jarum jam selalu berputar memutari dua belas angka yang sama yang terdapat di sekeliling nya, namun saat jarum jam membali menujuk angka yang sama, peristiwa yang perna terjadi sebelum nya telah menjadi masalalu.
Masalalu, sekuat apapum kita ingin kembali, waktu yang telah berlalu tidak akan pernah bisa terulang kembali layaknya jarum jam yang selalu berputar tuk kembali menujuk angka yang sama, kita hanya bisa memutar masa lalu hanya dalam sebuah ilasan kenangan.
"Gelang ini akan selalu tersenyum, mengingatkan mu padaku." Niana kembali mumutar ilasan kenangan nya, mengingat soso pria kecil penolong nya, setiap ia melihat gelang di tangan nya. "Aku ingin kembali ke hari itu."
Berharap pertemuan itu bisa terulang kembali, namun Waktu seakan merahasiakan Sebuah pertemuan yang tidak di sadari keduanya.
Hingga perjuangan, menjadi bukti kebersamaan mereka.
( Novel ini berkisahkan tentang perjuangan Niana dan Aksa untuk sampai akhirnya bisa bersama. Novel ini juga tidak hanya menceritakan percintaan saja, tapi juga mengangkat sebuah perjuangan seorang Aksa untuk meraih kesuseksanya, demi Gadis Impian nya, Keluarganya, juga Orang lain)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Bonanza memperbaiki posisu dudyknya, seakan bingung dengan jawaban nya yang tidak mungkin dia mengatakan, perasaan benci itu sudah berubah sebaliknya.
"Karna aku sadar, salah jika harus membenci orang yang benar-benar baik seperti mu." Kesungguhan tetlihat lagi dari ucapan Bonanza. "Sifat mu yang selalu perduli pada sekitar, dan hal itu yang membuatku mengagumi mu."
Raksa terdiam, dia hanya tersenyum dengan sedikit mengacak rambut gadis di hadapnan nya. "Aku menyukai Bonanza yang sekarang."
Bonanza seakan terbuai dengan sentuhan dan ucapan itu, dari kalimat Raksa, seperti ada setitik harapan untuk bisa masuk kedalam hatinya.
Raksa mengalihkan pandangan nya menatap ke luar toko. Duduk di sana Raksa kembali teringat pada sosok gadis impian nya, yang sangat menyukai tempat duduk itu. Niana, dulu bila usai bekerja dia suka duduk bersantai mengistirahatkan badan nya di sana melihat ke luar toko dengan pandangan hangat, saat itu Raksa selalu memperhatikan nya diam-diam.
"Kamu kenapa?"
"Aku bukannya tidak tertarik dengan apa yang di lakukan anak muda pada umumnya." Ucapan Raksa membuat Bonanza melihanya serius, menanti ucap selanjutnya yang akan semakin memperlihatkan sosok anak muda di hadapnya. "Aku terlalu berambisi, mungkin kamu pernah mendengar aku ingin sukses punya uang banyak bertujuan untuk membantu orang banya." Raksa nenarik napas sejenak sebelum melanjutkan ucapan nya. "Kamu salah menilaiku dengan kata baik, aku hanya terlalu berambisi karena sebuah hinaan."
"Apa karna gadis di amerika itu?" Tanya Bonanza ragu, "Aku mendengar sedikit ceritanya dari Harry dan Ricko."
"Sudahlah, terimakasih kamu pendengar yang baik."
"Apa aku boleh tau hubungan kalian?" Pertanyaan yang dengan ragu dia tanyakan. "Kalian pacaran?"
"Tidak." jawab Raksa singkat.
Lonceng yang terdapat di atas pintu toko berbunyi, menandakan ada seseorang yang masuk. Siapa Dia?, Bonanza yang mertanyakan itu. Raksa terdiam, tatapannya dalam seperti mengungkapkan ribuan kata yang tidak bisa di tebak tatkala melihat gadis yang sedang di sambut dengan pelukan oleh ibunya, adik-adiknya, berganti pada Karin dan bebera orang di sana.
Gadis itu beralih melihat Raksa, dengan Bonanza di sampinya tak luput dari perhatian nya juga. Niana, yang baru saja datang ke toko itu.
"Sayang, kapan kamu pulang?" Terdengar tanya Ibu Safira.
"Tadi pagi Tante, tadi ke rumah tante tapi tidak ada siapa-siapa. Jadi aku pikir tante di sini." Tutur Niana, "Tapi aku sempat kecewa tidak akan ketemu tante, tadi saat melihat plang di depan hari ini tutup. Ada acara apa tante, Apa aku tidak mengganggu? aku hanya ingin bertemu tante Alea dan Alea dulu sebelum pergi lagi besok."
