Seorang gadis yatim piatu, yang ditinggal oleh kedua orang tuanya untuk selamanya, dalam sebuah insiden kecelakaan mobil. Namanya Ayrani, gadis cantik, baik, tulus, yang harus rela melepas kebahagiaan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vicaldo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjenguk Bu Rahayu
Jam istirahat siang, Rara sengaja pergi keluar tanpa memberitahu Akash, kemana ia akan pergi. Di samping melihat Akash yang sangat sibuk siang itu, Rara juga ingin berkunjung ke suatu tempat yang sering ia kunjungi. Dan sebelum tiba ke tempat tersebut, terlebih dahulu gadis itu mampir ke sebuah toko buah. Membeli buah tangan untuk seseorang.
"Sudah ini saja Mbak?" ucap penjual buah kepada Rara.
"Itu, apel, jeruk, sama anggur, tolong kasih 1 kotakan ya Bu!" balas Rara, tangannya menunjuk ke arah buah buahan yang ia pilih.
"Satu kotak isinya 10 kilo Mbak? yakin mau 10 kiloan?" tanya penjual buah meyakinkan.
"Iya, Bu. Saya mau 1 kotakan. Tolong ditata di bagasi, ya!" Rara berjalan membuka bagasi mobilnya.
Buah yang dipilih Rara, ditata di dalam bagasi. Disusun dengan rapi. Dan bagasi itu kini penuh dengan buah-buahan. Sementara untuk parcel buah yang terpisah, diletakkan di kursi samping Rara.
Rara membayar sejumlah uang kepada penjual buah tersebut. Dan setelah melakukan pembayaran, kini ia segera meluncur menuju arah panti asuhan.
Jalanan kota mulai padat siang itu, beberapa mobil sepertinya tengah mencari restoran atau rumah makan di jam istirahat siang itu. Hampir 45 menit Rara berkendara, akhirnya kini mobil yang dikendarainya telah tiba di panti.
Dengan anggun, Rara keluar dari mobil, menyibak rambut panjangnya dengan sebuah keranjang buah kecil di tangannya. Gadis itu berjalan menuju kediaman Ibu pengurus panti, Bu Rahayu.
"Selamat, siang, Non!" sapa pelayan yang bekerja di panti tersebut.
"Selamat siang!" Rara mengulurkan tangan bersalaman kepada wanita setengah baya di depannya.
"Ada, Non. Ibu sedang sholat berjamaah dengan anak anak," jawab pelayan panti.
"Baiklah, biar Saya tunggu!" Rara pun duduk di ruang tamu, setelah pelayanan mempersilahkan ia duduk. Parcel di tangannya pun ia serahkan kepada pelayan.
"Oh, Ya, Bu, apa bisa bantu Rara menurunkan barang di bagasi?" ucap Rara meminta bantuan.
"Tentu saja Non, dengan senang hati," pelayan panti itu berjalan di belakang Rara menuju mobil. ketika bagasi mobil berhasil dibuka, pelayan itu pun kaget melihat isinya.
"Wah, kalau ini sih urusan laki laki, Non, sebentar, Bibi panggil kan Mang Kosim," pelayan itu kembali ke dalam panti untuk memanggil mang Kosim. Pria yang bertahun-tahun bekerja di panti mengabdikan dirinya karena tidak lagi memiliki kerabat, sementara istrinya sudah tiada belasan tahun lalu.
"Oh, Non Rara toh. Nyonya Sonia tidak ikut, Non?" sapa mang Kosim yang sudah akrab dengan Rara.
"Tidak, Pak!" jawab Rara mencium punggung tangan mang Kosim.
Mang Kosim segera memindahkan buah buahan yang ada di bagasi ke dalam panti. Sementara di luar terdengar sedikit berisik karena obrolan mang Kosim dan Rara juga pelayan panti, Bu Rahayu yang baru saja selesai menunaikan shalat Dzuhur, keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Bu Rahayu berjalan mendekati gadis yang berdiri di halaman panti, dari kejauhan saja wanita tua itu sudah bisa mengenali siapa dia.
"Non, Rara!" sapa Bu Rahayu mendekati Rara.
Rara segera membungkukkan badan bersalaman kepada Bu Rahayu.
"Kenapa Ibu keluar? Harusnya Ibu istirahat saja. Sudah ada Bibi dan juga Pak Kosim yang batu Rara.
"Nggak papa, Nak. Maaf, ya tadi Ibu sedang berjamaah dengan anak anak, jadi tidak tahu kedatangan Nona," tukas Bu Rahayu.
"Oh, ya, tumben kesini tidak ngabarin dulu?" imbuh Bu Rahayu bertanya.
"Iya, Bu, kebetulan Rara juga baru tahu dari Akash tadi pagi, kalau dia tiba-tiba keluar dari kantor pagi pagi, karena Ibu sedang sakit. Makanya Rara sempetin menjenguk Ibu."
Bu Rahayu kaget mendengarkan cerita Rara barusan, "Sakit? kenapa Akash berbohong Saya sedang sakit?" batin Bu Rahayu kebingungan. Namun pengasuh sekaligus pemilik panti itu berusaha menyelamatkan harga diri putranya, meski ia tidak tahu alasan sang putra berbohong perihal ia sakit.
"Oh, Akash terlalu berlebih-lebihan, Non. Ibu hanya sedikit pusing saja kok," celetuk Bu Rahayu beralasan.
Keduanya kemudian berjalan menuju ruang tamu. Seusai membereskan buah buahan, pelayan panti datang membawa nampan berisi minuman dan juga kue.
"Terima kasih!" ucap Rara kepada pelayan panti.
"Silahkan diminum, Non!" seru Bu Rahayu.
Rara meneguk segelas minuman dingin yaitu es sirup jeruk buatan pelayan. Dan mencicipi kue yang disajikan.
Bu Rahayu masih tak habis pikir dan terus berpikir apa alasan dari kebohongan putranya terhadap pewaris Shamir Corp tersebut. Dan wanita pengurus panti itu sampai-sampai tidak fokus terhadap perbincangan Rara, siang itu. Dan Rara yang menyadari hal itu segera menyuruh Bu Rahayu untuk beristirahat.
"Sepertinya Ibu butuh istirahat, sebaiknya istirahat saja, Bu. Terima kasih atas jamuannya. Rara juga mau balik ke kantor," ucapan Rara mengagetkan Bu Rahayu yang memang benar pikirannya sedang tidak fokus.
"Iya, Non, maafin Ibu, ya! sepertinya Ibu memang benar-benar harus istirahat, pusingnya terasa lagi ini," ucap Bu Rahayu berbohong.
Namun sebelum Rara kembali ke kantor, gadis itu ijin kepada Bu Rahayu untuk menumpang sholat Dzuhur. Dan dengan senang hati Bu Rahayu mengantarkan Rara ke mushola yang ada di belakang. Sementara anak anak panti yang melihat kedatangan Rara, segera berhamburan berebut memeluk serta bersalaman dengan Rara.
Rara senang sekali melihat antusias anak panti terhadap dirinya, tiap kali ia datang ke panti selalu disambut hangat oleh mereka. Dan tak jarang, tiap kali dari panti, suasana hati Rara berhasil membaik. Panti asuhan Bu Rahayu adalah satu satunya tempat yang bisa membuat Rara kembali bahagia setiap ia merasa bersedih. Senyum serta canda tawa bocah-bocah yang tidak beruntung itu mampu menjadi obat untuk dirinya.
***
BERSAMBUNG...
Doooorr itu bunyi letusan senjata api
Duaarrrr lebih tepat utk bunyi ledakan