan.

Tidak sedikit pula kultivator yang masih membawa luka akibat pertempuran di Kota Qinghe.

Suasana sunyi.

Tidak ada seorang pun yang memiliki tenaga untuk berbincang panjang.

Bai Hu berjalan di samping Mei Lin.

Di belakang mereka, Yun He masih sesekali meringis setiap kali lengannya bergerak.

Sementara Feng Tian Yu memilih berjalan paling belakang.

Ia terus memperhatikan jejak di sepanjang jalan.

Sejak meninggalkan Kota Qinghe, nalurinya tidak pernah tenang.

"Kak."

Bai Hu menghampiri Tian Yu.

"Ada apa?"

"Apa kita benar-benar aman?"

Tian Yu tidak langsung menjawab.

Ia melihat ke arah hutan yang membentang di sisi jalan.

"Belum, selama kita belum tiba di Kota Qingyun, kita tidak boleh lengah."

Bai Hu ikut memandang hutan.

Pohon-pohon besar menjulang tinggi.

Suasananya sangat sunyi.

Bahkan suara burung hampir tidak terdengar.

Hal itu membuat bulu kuduknya meremang.

Di barisan depan, Xu Canghai mengangkat tangan.

Rombongan langsung berhenti.

Seorang murid segera mendekat.

"Tetua."

"Apa laporan dari pengintai?" tanya Tetua Agung Xu

"Kami menemukan jejak Binatang Iblis."

"Berapa banyak?"

"Belum bisa dipastikan , tetapi jejaknya masih baru."

Xu Canghai mengangguk pelan.

"Perintahkan seluruh murid meningkatkan kewaspadaan, jangan biarkan satu pun Binatang Iblis mendekati para penyintas."

"Baik, Tetua."

Perintah segera disampaikan ke seluruh barisan.

Dalam waktu singkat, formasi perjalanan berubah.

Para murid sekte berpencar ke sisi kanan dan kiri rombongan.

Beberapa kultivator Pembentukan Fondasi melesat ke atas pepohonan untuk mengawasi keadaan dari tempat tinggi.

Melihat perubahan itu, Bai Hu sadar.

Bahaya belum berakhir.

Perjalanan kembali dilanjutkan.

Matahari mulai naik.

Udara semakin panas.

Namun tidak ada seorang pun yang mengeluh.

Dibanding kehilangan nyawa...

Rasa lelah bukanlah apa-apa.

Menjelang siang...

Tiba-tiba...

Salah seorang pengintai melompat turun dari atas pohon.

Wajahnya dipenuhi keringat.

"Tetua!"

Xu Canghai segera menoleh.

"Apa yang terjadi?"

"Ada kawanan Binatang Iblis! Serigala Taring Besi!"

"Jumlah?" tanya Tetua Agung Xu

"Kurang lebih lima puluh ekor!" jawab Pengintai

Suasana langsung berubah tegang.

Xu Canghai mengangkat tangan.

"Tenang!Semua tetap tenang dan berada di tengah! ,, Murid Sekte Awan Langit, bentuk formasi pertahanan!"

"Ya, Tetua!"

Puluhan murid segera bergerak.

Mereka membentuk dinding pertahanan di depan rombongan.

Pedang-pedang mereka terhunus bersamaan.

Aura Qi memenuhi udara.

Bai Hu memperhatikan semuanya tanpa berkedip.

Ini pertama kalinya ia melihat murid sekte bekerja sama dalam sebuah formasi tempur.

Gerakan mereka rapi.

Tidak ada yang saling menghalangi.

Jelas mereka telah berlatih bersama selama bertahun-tahun.

Dari balik pepohonan...

Puluhan pasang mata merah mulai bermunculan.

Seekor Serigala Taring Besi Tingkat 2 melangkah keluar lebih dulu.

Tubuhnya hampir sebesar sapi.

Taringnya memantulkan cahaya matahari.

Di belakangnya...

Puluhan Serigala Taring Besi Tingkat 1 ikut keluar dari dalam hutan.

Mereka menggeram pelan.

Mengelilingi rombongan.

Bai Hu mengepalkan tangan.

Ia mengenali binatang itu.

Binatang yang sama...

Yang telah merenggut begitu banyak nyawa di Kota Qinghe.

Dadanya mulai dipenuhi amarah.

Namun ia tidak bergerak.

Ia teringat pesan Tian Yu.

