"Menikahlah dengan wanita pilihan Kakek. Anggaplah ini sebagai permintaan terakhir Kakek kepada kamu, Askara."
Sebuah permintaan yang terlontar dari mulut pria paruh baya yang sudah tak berdaya, yaitu Genta Wiguna.
Ghattan Askara Wiguna adalah pria yang mencoba meninggalakan tanah air demi dua misi. Misi pertamanya sudah berhasil, yaitu menjadi pengusaha sukses. Namun, tidak dengan misi kedua. Bayang wajah wanita yang telah membuat hatinya porak poranda masih selalu melekat di hati dan kepalanya. Ternyata, mengikhlaskan itu tidak semudah yang dibayangkan.
Kali ini, Aska dihadapkan dengan sebuah permintaan sang kakek yang sudah lemah dan melekat berbagai alat medis di tubuh pria yang banyak membuatnya berubah.
Apa Askara akan mengabulkan permintaan terakhir sang kakek? Atau dia memilih untuk menunggu wanita yang dia cintai yang tak lain adalah istri dari mantan sahabatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieThaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Terlalu Sakit
Aska bukanlah orang yang mengutamakan emosi. Ketika dia marah dia akan diam dan memilih untuk pergi. Itu semata-mata dia tidak ingin meluapkan emosinya kepada siapapun.
Hingga malam menjelang, sudah dua bungkus rokok yang Aska habiskan. Ketika dia hendak membuka bungkus ketiga, Aksa merebut bungkus rokok tersebut dan membuangnya. Aska hanya menghela napas berat dan menundukkan kepalanya sangat dalam.
"Apa rokok bisa nyelesaiin masalah lu?" hardik Aksa dengan tatapan membunuh.
"Lu gak tahu rasanya, Bang."
Jawaban Aska terdengar sangat lirih dan pedih. Aksa hanya menghela napas berat dan dia pun duduk di samping adiknya. Tangannya merangkul pundak Askara.
Hanya keheningan yang tercipta di antara mereka berdua. Ditambah suasana hutan yang sudah sangat gelap dan dingin.
"Gua kaget, Bang."
Kalimat yang sangat menyayat hati Askara. Aksa seakan ber-flashback ke belakang ketika dirinya diduga menghamili mantan istrinya. Pasti sakitnya seperti apa yang tengah Aska rasakan.
"Kenapa gak datang dari awal? Kenapa gak berterus terang?" Itulah yang Aska sesalkan.
"Pasti ada alasan di balik itu semua."
Mendengar ucapan dari abangnya, Aska menatap abangnya lamat-lamat. "Apa dia mau nyakitin gua semakin parah lagi?"
"Kenapa sekarang lu menjadi sosok yang lemah? Ke mana Askara yang dulu gua kenal," sergah Aksara.
Aska pun terdiam, dia tidak bisa menimpali ucapan dari abangnya. Apa yang dikatakan abangnya memang benar. Semakin ke sini dia semakin lemah.
"Lu udah tahu status dia apa. Jikalau, ada kemungkinan dia punya anak, lu juga harus bisa nerimanya," lanjut Aksara.
"Ngomong mah gampang, Bang. Gua yang jalaninnya!" sentak Aska. "Itu gak semudah dengan ucapan yang keluar dari mulut lu!" Aska benar-benar emosi.
"Anak itu anak dari sahabat gua! SAHABAT GUA!"
Aksara mengerti permasalahannya. Sudah jelas, jika Aska belum bisa memaafkan kesalahan Bian terhadapnya. Apalagi anak perempuan itu sudah pasti anak dari Bian.
"Anak itu gak berdosa, Dek." Aksa mulai berbicara dengan lembut.
"Gua tahu," jawab Aska seraya menganggukkan kepalanya pelan. "Yang berdosa itu bapaknya, tapi gua belum bisa nerimanya, Bang. Hati gua masih sakit."
Aksa memeluk tubuh sang adiknya. Kesedihan yang belum pernah Aska ungkapkan akhirnya dia curahkan.
"Lu tahu, ketika gua ngeliat dia diarak sama Jingga oleh warga sekitar, seketika gua ingin membunuh dia dengan tangan gua sendiri. Gua ingin mengirim dia ke api neraka." Aska pun terisak. "Bukan hanya gua yang disakiti sama dia, Jingga juga lebih disakiti sama itu orang."
"Hampir empat tahun berlalu tidak membuat rasa benci gua hilang ke dia. Gua selalu berdoa kepada Tuhan agar tidak pernah pertemukan dengan orang itu lagi."
Aksa mengerti bagaimana terlukanya hati Askara. Jika, dia jadi Aska sudah pasti Bian akan mati. Aksara adalah pria yang akan melakukan segala cara untuk membalaskan dendamnya.
"Kita balik, ya. Semua orang pasti khawatir sama lu."
Akhirnya, Askara pun mau meninggalakan hutan pohon Pinus itu. Ada kelegaan di hati Aksara.
.
Langkah Aska dan Aksa terhenti ketika melihat Jingga ada di depan pintu kamar Riana.
"Maaf, Mbak. Ganggu malam-malam," ujar Jingga. Wajahnya terlihat sangat pilu.
"Biarlah Kakak sendiri dulu. Berdamai dengan hatinya."
Terlihat wajah Jingga yang berubah sendu. Ketika Riana hendak masuk ke dalam kamar, Jingga meraih tangan Riana.
"Aku hanya ingin meminta nomor ponsel Bang Aska, Mbak. Hanya itu," lirihnya.
Samar terdengar ucapan Jingga, dan membuat Aksa menoleh kepada Aska.
