Proses Revisi!
Dia berada di posisi yang rumit, tumbuh dengan kasih sayang berat sebelah dari keluarganya dan kebetulan mencintai laki-laki yang sama membuat Rain menumbuhkan sebuah keraguan di dalam hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Hernawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CAMS-Ep 30
"Mama...Papa... Rain merindukan kalian. Rain ingin memeluk kalian lagi... Rain ingin pulang, hiks..."
Mereka masih mencintaiku, mereka masih sangat mencintaiku. Aku pikir cinta mereka hanya ada untuk Almira tapi ternyata mereka juga menyisakan tempat yang dalam untukku.
Ya Tuhan, betapa berdosa nya aku pernah berpikir bila kedua orang tuaku tidak mencintaiku.
Aku sangat bodoh.
"Rain tahu apa yang aku lakukan ini salah. Kalian memintaku untuk menjauhinya, aku melakukannya dengan bersungguh-sungguh sejak 5 tahun yang lalu. Aku tidak mengira semua kesungguhan ku akan dihancurkan oleh malam itu, aku tidak menyangka bila karena malam itu aku dan Deon akan menikah. Aku sungguh tidak menyangka.. hiks.."
Aku dihadapkan pada situasi yang rumit. Aku mencintai Deon tapi bertekad untuk menjauh. Namun, Tuhan tiba-tiba memberikan garis takdir lain kepadaku. Entah apakah ini keuntungan ataukah kesialan, tapi takdir itu membawaku menikah dengan Deon secara siri. Menikah...
Pernikahan yang tidak diinginkan oleh kedua orang tuaku. Bukan karena Almira tapi karena mereka mencintai ku.
Namun karena Deon ingin menikahi ku kedua orang tuaku terpaksa menyetujui pernikahan ini. Pernikahan ini...
Aku bertanya-tanya apa alasan Deon menikahi ku bahkan membuat kedua orangtuaku tidak bisa menolak keinginannya...
Dia tidak mencintaiku, kurasa. Dia tidak menginginkan ku, kurasa. Dan dia tidak mengharapkan pernikahan ini, aku tahu.
Lalu, mengapa ia bersikeras menikahi ku?
...🥣🥣🥣...
Selepas kepergian Rain, rumah menjadi sangat suram dan sepi. Setiap orang tenggelam dalam lamunan sendiri, entah apa yang dipikirkan namu tak satupun dari mereka yang berwajah bahagia.
Kedua mata Mama berubah menjadi sendu. Dia merindukan Rain. Ia ingin Rain pulang ke rumah karena dia tidak tahan berpisah darinya.
"Kakak mau kemana?" Bibi Lara bertanya kepada Mama.
Mama mengusap wajahnya sambil menunjuk pintu kamarnya.
"Aku ingin beristirahat di kamar." Dia setengah berbohong.
Dia ingin menelpon putrinya. Dia berharap bisa bicara sebentar saja dengan putrinya, menyampaikan kata-kata yang selama ini ia pendam karena alasan tertentu.
Kini tinggalkan Bibi Mei dan Bibi Lara di ruang keluarga. Bibi Mei merebahkan dirinya di atas sofa panjang dengan kedua mata yang tidak pernah berpaling dari langit-langit ruang keluarga.
Kelopak matanya lambat dalam berkedip dengan sorot mata menerawang ke entah kemana. Dia jelas berada di sini tapi pikirannya tidak ada di tempat.
Dia seolah sedang memikirkan masa-masa emosional di dalam pikirannya karena kedua matanya mulai berkaca-kaca menahan air mata.
"Aku tidak tahu sampai kapan keluarga kita akan menghadapi masalah karena Rain. Pertama, dia mengacaukan hubungan Deon dan Almira, lalu sekarang Rain akhirnya berhasil menikah dengan Deon. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku takut dia akan memberitahu Almira mengenai pernikahan ini." Kata Bibi Lara memulai obrolan dengan ekspresi kebencian di wajahnya.
Dibandingkan dengan Rain yang tidak bisa apa-apa dan hanya bisa menyusahkan keluarga, Almira jauh lebih baik karena ia adalah wanita yang sangat kompeten dan berprestasi.
