Louisa Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam terburuk dalam hidupnya akan menjadi awal dari segalanya.
Setelah sepuluh tahun mengejar cinta yang tidak pernah berbalas, dia mabuk — dan tanpa sadar melamar seorang pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.
Nathanael Susanto. CEO muda dari keluarga konglomerat Susanto. Dingin, misterius, dan... langsung bilang "iya."
Mereka menikah dengan perjanjian: satu tahun, tanpa perasaan, bisa cerai kapan saja.
Tapi Nathanael selalu pulang tepat waktu. Selalu menyiapkan bunga di meja kerjanya. Selalu tahu makanan favoritnya tanpa pernah bertanya.
Dan Louisa mulai bertanya-tanya — apakah suami kontraknya ini... sudah mengenalnya jauh lebih lama dari yang dia kira?
Sementara itu, Kevin Tanuwijaya — pria yang Louisa kejar selama sepuluh tahun — akhirnya sadar bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.
Tapi sudah terlambat.
Karena Nathanael Susanto sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini.
Dan dia tidak akan melepaskannya.
🌹 Nikah kontrak. Cinta rahasia sepuluh tahun. Mantan yang menyesal seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 026
Sarapan dari Mangga Besar
Mawar putih melati.
Louisa berdiri di depan meja kerja cukup lama sampai ujung jarinya terasa dingin.
Tidak ada kartu di antara bunga itu. Tidak ada kalimat penjelasan. Tidak ada nama pengirim. Namun justru karena tidak ada apa-apa, ingatan tentang hari kelulusan SMA Penabur menjadi lebih jelas. Buket yang layu. Meja belajar. Kelopak jatuh di samping buku UTBK. Kalimat lain kali saja yang tidak pernah punya kesempatan kedua.
Sekarang, bunga yang sama ada di meja kerjanya.
Segar.
Seseorang memilihnya bukan untuk ditinggalkan sampai layu, melainkan untuk diletakkan di tempat ia akan melihatnya pertama kali saat bangun.
"Louisa?"
Suara Nathanael datang dari luar kamar.
Louisa mengusap sudut matanya, padahal tidak ada air mata yang benar-benar jatuh. "Iya?"
"Sarapan sudah siap."
Sarapan.
Kata itu terdengar biasa, tetapi sejak pindah ke apartemen ini, kata biasa sering datang dengan cara yang membuatnya tidak siap. Louisa mengambil napas, menatap mawar putih melati sekali lagi, lalu keluar kamar.
Di meja makan, aroma kaldu ayam hangat langsung menyambutnya.
Bukan bubur ikan Bu Sari. Bukan roti panggang. Bukan sarapan hotel yang terlihat cantik tetapi cepat dingin. Di atas meja ada dua mangkuk bubur ayam dengan suwiran ayam cukup banyak, cakwe dipotong kecil, kerupuk dipisah di wadah mungil, dan kacang goreng di mangkuk terpisah.
Louisa berhenti.
"Ini..."
Nathanael sedang membuka kantong plastik bening. Di atas kantong itu ada stiker merah sederhana.
Bubur Ayam Mangga Besar.
Louisa membaca tulisan itu seperti membaca sesuatu dari masa lalu yang tiba-tiba muncul di ruang makan mewah SCBD.
"Kamu beli ini?"
"Iya."
"Mangga Besar?"
"Iya."
"Pagi ini?"
Nathanael meletakkan sendok di samping mangkuknya. "Kalau belinya malam, sudah dingin."
Louisa menatapnya.
Nada datar itu hampir membuatnya lupa bahwa SCBD dan Mangga Besar tidak berada dalam hubungan yang bisa disebut dekat.
Bu Sari keluar dari dapur sambil membawa teh tawar hangat. Senyumnya hari itu terlihat lebih sulit disembunyikan daripada biasanya.
"Pak Nathanael pulang bawa sarapan sendiri, Bu. Saya cuma pindahkan ke mangkuk."
"Pulang?" Louisa menangkap kata itu. "Kamu keluar?"
"Sebentar," jawab Nathanael.
"Jam berapa?"
"Pagi."
"Pagi yang mana?"
Nathanael menggeser mangkuk kacang ke dekatnya. "Kamu mau kacang dipisah atau dicampur?"
Louisa tidak langsung menjawab.
