NovelToon NovelToon
Novel Mecha "GEAR TEARS"

Novel Mecha "GEAR TEARS"

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romansa Fantasi / Kehidupan Tentara
Popularitas:362
Nilai: 5
Nama Author: KIRA

GEAR TEARS
Novel Bertema Mecha Militer

Di dunia yang telah hancur oleh kemunculan makhluk misterius bernama Cataclysm, umat manusia hanya mampu bertahan hidup di dalam kubah raksasa yang disebut Station. Untuk melindungi peradaban yang tersisa, organisasi militer The Hawk membentuk pasukan elit Grey Wings, para pilot yang mengendalikan robot tempur raksasa bernama Neo Gear.

Shin, seorang pilot muda Grey Wings Station 05, menjalani hidupnya seperti pilot lainnya hingga bertemu dengan seorang wanita misterius bernama Belial. Dengan tanduk biru, ekor panjang, dan kekuatan yang melampaui manusia biasa, Belial menyimpan rahasia yang dapat mengubah segalanya: ia adalah seorang hybrid manusia dan Cataclysm.

Di tengah meningkatnya serangan Cataclysm dan konspirasi yang tersembunyi di balik organisasi The Hawk, Shin dan Belial perlahan membangun ikatan yang seharusnya tidak pernah ada. Namun, ketika masa lalu yang telah lama dikubur mulai bangkit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KIRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10 "kehangatan di Home"

Chapter 10

Matahari baru saja mengintip dari balik kubah Station 05, memantulkan cahaya fajar keperakan di koridor markas Grey Wings. Namun, ketenangan pagi itu langsung pecah oleh suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa dan kepanikan yang luar biasa.

"Eh?! Seragamku mana?! Waduh, gawat! Upacara evaluasi sebentar lagi!" teriak Lei frustrasi. Rambutnya masih acak-acakan, dan ia sibuk membongkar isi lemarinya hingga membuat bantal dan gulingnya terlempar ke lantai.

Kebisingan itu memancing anggota tim lainnya keluar dari kamar dengan wajah mengantuk. Zhou yang sedang menguap lebar mengucek matanya pelan. "Aduh, Lei, berisik banget sih pagi-pagi. Lagian kok bisa hilang? Kemarin bukannya kamu pakai pas pulang misi?" "Justru itu! Seingatku aku taruh di kursi ruang tengah, tapi sekarang nggak ada!" sahut Lei, wajahnya mulai pucat. Sua keluar sambil melipat tangan di dada, menatap ketat. "Kalau sampai kamu terlambat dan membuat reputasi Tim 05 jatuh di depan Komandan Ace, aku tidak akan memaafkanmu, Lei."

Di ujung koridor dekat area halaman belakang, Teiben yang berniat memeriksa cuaca luar berjalan mendekati jemuran. Matanya menangkap sepotong kain abu-abu yang familier. Ia mendekat, lalu membuka pintu penghubung dengan senyum geli. "Hei, Lei! Ini bukan seragammu?" Lei, Zhou, dan Sua langsung berlari mendekat. Di atas meja lipat dekat jemuran, seragam militer milik Lei sudah bersih, disetrika dengan sangat licin, bahkan dilipat dengan begitu rapi hingga membentuk sudut yang sempurna.

Seketika itu juga, pandangan semua orang langsung beralih ke satu sudut ruangan. Di sana, Mei sedang memegang sapu, bergerak perlahan membersihkan sisa debu lantai. Rambut panjangnya diikat rapi ke belakang, dan sebuah celemek kain membungkus pinggangnya. Menyadari dirinya menjadi pusat perhatian, Mei menghentikan aktivitasnya, lalu menatap mereka dengan senyum selembut sutra. "Kemarin malam kamu pulang dengan wajah sangat lelah, Lei. Kamu bahkan ketiduran di sofa ruang tengah sebelum sempat membersihkan diri," ucap Mei, suaranya mengalir tenang bagai mata air. "Aku tidak tega melihat seragammu kotor, jadi selagi mencuci kain pel, aku sekalian mencucikan dan menyetrikanya untukmu."