Bibi Lara jelas lebih menyukai Almira.
"Dia tidak akan memberitahu Almira." Sanggah Bibi Mei tanpa melihat adiknya.
Bibi Lara jelas tidak setuju,"Dia pasti melakukannya." Katanya sambil memperbaiki posisi duduknya menyamping ingin berbicara serius dengan Bibi Mei.
"Jika dia berani menjebak Deon malam itu maka tidak menutup kemungkinan dia juga berani memberi tahu Almira mengenai pernikahan ini. Jangan lupakan fakta bahwa dia adalah orang yang sangat licik dan pemalas tapi menginginkan hasil yang besar! Aku benar-benar tidak percaya dia berhasil menikah dengan Deon." Sambungnya kesal.
Bibi Mei tidak langsung merespon. Dia diam membisu dengan pikiran yang sudah berkelana ke tempat lain. Kebisuannya membuat Bibi Lara bahagia. Dia pikir Bibi Mei memiliki pikiran yang sama dengannya jadi dia semakin bersemangat ingin berbicara buruk tentang Rain. Tapi sebelum ia bisa memuntahkan ludahnya kemana-mana, Bibi Mei lebih dulu membuka mulut.
"Rain tidak pernah menjebak Deon." Lirih Bibi Mei pelan.
Bibi Lara tercengang, dia bahkan sempat meragukan pendengarannya.
"Kakak tadi bilang apa?"
Bibi Mei mengulangi tanpa keberatan,"Rain tidak pernah menjebak Deon di malam itu, malah Rain lah yang dijebak oleh seseorang." Ulang Bibi Mei lebih jelasnya lagi.
"Apa Kakak bercanda?" Bibi Lara menolak untuk mempercayainya.
Bibi Mei tidak mengatakan apa-apa. Dia kembali diam membisu, mengabaikan Bibi Lara yang terus berbicara memojokkan Rain.
"Berisik." Potongnya terganggu.
Dia lalu bangun dari acara rebahan nya, berdiri, lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada Bibi Lara.
Mulut Bibi Lara mengerucut tidak senang. Padahal dia masih ingin mengeluarkan semua keluh kesahnya mengenai Rain kepada Bibi Mei. Tapi Bibi Mei malah pergi meninggalkannya.
Mengangkat kedua bahunya tidak puas, Bibi Lara lalu membawa langkah kakinya pergi masuk ke dalam kamarnya.
Sedangkan Bibi Mei tidak langsung masuk ke dalam kamarnya. Di pintu masuk dia kebetulan bertemu dengan Papa yang kini tengah berdiri linglung menatap foto keluarga di atas nakas.
"Kak," Sapa Bibi Mei sambil berjalan mendekati Papa.
Papa langsung tersadar, dia menarik pandangannya dari foto.
"Mei, besok apakah kamu akan pergi melihat suamimu?" Tanya Papa tampak linglung.
Bibi Mei juga merasakan apa yang Papa rasakan, dia tersenyum getir,"Aku akan membawa dia bertemu dengan suamiku." Kata Bibi Mei mengerti.
Papa terdiam, tangan tuanya menyentuh foto di atas nakas.
"Dia sudah cukup menderita." Bibi Mei tahu Papa sedang membicarakan 'dia' jadi dia dengan tenang mendengarkan di samping.
"Bila kamu bertemu dengannya tolong perlakukan dia dengan baik dan jangan terlalu keras kepadanya."
Bibi Mei menganggukkan kepalanya mengerti, kali ini ia membalas,"Aku tidak akan memarahinya lagi."
Papa mengangguk lemah, dia lalu menatap Bibi Mei dengan kedua mata tuanya.
"Apa kamu tahu satu-satunya penyesalan ku di dunia ini?"
Bibi Mei tahu tapi dia menggelengkan kepalanya sendu.
Papa tersenyum kecut,"Satu-satunya penyesalan ku di dunia ini adalah ketidakmampuan ku untuk melindungi putri tercintaku." Ucap Papa dengan nada penyesalan.
Bibi Mei diam tidak membalas tapi kedua mata sendunya telah menunjukkan apa yang hatinya rasakan saat ini.
sok polos...
masih penasaran 💪❤️