"Jangan bertindak gegabah."

Pemimpin kawanan serigala mengangkat kepalanya.

Mengeluarkan lolongan panjang.

Auuuuuuuu...!

Puluhan serigala langsung berlari bersamaan.

Tanah bergetar ,Debu beterbangan.

Xu Canghai tetap berdiri tenang.

Ia bahkan tidak mencabut pedangnya.

ia hanya berkata singkat.

"Mulai."

Detik berikutnya...

Lebih dari tiga puluh murid Sekte Awan Langit melesat keluar dari formasi.

Pedang mereka berkilat serempak.

Pertempuran pertama dalam perjalanan menuju Kota Qingyun...

Pun dimulai.

Raungan kawanan Serigala Taring Besi menggema di dalam hutan.

Puluhan tubuh berbulu abu-abu itu melesat keluar hampir bersamaan.

Cakar mereka menghantam tanah, meninggalkan bekas yang dalam di sepanjang jalan.

Anak-anak mulai menangis.

Beberapa memeluk keluarga mereka erat-erat.

Namun tidak ada seorang pun yang berlari.

Xu Canghai berdiri tenang di depan rombongan.

Ia sama sekali tidak bergerak.

Tatapannya hanya tertuju kepada para murid Sekte Awan Langit.

Hari ini...ia ingin melihat hasil latihan murid-muridnya.

 

"Jangan keluar dari formasi!"

Seorang murid senior berteriak lantang.

"Kelompok satu, tahan sisi kiri!"

"Kelompok dua, lindungi bagian depan!"

"Kelompok tiga, jangan biarkan satu ekor pun menerobos ke tengah!"

"Mengerti!"

Suara puluhan murid bergema hampir bersamaan.

Mereka langsung bergerak sesuai tugas masing-masing.

Pedang-pedang terhunus.

Qi mengalir memenuhi bilah baja.

Serangan pertama datang dari tiga Serigala Taring Besi Tingkat 2.

Mereka melompat hampir bersamaan.

Namun...

Seorang murid senior melangkah maju.

Pedangnya bergerak cepat.

Sreettt!

Satu tebasan.

Kepala seekor serigala langsung terlepas.

Belum sempat tubuh binatang itu jatuh ke tanah...

Pedangnya kembali berputar.

Sraakk!

Serigala kedua roboh.

Serigala ketiga mencoba menyerang dari samping.

Namun dua murid lain telah menunggunya.

Dua bilah pedang menusuk bersamaan.

Tus!

Binatang itu langsung mati sebelum sempat mengeluarkan suara.

Bai Hu memperhatikan tanpa berkedip.

Pertarungan para murid sekte sangat berbeda dengan pertarungan para penjaga Kota Qinghe.

Tidak ada gerakan yang sia-sia.

Tidak ada teriakan panik.

Semuanya tenang.

Cepat.

Dan sangat efisien.

 

Namun...

Jumlah serigala terlalu banyak.

Puluhan Serigala Taring Besi Tingkat 1 mulai berusaha menerobos dari sisi kanan.

Beberapa murid junior mulai kewalahan.

Seorang murid yang baru memasuki Alam Pengumpul Energi dipukul hingga terjatuh.

Seekor serigala langsung membuka mulut.

Taringnya mengarah ke leher murid tersebut.

"Senior!"

Pemuda itu membelalak.

Ia terlambat mengangkat pedangnya.

Saat itulah...

Wusss!

Sebuah tombak pendek melesat dari kejauhan.

Praak!

Tombak itu menembus kepala serigala hingga menghujam tanah.

Pemuda itu terdiam.

Seorang pria bertubuh kekar melompat turun dari atas pohon.

"Kau masih hidup?"

Murid itu buru-buru bangkit.

"Ya... Senior."

Pria itu mendengus.

"Kalau begitu jangan melamun di medan perang."

Ia mencabut kembali tombaknya.

Tanpa menunggu jawaban...

Ia kembali menerjang kawanan serigala.

 

Di tengah rombongan.

Bai Hu tanpa sadar mengepalkan tangan.

Ia ingin membantu.

Namun ia juga tahu...

Dengan kekuatannya sekarang...

Ia justru akan menjadi beban.

Tian Yu yang berdiri di sampingnya memperhatikan perubahan wajah adiknya.

"Kau ingin bertarung?"

Bai Hu mengangguk pelan.

"Tapi aku tidak bisa."