Pertanyaan itu terlalu akrab dengan kebiasaannya.
Dulu, ia suka bubur ayam Mangga Besar karena kacangnya selalu renyah, tetapi ia tidak suka kalau kacang dimasukkan terlalu cepat sampai lembek. Ia juga tidak suka daun bawang, bukan karena alergi, hanya karena aromanya terlalu kuat di pagi hari. Hal-hal kecil seperti itu bahkan Kevin tidak pernah ingat, karena Kevin tidak pernah perlu tahu.
"Dipisah," jawab Louisa pelan.
"Aku sudah minta dipisah."
Nathanael membuka wadah kecil berisi kacang, menaruhnya di sisi kiri mangkuk Louisa, lalu mendorong wadah kerupuk ke sisi kanan.
Tidak ada daun bawang.
Louisa memperhatikan permukaan buburnya yang putih hangat, suwiran ayam yang banyak, dan irisan cakwe yang belum tenggelam. Ia tidak tahu harus merasa apa. Senang, tentu. Terkejut, iya. Tetapi di bawah dua perasaan itu ada sesuatu yang lebih lembut, seperti seseorang mengetuk pintu kamar yang selama ini ia pikir sudah dikunci.
"Kamu tahu dari mana aku suka ini?"
Nathanael duduk di kursi seberang. "Pernah dengar."
"Dari siapa?"
"Stella pernah menyebut kamu suka bubur."
Louisa mengangkat alis. "Stella tahu dari mana?"
"Stella tahu terlalu banyak hal."
Bu Sari batuk kecil di dapur.
Louisa menatap Nathanael dengan curiga, tetapi aroma bubur membuat perutnya berkhianat. Ia mengambil sendok, mengaduk pelan, lalu mencicipi satu suap.
Hangat.
Gurih.
Ayamnya banyak. Tidak ada daun bawang. Kacangnya tetap renyah karena baru ia taburkan sendiri.
Rasanya sama seperti yang ia ingat.
Louisa menunduk lebih lama dari perlu.
"Enak?" tanya Nathanael.
Ia mengangguk.
"Kalau kamu suka, besok bisa beli lagi."
Louisa hampir tersedak. "Besok?"
"Atau lusa."
"Nathanael, Mangga Besar itu jauh."
"Tidak terlalu."
"Dari SCBD?"
"Kalau pagi, belum macet."
"Tetap jauh."
"Aku sekalian lewat."
Louisa meletakkan sendoknya.
Kali ini bahkan Bu Sari berhenti bergerak.
"Kamu sekalian lewat ke mana?"
Nathanael menatap buburnya sendiri, tenang sekali. "Ada urusan."
"Jam enam pagi?"
"Iya."
"Dengan membawa dua porsi bubur?"
"Urusannya selesai setelah beli bubur."
Louisa tidak tahu harus tertawa atau memprotes. Akhirnya ia melakukan keduanya dalam bentuk embusan napas yang gagal disembunyikan.
"Kamu kalau bohong, wajahmu tetap serius ya."
Nathanael mengangkat mata. "Aku tidak bohong."
"Kamu cuma tidak menjelaskan."
"Itu berbeda."
Louisa menatapnya beberapa detik, lalu menaburkan kacang ke buburnya. Butiran kacang jatuh ke permukaan putih dengan suara kecil.
"Kalau begitu," katanya, "terima kasih karena kebetulan lewat."
Sudut bibir Nathanael bergerak tipis. "Sama-sama."
Mereka makan dalam diam yang tidak canggung. Di meja kerja kamar Louisa, mawar putih melati berdiri segar. Di meja makan, bubur ayam Mangga Besar mengeluarkan uap hangat. Dua hal yang sama-sama datang tanpa kartu, tanpa pengumuman, tetapi terlalu tepat untuk disebut kebetulan.
Setelah mangkuknya hampir kosong, Louisa mengambil kantong plastik bening di samping meja. Ia hanya ingin membuangnya ke tempat sampah.
Namun stiker merah itu membuat matanya kembali berhenti.
Di bawah nama kios, ada tulisan jam operasional kecil.
Buka setiap hari, 05.00.
Louisa memandangi angka itu, lalu melihat Nathanael yang sudah kembali menuang teh seolah pagi ini berjalan sangat wajar.
Jam lima pagi.
Mangga Besar.
Sekalian lewat.