Matra Lei seketika berbinar, dipenuhi rasa haru yang membuncah. Ia melompat maju tanpa memedulikan tatapan sinis Sua. "Meii...! Kamu benar-benar malaikat! Penyelamat hidupku!" Lei langsung memeluk Mei dengan erat, menenggelamkan wajahnya di bahu gadis kalem itu. Mei hanya tertawa kecil, suara kekehannya terdengar renyah saat ia menepuk-nepuk punggung Lei dengan lembut. "Sudah, sudah. Cepat pakai dan bersiaplah, atau Kak Sua benar-benar akan menghukummu."

Pagi lainnya di ruang tengah. Kali ini, giliran Elas yang berdiri mematung di dekat meja belajar dengan kedua tangan meraba-raba udara. Wajah dinginnya yang biasanya datar kini tampak memancarkan kepanikan terselubung. "Kacamataku... Di mana kacamataku...?" gumam Elas dengan nada datar namun cepat. "Lho, Elas? Kamu menghilangkannya lagi?" Huah yang baru saja lewat langsung ikut heboh. "Zhou! Bantu cari! Jangan cuma bengong!" "Kenapa jadi aku yang disuruh?!" protes Zhou, namun kakinya tetap bergerak membuka kolong sofa. Huah sendiri sibuk membongkar lemari penyimpanan logistik, sementara Belial yang sedang bersandar di dinding hanya mendengus sinis sembari melipat tangan.

"Dasar manusia ceroboh," cibir Belial dengan nada dingin, melirik ekor birunya yang meliuk malas. "Tanpa benda bulat di wajah itu, kau bahkan tidak bisa membedakan monster dan tiang listrik." "Belial, jangan mengejeknya. Elas benar-benar tidak bisa melihat dengan jelas tanpa itu," tegur Shin yang baru saja datang dari arah dapur.

Di tengah keriuhan itu, Mei melangkah masuk ke ruang tengah dengan langkah yang anggun. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah kacamata berbingkai hitam yang bersih berkilau tanpa setitik pun noda sidik jari. "Yang ini yang kamu cari, Elas?" Elas tersentak pelan, kepalanya menoleh ke arah sumber suara. "Lho?!" "Tertinggal di wastafel kamar mandi setelah kamu mencuci muka tadi subuh. Untung saja tidak terkena cipratan air raksasa," ujar Mei sembari melangkah mendekat dan dengan hati-hati memakaikan kacamata itu ke wajah Elas.

Begitu kacamata itu bertengger pas di hidungnya, dunia Elas kembali fokus. Ia menatap Mei, telinganya sedikit merona merah karena perhatian kecil tersebut. "Terima kasih, Mei... Aku benar-benar terbantu." Mei cuma tersenyum manis, mengusap bahu Elas pelan sebelum kembali beralih ke area dapur. Sore harinya, atmosfer hangat itu sedikit meredup. Di sudut ruang berkumpul yang sepi, Huah duduk menyendiri di atas kursi kayu. Matanya sembap dan hidungnya kemerahan, karena bertengkar hal sepele dengan Zhou. Air matanya sesekali masih menetes, membasahi lututnya yang dipeluk erat.

Langkah kaki yang ringan terdengar mendekat. Mei datang membawa secangkir cokelat hangat yang asapnya masih mengepul tipis, menyebarkan aroma manis yang menenangkan. Mei tidak bertanya apa yang terjadi. Ia tidak menghakimi siapa yang salah atau siapa yang benar antara Huah dan Zhou. Gadis itu hanya duduk di samping Huah, menaruh cangkir di meja, lalu ikut terdiam dalam keheningan yang damai. Beberapa menit berlalu tanpa kata. Mei membiarkan keheningan itu memeluk rasa sakit hati Huah. Baru setelah dirasa cukup, Mei menggeser duduknya, menatap Huah dengan pandangan keibuan yang teramat dalam. "Kalau mau menangis... menangislah semampumu, Huah. Jangan ditahan," ucap Mei dengan nada yang teramat lembut.

