"Tanda tangani surat cerai ini atau keluargamu membusuk di penjara!"
Difitnah atas kejahatan yang tidak dilakukannya, Flossie diusir oleh suaminya, Alfie Kincaid, ke tengah badai malam. Pria itu tidak pernah tahu, Flossie pergi dengan membawa rahasia yang terkunci rapat di dalam rahimnya.
Lima tahun kemudian, wanita yang disangka telah mati itu kembali sebagai sosok berkuasa yang siap membalikkan keadaan.
Saat kebenaran masa lalu mulai terungkap satu per satu, Alfie berlutut memohon kesempatan kedua. Namun, sepasang mata dingin sang mantan istri menatapnya tanpa emosi.
Apakah Alfie sanggup membayar harga dari sebuah pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Alfie mendengus, lalu mengeluarkan sebuah pulpen berujung emas dari saku jasnya dan menyodorkannya dengan kasar.
"Pilihan yang cerdas."
Sebelum menerima pulpen itu, Flossie bergerak secara refleks. Tangan kirinya meraba tas jinjingnya yang tergeletak di kursi koridor.
Ia mendorong amplop cokelat berisi hasil tes kehamilannya jauh ke dalam bawah tasnya dan menutupinya dengan syal rajut.
Jantungnya berdegup liar.
"Pria ini tidak boleh tahu. Mengapa aku harus membagi darah dagingku dengan pria kejam yang menganggapku seorang pembunuh? Janin ini adalah milikku sepenuhnya. Hanya milikku," jerit batinnya.
Flossie menerima pulpen itu dengan tangan gemetar. Setiap goresan tinta yang dia torehkan terasa seperti sayatan pisau yang memotong sisa-sisa rasa cintanya pada Alfie hingga tak berbekas.
Air matanya menetes dan membasahi kertas putih itu, membuat noda tinta hitamnya sedikit melebar.
Flossie Kincaid. Tidak, mulai detik ini, nama belakang itu bukan lagi miliknya.
"Sudah."
Flossie meletakkan pulpen itu di atas meja koridor. Dia berdiri tegak dan mengabaikan rasa pening yang mendera kepalanya dan rasa melilit yang samar di perut bagian bawahnya.
Ia menarik tasnya dan mendekapnya erat di depan perut sebagai pelindung naluriah untuk bayinya.
"Aku sudah menandatanganinya. Sekarang, tepati janjimu. Jangan sentuh keluargaku!"
Alfie menyambar kertas itu dan memeriksanya sejenak dengan tatapan tajam sebelum melipatnya kembali dan memasukkannya ke dalam saku jas.
"Urusan kita selesai," kata Alfie dingin.
"Pengacaraku akan mengurus sisanya ke pengadilan. Kamu tidak akan mendapatkan satu sen pun dari harta Kincaid."
"Aku tidak pernah menginginkan uang sialanmu, Alfie," sahut Flossie membuat Alfie sempat menaikkan sebelah alisnya karena terkejut.
"Tahan saja semua hartamu sampai kamu mati."
Wajah Alfie mengeras mendengar kelancangan Flossie. Ia melangkah maju dan mencengkeram lengan Flossie dengan kekuatan yang membuat wanita itu meringis.
Ia menyeret Flossie kasar menyusuri koridor dan mengabaikan protes lirih yang keluar dari bibir istrinya.
"Alfie, lepaskan! Apa yang kamu lakukan?!"
"Mengusir seonggok sampah dari pandanganku," jawab Alfie tanpa perasaan.
Mereka sampai di pintu lobi utama rumah sakit. Di luar suara guntur tiba-tiba menggelegar dengan dahsyat dan menggetarkan kaca-kaca gedung.
Alfie mendorong Flossie keluar ke area drop-off yang terbuka, tepat di bawah guyuran hujan yang deras.
"Jangan pernah menunjukkan wajahmu lagi di kediaman Kincaid dan jangan pernah berani mendekati Ibuku lagi," ujar Alfie.
"Jika aku melihatmu berkeliaran di dekat keluargaku, aku tidak akan segan-segan menggunakan surat ini untuk menjebloskanmu sendiri ke balik jeruji besi."
Flossie berdiri gemetar di bawah guyuran angin malam dan menatap suaminya untuk yang terakhir kali.
"Kamu akan menyesali malam ini, Alfie Kincaid. Kamu akan memohon ampun atas setiap air mata yang jatuh malam ini."
