Tahun kelima pernikahannya, Renata dan Haris belum juga dikaruniai seorang anak. Betapa sedih saat mertua menyalahkan Renata karena dia tak bisa mengandung, apalagi melahirkan seorang cucu untuknya.
Hati Renata merana saat mertua menyuruh Haris, suaminya, untuk menikah lagi dengan pilihan sang mertua demi mendapatkan seorang cucu.
Tak disangka Haris goyah juga menghadapi desakan orang tuanya hingga dia menikahi wanita pilihan ibunya.
Namun, di saat keputusan perceraian, hal yang tak disangka, Renata yang selalu dihina oleh mertuanya karena miskin dan merupakan anak yatim piatu, ternyata mendapatkan warisan yang begitu banyak!
Bagaimanakah penyesalan Haris? Bagaimana pula Renata bisa membalas semua perlakuan mertua dan suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudhi Nita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MERAMPOK
"Nona Renata ...," panggil Ammar usai wanita itu mengerjap-ngerjapkan kedua matanya.
Pandangan Renata masih agak buram menatap pada ketiga lelaki yang sekarang bertambah dengan adanya seorang dokter wanita sedang memeriksa denyut nadinya sewaktu di mulai sadar.
"Aku ... bukan mimpi ini?" tanya Renata menyapu ruangan dengan pandangan matanya.
"Bukan, Nona."
Ammar bersyukur karena dokter menyatakan bahwa Renata hanya shock saja. Dua bodyguard itu mengantarkan dokter pulang usai memeriksa Renata.
Ammar dan kedua orang lelaki itu masih menemani Renata hingga dia benar-benar kuat untuk duduk, kemudian melanjutkan pembicaraan mereka.
"Nona, rumah ini terlalu sempit dan tak layak untuk Anda," ucap Ammar merasakan betapa pengapnya setiap ruangan yang Renata tempati.
"Iya, rumah ini hanya kontrak, Tuan Ammar," sahut Renata.
"Jangan panggil saya Tuan, Nona. Panggil saja Ammar. Mulai sekarang, saya yang bertugas mengurusi semua urusan Anda. Maka dari itu, kami tak bisa mengawasi segala aktivitas dan melindungi Anda di dalam rumah sesempit ini," ucap Ammar memikirkan bagaimana dia bisa melindungi wanita itu jika di dalam rumah kecil dan hanya satu kamar.
"La-lalu, bagaimana baiknya, Ammar?" tanya Renata yang otaknya masih belum bisa diajak berkompromi karena keterkejutannya tadi.
"Saya akan carikan rumah yang sesuai dengan yang Anda mau dan butuhkan. Rumah model seperti apa yang Anda inginkan?"
Ammar menunjukkan ke layar ponselnya berbagai macam rumah mewah yang membuat Renata terbelalak. Dia sendiri bingung akan tidur seperti apa di dalam rumah seperti itu. Tak pernah dia tinggal di dalamnya.
"Aku bingung, Ammar. Sebaiknya rumah yang nyaman saja," sahutnya dengan tangan bergetar.
"Baiklah. Tenang saja, Nona. Saya berserfitikat menjadi pengurus, serahkan semua pada saya. Saya juga akan atur jadwal check-up kaki Anda ke rumah sakit khusus untuk itu. Kami akan segera kembali besok pagi," ujar Ammar.
Pria itu pergi sambil menyuruh dua bodyguard untuk menjaga Renata walau dari dalam mobil karena tak mungkin tidur di dalam rumah kontrakan yang sempit saat malam hari.
***
Beberapa hari kemudian, rumah Bu Helen sudah nampak bagus. Semua sudah ditata dengan rapi. Walau masih ada yang harus dibersihkan dari debu-debu bekas pembangunan.
"Wah, Mas! Kita bisa lihat pemandangan dari sini, Mas!" teriak Melia yang sedang menikmati kamarnya di atas.
"Iya! Nyaman sekali, Lia!"
Haris merebahkan diri di atas tempat tidur usangnya. Mereka belum bisa membeli tempat tidur yang lebih empuk.
"Mas, besok aku belikan spring bed yang bagus ya?" ujar Melia membuka jendela dan merentangkan tangannya menarik udara banyak-banyak dari jendela.
"Boleh, Lia. Yang agak empuk ya? Kasur yang ini sudah keras, harus setiap kali dijemur," keluh Haris, menyesali barang-barang yang dia bawa ke rumah kontrakan.
"Salahmu, Ris. Kasur busa yang lumayan itu, kamu bawa ke kontrakan, kan?" omel Bu Helen yang kebetulan lewat karena kamar wanita itu berada di dekat kamar mereka berdua.
"Iya, Bu. Kan sekarang sudah kugugat cerai Renata itu," sahut Haris.
"Hah? Bener, Mas?" tanya Melia yang merasa senang dan agak bebas karena waktu itu sempat kepergok Renata di mini market diantar memakai mobil mewah.
