Pernikahan yang tak di inginkan nya terpaksa terjadi.
Namun,karna sesuatu, pernikahan yang belum genap sehari itu terpaksa di batalkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dwieka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita kelam Nayla
Mereka pun sampai di mansion Alvi,karna Alvi yakin pria itu masih terus mengikuti mereka.
"Loh kalian udah pulang?, Mama kira kalian bakalan sampai sore"ucap mama Riska bertanya.
"Gak Tante,soal nya kita ada pekerjaan mendadak."kilah Kenan sambil tersenyum.
"Ya udah yuk masuk,kebetulan tadi Tante abis bikin kue"ujar mama Riska tersenyum.
Mereka pun masuk ke dalam,namun Alvi mengajak nya ke halaman belakang,dan mereka duduk di gazebo.
Mereka pun duduk di sana,namun salah satu dari mereka malah beradu mulut.
"Hey,ini tempat duduk ku,kau di sana,kau ini perasaan dari tadi mepet-mepet Mulu dech"ketus Tia pada Toni.
Karna tak sengaja Tia duduk di pangkuan Toni.
"Ya ampun sayang,kamu itu bawel banget,tinggal duduk juga"ujar Toni tersenyum,membuat semua orang melongo mendengar ucapan Toni.
Plak
"Sayang apaan?,geli tau"ucap Tia dengan wajah memerah.
"Ciee,sayang nie"ledek Amel dengan mata genit nya.
"Apaan sih Lo,gak jelas banget.Siapa juga yang mau di panggil sayang sama cowo nyebelin kayak dia"ucap Tia dengan wajah cemberut.
Membuat mereka tersenyum,bahkan Rafa sudah tertawa.
"Hahaha,kasian banget Lo,gak di anggap"ledek Rafa,menunjuk Toni.
"Gak apa-apa,yang jelas dia udah jadi milik gue"ucap Toni dengan PD nya.
"Kapan?"tanya Tia spontan,membuat Toni tersenyum.
"Tadi pagi waktu di lift"bisik Toni membuat Tia merinding.
"Eeh,bentar deh,kapan kalian jadian?,kok kita gak tau?"tanya Renata penasaran.
"Gak ada yang jadian di sini"ucap Tia ketus.
"Sayang kok kamu gitu?"rajuk Toni tak terima.
"Emang beneran kok,emang kapan kita jadian?"tanya Tia melihat ke arah Toni.
"Saat ini"ucap Toni tegas.
"Eeh kok jadi gini sih"ujar Tia menggaruk kepala nya.
Sedangkan teman-teman yang lain hanya diam melihat perdebatan mereka.
"Kalian memang cocok"ujar mama Riska yang baru datang.
Mendengar itu Toni tersenyum senang,bahkan ia mengacungkan dua jempol nya ke arah mama Riska.
"Tuh denger sayang,kita itu udah cocok"ujar Toni tersenyum.
"Tante,Tante salah paham,kita itu gak ada hubungan apa-apa"ucap Tia sambil menggeleng kan kepala nya.
"Gak apa-apa kok,kalau kalian bersama juga,soal nya mama nya Toni udah ngebet banget punya menantu"ujar mama Riska membuat Tia malu.
"Tuh denger kamu sayang,besok akhir pekan aku akan datang ke rumah mu"ucap Toni membuat Tia melotot.
"Ngapain?"tanya Tia polos.
"Melamar kamu"ucap Toni santai.
"APA?"teriak Tia spontan,membuat semua orang tertawa.
Di saat mereka semua tertawa,Nayla terlihat melamun,entah apa yang di pikirkan nya.
Alvi melihat itu,meminta mama nya untuk membawa Nayla ke dalam.
Setelah kepergian Nayla dan mama nya,mereka kembali serius.
Alvi menatap teman-teman Nayla satu persatu,dan itu membuat mereka merinding.
"Bisa tolong jelaskan apa yang terjadi pada Nayla dulu?"ucap Alvi dingin.
Yang mendengar nya pun hanya bisa menelan ludah nya kasar.
"Se,,sebenarnya..."ucap Renata terjeda karna ia merasa gugup.
Gak ada yang bersuara setelah beberapa menit,dan itu membuat Alvi tak sabar,sampai akhirnya...
