Jin Fei fan harus menerima pemegang takdir sang penjaga berikutnya. Dia harus berjuang lebih keras untuk pantas menjadi sang penjaga dan agar dapat berjumpa dengan kedua orang tuanya yang dia ketahui berada di dimensi berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neneng selfia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu orang tua yang kejam
Fei fan dan yang lainnya mengelilingi jendral Ning yang masih proses pemulihan dari luka. Luka yang terbuka lebar perlahan menutup bahkan hilang seolah tidak pernah terluka sedikitpun.
"Mereka sungguh luar biasa." gumam jendral Ning.
"Apakah luka paman jendral sudah pulih?" tanya Fei fan sambil terus melawan para orang bertopeng itu.
"Sudah nona muda Wei." saut jendral Ning lalu berdiri.
"Telan pil pemulihan energi ini paman agar paman lebih baik lagi." ucap Fei fan sambil memberikan pil yang dia maksud.
"Paman orang yang biasa turun ke medan perang bukan, seharusnya paman tahu kehilangan fokus artinya sama saja dengan kehilangan nyawa." tegur Wei Yan.
"Maaf." jendral Ning merasa malu karena kalah dalam mempertahankan fokus dalam bertarung dari anak-anak yang tidak pernah turun langsung ke medan perang.
Tidak lama setelah itu mereka berhasil menghabisi para orang bertopeng itu. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan memasuki hutan namun dengan berhati-hati.
"Perhatikan setiap langkah kalian. Jangan sampai ada perangkap yang dipasang dan melukai kita jika tidak berhati-hati." ucap Wei Yan.
"Baik tuan muda." saut mereka semua.
"Syut syut syut..." tiba-tiba beberapa busur panah melesat mengarah ke arah mereka semua.
"Awas..... sat ting ting ting." Wei Yan, Fei fan, Yang ruo, Yuan li, dan kembar Ouyang dengan lincah menebas busur- busur panah yang melesat ke arah mereka itu.
"Syut syut syut." busur panah kembali melesat.
Kali ini Wei Yan dan Fei fan tidak menangkis tapi menangkap lalu melemparnya kembali ke arah datangnya busur panah itu.
"Jleb jleb akh... Bruk." busur berhasil menembus tubuh orang yang ternyata bersembunyi di atas dahan pohon membuat orang itu kehilangan keseimbangan lalu terjatuh ke tanah.
"Sepertinya para penculik itu merupakan satu aliran atau sekte tertentu karena mereka memiliki banyak anggota." ucap Yang ruo.
"Entahlah kak Yang ruo, kalian harus tetap berhati-hati." ucap Fei fan setelah mereka berhasil mengalahkan semua pemanah itu.
"Baik nona muda." saut Yang ruo.
"Sepertinya di depan sana rawa beracun itu nona muda Fei." ucap jendral Ning.
"Sebaiknya kita istirahat sejenak sambil melihat apakah ada perangkap lain di sekitar sini." ucap Fei fan.
"Bocah tengik." panggil roh pedang tiba-tiba.
"Ada apa kakek tua?" tanya Wei Yan.
"Di arah timur sana ada sebuah pusaka dan tanaman obat langka. Tapi, ada seekor ular api yang menjaganya." jawab roh pedang.
"Apakah dua benda itu yang menyebabkan adanya racun pada rawa itu?" tanya Wei Yan.
"Ya, jika kau menginginkan benda itu kau lebih baik mengalahkan manusia licik di dalam sana dulu karena bisa saja mereka menyerang dari belakang kala kalian melawan ular api jika kalian mengincar benda pusaka lebih dulu." jelas roh pedang.
"Apakah kau merasakan keberadaan anak-anak itu kakek tua?" tanya Wei Yan.
"Aku hanya merasakan beberapa orang dengan aura yang Ying yang sangat kuat. Sepertinya, anak-anak yang lainnya sudah diambil darah juga jiwanya. Terutama para bayi itu, mereka harus diambil darah juga jiwanya sebelum melewati usia 6 bulan. Sudah pasti mereka lebih dulu mati." ucap roh pedang.