Tian Yu tersenyum tipis.

"Itu bukan hal yang memalukan."

"Seorang kultivator harus tahu kapan maju."

"Dan kapan tetap bertahan."

"Tidak semua pertarungan harus kau hadapi."

"Kadang...dapat bertahan hidup adalah kemenangan."

Bai Hu mengangguk perlahan.

Ia mengingat setiap kata kakaknya.

 

Di garis depan.

Pertempuran mulai berakhir.

Bangkai Serigala Taring Besi memenuhi jalan.

Darah mengalir membentuk genangan kecil.

Sisa kawanan mulai kehilangan keberanian.

Pemimpin mereka menggeram pelan.

Tatapannya menyapu para murid sekte.

Kemudian...

Ia melolong panjang.

Auuuuuuu...!

Seluruh kawanan langsung berbalik.

Mereka melarikan diri kembali ke dalam hutan.

Tidak satu pun murid sekte mengejar.

Xu Canghai mengangguk puas.

"Jangan kejar, binatang yang melarikan diri bukan ancaman.Utamakan keselamatan rombongan."

"Ya, Tetua."

Beberapa murid segera memeriksa korban.

Untungnya...

Tidak ada penyintas yang terluka.

Hanya dua murid sekte mengalami luka ringan akibat cakar serigala.

 

Ketika semua orang mengira keadaan telah aman...

Salah seorang pengintai tiba-tiba melompat turun dari atas pohon lagi.

Wajahnya jauh lebih pucat dibanding sebelumnya.

"Tetua!"

Xu Canghai menoleh.

"Ada apa?"

Pengintai itu menarik napas panjang.

"Kawanan tadi...bukan sedang berburu."

Xu Canghai mengernyit.

"Lalu?"

"Mereka...sedang melarikan diri."

Kalimat itu membuat semua tetua langsung berubah serius.

Xu Canghai segera bertanya,

"Dari apa mereka melarikan diri?"

Pengintai itu menelan ludah.

"Aku tidak sempat melihat dengan jelas ,tetapi...Di bagian utara hutan...aku merasakan aura Binatang Iblis yang jauh lebih kuat."

Suasana mendadak hening.

Xu Canghai perlahan mengangkat kepalanya ke arah hutan yang gelap.

Tatapannya berubah tajam.

Jika kawanan Serigala Taring Besi tadi hanyalah awal.

Dan Sesuatu yang jauh lebih berbahaya

Sedang mendekati rombongan mereka.

Maka ini akan jauh lebih merepotkan,,

Suasana di sepanjang jalan kembali sunyi.

Namun kali ini...

Tidak ada seorang pun yang merasa tenang.

Kalimat pengintai tadi masih terngiang di telinga semua orang.

"Kawanan Serigala Taring Besi itu sedang melarikan diri..."

Kalau kawanan sebanyak itu memilih kabur...

Berarti ada sesuatu yang jauh lebih mengerikan sedang berkeliaran di hutan.

Xu Canghai memandang hutan di sebelah utara.

Tatapannya semakin tajam.

"Percepat perjalanan,Kurangi waktu istirahat ,Kita harus tiba di Kota Qingyun sebelum malam berikutnya."

"Baik, Tetua."

Perintah segera diteruskan ke seluruh rombongan.

Para murid Sekte Awan Langit mulai bergerak lebih cepat.

Mereka memperlebar jarak pengintaian hingga beberapa ratus meter di depan rombongan.

Di tengah perjalanan...

Bai Hu melihat beberapa murid sekte membawa bangkai Serigala Taring Besi ke pinggir jalan.

Dengan cekatan mereka mulai membongkar tubuh binatang itu.

Seorang murid mengambil taring.

Yang lain memotong cakar.

Beberapa orang menguliti tubuhnya.

Bai Hu memperhatikan dengan penuh rasa ingin tahu.

Ia menghampiri Liang Chen.

"Kak Liang."

"Hm?"

"Kenapa tubuh Binatang Iblis itu tidak dibuang saja?"

Liang Chen tersenyum.

"Karena semuanya bernilai."

"Bernilai?"

"Benar."

Ia mengambil salah satu taring serigala.

"Taring ini bisa dijadikan bahan membuat senjata."

Kemudian ia mengangkat kulit binatang itu.

"Kulitnya dapat ditempa menjadi baju pelindung."