"Bagus, Ris! Kenapa nggak dari dulu kamu nuruti kata-kata Ibu! Sekarang baru tau, kan? Renata itu nggak bawa hoki buat kita! Apa yang dia hasilkan sih?" gerutu Bu Helen sambil menggoyangkan sapunya di depan pintu kamar Haris dan Melia.
"Iya, Bu. Kan waktu itu masih kasihan sama Renata, tapi lama-lama kupikir nggak ada gunanya juga. Biarlah dia sendiri, dia juga udah nggak pernah di rumah waktu aku datang. Mungkin udah jadi panggilan Om-om hidung belang," sungut Haris ngawur.
Kata-kata Haris membuat Melia meringis. Dia agak mendengkus, pria itu juga makan dari hasilnya jual diri pada Om-om hidung belang, kenapa dia memaki istrinya jika wanita itu melakukan apa yang dia kerjakan?
"Nah, kamu ambil saja barang-barang dari rumah Renata itu! Ayo, Ibu bantu! Sayang banget kasur busa itu harganya agak mahal, lima ratus ribu rupiah. Itupun Ibu nyicil, lho Ris! Lewat PKK. Kamu ingat, kan?" ujar Bu Helen yang masih merasa tak rela saat kasur itu dibawa oleh Haris ke rumah kontrakan.
Apalagi cerita Haris, Renata tak memperbolehkan anak lelakinya tidur dalam kamar setelah mengetahui pernikahan kedua anaknya. Makin kesal rasanya.
"Ck. Dia itu anak siapa, malah ngelarang kamu tidur di kasur. Harusnya dia yang tidur di luar. Kontrakan itu kan kamu juga yang bayar. Huh, Ris, Ris ... mau aja dibodohin sama perempuan nggak jelas!" omel Bu Helen lagi. Melia hanya menganggukkan kepala. Makin mereka benci pada Renata, maka makin tak percaya juga jika Renata mengatakan pada mereka tentang Melia.
Haris hanya bisa diam tak bisa menyahut. Dia salah tingkah. Semua yang dikatakan oleh ibunya itu dia benarkan dalam hati. Semua yang dilakukan Renata tak ada yang benar menurutnya.
"Jangan diem aja, kamu itu lelaki! Harusnya barang-barang itu kamu ambil, Ris! Nanti Ibu sewakan pick-up! Ambil semua barang yanh kamu bawa dari rumah ini! Ibu nggak rela, Ris!" seru Bu Helen makin melengking.
"Iya, Bu. Iya!" sahut Haris mengalah.
Sore itu, Bu Helen langsung menghubungi pick-up sewaan. Semakin cepat menyelamatkan barang-barangnya, makin bagus.
Bu Helen, Haris beserta sopir mendatangi kontrakan Renata. Mereka harus memarkir mobil di depan jalan. Saat itu, dua bodyguard sedang menemani Ammar membeli rumah untuk Renata. Renata sendiri di rumah. Kakinya sudah dibalut dengan perban coklat untuk patah tulang.
Dengan kasar, Haris memutar slot pintu lalu membuka pintu dan masuk bersama dengan ibunya. Wajah Renata pias saat melihat tiba-tiba Haris dan mertuanya mendatangi rumahnya dengan wajah garang.
"Kakimu kenapa, Ren?" tanya Haris berubah mimik wajah saat melihat balutan di kaki Renata.
"Cuma keseleo," sahut Renata berdusta agar tak berkepanjangan.
"Bohong dia, Ris. Dia pasti dipukul oleh istri pria yang dia ajak selingkuh itu," bisik Bu Helen.
"Ck, apapun keadaanmu, aku tetap akan bercerai denganmu, Ren. Sekarang, aku mau mengambil apa yang sudah dibawa ke sini. Kasur, lemari, karpet!" ujar Haris yang lupa apa saja yang dia beli.
"Karpet? Itu aku yang beli, Mas!" seru Renata mencoba menyelamatkan haknya.
"Ambil aja, Ris!" desis Bu Helen yang ingat ruangan bawah belum ada karpetnya. Lumayan jika dia bisa membawanya.
"Pokoknya aku mau bawa barang-barang itu!" bentak Haris yang mulai mengambili barang-barang, membuka lemari dan menumpahkan isinya ke lantai lalu membawanya ke pick-up bersama sang sopir.
Renata menggigit bibirnya, membiarkan mereka kalap membawa semua barang-barangnya itu. Sayang sekali kakinya baru akan sembuh dan akan sakit lagi jika dipakai untuk menahan mereka.
Tp d liat dr sifat haris emang kayak nya lemah gampang tergoda
tak boleh sombong
jangan julid
jangan berprasangka buruk
jika tuhan sudah berkehendak... maka terjadilah..
terima kasih otor.. cerita y nano nano