Kalimat sederhana itu runtuh bagai jangkar yang memutus tali bendungan air mata Huah. Pertahanannya hancur. Huah langsung menghambur ke pelukan Mei, menangis lebih keras hingga pundaknya terguncang hebat. Mei menyambut tubuh mungil itu dengan kehangatan penuh. Tangan lembutnya membelai rambut Huah berulang kali, memberikan kenyamanan yang tak bisa diberikan oleh siapa pun di markas ini.

"Anak baik... Semua akan baik-baik saja," bisik Mei pelan, mengecup puncak kepala Huah dengan penuh kasih sayang. Pemandangan di sudut ruangan itu benar-benar mengunci citra Mei, dia adalah seorang ibu yang hadir tanpa pernah diminta, namun selalu ada di saat mereka paling rapuh.

Jika pagi dan siang hari dipenuhi dengan kehangatan, maka waktu makan malam adalah panggung bagi kekacauan total Tim 05. Meja makan panjang di aula utama dipenuhi dengan berbagai hidangan, sup hangat, kentang rebus, daging panggang, dan tumpukan pancake serta puding manis buatan Mei. Semua orang awalnya makan dengan tenang, sampai keisengan Teiben mulai kumat. Dengan seringai jahil, ia menyentil sepotong kentang rebus kecil ke arah Zhou. Plop. Kentang itu mendarat tepat di dahi Zhou.

"Aduh! Hei! Siapa yang lempar kentang?!" seru Zhou, matanya melotot tajam keliling meja. Pandangannya terkunci pada Teiben yang pura-pura bersiul. "Oh, berani ya! Rasakan ini!" Zhou membalas dengan melempar gumpalan hancuran kentang murni. Teiben merunduk cepat, dan gumpalan itu justru mengenai pipi Huah yang sedang asyik mengunyah daging. Huah membeku sesaat, lalu wajahnya memerah padam. "Zhouuu! Kamu menantangku?!" Huah langsung meraih sepotong pancake, melemparnya sekuat tenaga.

Lei yang melihat situasi semakin seru tidak mau ketinggalan. "Wah, perang makanan! Ikutan!" serunya riang sembari meluncurkan sesendok penuh sup krim ke arah Teiben.

Di ujung meja, Belial awalnya sama sekali tidak peduli. Mantan pasukan elite itu hanya fokus memotong dagingnya dengan elegan setelah diajari table manner oleh Shin, menikmati makan malamnya dengan tenang. Namun tak diduga, sepotong pancake yang melesat dari arah pertarungan Zhou dan Lei melayang di udara dan...

Plak. Pancake itu mendarat mulus, tersangkut tepat di tanduk biru sebelah kanan Belial.

Suasana meja makan mendadak mendingin secara ekstrem. Belial perlahan menurunkan pisau dan garpunya, menimbulkan dentingan logam yang tajam di atas piring. Dengan gerakan yang sangat lambat, ia mengangkat tangan kirinya, mengusap tanduk birunya, dan mengambil pancake yang menempel di sana. Matanya berkilat tajam bagai pisau beracun. "Siapa..." geram Belial, suaranya rendah dan sarat akan ancaman pembunuhan. Tanpa komando, Teiben, Lei, dan Huah serentak mengangkat jari telunjuk mereka, mengarah tegak lurus ke satu orang. "ZHOU!" Zhou langsung melompat dari kursinya dengan wajah pucat pasi. "HUAAAH?! KENAPA AKU?! BUKAN AKU YANG LEMPAR KE SANA, SUMPAH!"

"Kau mencari mati, manusia lemah!" bentak Belial. Ia langsung melompati meja makan dengan kecepatan tinggi, mengejar Zhou. "Mamaaa! Ada monster ngamuk!" teriak Zhou histeris, berlari memutari meja makan dengan Belial yang mengejarnya di belakang sembari membawa garpu perak.

