Spinn Off cerita dari Vira dan Firlan dari novel "Pesona Cinta Amartha". Kelakuan Vira yang seperti bocil dan sifat keras Firlan membuat hubungan cinta keduanya semakin sulit untuk dilanjutkan ataupun diakhiri. Kehadiran Gusti yang notabene duda beranak satu pun semakin memperkeruh suasana. Bagaimana akhir cerita dari Vira dan Firlan? apakah mereka akan bersatu dalam satu ikatan perkawinan? ataukah mereka memilih berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reina aka dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamar Gia
Dan selama acara makan siang itu, Vira tak banyak bersuara. Karena awalnya Vira mengira hanya menemani Gia makan saja, tanpa adanya Gusti disana.
"Apa makanannya kurang enak?" tanya Gusti.
"Ehm, gimana?" tanya Vira.
"Apaa makanannya kurang enak, Vira? kalau kurang enak saya pesankan makanan lain," Gusti mengulangi pertanyaannya.
"Oh, nggak perlu. Ini makanan ini enak banget, kok. Beneran!" kata Vira.
"Lalu kenapa kau diam saja?" tanya Gusti.
"Oh, emh ... nggak apa-apa, Mas..." kata Vira.
"Bagaimana perkembangan Gia?" tanya Gusti pada Vira yang kini sedang menyeruput jus strawberry nya.
"Gia sangat imajinatif, aku hanya perlu mengimbanginya saja..." kata Vira.
"Syukurlah kalau begitu..." ucap Gusti tersenyum.
Vira dan Gusti memandang Gia yang baru saja mengkhiri makan siangnya.
"Papi, aku ingin jus itu..." Gia menunjuk jus melon milik papi nya.
"Pelan-pelan, Sayang..." Gusti menyodorkan jus miliknya pada Gia.
"Kau sudah kenyang putri cantik?" tanya Gusti.
"Perutku rasanya mau meledak, papi..." Gia mengusap perut kecilnya.
"Hahahahaha, oh, ya? awas nanti kamu mengantuk di mobil seperti waktu itu..." kata Gusti menowel hidung anaknya.
"Jam makan siangku sudah habis, saya titip Gia ya Vira..." ucap Gusti setelah melihat arloji di tangan kanannya.
"Baik..." jawab Vira.
Gusti pun melambaikan tangannya pada pelayan.
"Minta bill nya," ucap Gusti.
"Baik, Tuan..." jawab si pelayan.
Setelah membayar makanan, mereka pun pergi keluar dari restoran.
"Gia papi ke kantor lagi, ya? jangan nakal, oke?" Gusti mengusap kepala Gia.
"Siap, Papiii..." jawab Gia.
"Vira, aku pergi. Titip Gia..." ujar Gusti pada Vira.
"Iya, Mas..." ucap Vira.
Vira, Gia dan Penny pun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan restoran. Baru juga 10 menit, Gia mulai menyender pada Vira. Dan dengan mudahnya gadis itu terlelap.
"Penny? bagaimana ini?" tanya Vira pada pengasuh Gia.
"Bagaimana apanya, Mbak?"
"Gia tidur," kata Vira sambil mengelus kepala Gia.
Daripada bingung, karena Penny juga tidak bisa menentukan apakah mereka tetap ke tempat privat ataukah mau pulang ke rumah, Vira memutuskan untuk menelepon Gusti.
"Halo, Mas Gusti? ini Vira..." ucap Vira saat panggilan sudah terhubung.
"Ada apa, Vira?"
"Gia tidur di mobil, apa sebaiknya saya antar Gia ke rumah saja?" tanya Vira.
"Ya sudah antar saja ke rumah, mungkin dia sedang kelelahan karena banyak kegiatan di sekolah..." ucap Gusti.
"Oh, begitu. Baik, aku antar ke rumah sekarang..." ucap Vira, kemudian dia me memutuskan sambungan telepon dengan papi Gia.
"Pak, kita putar arah ke rumah kediaman Alvaro saja," ujar Vira pada supir pribadi Gia.
"Baik, Nona..." sahut si supir.
Dan akhirnya hari ini Vira meng-cancel jadwal bermain clay di les privatnya. Rasanya tidak tega jika harus membangunkan gadis kecil itu.
Vira dengan lembut menepuk-nepuk dan mengusap punggung Gia, membuat si nona kecil bertambah pulas.
Setelah menempuh perjalanan selama 40 menit, akhirnya mobil pun bergerak masuk ke dalam kediaman Alvaro.
Penny yang duduk di depan pun segera membukakan pintu untuk Vira. Wanita itu kini membopong Gia untuk masuk ke dalam rumah.
"Dimana kamar Gia?" tanya Vira.
"Di lantai atas, mari Mbak..." Penny menyuruh Vira untuk mengikutinya. Vira sangat terpesona dengan rumah milik Gia ini. Sangat luas dan sangat nyaman.