Alfie tidak membalas dan ia berbalik dengan acuh tak acuh dan membiarkan pintu kaca otomatis rumah sakit tertutup di belakangnya dan memisahkan dunia mereka.
***
Dingin yang menggigit langsung menyergap kulit Flossie. Dalam hitungan detik, gaun tipis yang dikenakannya basah kuyup dan menempel ketat pada kulitnya yang mulai memucat dan menggigil hebat.
Tanpa uang sepeser pun di saku, tanpa payung, dan tanpa arah tujuan, Flossie melangkah keluar dari area drop-off menuju pelataran parkir yang luas.
"Tuhan, ke mana aku harus pergi?" bisik Flossie.
Setiap langkahnya terasa begitu berat. Batinnya hancur dan terkoyak oleh tuduhan keji dan pengkhianatan dari pria yang paling dicintainya.
Flossie terus berjalan menyusuri aspal dingin dan keluar dari area rumah sakit menuju jalan raya yang sepi. Kedua tangannya tidak pernah lepas dari tas jinjing yang didekap erat di depan perutnya dan mencoba memberikan kehangatan minimal bagi janin di dalam rahimnya.
Di saat yang sama, sebuah mobil sedan mewah hitam melesat membelah genangan air di area parkir rumah sakit. Di kursi belakang, Alfie duduk bersandar dengan rahang yang mengatup rapat.
Pengawal pribadinya memegang kemudi dengan fokus penuh menembus badai.
"Pak, kita langsung kembali ke mansion atau ke kantor?" tanya sang sopir memecah keheningan.
"Mansion," jawab Alfie singkat.
Mobil bergulir mulus melewati gerbang luar rumah sakit dan berbelok ke jalan raya. Saat mobil melaju kencang, lampu sorot depan menerangi sosok wanita yang berjalan limbung di pinggir jalan yang gelap.
Wanita itu tidak memakai alas kaki, rambut panjangnya lepek menempel di punggung, dan tubuhnya tampak sangat rapuh di bawah hantaman hujan.
Alfie secara refleks menoleh ke arah kaca spion luar melalui pantulan cermin yang buram oleh titik-titik air, ia melihat bayangan Flossie yang nyaris tumbang diterpa angin kencang.
Secercah rasa bersalah dan sesak yang asing tiba-tiba menghantam dada Alfie. Jantungnya berdenyut nyeri melihat pemandangan itu.
"Pak Alfie."
Sopir itu ikut melirik dari kaca spion tengah, suaranya ragu-ragu.
"Itu bukankah Ibu Flossie? Apakah kita harus berhenti dan ...."
"Tidak," potong Alfie cepat berusaha keras untuk mengeraskan hatinya kembali.
Kilasan foto-foto intim Flossie dengan pria lain dan wajah ibunya yang kesakitan kembali berputar di otaknya.
"Jangan berhenti. Terus melaju!"
"Tapi, Pak, badainya semakin ...."
"Aku bilang jalan terus!" bentak Alfie dan matanya menatap lurus ke depan, menolak untuk menoleh ke belakang lagi.
Alfie mengepalkan tangannya di atas lutut untuk mengusir paksa rasa sesak yang terus mengimpit dadanya.
Sementara itu di tepi jalan yang sunyi, langkah kaki Flossie mendadak terhenti. Puluhan meter di depannya ada lampu belakang mobil Alfie perlahan menjauh dan menghilang di balik tikungan yang meninggalkan dirinya dalam kegelapan total.
"Kamu benar-benar tidak peduli," lirih Flossie.
Tawa getir lolos dari sela bibirnya yang bergetar.
"Bahkan jika aku mati di jalan ini, kamu tidak akan peduli, Alfie."
Tepat setelah kata-kata itu terucap, sebuah rasa sakit yang luar biasa hebat tiba-tiba menyerang perut bagian bawah Flossie.
Rasa mulas yang tajam seperti ditarik dan diperas secara paksa, membuat Flossie refleks membungkuk dalam.
"Ah!"
Flossie mengerang kesakitan. Tas jinjingnya terlepas dari dekapan dan jatuh ke atas kubangan air di aspal.
Ia mencengkeram perutnya dengan kedua tangan. Rasa sakit itu begitu intens hingga membuatnya sulit untuk sekadar bernapas. Tubuhnya berlutut di tepi jalan dan bertumpu pada aspal yang kasar.
"Tidak. Tidak sekarang," bisik Flossie panik.
Keringat dingin mulai bercampur dengan air hujan di pelipisnya.
"Kumohon, bertahanlah anakku, bertahanlah!"