Kekacauan semakin tak terkendali. Huah yang berniat membantu Zhou (atau mungkin memperkeruh suasana) justru mengambil sepiring puding cokelat kenyal dan melemparnya ke arah Belial. Sayangnya, bidikannya meleset. Belial merunduk, dan puding itu kembali mengenai bagian belakang kepalanya. "......." Belial berhenti mengejar Zhou. Ia berbalik perlahan, cairan cokelat menetes dari rambut hitam panjangnya. "Kalian semua... benar-benar ingin dihabisi sekarang, ya?"

Mei yang sejak tadi berdiri di dekat meja saji mencoba menenangkan situasi dengan melambaikan tangan pelan. "Sudah ya semuanya... Tolong tenang." Namun suaranya tenggelam dalam teriakan histeris Zhou dan tawa renyah Lei. "Ayo, makan dengan baik-baik. Kasihan makanannya terbuang," coba Mei sekali lagi dengan senyum sabar. Plak!

Sebuah pancake berlumur sirup mapel mendarat tepat di tengah wajah cantik Mei. Tidak ada yang tahu pasti siapa yang melemparnya, entah itu lemparan asal Teiben atau sisa amunisi Lei yang meleset. Seketika itu juga, seluruh ruangan membeku. Zhou berhenti berlari. Belial menahan garpunya di udara. Huah menutup mulutnya dengan kedua tangan, dan Lei mendadak pura-pura pingsan di kursinya. Keheningan yang tercipta teramat sunyi, bahkan suara detak jarum jam dinding terdengar seperti dentuman keras. Bahkan Belial yang terkenal arogan dan kejam pun ikut menelan ludah, merasakan ada yang tidak beres.

Mei perlahan mengangkat tangannya. Dengan gerakan yang sangat anggun dan ritmis, ia melepas pancake dari wajahnya, lalu menaruhnya kembali ke atas piring kosong di depannya. Ia mengambil tisu, mengusap sisa sirup di pipinya, lalu menatap seluruh anggota tim. Mei tetap tersenyum. Namun, senyum itu tidak lagi memancarkan kehangatan ibu. Itu adalah senyuman paling mengerikan yang pernah mereka lihat sepanjang hidup mereka. Matanya menyipit melengkung indah, tetapi aura hitam pekat yang dingin mendadak keluar dari tubuhnya, membuat suhu ruangan turun drastis.

"Kalau begitu..." ucap Mei, suaranya terdengar sangat lembut namun bergema penuh tekanan maut. Meja makan panjang tiba-tiba bergetar ringan akibat pelepasan energi tekanan dari tubuh Mei. Zhou, Teiben, dan Lei serentak menelan ludah dengan keringat dingin mengucur deras. "Besok." Mei menjeda kalimatnya, senyumnya semakin lebar. "SEMUA. BERSIH-BERSIH. HOME."

Belial yang merasa dirinya adalah pasukan elit kiriman The Hawk dan tidak termasuk dalam hierarki domestik tim ini, memberanikan diri menunjuk dadanya dengan bingung. "Aku juga?" Mei menoleh ke arah Belial, mempertahankan senyum mengerikannya yang sanggup mengintimidasi monster kelas Seraphim sekalipun. "Tanpa terkecuali, Belial sayang."

Belial tertegun, bulu kuduknya merinding hebat. Untuk pertama kalinya sejak menginjakkan kaki di Station 05, ia menyadari bahwa predator tertinggi di markas ini bukanlah Exceed Gear milikinya, melainkan gadis penyapu lantai yang sedang tersenyum di depan mereka.

Keesokan harinya menjadi sebuah montase hukuman yang paling menggelikan sekaligus bersejarah bagi Grey Wings 05. Di bawah pengawasan ketat Mei yang duduk santai di beranda sambil menikmati teh setianya, seluruh anggota tim bekerja layaknya pelayan tanpa upah.

Di aula utama, Belial terlihat sedang memegang kain pel dengan wajah super masam. Ekor birunya mencambuk lantai berkali-kali saking kesalnya. "Sialan... Aku ini mantan pasukan elit yang dikirim langsung oleh The Hawk... Aku dilatih untuk membantai ribuan Cataclysm di garis depan, bukan untuk membersihkan noda sup krim di lantai busuk ini!" gerutunya panjang pendek.

