Gara-gara menolong Rinjani yang terkurung di dalam toilet, Hazel malah harus segera menikahinya. Bukan karena dituntut untuk bertanggung jawab, tetapi orang tua Hezel mengira jika anaknya sudah tidak sabar untuk menyentuh Rinjani.
Hazel dan Rinjani menyembunyikan pernikahan mereka karena saat ini keduanya masih sekolah. Lambat laut kebersamaan mereka menumbuhkan benih-benih cinta. Mampukah keduanya melewati lika-liku dalam rumah tangganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teh ijo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikahi Ketua Osis | 29
Rinjani belum bisa diajak berbicara usai kejadian tadi. Ayah dan bunda memilih membawa Rinjani pulang untuk menenangkannya. Selain itu Excel selaku pemilik sekolah merasa sangat murka pada para guru, terutama kepala sekolah karena tidak memberikan kamera pengawas di bagian atap sekolahan
"Saya tidak ingin tahu bagaimanapun caranya, kalian semua harus bisa mengungkap kejadian ini dengan secepatnya. Jika pelaku diantara para guru, maka bersiap-siaplah untuk menanggung akibatnya. Tetapi apabila kejadian tadi disebabkan oleh salah seorang murid, maka tindakan tegas adalah mengeluarkan murid tersebut. Sekolah ini bukanlah tempat untuk mencetak generasi kriminal. Semoga kalian semua paham apa yang saya ucapkan," pungkas Excel sebelum meninggalkan ruangan guru.
Sebelum pulang Excel menyempatkan diri untuk mencari keberadaan Hazel. Dia belum merasa puas jika belum mendengar penjelasan dari Hazel mengapa Rinjani bisa berada di rooftop dan hampir saja kehilangan nyawanya.
Semua murid heboh saat langkah Excel mendekati Hazel yang sedang termenung disebuah bangku. Kesadaran Hazel terpecah saat Bima menyenggol lengan Hazel dan memberi isyarat jika ada seorang yang datang.
"Daddy," lirih Hazel.
"Kita perlu bicara. Kemasi barang dan pulang sekarang!" perintah Excel membuat sebagian murid hanya bisa terperangah. Meskipun masih berada di jam pelajaran, Hazel tidak membantah. Dia patuh dan segera mengambil tas sebelum menuju ke mobil sang Daddy.
Sepeninggal Hazel semua berbisik dan merasa kasihan kepada Hazel. Mereka mengira jika Daddy Hazel menganggap Hazel adalah penyebab dari kejadian tadi. Mereka ingin membantu untuk memberikan penjelasan, tetapi mereka takut kepada Excel yang terlihat garang.
Sesampainya di mobil, Excel langsung menetap tajam ke arah sang anak. "Kenapa bisa terjadi seperti ini? Rinjani hampir saja kehilangan nyawanya. Jika kamu tidak datang tepat pada waktunya, apakah kamu bisa menjamin jika Rinjani akan baik-baik saja?" Excel telah mencecar Hazel yang tidak tahu mengapa Rinjani bisa sampai berada di atap sekolah.
"Dadd, Hazel tidak tahu apa-apa. Bahkan tadi Hazel sempat mencari keberadaan Rinjani di lapangan basket. Hazel tak tahu mengapa Rinjani bisa sampai di atap, Dadd," jelas Hazel.
Excel terdiam dan memilih untuk menjalankan mobilnya menuju rumah Dirga. Sudah pasti saat ini Rinjani dibawa pulang ke rumah mereka.
"Apakah selama ini Rinjani mempunyai musuh?" tanya Excel tiba-tiba.
Hazel menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak ada, Dadd. Selama ini Rinjani tidak banyak bergaul. Dia hanya berteman dengan Mentari saja "
"Apakah ada perempuan yang menyukaimu di sekolahan?"
Hazel melotot saat mendengar ucapan Daddy-nya. Entah pertanyaan macam apa itu. Sudah jelas banyaklah, secara Hazel adalah salah satu siswa ngetop di sekolahannya. Meskipun mereka tidak menyatakan perasaannya secara langsung, tetapi Hazel yakin jika banyak perempuan yang mengaguminya secara diam-diam.
"Bisa jadi ini adalah perbuatan salah satu orang yang telah kamu campakkan," ujar Daddy-nya lagi.
"Bisa jadi. Tapi Hazel tidak tahu siapa pelakunya karena selama ini mereka hanya sekedar mengagumi saja. Belum pernah ada yang mengungkapkan perasaannya langsung pada Hazel. Lalu apa hubungannya dengan Rinjani?"
"Mungkin saja ada rasa sakit hati saat melihatmu bersama dengan Rinjani," balas Daddy-nya.
Tak terasa mobil Excel sudah sampai di pekarangan rumah besannya. Saat ini Excel benar-benar sangat menghawatirkan keadaan Rinjani. Baru juga Hazel nongol, dia langsung bertanya, "Bagaimana keadaan Rinjani?"
"Dia masih shock, belum bisa diajak berbicara. Hazel, katakan apa yang telah terjadi pada Rinjani," desak ayah mertuanya.
Hazel tidak tahu bagaimana cara menjelaskan kepada para orang tua tentang kejadian yang telah menimpa Rinjani, sebab dia tidak tahu apa-apa tentang kejadian tadi. Namun, beruntungnya dia masih bisa menyelamatkan Rinjani.