Brak
"Apa susah buat kalian bicara,jawab pertanyaan ku saja,kalian seperti tak mulut,apa begitu susah pertanyaan ku?"geram Alvi dingin,bahkan para pria pun menelan ludah nya susah.
Meski bukan pertama kali melihat kemarahan Alvi,tapi tetap saja mereka merasa merinding.
"Sebenarnya pria itu bernama Devan,dia dulu kakak kelas kami waktu SMA,dia begitu terobsesi oleh Nayla,bahkan sudah beberapa kali ia menyatakan perasaan nya,namun selalu di tolak oleh Nayla,sampai dia merasa marah,"ujar Renata menghela nafas berat.
"Dan sampai akhirnya Devan dengan berani menyekap Nayla di gudang kosong belakang sekolah,di dalam sana ia berniat untuk melecehkan nayla."timpal Tia dengan nada sendu.
Para pria masih diam mendengarkan penjelasan para gadis itu.
"Kami tidak mengetahui itu sebelum nya,sampai ada seorang siswi yang memberitahukan kami tentang itu."sambung Renata menghela nafas berat.
"Kami semua terkejut,dan segera kami pergi ke sana,namun sampai di sana kami bingung,karna gudang tersebut terkunci dari dalam, dan itu membuat kami panik,apa lagi setelah mendengar teriakan Nayla di dalam sana"ujar Renata dengan mata berkaca-kaca.
Alvi mendengar itu mengepalkan tke dua tangan nya.
"Lanjutkan"titah Alvi.
Mereka terdiam, mereka saling pandang,tak ada lagi yang bersuara.
Sampai akhirnya Friska pun membuka suara nya.
"Ketika kami sedang panik,aku segera menghubungi ayah,aku hanya menyuruh ayah untuk segera datang ke sekolah"ucap Friska menjeda dan menghela nafas berat.
"Dan kebetulan ayah sedang datang ke kota ini menjenguk Nayla,bahkan para guru dan kepala sekolah sudah mencoba mendobrak nya,namun tetap tak bisa,entah dengan apa dia menghalangi nya,sampai akhirnya ayah datang,kami di sana sudah pasrah dengan apa yang terjadi."sambung Friska sendu.
"Ayah yang datang kesana,dan mendengarkan penjelasan kepala sekolah,tak dapat menahan amarah nya,bahkan ayah mencoba mendobrak pintu itu sendirian,sampai yang ke tiga kali nya,pintu itu berhasil di buka."jelas Friska lagi.
"Saat pintu terbuka,terlihat Nayla sudah tergeletak tak berdaya,dengan wajah dan tangan penuh luka pukul,itu semakin membuat ayah murka,tanpa ba-bi-bu ayah langsung menghajar dia,sampai tak sadarkan diri,sedangkan kami segera membawa Nayla ke rumah sakit.Sampai nya di rumah sakit,Nayla langsung mendapat perawatan,dan miris nya ia mengalami trauma,bahkan beberapa bulan berlalu,ia mengalami depresi berat"jelas Tia dengan air mata menetes.
"Be*ngs*k"umpat Alvi menahan amarah nya.
Melihat itu, teman-teman Alvi hanya diam,bukan karna tak peduli,hanya saja mereka menahan amarah nya.
Sedangkan Nayla,ia sudah tertawa kembali bahkan terlihat keceriaan di wajah nya.
Terutama papa Adi yang selalu membuat nya tertawa.
Papa Adi yakin,pasti ada yang tidak beres dengan calon menantu nya ini.
Ia tak berani bertanya karna mama Riska memberikan kode untuk tidak bertanya apapun.
Sedangkan di tempat lain,seorang pria sedang mengamuk di kamar nya,ia gak menyangka,ternyata gadis pujaan nya tengah bersama dengan rival bisnis nya.
Dan itu semakin membuat nya murka,karna pasti rencana nya akan gagal.
Kalau saja gadis pujaan nya hanya bersama teman-temannya,ianpasti akan leluasa berbuat sesuatu.
Namun sial nya,rencana nya ini gagal,bahkan sebelum bertindak.
Susah payah ia mengikuti nya,sedari hotel tersebut,kalau saja ia tau,dia bersama Alvi,ia tak akan pernah muncul untuk saat ini.