Perlahan Vira menaiki anak tangga dengan membawa Gia di kedua tangannya.
"Ssshhhh, di luar hujan, Sayang..." kata Vira yang mengatakan di luar hujan supaya Gia kembali tertidur dengan lelap.
Vira mengikuti kemana Penny berjalan kemudian dia berhenti di depan satu ruangan. Pengasuh Gia itu membukakan pintu agar Vira bisa masuk ke dalam kamar Gia.
"Ini kamar Gia, Mbak..." ucap Penny.
"Assalamualaikum," Vira mengucapkan salam saat pertama kali menginjakkan kaki di kamar Gia.
Kamar yang sangat luas untuk ukuran anak kecil, dan banyak boneka dengan design ruangan yang sangat ceria seperti karakter Gia.
Vira meletakkan Gia secara perlahan di kasur empuknya, "Mimpi indah ya, Sayang..."
Wanita itu lalu duduk di samping ranjang milik Gia, sementara Penny keluar untuk mengambilkan Vira minuman.
Vira menyelimuti tubuh Gia dengan selimut bergambar princess. Vira terpaku pada wajah Gia yang sangat imut ketika sedang tidur.
"Cantik sekali kamu, Gia..." kata Vira. Kemudian matanya melihat ke sekeliling ruangan. Ada satu foto wanita yang sangat cantik, kemungkinan wanita yang fotonya dipajang di kamar Gia merupakan ibu kandung Gia yang sudah tiada.
"Kamu mirip dengan ibu kamu, Gia...." puji Vira yang melihat wajah Gia yang sangat mirip dengan seorang wanita yang sangat cantik.
Tokkk.
Tokkk.
Tokkk.
Penny mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam kamar Gia.
"Minumnya, Mbak Vira..." kata Penny yang meletakkan minuman diatas nakas.
"Makasih, padahal nggak perlu repot-repot, loh..." kata Vira.
"Mbak..." Vira memanggil Peny, dia beranjak dan mendekati sebuah foto yang dipajang di dinding.
"Iya Mbak Vira..."
"Ini foto mama nya Gia?" tanya Vira pada Penny.
"Betul, Mbak..."
"Pantesan Gia cantik banget, mamanya aja cantik kayak gini..." puji Vira. Dia kemudian bergerak lagi ke sisi ranjang Gia.
"Saya tuh suka kasihan sama Non Gia Mbak. Kalau dia lagi kangen sama Nyonya, dia suka duduk ngeliatin foto itu. Walaupun Non Gia belum pernah melihat secara langsung mama nya. Tapi yang namanya anak ya, Mbak ... pasti punya perasaan kangen. Pengen kayak yang lain juga, punya orangtua yang utuh. Walaupun Tuan Gusti sayangnya kebangetan sama Non Gia, tapi tetep aja Non Gia pasti butuh sosok ibu..." ucap Penny panjang lebar.
"Makanya waktu Non Gia dekat dengan Mbak, saya seneng banget. Karena Non Gia bisa seceria itu saat bersama dengan Mbak..." lanjut Penny. Vira hanya tersenyum.
"Diminum, Mbak. Nanti jusnya keburu nggak enak," ujar Penny.
"Makasih, Mbak..." Vira meraih jus jambu yang tadi Penny taruh di atas nakas. Setelah menyeruputnya, Vira menaruh kembali gelas tinggi itu.
"Mbak, kayaknya saya harus balik lagi ke tempat privat..." ucap Vira seraya bangkit dari duduknya.
"Oh, tapi kalau Non Gia bangun dan mencari Mbak Vira bagaimana?" tanya Penny.
"Nanti telepon saja, nanti saya yang akan ngomong dengan Gia. Karena masih ada satu sesi lagi, jadi saya nggak bisa disini terlaku lama," kata Vira.
"Tante pulang ya, Sayang..." Vira mengecup kening Gia sekilas.
"Permisi," Vira pergi meninggalkan kamar Gia, dia menutup pintu dari luar.
Begitu keluar dari kamar Gia, Vira langsung memesan taksi online untuk mengantarnya ke tempat les privat miliknya.
Perlahan dia menuruni anak tangga, dan kemudian berjalan menuju ruang tamu.
Drrrttt...
Drrrrtt...
Panggilan telepon dari Firlan.
"Halo?" ucap Vira saat panggilan itu terhubung dengannya.
"Sebentar lagi aku ke tempatmu, Ay..." ucap Firlan.
"Tapi aku masih ada satu sesi lagi..."
"Akan aku tunggu," kata Firlan seraya memutuskan panggilannya secara sepihak.
Vira pun segera keluar dari rumah megah milik Alvaro, dia berjalan keluar gerbang.
...----------------...
ceritamu selalu bisa bikin hati hanyut thor. semangat Thor ❤️