"Yakin cuma mau ketemu tante Alea dan Alia saja?" goda Safira, "Gak papa ko sayang tante seneng banget kamu kesini. Kita sedang merayakan ulang tahunya Raksa."
Niana sedikit kaget beralih melihat Raksa, dia menyesal bisa tidak tau hari ulang tahun Raksa. Niana melangkah kan kakinya mendekati Raksa berusaha tak menghiroukan apapun, berusaha tak memperdulikan siapa gadis yang sangat akran sedang duduk bersamanya. Raksa berdiri menyambutnya, walou tak ada kata yang jekuar darinya, "Aksa! Selamat ulang tahun, maaf aku tidak bawa apa-apa."
Mata Raksa seperti akan berkaca-kaca, menatap gadis di hadapan nya. "Terimakasih,"
Niana tampak sedikit canggung, "Eh, aku tidak bisa lama-lama. Sekali lagi selamat ulang tahu ya, semoga kamu bahagia." Niana berbalik melangkahkan kan kakinya menjauh, sebelum langkahnya terhenti sejenak.
Niana berbalik melihat Raksa, kembali menghampiri Raksa setelah mengambil sebuah kotak dari dalam tasnya. "Aksa, ini aku kembalikan." Niana mengasongkan sebuah kotak kecil berisi gelang pemberian Raksa dulu. "Aku sudah tidak tersenyum saat melihatnya, sebaliknya air mataku selalu keluar saat melihat gelang itu."
Tangan Raksa bergetar menerima gelang itu, sungguh dia sangat terpukul mendengarnya. Karnanya, gadis itu pasti sangat terluka. Niana melanjutkan niatna pergi dari sana, setelah berpamitan pada Safira dan yang lainya. Niana melangkah cepat keluar dari toko, setelah tubuhnya lolos keluar dari pintu toko, langkahnya semakin di percepat dengan sedikit berlari menuju mobil yang pintunya sudah di buka kan oleh Maya untuk di masuki nya.
Tangis Niana pecah, semua kesedihannya tumpah tidak bisa tertahan lagi. Maya hanya diam mendengar tangisan Nona muda yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri itu.
***
Tok, tok, tok.. Suara ketukan jendela kaca mobil Niana, Raksa yang berada di luar sana. Niana sesegera mungkin menghapus air matanya sebelum dia keluar.
"Banyak hal yang harus aku jelaskan padamu." Raksa menatap lekat wajah sedih gadis di hadapan nya. "Aku tidak ingin menyesal lagi."
"Aku tidak punya banyak waktu." Jawab Niana dengan memaksakan sebuah senyuman.
"Maafkan aku." Mata Raksa sendu, seakan penuh penyesalan dengan permintaan maafnya. Tangannya dengan singap meraih tubuh Niana membenam kan kedalam pelukan nya. "Maaf kan aku, kamu pasti sangat terluka."
Air mata Niana kembali keluar, dia juga menyesal mendengar kata maaf dari Raksa. "Aku sangat merindukan mu." Kalimat Raksa yang membuat air mata Niana semakin deras keluar.
"Maafkan aku." Raksa melepaskan pelukan nya, namun masih tak melepaskan gadis impian nya itu. Seakan tak rela untuk melepas nya lagi. "Maafkan aku, membiarkan mu pergi dengan kebodohan ku."
Tatapan mereka saling berbalas, fokus satu sama lain seakan tak ingin beralih pada dunia lain.
Tapi... Semua itu hanya bayangan Raksa saja. Setelah Niana keluar dari toko Raksa memang mengikutinya tapi tidak berani mendekat hanya berdiri mematung di depan pintu toko, sampai mobil yang Niana naiki hilang dari pandangan nya.
"Kenapa tidak mengejarnya, kenapa tidak kamu tahan. Ayolah kak kamu itu sangat bodoh bila menangani masalah prasaan mu sendiri." Suara ibu Safira memaki, dengan wajah kesalnya meninggalkan anak bodoh itu sana.
Raksa bukan tidak ingin mengejar menahan Niana, tapi prasaan seperti seorang kerdil yang mengharapkan seorang putri masih tertanam dalam benaknya, dirinya yang sekarang belum cukup untuknya. Pencapaian nya saat ini barulah hanya seujung kuku bagi Ayah Niana jah dari kata sepadan untuk putrinya. Mengingat ucapan ayah nya Niana, jangan pernah temui putriku sebelum kamu membuktikan ucapan mu bisa sepadan dengan nya.
Setidaknya masih ada waktu tiga tahun lagi, waloupun Raksa merasa tidak mungkin bisa mencapai semuanya, tapi hanya berusaha yang bisa dia lakukan, dan ia akan berusaha dan berusaha lagi.
Salam Dari Navillera (Cinta yang beracun)
~Cinta Pertama~