"Bujur buset!"
Bukan sulap, bukan sihir. Dinda yang seharusnya sudah 'metong' dihantam mobil tronton, nyatanya masih bernapas. Alih-alih terbangun di rumah sakit dengan tubuh hancur, ia justru mendapati dirinya terduduk di tengah rimbunnya hutan belantara.
Ia masih mengenakan setelan santai jalan-jalannya lengkap dengan sling bag yang masih tersampir di bahu. Isinya pun masih lengkap: ponsel, uang tunai, set peralatan make-up, hingga parfum sweet vanilla kesukaannya.
"Gila, gue di mana? Masa iya ketabrak mobil, terus kelemparnya sejauh ini?" gumamnya panik.
Dinda merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, berharap bisa menghubungi seseorang. Namun, saat layar menyala, ia justru mematung. Ponselnya terasa asing—seolah baru keluar dari kotak—kosong, bersih tanpa jejak data, tanpa sinyal, tanpa sisa.
Tiba-tiba, suara dedaunan kering yang terinjak dari balik semak membuatnya tersentak. Dinda menoleh cepat ke belakang.
Di sana, ia terpaku. Seorang pria berbadan tegap berdiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 04 Sayur dan buah Segar, Rumah Minimalis!
"Aku... aku di mana?" tanya Dinda kebingungan.
Kakinya melangkah ragu, mendekati salah satu pohon jeruk yang berbuah lebat. Tangannya terangkat, mencoba menyentuh salah satu buahnya.
"Ini nyata? Teksturnya bisa aku pegang!" bisiknya tak percaya. Kulit jeruk yang berpori dan agak dingin itu terasa jelas di telapak tangannya. "Ini bukan mimpi..."
Dengan penasaran, Dinda memetik satu buah jeruk yang paling besar, lalu mengupas kulitnya. Aroma segar khas sitrus langsung menyeruak. Dinda meneguk ludahnya yang mendadak terbit. Ia mengambil satu siung jeruk dan memasukkannya ke dalam mulut.
Bum!
Rasa manis yang kaya akan air langsung lumer dan meledak di lidahnya. Saking enaknya, mata Dinda sampai terpejam.
"Ini manis banget! Enggak, ini beneran bukan mimpi. Masa rasanya bisa sejelas ini? Iya, ini pasti nyata!" ucapnya makin yakin. Untuk memastikan, Dinda dengan cepat mencubit lengan kirinya sendiri kuat-kuat.
"Aww!" ringis Dinda, meringis menahan sakit.
Bekas cubitannya memerah. "Jadi ini nyata... ini beneran nyata!" serunya girang bukan main.
Langkah kakinya kini membawa Dinda menjelajahi sisa perkebunan itu dengan riang. Di sana ada pohon apel dengan berbagai macam bentuk dan warna yang menggiurkan. Ada juga hamparan tanaman anggur, semangka, pir, dan buah-buahan lainnya.
Tidak jauh dari sana, hamparan sayuran tertanam dengan sangat rapi. Ada sawi, wortel, kol, dan beberapa jenis sayur lain. Semuanya tampak hijau, segar, dengan ukuran yang luar biasa besar dan gemuk—jauh lebih berkualitas daripada sayuran organik di supermarket modern.
Merasa tenggorokannya haus setelah mencicipi jeruk, mata Dinda kembali tertuju pada mata air kecil berasap tipis di tengah kebun. Seolah ada dorongan kuat yang memanggilnya, Dinda mendekat. Ia berlutut, menciduk air jernih itu menggunakan kedua tangannya, lalu meneguknya hingga tuntas.
Glek.
Rasa segar yang memiliki sedikit sensasi manis langsung menjalar turun ke tenggorokannya. Detik itu juga, Dinda merasakan keajaiban. Seluruh tubuhnya yang tadi terasa pegal-pegal akibat kecelakaan dan jompo karena berjalan sejam di hutan, mendadak hilang tanpa bekas! Tubuhnya terasa sangat ringan, bugar, dan dipenuhi oleh semangat baru yang meletup-letup.
Saat sedang mengagumi tubuhnya yang mendadak bertenaga, sudut mata Dinda menangkap sesuatu yang asing di ujung perkebunan. Sebuah rumah minimalis berukuran kecil berdiri dengan anggun di sana.
Dinda membelalakkan matanya terkejut. "Apa itu rumah orang?"