"Maafkan Hazel, Yah. Sungguh Hazel tidak tahu mengapa Rinjani bisa berada di atap sekolahan. Bisakah Hazel untuk bertemu dengan Rinjani?"
"Silahkan. Dia ada di kamarnya. Mungkin kehadiranmu bisa membuatnya lebih tenang dan mau menceritakan apa yang telah menimpanya tadi," kata bunda Vie.
Hazel pun segera diantar menuju ke kamar Rinjani, sementara itu dua orang ayah saling memutar otak untuk menangani kejadian ini.
"Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Bagaimana jika tadi Rinjani sampai jatuh. Aku pasti sudah tidak memiliki anak perempuan lagi," kata Dirga sambil mengacak rambutnya.
"Bukan kamu saja, aku juga pasti akan kehilangan menantuku," timpal Excel.
"Aku yakin jika memang ada seseorang yang sengaja ingin mencelakai Rinjani. Aku ingin masalah ini diusut sampai tuntas. Tidak peduli apakah dia guru atau murid yang memiliki kekuasaan, karena ini telah menyangkut nyawa seseorang."
"Ya aku tahu apa yang harus aku lakukan," pungkas Excel.
**
Di dalam kamar, Hazel menatap Rinjani yang membalut tubuhnya dalam selimut tebal. Terlihat wajahnya yang masih sayu. Rasa shock masih menyelimuti hatinya hingga dia tidak mampu untuk berkata apa-apa lagi. Dengan pelan Hazel mendekati Rinjani dan menyapanya.
"Kamu sudah aman, jangan takut lagi."
Mata Rinjani menatap wajah Hazel yang juga terlihat menyelipkan rasa cemasnya. Dengan helaan napas berat akhirnya Rinjani membuka mulutnya untuk bersuara.
"Apakah kamu sedang mempermainkan aku?" tanyanya dengan lesu.
Hazel mengernyit. Dia tidak tahu apa maksud dari ucapan Rinjani. "Maksud kamu apa?" tanyanya.
Rinjani tersenyum tipis. "Bukankah kamu yang menyuruhku untuk ke rooftop? Lalu mengapa kamu tak datang? Aku menunggumu lama, hingga akhirnya seseorang berusaha untuk mendorongku. Beruntung saja aku masih bisa berpegangan. Jika tidak, aku pasti sudah berada di alam kubur dan kamu akan tertawa diatas tangisan orang tuaku, bukan begitu?"
Hazel menggelengkan kepalanya. Sungguh dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Rinjani. Hazel sendiri tidak menyuruhnya untuk ke rooftop. Lalu siapa orang yang sudah mengaku sebagai dirinya untuk mencelakai Rinjani?
"Rin, kamu tenang dulu dan katakan dengan jelas apa yang sudah terjadi tadi. Aku berani bersumpah, jika aku tidak menyuruhmu untuk menemuiku di rooftop," kata Hazel dengan kesungguhan hati.
"Jelas-jelas kamu mengirimkan pesan kepadaku. Kamu mau bukti?" Rinjani segera memperlihatkan sebuah pesan yang mengatasnamakan Hazel bahwa dia ingin bertemu di rooftop. "Apakah kamu masih ingin mengelaknya?" tanya Rinjani dengan malas.
Dengan seksama Hazel membaca pesan yang dikirim ke ponsel Rinjani. Hazel menggelengkan kepalanya. "Dan kamu percaya bahwa ini adalah aku? Bukankah kamu sudah menyimpan nomorku? Jelas-jelas ini bukan nomorku dan kamu percaya begitu saja? Kamu sangat ceroboh Rin. Harusnya kamu memastikan lagi kepadaku. Untuk apa aku ingin menemuimu di rooftop, jika setiap hari kita bisa bertemu. Aku yakin ada seseorang yang sedang ingin mencelakaimu. Apakah kamu punya musuh?" tanya Hazel.
Rinjani menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tidak pernah mempunyai musuh. Lalu siapa yang sudah melakukan semua ini padaku?"
"Apakah kamu tahu siapa orang yang telah mendorongmu tadi?"
"Tidak. Karena orang itu memakai jubah hitam. Tapi aku yakin jika pelakunya adalah perempuan karena sepatu yang dia pakai adalah sepatu perempuan," jelas Rinjani saat mengingat kejadian tadi.
"Kamu tenang saja, masalah ini akan diusut sampai tuntas. Aku tidak akan membiarkan orang yang telah mencelakaimu bisa hidup dengan tenang," kata yang Hazel dengan kesungguhan hatinya.
Awalnya Rinjani pun tidak percaya jika Hazel mengajaknya untuk bertemu di rooftop. Namun, karena Rinjani penasaran, akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke rooftop. Tidak disangka jika itu adalah sebuah jebakan untuk dirinya. Rinjani hanya bisa merutuki dirinya sendiri mengapa dia terlalu ceroboh saat mengambil sebuah keputusan.
"Hazel aku takut."
Dengan gerakan pelan, tangan Hazel terulur untuk memeluk tubuh Rinjani. "Jangan takut, aku ada disini," ujarnya.
Rinjani membalas pelukan Hazel dengan melingkarkan tangan di pinggangnya. Aroma maskulin yang selalu menggetarkan detak jantungnya kini bisa dia nikmat dengan tenang. Baru saja Rinjani hanyut dalam belaian, tiba-tiba pintu kamarnya dibuka oleh seseorang tanpa permisi lebih dahulu.
"Kalian!" pekiknya.
...~BERSAMBUNG~...