Pernikahan atas dasar cinta adalah pilihan setiap umat manusia, tetapi bagaimana jadinya jika di dalam kata cinta dan pernikahan itu ada orang ketiga?
Begitulah kisah Bima dan Nadia, kehidupan rumah tangga yang sangat harmonis telah mereka rasakan hingga pada akhirnya Bima memutuskan untuk mendua lalu membuat pernikahan mereka berujung perceraian.
Disaat sedang patah hati, Nadia di pertemukan oleh seorang pria dewasa dan karena kebersamaan mereka akhirnya benih-benih cinta pun mulai tumbuh. Namun, sebuah kejutan mengangetkan Nadia yang mana ternyata pria itu adalah Ayah dari selingkuhan Bima.
Bagaimana kisah Nadia selanjutnya?
So Stay Tune 🥰
Follow Ig: ningsihartono ❣️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Pembalasan Untuk Suamiku
Keesokan paginya.
Hari ini adalah hari pertama Nadia masuk bekerja di perusahaan milik Heru yang bergerak di bidang properti. Masih sama seperti dulu sewaktu dia pertama kali bekerja di perusahaan milik Bima, jantungnya saat ini berdegup kencang karena grogi.
Nadia pergi ke kantor dengan menaiki taksi online, dia berdoa terlebih dahulu agar dilancarkan semua pekerjaannya dan segala urusannya nanti. Pagi ini wajah Nadia sangat bersinar cerah karena dia begitu bahagia bisa mendapat pekerjaan, di dalam benak Nadia dirinya belum memikirkan untuk membangun bahtera rumah tangga lagi karena masih trauma dengan rumah tangganya yang hancur diatas sebuah pengkhianatan.
Jika mengingat hal itu, maka hati Nadia benar-benar sangat sakit dan sulit untuk diobati.
Tak terasa taksi yang Nadia tumpangi telah sampai di parkiran kantor, Nadia segera turun dan masuk ke dalam kantor. Berhubung hari ini adalah hari pertamanya bekerja, jadi Nadia tidak ingin mengecewakan Heru sang atasan.
Nadia berjalan ke ruangannya dengan senyum ramah yang terus mengembang, senyum itu sangat manis hingga siapapun yang melihatnya pasti akan sangat terpesona.
"Selamat pagi, Bu Nadia." ucap salah satu staf.
"Pagi." sahut Nadia dengan senyum tipis.
Nadia sampai di mejanya dan dia mulai duduk di kursi seraya meletakkan tas di atas meja.
"Bismillah." gumamnya dengan membuka beberapa Map di atas meja.
Nadia mulai mengerjakan tugasnya dengan baik.
Beberapa menit kemudian.
Heru tiba di kantor dan dia berjalan menuju ke dalam ruangannya, tetapi sampai di meja milik Nadia, dia berhenti guna menyapa Nadia terlebih dahulu.
"Wah Nadia, kamu datang sangat tepat waktu."
Nadia tersenyum. "Saya paling tidak suka dengan keterlambatan, Pak."
Heru mengangguk. "Bagus sekali, selamat bekerja."
Lagi-lagi Nadia melayangkan senyumannya tanpa peduli jika hati Heru saat ini merasa berdetak lebih kencang. Sudah hampir lima belas tahun Heru kehilangan istrinya karena meninggal dunia, setelah lima belas tahun ini pula dia kembali merasakan denyutan jantung seperti sedang kasmaran. Di usianya yang sudah menginjak empat puluh lima tahun, Heru masih sangat tampan, gagah dan berwibawa. Aura kedewasaannya semakin terpancar dan wajahnya pun masih terlihat awet muda.
"Ada apa ini? Aku seperti anak muda yang sedang jatuh cinta, tapi tidak mungkin karena aku baru mengenal Nadia semalam. Bagaimana bisa aku menyimpulkan jika ini namanya cinta? Usiaku sudah empat puluh lima tahun dan Nadia baru berusia tiga puluh tahun, mana mungkin dia mau dengan pria tua sepertiku." Heru menggeleng karena telah memikirkan sejauh ini. "Janda memang sangat menggoda tetapi aku tidak boleh gegabah.''