"Sebaiknya kita bergerak cepat sebelum semakin banyak anak yang meninggal karena ulah mereka." ucap Fei fan.
"Kalian semua tunggu di sini saja. Biarkan kami berenam yang maju ke sana." ucap Wei Yan.
Akhirnya hanya Wei, Fei , Yang ruo, Yuan li, dan si kembar Ouyang yang menyeberangi rawa. Wei Yan dan Fei fan menggunakan energi spiritual mereka untuk membantu semuanya melewati rawa tanpa harus memasuki rawa itu.
"Sepertinya mereka ada di sana." ucap Wei Yan menunjuk sebuah bangunan tidak jauh dari tempat mereka.
Bangunan itu tidak ada yang berjaga disekitarnya tapi, ada pancaran cahaya dari dalam membuat mereka yakin bahwa di dalam rumah itu ada orang. Dengan perlahan mereka mendekati bangunan itu.
"Mengapa tidak ada yang berjaga di sekitar sini?" tanya Huang hu.
"Mungkin karena mereka percaya bahwa tidak ada orang yang bisa melewati rawa beracun sehingga tidak melakukan penjagaan di sekitar sini" jawab Wei Yan.
"Apa yang mereka lakukan?" tanya Huang si setelah mereka berhasil mengintip dari celah di dinding.
Mereka semua menahan suara bahkan nafas melihat seorang anak terbaring di atas sebuah meja dengan tangan dan kaki terikat pada masing-masing sudut meja. Seorang pria tua meletakkan telapak tangannya di depan wajah anak kecil itu.
Anak kecil itu melebarkan mata dengan mulut yang menganga lebar juga. Cahaya samar berwarna putih seolah terhisap dari mulut anak kecil itu ke telapak tangan pria tua itu.
Setelah itu tubuh bergetar anak kecil itu perlahan melemah hingga tidak lagi bergerak. Pria tua itu memasukkan cahaya yang dia serap dari anak kecil itu kedalam sebuah kendi lalu mengiris pergelangan tangan juga leher anak itu. Darah segar mengalir ke sudut meja lalu mengalir ke sebuah kendi di bawah meja.
"Ha ha ha ha ha, setelah semua selesai aku akan menjadi orang yang tidak terkalahkan. Kau akan menyesal karena telah mengusir aku guru." ucap pria tua itu.
"Sungguh kejam." ucap Fei fan.
"Kita tidak bisa hanya melihat itu semua. Masih ada banyak anak-anak yang harus kita selamatkan." ucap Wei Yan.
"Apakah kau mengetahui dimana anak-anak lainnya berada kakek tua?" tanya Wei Yan.
"Ada ruangan bawah tanah di dalam rumah itu. Tapi, aku merasakan sebuah kekuatan menjaga ruangan itu." jawab roh pedang.
"Kalau begitu kita membagi tugas Fei." ucap Wei Yan.
"Serahkan kepala orang tua keji itu padaku. Kau juga yang lainnya menyelamatkan anak-anak itu. Bisa saja kekuatan yang menjaga itu adalah sebuah jimat kau lebih paham soal itu." ucap Wei Yan.
"Baiklah." saut Fei fan.
Sementara orang tua kejam itu menutup kendi lalu memindahkannya, Fei fan dan yang lainnya memasuki rumah itu.
"Rupanya ada anak-anak yang sempurna untuk melengkapi bahan pil iblis terkuat yang datang menyerahkan diri mereka sendiri padaku." ucap orang tua itu yang menyadari kedatangan Fei fan dan Wei Yan setelah mereka memasuki rumah itu.
"Syut..." orang tua itu mengeluarkan serangan energi berupa sulur untuk menangkap Wei Yan yang berdiri di belakangnya.
"Duar." Wei Yan menghancurkan sulur itu dengan mudah.
"Kau hebat juga anak kecil. Pantas saja kau berani memasuki tempat ini. Tapi, sayang sekali kau harus mati di tangan calon dewa iblis ini." ucap orang tua itu begitu angkuh.
"Siapa yang akan mati ditangan siapa masih belum jelas orang tua bau tanah." ucap Wei Yan sambil tersenyum meremehkan ke arah orang tua itu.
terhura aq thor.....