Sementara itu, di bagian toilet, Zhou terlihat meratapi nasibnya sembari menyikat dinding wastafel dengan sikat gigi bekas. Di halaman samping, Huah menggerutu sambil mengayunkan sapu lidi memotong daun-daun kering, sementara Lei bertugas membersihkan kaca jendela luar hingga wajahnya menempel konyol di kaca.

Di luar pagar markas, Teiben dan Sei berbagi tugas luar ruangan. Teiben sibuk mengecat ulang pagar kayu yang mengelupas dengan kuas besar, sesekali mengelap keringat di dahinya dengan ramah. Di sebelahnya, Sei yang biasanya diam dan cuek terpaksa mendorong mesin pemotong rumput dengan ekspresi datar yang sangat tertekan.

Masuk ke area dalam, Elas berada di perpustakaan, menata ratusan buku tebal ke dalam rak dengan ketelitian tinggi, sementara Shin sibuk menggosok panci-panci besar di dapur yang gosong akibat insiden malam kemarin. Sua berdiri di tengah ruangan, memegang papan dada untuk mengatur seluruh pembagian tugas agar tidak ada yang malas-malasan di bawah perintah mutlak Mei.

Belial berjalan melewati dapur, membawa ember air pel yang kotor. Ia menatap Shin yang tangannya dipenuhi busa sabun. "Aku benci hidup ini," ucap Belial datar dengan mata kosong. Shin menoleh, lalu memberikan senyum tulus yang hangat. "Semangat ya, Belial. Sedikit lagi selesai, kok." Belial menatap Shin selama beberapa detik, ekornya meliuk canggung sebelum ia memalingkan muka. ".... Terserah kau saja."

Beberapa jam kemudian, seluruh markas benar-benar bersih mengilap tanpa setitik pun debu. Mei berdiri dari tempat duduknya, berjalan memeriksa setiap sudut ruangan, lalu tersenyum manis dengan kehangatan lamanya yang telah kembali. Aura mengerikan kemarin malam telah lenyap sepenuhnya. "Bagus sekali. Terima kasih atas kerja kerasnya, semuanya," ucap Mei tulus.

Mendengar kata-kata sakti itu bebas dari ancaman, Huah yang sudah kehabisan energi langsung menjatuhkan tubuhnya, merebahkan kepalanya dengan manja di atas pangkuan Mei yang sedang duduk di sofa ruang tengah. Mei sama sekali tidak keberatan; tangan lembutnya mulai membelai rambut Huah dengan penuh kasih.

Huah memejamkan matanya, mendengur pelan bagai kucing kecil yang kekenyangan. "Hehehe... Nyaman banget... Mei emang yang terbaik..." Seluruh anggota tim yang sedang duduk kelelahan di lantai menyaksikan pemandangan itu. Elas yang berdiri agak jauh di dekat rak buku terdiam, matanya menatap jemari Mei yang bergerak lembut di rambut Huah. Ia mendorong bingkai kacamatanya ke atas hidung, tampak ragu. Kaki Elas pelan-pelan melangkah mendekat, memecah jarak.

"Mei..." panggil Elas dengan suara lirih yang hampir tak terdengar. Mei mendongak, menatap Elas dengan lembut. "Iya, Elas? Ada apa?" Satu ruangan mendadak hening, penasaran dengan apa yang ingin dikatakan si kutu buku yang biasanya kaku itu. Elas menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah padam hingga ke ujung telinga. Jarinya saling bertautan dengan gugup. "Aku... Aku juga..." Elas menjeda kalimatnya, menarik napas dalam-dalam sebelum berbisik dengan nada super cepat, "...ingin dibelai seperti itu." Gubrak!

