Sekretaris lamanya tiba-tiba mengundurkan diri. Dion menyuruh asisten pribadinya untuk merekrut sekretaris baru.
Dia terkejut ketika tau bahwa sekretaris barunya adalah sangat mantan istri yang telah kembali setelah hampir 5 tahun meninggalkannya.
Dion kecewa, dia menaruh kebencian pada mantan istrinya yang pergi dalam keadaan hamil tanpa sepengetahuan dirinya. Kemudian datang kembali dengan membawa anak laki-laki berusia 4 tahun.
Bagaimana Dion bisa fokus bekerja ketika harus bersanding dengan sang mantan istri setiap hari.?
Mungkinkah rasa benci akan kembali berubah menjadi cinta.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarissa icha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Pemandangan seperti ini yang selalu diharapkan oleh Keyla sejak dulu. Melihat Leo tertawa bahagia bersama Papa kandungnya. Menghabiskan waktu berdua untuk bermain bersama.
Keyla melihat banyak cinta dan kasih sayang yang dicurahkan oleh Dion pada Leo.
Kebahagiaan seperti ini baru bisa di rasakan oleh Leo setelah 4 tahun usainya. Sebelumnya, dia tidak pernah tau bagaimana rasanya mendapatkan kasih sayang seorang ayah yang tulus padanya.
Ayah sambungnya terlalu acuh, bahkan tak pernah menganggap keberadaan Leo.
Sedikitpun tidak pernah tersentuh setiap kali Leo memohon padanya untuk bermain bersama.
Keyla menarik nafas dalam, sudah cukup kesedihan yang di rasakan oleh Leo selama ini. Kini putranya bisa tertawa lepas, menjalani hari-harinya dengan bahagia karna ada Dion yang selalu ada untuknya.
Keyla beranjak dari tempat duduknya. Sejak tadi dia hanya mengamati Leo dan Dion dari kejauhan karna sudah lelah mengikuti mereka bermain pasir hingga berlarian.
Dia ingin menyuruh Leo dan Dion kembali ke resort lantaran langit semakin gelap.
Langkah Keyla terhenti, kedua matanya membulat sempurna. Jantungnya berdetak kencang dengan perasaan takut dan trauma yang menyelimuti.
Dia berharap hanya mimpi atau halusinasinya saja lantaran baru saja mengingatnya.
"Rupanya kamu kabur ke Jakarta lagi, aku pikir kamu akan pergi ke negara terpencil agar tidak melihatku lagi." Laki-laki dengan rahang tegas itu mengulas senyum smirk.
Dia menatap Keyla dari atas sampai bawah. Mengamati bentuk tubuh Keyla tanpa mengedipkan mata.
"Tidak berubah, masih menggiurkan seperti dulu." Ujarnya dengan senyum yang semakin lebar dan tatapan yang terlihat mesum.
Keyla mengepalkan kedua tangannya, ucapan mantan suaminya itu membuatnya merasa di lecehkan. Dulu Keyla mungkin tidak berani melawannya atau membalas ucapannya karna merasa tidak berdaya di dalam genggamannya. Tapi tidak kali ini, karna dia sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi dengan laki-laki itu.
"Anda juga tidak berubah, masih belum tau bagaimana caranya menghargai wanita." Balas Keyla. Dia memberikan tatapan tajam penuh kebencian. Andai saja diperbolehkan untuk melenyapkan seseorang, laki-laki di hadapannya itu yang akan Keyla lenyapkan pertama kali.
Dia bukan manusia, rasanya tidak pantas untuk bermukim di bumi yang di peruntukan untuk manusia.
"Apa yang harus di hargai dari wanita seperti ini.?" Dia menyentuh wajah Keyla dengan jemari tangannya. Memandang Keyla seolah-olah hanya wanita murahan yang biasa dia sewa.
"Jaga sikap Anda tuan William.!" Bentak Keyla sembari menepis kasar tangannya.
William hanya menarik sudut bibirnya, sedikit terkejut dengan keberanian Keyla. Dulu Keyla tidak pernah melawan, wanita itu sangat lemah hingga setiap hari membuatnya muak karna terus menangis.
Kini wanita lemah itu telah berubah, dia terlihat kuat dan tidak mudah untuk ditindas.
"Menarik." Gumam William lirih. Tatapan mata dan senyumnya penuh arti.
"Bagaimana dengan mantan suami pertamamu.? Apa dia mau menerimamu kembali.?" William terlihat meledek, dia sangat yakin kalau Keyla tidak akan bisa diterima lagi oleh mantan suami pertamanya.
"Itu bukan urusan Anda.!" Jawab Keyla ketus.
William terkekeh.
"Jika dia tidak mau menerimamu lagi, kembali saja padaku. Asal jangan bawa anakmu, aku tidak ingin melihatnya lagi. Dia sangat menjengkelkan." Ujarnya percaya diri. Keyla tersenyum sinis sekaligus jijik. Laki-laki tampan dan sekaya William nyatanya hanya bisa berperilaku menjijikkan, tidak sesuai dengan penampilan dan jabatannya sebagai CEO perusahaan ternama di luar negeri.
"Jangan bermimpi Tuan William yang terhormat, jangankan untuk kembali padamu, bahkan melihatmu lagi aku tidak sudi.!" Ketus Keyla penuh penekanan. Dia kemudahan beranjak, berjalan melewati William begitu saja.
Tapi ternyata tidak semudah itu, William menahan pergelangan tangan Keyla. Menariknya hingga tubuh Keyla berada dalam dekapannya.