Rasa penasarannya mengalahkan rasa takut. Dinda segera bangkit berdiri dan berjalan setengah berlari menghampiri rumah tersebut. Bangunan itu tampak sepi dan sunyi, seolah tidak berpenghuni.
"Permisi! Apa ada orang di dalam?" panggil Dinda sopan, mengetuk pintu beberapa kali.
Hening. Tidak ada jawaban sama sekali.
Dinda menggigit bibir bawahnya. Penasaran setengah mati, ia mencoba mendorong gagang pintu rumah tersebut. Dan ternyata... klek, pintunya tidak dikunci. With perasaan was-was namun penasaran, Dinda perlahan melangkah masuk ke dalam...
Kosong.
Saat melangkah masuk, pandangan Dinda langsung tertuju pada sebuah sofa minimalis yang tertata rapi di ruang tamu. Dinda melangkah lebih dalam menuju ruang tengah. Sama saja, tidak ada satu pun orang atau tanda-tanda kehidupan di sana. Namun anehnya, seluruh sudut ruangan itu tampak sangat bersih, berkilau tanpa ada sebutir debu pun yang menempel.
Rasa penasaran membawa langkah kaki Dinda menuju sebuah pintu kamar. Begitu daun pintu diayun terbuka, Dinda tak bisa menahan diri untuk tidak mengerjapkan mata. Kamar itu terlihat sangat nyaman. Di tengahnya terdapat matras empuk yang terbungkus sprei bermotif bunga-bunga estetik, lengkap dengan bedcover senada yang tebal.
Tak hanya itu, di sudut kamar berdiri lemari pakaian besar berpintu tiga, serta sebuah meja rias yang di atasnya sudah berjejer rapi beberapa produk make-up dan rentetan botol skincare kesukaannya.
Dinda tersenyum lebar, merasa sedikit lega. Ia kemudian menutup pintu kamar tersebut dan melangkah menuju kamar kedua.
Berbeda dengan kamar pertama yang berkonsep tempat istirahat, kamar kedua ini justru tampak seperti gudang logistik atau supermarket mini pribadi. Ruangan itu penuh sesak dengan berbagai macam produk kebutuhan sehari-hari, mulai dari tumpukan makanan instan, bahan pokok, hingga barang-barang darurat lainnya yang sangat diperlukan untuk bertahan hidup.
Setelah puas memeriksa kamar kedua, Dinda melangkah menuju dapur dan kamar mandi. Keduanya berfungsi dengan baik namun tampak kosong dari aktivitas.
"Rumah siapa sih ini sebenarnya?" gumam Dinda kebingungan.
Merasa lelah berpikir, Dinda memilih berjalan kembali ke ruang tamu. Ia mendudukkan dirinya di atas sofa minimalis yang empuk. Pikirannya mendadak gelisah, berputar keras mencoba merangkai semua kegilaan yang terjadi sejak siang tadi.
Tanpa sadar, Dinda menautkan sepuluh jari tangannya di atas pangkuan. Namun, sedetik kemudian tubuhnya langsung menegak kaku. Matanya melotot menatap jari manisnya.
Deg!
Cincin perak dengan bandul bulan sabit yang tadi dibelinya dari si bapak tua... hilang tanpa bekas!
Hah?! Kemana cincin itu? Bukannya tadi masih melingkar di jariku? batin Dinda panik.
Ia memeriksa sela-sela jarinya yang lain, bahkan sempat meraba karpet di bawah sofa, namun nihil. Cincin itu benar-benar lenyap. Akhirnya, Dinda hanya bisa bersandar pasrah pada bantalan sofa yang empuk. Kepalanya pening. Baru saja ia hendak memejamkan mata untuk menenangkan diri...
Tep! Tep!
Sebuah tepukan lembut mendarat di pipinya, disusul suara panggilan yang sayup-sayup terdengar.
"Nduk... Nduk Dinda, bangun..."
Dinda tersentak dan langsung membuka matanya lebar-lebar. Jantungnya berdegup kencang. Namun, pemandangan di depannya langsung berubah total.
Bukan lagi langit-langit putih bersih dari rumah minimalis modern yang ia lihat, melainkan jalinan bambu dan atap jerami tebal yang agak remang-remang. Dan tepat di samping tempatnya berbaring, Mbok Ginem sedang duduk sembari menatapnya dengan senyuman lebar yang teramat hangat.
semangat ya up trus 😍😍😍
awal yg bagus cerita nya.. apalagi s MC cewek berpikir idola Korea dan cina😄😄😄 suka aku...
semangat up sampai tamat ya thor😍😍😍😍