Satu ruangan mendadak hening total, seolah-olah waktu berhenti berputar lagi. Huah langsung membuka matanya lebar-lebar dan bangkit dari pangkuan Mei. "EH?! Elas, kamu serius?!" Belial yang sedang meminum air putih hampir saja menyemburkannya kembali. "Kau... Kau benar-benar mengatakan itu dengan wajah datar seperti itu? Kau serius, kacamata?" Elas yang menyadari seluruh atensi kini tertuju padanya langsung memalingkan mukanya yang sudah merah matang ke arah dinding. "Lupakan. Anggap aku tidak pernah mengatakannya."

Mei tertawa kecil, suara tawa lembutnya memecah ketegangan konyol tersebut. Ia menggeser posisi duduknya dan menepuk ruang kosong di sebelahnya. "Sini, Elas. Tidak usah malu." Dengan langkah kaku seperti robot kekurangan oli, Elas berbalik lalu duduk di samping Mei. Begitu tangan hangat Mei mendarat di atas kepalanya, membelai rambut hitamnya dengan kelembutan yang luar biasa, Elas langsung menutup matanya rapat-rapat. Seluruh ketegangan di tubuhnya mencair seketika. Wajah dingin, kaku, dan analitisnya hilang sama sekali, digantikan oleh ekspresi kedamaian yang murni. Untuk pertama kalinya, Elas terlihat benar-benar seperti anak kecil yang menemukan tempat amannya.

Lei yang melihat momen langka itu berbisik pelan ke arah Belial di sudut ruangan. "Ternyata Elas kalau di depan Mei juga bisa manja banget ya..." Belial menatap pemandangan itu dengan pandangan yang sulit diartikan, sebelum menggumam pelan. "Aku baru tahu... manusia sedingin dia bisa memasang ekspresi selembut itu."

Malam pun larut menyelimuti Station 05. Di saat seluruh anggota tim telah terlelap melepaskan penat dari hukuman kerja bakti, keheningan malam terasa begitu damai di beranda luar markas.

Mei duduk sendirian, kedua tangannya menggenggam secangkir susu hangat yang mengeluarkan uap tipis. Di langit malam yang terbuka, jutaan bintang buatan berkedip indah, berpadu dengan kegelapan dunia luar yang penuh misteri. Tak jauh dari sana, Belial duduk menyendiri di atas pagar pembatas beranda, kakinya menggantung bebas ke arah kegelapan bawah stasiun.

Mei melangkah pelan, lalu mengambil posisi duduk di samping Belial tanpa membuat suara yang mengganggu. Belial tidak menoleh, pandangan matanya tetap lurus menembus kegelapan malam, namun ekor birunya bergerak pelan menandakan ia sadar akan kehadiran Mei.

"Kenapa kau selalu tersenyum?" tanya Belial tiba-tiba, memecah kesunyian malam dengan suaranya yang datar namun sarat akan kebingungan batin. "Setiap hari, dalam setiap kekacauan... kau selalu menatap anak-anak bodoh itu dengan senyuman. Apa hidupmu di stasiun ini memang semudah dan seindah itu hingga tak ada celah untuk kemarahan?"

Mei perlahan menurunkan cangkir susunya, lalu menggelengkan kepalanya pelan dengan senyum tipis yang penuh kedewasaan. "Tidak, Belial. Hidup di dunia yang hampir hancur ini tidak pernah mudah bagi siapa pun, termasuk aku. Aku juga manusia biasa... Aku juga pernah merasa sedih, kecewa, bahkan ketakutan yang teramat sangat saat berada di dalam kokpit Pigeon menghadapi kematian."

Belial menoleh, menatap wajah Mei dari samping dengan dahi berkerut. "Lalu kenapa kau begitu yakin besok masih ada? Kenapa kau bertingkah seolah stasiun ini adalah tempat paling aman di dunia?" Mei memalingkan wajahnya ke atas, menatap hamparan bintang yang berkilau di langit-langit kubah. "Karena jika aku menyerah pada ketakutan itu... jika aku berhenti tersenyum dan ikut tenggelam dalam keputusasaan... lalu siapa yang akan memberikan harapan pada anak-anak itu?"