Satu tangan William merangkul erat pinggang Keyla dengan sedikit meremasnya.
"Lepas.!" Bentak Keyla. Dia dan William sudah jadi tontonan orang-orang di sekitar.
"Jangan harap, aku tidak akan melepaskanmu." Bisik William tepat di telinga Keyla. Dia mendekatkan wajahnya, sangat dekat dengan wajah Keyla.
"Setidaknya bersenang-senang dulu denganku, apa kamu tidak rindu padaku.?" William kembali berbisik, kali ini dia berani memeluk Keyla dengan kedua tangannya.
"Aku tidak sudi.!" Jawab Keyla cepat. Dia berusaha memberontak untuk melepaskan diri dari William.
"Cepat lepaskan aku.!" Pintanya. Suara Keyla bergetar menahan tangis. Dia ingin berteriak, tapi takut Leo akan melihatnya.
Keyla tidak mau membuat Leo melihat William lagi, putranya itu juga selalu ketakutan setiap kali melihat William.
"Dasar tidak tau diri.!" Geram William kesal. Dia tidak terima mendengar penolakan kasar Keyla.
Menekan tengkuk Keyla, William menyambar bibir Keyla begitu saja. Dia menye-s*p dan melu-m*tnya kasar.
Bughhh,,,,!!!
Satu tinjuan melayang di wajah William. Laki-laki itu hampir saja tersungkur. Keyla yang sudah lepas dari pelukan William, bergegas sembunyi di balik tubuh Dion. Kedua tangannya meremas kuat pinggang Dion.
"Aku takut Di,," Ujarnya dengan suara bergetar. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca. Keyla trauma dengan perlakuan kasar William. Rupanya laki-laki itu masih berani berbuat keji meskipun di tempat umum.
"**,**.!!" Umpat William geram. Tatapan matanya begitu tajam pada Dion.
"Rupanya benar jal l*ng itu kembali pada mantan suaminya." Ucapnya sinis.
"Tutup mulutmu.!!" Bentak Dion. Kedua tangannya mengepal kuat, dia hampir melayangkan tinjuan lagi pada William, namun Leo datang menghampiri mereka.
"Papa,, Mama,, ayo pulang. Leo sudah selesai main pasirnya." Seru Leo. Wajah cerianya seketika berubah saat melihat William, dia memberingsut dan ikut bersembunyi di belakang tubuh Dion.
"Uncle itu jahat,," Ucap Leo sembari menunjuk William. Keyla langsung menggendong Leo dan mendekapnya.
"Apa kau bilang.!" William langsung tidak terima mendengar ucapan Leo.
"Berani sekali membentak putraku.!" Dion melayangkan tinjuan tanpa pikir panjang. Untung saja Leo tidak melihatnya karna berada di gendongan Keyla.
"Urusan kita belum selesai.!" Seru Dion. Dia bergegas menggandeng tangan Keyla dan mengajaknya pergi dari sana.
William mengulas senyum sinis. Dia diam saja melihat Dion membawa Keyla pergi dari hadapannya.
...****...
Keyla lebih banyak diam setelah kejadian itu. Bahkan setelah sampai di resort, Dion yang berinisiatif untuk memandikan Leo lantaran Keyla memilih duduk di halaman belakang dengan tatapan menerawang.
Saat makan malam pun tetap seperti itu. Dia hanya bicara seperlunya saja. Lebih banyak tersenyum tipis untuk menanggapi celotehan Leo.
Dion membawa Leo ke kamar, putranya itu beberapa kali menguap dan bilang ingin tidur. Seharian bermain membuat Leo dengan cepat tertidur setelah di baringkan di atas ranjang.
Dion kembali ke lantai bawah, dia ingin memastikan keadaan Keyla yang sejak tadi memilih duduk di sofa seorang diri.
Menyalakan TV tanpa di lihat.
"Sebaiknya tidur, kamu pasti lelah." Ujar Dion. Dia berdiri di depan Keyla.
Keyla hanya menatap sekilas, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Aku belum mengantuk." Jawabannya lirih.
Dion terus menatapnya, wajah Keyla terlihat menyedihkan. Pemandangan itu sedikit membuat Dion merasa iba.
Dion duduk di samping Keyla.
"Jangan dipikirkan, dia tidak akan mengganggumu lagi." Ucapnya untuk menenangkan Keyla.
"Dia memelukku, mencium bibir ku." Ujar Keyla dengan nada putus asa bercampur takut.
Perbuatan William membuatnya merasa mendapatkan pel*c-ehan sek-ksu*l.
Trauma itu terlalu besar, bahkan hanya dengan melihat wajah William saja sudah membuat takut.
Dion mendekat, dia menatap lekat wajah Keyla, begitu juga dengan Keyla. Tatapan penuh kecemasan jelas terlihat dari sorot mata Keyla.
"Biar aku hapus." Ujar Dion. Keyla tidak mengerti dengan ucapan Dion, namun saat Dion mendekat dan mema-gut bibirnya, Keyla jadi paham maksud Dion.
Dion mencium Keyla, persis seperti apa yang di lakukan oleh William. Mencium sembari memeluknya untuk menghapus jejak tubuh William dari tubuh Keyla.
Dia menye-s*pnya lembut, melu-m*t dan mengabsen setiap inci bibir Keyla.
Keyla hanya diam saja, dia memejamkan mata dan membiarkan Dion menghapus jejak William. Setidaknya hal itu membuat rasa takut dan kesedihan Keyla berkurang.
km sndri jg salah key
laki2 mana yg mau di peralat