Heru seperti sedang dilanda kebingungan antara hati dan pikirannya.
🌺🌺🌺🌺
Bima baru selesai mandi, dia keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
"Sayang, apa kamu sudah menyiapkan baju kerjaku?"
"Ambil sendiri sih, Mas! Aku sedang berbisnis dengan temanku." jawab Aira tanpa berniat bangkit dari ranjang.
Bima hanya mampu menghela nafas, dia mengambil pakaiannya sendiri.
Selesai bersiap, Bima minta sesuatu lagi kepada Aira.
"Sayang, tolong buatkan aku kopi dan siapkan sarapan. Aku ingin segera berangkat ke kantor karena hari sudah menjelang siang." ujar Bima sambil berdiri di depan kaca membenarkan dasinya.
Aira mendegus kesal, dia akhirnya beranjak dari ranjang dan keluar dari kamar.
Bima hanya menggeleng.
Sesampainya di lantai bawah, Bima heran karena tidak melihat Aira yang membuatkan sarapan untuknya.
"Bi, dimana Aira? Tadi aku meminta kepadanya agar membuatkan kopi dan sarapan."
"Non Aira ada di taman, Pak. Beliau meminta saya menyiapkan kopi dan sarapan untuk Bapak.''
Bima pikir Aira akan menuruti ucapannya tetapi sepertinya lama kelamaan sikap Aira semakin mengesalkan. Bima berjalan ke taman samping rumah dan melihat Aira yang sedang bermain ponsel sambil sesekali tertawa tanpa ada beban pikiran.
"Dia itu sudah punya suami dan sikapnya masih seperti anak ABG." gumam Bima sembari menghampiri Aira.
"Ara!" teriaknya dengan kencang hingga Aira terlonjak.
Aira menoleh dan mematikan ponselnya. "Ada apa sih, Mas? Bisa gak kalau manggil jangan berteriak seperti itu?" terdengar nada bicara sangat kesal yang Aira lontarkan.
"Apa kamu lupa aku tadi meminta apa? Kopi dan sarapan!" ucap Bima saat sudah berada di samping Aira.
"Bi Nana sudah menyiapkan semuanya, lalu apalagi?"
"Aku meminta agar kamu yang melayani aku, bukan pembantu!" Bima berkata dengan nada tinggi.
Aira menghembuskan nafas kasar, dia beranjak dari bangku dan berdiri berhadapan dengan Bima.
"Harus aku, iya? Aku ini istrimu atau babumu sih, Mas? Lebih baik kamu makan aja apa yang sudah Bi Nana buatkan, gak usah banyak protes ataupun yang lainnya!" Aira berbalik membentak Bima.
"Jaga bicaramu, Aira! Aku ini suamimu, kamu tidak berhak membentak suamimu seperti itu! Semakin lama aku pikir kamu akan berubah tetapi masih sama saja. Kamu beda dengan Nadia.''
Aira tersenyum kecut. "Pernikahan kita baru satu bulan dan kamu belum bisa melupakan mantan istrimu yang kampungan itu? Tentu saja aku berbeda dengannya, aku sangat modis dan kekinian, tidak seperti mantan istrimu."
Setelah mengatakan itu, Aira segera pergi dari hadapan Bima. Dia tidak ingin moodnya rusak hanya karena membahas mantan istri Bima.
Bima pun hanya mampu menatap punggung belakang milik Aira yang sudah menjauh, dia tidak ada niat sedikitpun untuk membujuk atau menghentikan langkah Aira.
•
•
TBC
HAPPY READING
YUK BANTU DUKUNG NOVEL INI DENGAN CARA LIKE, VOTE, KOMEN, HADIAH/TIPS, FAVORIT DAN JANGAN LUPA RATE 🌟 5 NYA. TERIMA KASIH BANYAK 😘