Lalu ia menunjuk kantong kecil berisi darah.

"Darah Binatang Iblis juga dipakai untuk membuat pil dan tinta rune ."

Bai Hu membelalak.

"Lalu dagingnya?"

"Bisa dimakan."

"Kalau tulangnya?"

"Bisa dijadikan bahan obat."

"Mata?"

"Ada yang membelinya."

"Jantung?"

"Lebih mahal lagi."

Bai Hu langsung menatap bangkai serigala dengan cara yang berbeda.

Dalam pikirannya mulai muncul hitungan.

"Satu Binatang Iblis ternyata bisa menghasilkan banyak batu roh..."

Melihat ekspresi Bai Hu, Liang Chen langsung tertawa.

"Nah...Aku sudah melihat wajah Bai Hu yang biasanya."

Bai Hu ikut tersenyum kecil.

Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Kota Qinghe...Semangatnya sedikit kembali.

Tidak jauh dari sana...

Tetua Guo Rong memperhatikan percakapan mereka.

Beliau mengusap janggutnya sambil tersenyum tipis.

"Ternyata...Sifat mata duitannya belum hilang."

Xu Canghai yang berdiri di sampingnya ikut tersenyum.

"Itu justru bagus, Orang yang masih bisa tersenyum setelah mengalami kehilangan sebesar itu...pasti memiliki tekad yang jauh lebih kuat."

Tetua Guo mengangguk pelan.

"Namun anak itu harus belajar, di dunia kultivasi...Nilai suatu benda hanya berguna kalau pemiliknya cukup kuat untuk mempertahankannya."

Xu Canghai tidak membantah.

Kalimat itu adalah kenyataan.

Di dunia kultivasi...

Yang lemah kehilangan segalanya.

Menjelang sore...

Barisan akhirnya keluar dari kawasan hutan lebat.

Di hadapan mereka terbentang padang rumput yang sangat luas.

Jalan batu membentang lurus sejauh mata memandang.

Di kejauhan...

Mulai terlihat lalu lalang kereta dagang.

Beberapa kultivator lepas berjalan berkelompok.

Ada pula pedagang yang membawa kereta penuh tanaman spiritual.

Melihat pemandangan itu...

Banyak penyintas menghela napas lega.

Mereka akhirnya kembali melihat kehidupan.

Bai Hu memperhatikan seorang pria tua yang menjual berbagai bahan Binatang Iblis di atas keretanya.

Di kereta itu tergantung tanduk rusa, kulit ular, cakar harimau, hingga tanduk kambing bertanduk merah.

Bai Hu berbisik pelan.

"Dunia ini ternyata jauh lebih besar dari yang kubayangkan."

Tian Yu yang berjalan di sampingnya mengangguk.

Saat matahari hampir tenggelam...

Seorang pengintai kembali berlari ke arah Xu Canghai.

Namun kali ini wajahnya jauh lebih tenang.

"Tetua, Kami telah melihat tembok Kota Qingyun."

Mendengar itu..Ribuan penyintas spontan mengangkat kepala.

Di kejauhan...

Sebuah tembok raksasa mulai terlihat.

Jauh lebih tinggi daripada tembok Kota Qinghe.

Di atasnya berkibar puluhan bendera kerajaan dan sekte.

Gerbang kota terbuka lebar.

Ratusan penjaga berjaga dengan tombak dan busur.

Di langit...

Beberapa kultivator terbang menggunakan pedang, berpatroli mengelilingi kota.

Bai Hu menghentikan langkahnya.

Matanya membelalak.

Ia belum pernah melihat kota sebesar itu.

Begitu pula orang yang terbang dengan pedang itu,,

Di dalam hatinya muncul perasaan yang sulit dijelaskan.

Kesedihan karena kehilangan rumah masih ada.

Namun..Ia juga merasakan harapan.

Harapan bahwa di kota baru itu...

Ia akan memulai langkah pertama untuk mencapai Impiannya,,

Bersambung

1
REY ASMODEUS
atau jadi tetua agung? 🤣🤣🤣🤣
omes
kocak novel yang sangat mengocakan 🤣🤣🤣
makasih sudah buat novel fantasi timur komedi gw harap lanjut
Gege
coba MC belajar alkemis kan bisa tuh Thor.. jadi kuat jadi hebat bisa kayah rayah dan engga mati muda...🤣
Joy: bisa juga itu,, terimakasi untuk masukanya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!