Mei menoleh ke arah Belial, tatapan matanya begitu jernih dan tulus. "Mereka semua adalah pilot yang dilahirkan untuk bertaruh nyawa. Setiap hari mereka melihat darah dan kematian. Markas ini, tim Grey Wings 05 ini... harus menjadi rumah tempat mereka pulang. Tempat di mana mereka tahu bahwa mereka masih memiliki seseorang yang menyambut mereka dengan kehangatan, bukan dengan bayang-bayang perang." Belial terdiam seribu bahasa. Kata-kata Mei mengalir masuk ke dalam relung hatinya, menghantam dinding pertahanan pesimismenya yang telah dibangun selama bertahun-tahun di garis depan.

Mei melanjutkan dengan nada yang penuh keyakinan. "Aku percaya, Belial... dunia ini bisa berubah menjadi lebih baik. Selama masih ada orang yang mau memperjuangkannya, dan selama masih ada tempat yang layak disebut sebagai rumah untuk kembali."

Belial menundukkan kepalanya, menatap jari-jarinya sendiri yang dipenuhi bekas luka pertempuran. Suaranya merendah, hampir berbisik dalam kepasrahan. "Aku... bahkan tidak tahu apa harapanku di dunia ini. Sejak awal, aku hanya dibentuk sebagai mesin pembunuh..." Hening sesaat menyelimuti mereka berdua, ditemani embusan angin malam yang dingin. Mei tersenyum lembut melihat kerapuhan terselubung dari sang mantan pasukan elite. Tiba-tiba, dengan gerakan jahil yang tak terduga, Mei mengulurkan tangannya dan memainkan ujung ekor biru Belial yang sedang meliuk santai.

"Hyaa?!" Belial langsung melonjak kaget dari duduknya. Ekor birunya berdiri tegak lurus bagai tersengat aliran listrik. Dengan wajah yang mendadak memerah padam hingga ke leher, ia cepat-cepat menarik ekornya dan menutupinya dengan kedua tangan. "Ja-Jangan dimainkan sembarangan! Itu sensitif tahu!" Mei tertawa renyah, menutup mulutnya dengan satu tangan. "Habisnya lucu sekali. Ekor dan tandukmu itu selalu bergerak jujur mengikuti perasaanmu, Belial."

Belial semakin salah tingkah, memalingkan mukanya dengan gusar untuk menyembunyikan rasa malunya yang luar biasa. Mei kemudian mendekat sedikit, jemari lembutnya menyentuh ujung tanduk biru Belial dengan sangat hati-hati dan penuh penghargaan. "Tandukmu cantik sekali," puji Mei dengan ketulusan yang murni. "Ekormu juga sangat indah. Kau tidak perlu merasa terasing hanya karena wujudmu berbeda dari kami."

Belial merasa jantungnya berdegup kencang karena perlakuan hangat yang belum pernah ia terima sepanjang hidupnya. Ia berdehem keras, berusaha mempertahankan sisa-sisa harga dirinya yang runtuh. "... Aneh. Kau adalah manusia pertama yang mengatakan hal menjijikkan seperti itu padaku." Mei tersenyum jahil, matanya berkedip penuh arti. "Pantas saja Shin selalu menatapmu tanpa bisa berpaling. Dia tahu mana keindahan yang sejati." "Ja-Jangan bawa-bawa nama si mesum itu!" seru Belial panik, langsung menutup seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan karena malu yang tak tertahankan.

Mei terkikik geli melihat reaksi menggemaskan dari wanita yang awalnya dicap sebagai monster kejam oleh stasiun lain. Belial mendesah pasrah, menurunkan tangannya perlahan. Namun, untuk pertama kalinya sejak ia dipindah tugaskan dan bergabung dengan Grey Wings 05, sebuah senyuman tipis yang sangat tulus terukir di sudut bibirnya tanpa ia sadari sendiri. Di bawah langit malam Station 05, Belial akhirnya mengerti, Mei bukan sekadar pilot Pigeon, dia adalah fondasi, kehangatan, dan rumah yang sesungguhnya bagi seluruh tim.

1
Noir
Gokill
KIRA: makasihh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!