"Gua mau ke kamar Ken dan Juno aja."
Aska tidak tega melihat Jingga seperti itu, tetapi dia juga belum siap bertemu dengan Jingga untuk saat ini. Bukannya egois, dia hanya tidak ingin emosinya meluap lagi.
Jingga sudah menitikan air mata membuat Riana merasa tidak tega. Ketika dia hendak membuka suara, langkah seseorang terdengar dan Riana tersenyum ke arah suaminya yang baru saja datang.
"Bang." Riana segera memeluk tubuh Aksa di depan Jingga.
"Belum tidur?" Riana pun menggeleng dengan tangan yang masih melingkar di pinggang suaminya.
"P-pak di-direktur, B-bang As di mana?" tanya Jingga dengan suara penuh ketakutan.
"Dia baik-baik aja." Jawaban sangat singkat dengan mimik wajah tak bersahabat.
"Maaf ya, Jingga. Saya harus masuk ke dalam karena ini sudah malam." Riana berucap masih dengan sopan.
Jingga masih mematung di depan pintu kamar Riana walaupun pintu kamar itu sudah ditutup.
"Bang, kamu di mana?"
.
Ken dan Juno hanya mampu menatap Aska yang terlihat sangat kacau. Sama halnya ketika Bian telah menodai Jingga. Mereka berdua tidak akan membuka suara. Membiarkan sahabatnya itu tenang dengan hati dan pikirannya. Begitulah persahabatan mereka. Selalu mengerti satu sama lain.
"Gua mau tidur."
Aska membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur tanpa mengganti baju yang dia kenakan, juga tanpa membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Ken dan Juno mengalah, mereka tidur di sofa yang tersedia. Walaupun nantinya tubuh mereka akan pegal, itu tidak akan menjadi masalah.
Mentari tengah malu-malu menunjukkan wajahnya pada cakrawala pagi. Bias sinarnya membuat hati Aska perih. Semalaman ini dia tidak terlelap sama sekali. Kepalanya masih berpikir sangat keras perihal Jingga dan anak perempuan itu.
Sama halnya dengan Jingga. Dia pun tidak tidur barang sedetikpun. Pikirannya tertuju pada sosok suaminya yang tidak dia ketahui keberadaannya di mana.
Bang, kamu di mana?
Itulah yang selalu dipertanyakan dalam hatinya. Dia benar-benar gelisah. Tatapannya memang kepada Dea, tetapi pikirannya kepada Aska.
Semua orang sudah bersiap untuk ke rumah sakit karena kondisi kakek Genta kembali menurun. Jingga yang baru saja mengantarkan Dea kepada pengasuhnya segera menghampiri Radit yang sudah terburu-buru bersama tiga putrinya.
"Pak, mau ke mana, ya?" tanya Jingga.
"Ke rumah sakit, Kakek semakin kritis." Jingga sangat terkejut mendengar ucapan dari kakak iparnya itu.
"Boleh, saya ikut?" Jingga merasa terintimidasi oleh tatapan maut ketiga anak Radit.
"Saya tunggu di lobi." Jingga mengangguk pelan dan segera berlari mengambil tas yang ada di kamarnya. Tak lupa dia memasukkan ponselnya. Dia berharap suaminya akan menghubunginya.
Suasana di dalam mobil sangat hening. Aleeya yang berada di kursi penumpang depan menemani ayahnya. Jingga berada di kursi penumpang paling belakang karena alasan sempit dari Aleesa juga Aleena. Itulah cara penolakan halus dari ketiga anak Radit dan Echa.
Tibanya di rumah sakit, semua mata tertuju pada sosok Jingga yang berada di belakang Radit. Jingga tak bisa menegakkan kepalanya. Dia pun memilih untuk duduk sedikit jauh dari keluarga suaminya. Sudah biasa dikucilkan, begitulah dirinya.
Hanya anak laki-laki tampan yang mau mendekat kepada Jingga setelah satu jam mereka menunggu di depan ruang ICU.
"Anteu, anak itu mana?" Terkejut sekali Jingga mendengarnya. Namun, dia tetap menjawab pertanyaan Gavin dengan seulas senyum yang sangat dipaksakan.
"Dia udah pulang." Semua mata tertuju pada Jingga, tetapi Jingga mencoba untuk baik-baik saja. Dia meyakinkan pada dirinya bahwa dia mampu menghadapi semuanya.
Ponselnya pun berdering, helaan napas kasar yang keluar dari mulut Jingga. Dia segera beranjak dari duduknya menjauh dari keluarga Aska.
"...."
Jingga masih mendengarkan seseorang yang berbicara dari balik sambungan telepon. Air matanya menetes begitu saja. Hatinya sangat sakit mendengarnya.
"Cukup, Ayah! Apa tidak ada kata yang bagus dari kata bodoh yang bisa Ayah katakan kepadaku." Suara Jingga terdengar sangat bergetar juga pilu.
"Aku lelah, Ayah. Lelah!"
Seseorang mematung ketika melihat Jingga menjawab sambungan telepon dengan bermandikan air mata.
"Aku memang anak bodoh. Anak haram dan anak yang tidak berguna. Kenapa dirimu masih mau memungutku kembali setelah sekian lama dirimu buang aku bagai sampai tak berarti?"
Ada rahasia apa sebenarnya?
...****************...
Lagi jangan?
Komen dulu lah .....
udah taksempur abDi lu sadar.,
atau ngemis y.. minta di akui.. 😁😁😁
pasti ada sinar setelah ny..
padahal udah banyak hati yg mereka sakiti..
orang sabar rezeki ny luas 😊😊😊
jangan y dek y.