Oca dipaksa menikah dengan pria asing di depan altar—demi memenuhi wasiat sang kakek yang tak bisa ia menolak. dan yang tak terduga, suaminya adalah seorang aktor terkenal yang harus disembunyikan rapat-rapat dari dunia, termasuk dari sahabat-sahabatnya sendiri.
Belum sempat ia membiasakan diri dengan kehidupan barunya, datang seseorang yang perlahan mengisi ruang kosong di hatinya—ruang yang sengaja ditinggalkan oleh suaminya sendiri. Oca pun membuka hati, tanpa pernah menyangka ada yang luput dari pandangannya.
Kini ia terjebak di antara dua hati: satu yang seharusnya ia cintai karena status, dan satu lagi yang ia pilih sendiri karena rasa.
Tapi siapa sangka, tak semua yang terlihat tulus benar-benar seperti itu.
Siapakah yang berhak atas hati Oca? 💍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon avy sulas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia... Menciumnya?
Tepat pukul tujuh malam, Oca sudah siap dengan pakaian kasual. Ia mengenakan cardigan rajut warna krem yang dipadukan dengan celana jeans dan sneakers putih. Sebelum keluar, ia berpamitan kepada salah satu pelayan kalau malam ini akan pergi bersama temannya.
Begitu sampai di persimpangan yang biasa, Dirga sudah menunggu di atas motornya. Malam ini penampilannya sedikit berbeda, dengan balutan kaus hitam polos yang dipadukan dengan jaket denim biru tua, jeans hitam, dan sneakers putih.
Dirga tersenyum kecil saat melihat Oca berjalan mendekat ke arahnya.
"Kirain gue bakal nunggu lama," godanya sambil terus memandangi Oca.
Oca mendengus pelan. "Emangnya gue pernah ngaret?"
Dirga pura-pura berpikir beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat bahu.
"Belum sih."
"Nah, berarti jangan asal nuduh."
Dirga terkekeh pelan mendengar jawaban itu. Ia lalu mengambil helm cadangan yang tergantung di setang motornya dan menyodorkannya ke arah Oca.
"Nih, pake dulu."
Oca menerima helm itu sambil mengangguk kecil. "Makasih."
Setelah memakai helm, ia langsung naik ke jok belakang motor. Dirga sempat menoleh sekilas untuk memastikan Oca sudah duduk dengan benar, lalu menyalakan mesin motornya.
"Udah siap?" tanyanya.
Oca mengangguk kecil. "Udah."
"Oke, kita jalan."
Motor itu pun mulai melaju meninggalkan persimpangan. Angin malam yang berembus pelan membuat suasana terasa jauh lebih nyaman dibanding siang hari.
Selama perjalanan, tidak banyak percakapan di antara mereka. Oca hanya memandangi lampu-lampu yang berjejer di sepanjang jalan, sementara Dirga tetap fokus mengendarai motornya.
Beberapa saat kemudian, Oca sedikit memajukan badannya agar suaranya bisa terdengar lebih jelas.
"Emangnya kita mau ke mana, sih?"
Dirga hanya tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.
"Rahasia."
Oca mendecak pelan sambil menggelengkan kepala. "Dih... pake rahasia segala sih."
Dirga hanya tertawa kecil. "Nanti juga lo tau"
Motor terus melaju membelah jalanan malam yang mulai dipenuhi kendaraan. Tak lama kemudian, Dirga memperlambat laju motornya hingga akhirnya berhenti di sebuah area parkir, tepat di depan festival malam yang sedang ramai dikunjungi orang.
Oca melepas helm sambil melihat ke sekeliling. Lampu warna-warni menghiasi setiap sudut, deretan tenda makanan berjajar rapi, ditambah juga suara musik dan tawa pengunjung membuat suasana malam itu terasa begitu hidup.
"Malam-malam gini ternyata rame banget," gumam Oca sambil memandangi suasana festival di depannya.
Dirga tersenyum kecil. "Makanya gue ngajak lo ke sini."
Dirga mengambil helm dari tangan Oca, lalu menggantungkannya di motor sebelum mengunci setang.
"Ayo."
Oca mengangguk pelan lalu mengikuti langkah Dirga memasuki area festival. Baru beberapa langkah berjalan, aroma berbagai macam makanan langsung menyeruak memenuhi udara.
"Wangi banget..." gumam Oca tanpa sadar sambil menoleh ke kanan dan kiri.
Dirga terkekeh pelan. "Laper?"
Oca langsung mengangguk tanpa malu-malu. "Dari tadi malah."
Senyum jahil langsung terbit di wajah Dirga. "Gue udah tebak sih, soalnya tadi gue denger perut lo bunyi."
Mata Oca langsung membulat dengan pipi sedikit merona, "Emangnya iya?"
Melihat reaksi itu, Dirga langsung tertawa kecil.
"Gue bercanda."
Oca mendengus pelan sambil memutar bola matanya. "Tau ah, rese lo."
Setelah itu keduanya pun mulai berjalan menyusuri deretan stan makanan. Sesekali Oca berhenti karena penasaran melihat jajanan yang dijual, mulai dari takoyaki, sosis bakar, kentang goreng, sampai es teh jumbo yang dibawa pengunjung lain.
"Dir, itu kayaknya enak."
"Yang mana?"
"Itu..." Oca menunjuk sebuah stan takoyaki.
"Ya udah, ayo beli." Ucap Dirga sambil berjalan lebih dulu menuju stan itu, sementara Oca segera menyusul di belakangnya.
Setelah membeli takoyaki mereka berdua kembali berjalan menyusuri area festival. Oca terlihat begitu menikmati suasana terbukti dari senyuman yang tak lepas dari wajahnya.
Saat melewati area permainan, langkah Oca tiba-tiba terhenti. Matanya tertuju pada sebuah stan tembak balon yang dipenuhi boneka-boneka berbagai ukuran sebagai hadiah.
"Wah..." gumamnya pelan.
Dirga yang menyadari arah pandangan Oca ikut menoleh. "Lo mau bonekanya?"
Oca buru-buru menggeleng. "Nggak... cuma lucu aja."
Dirga tersenyum tipis, lalu tanpa banyak bicara langsung menghampiri penjaga stan.
"Bang, satu kali main."
Oca yang melihat itu langsung menyusul langkah Dirga.
"Loh, Dir... lo beneran mau main?"
Dirga melirik sekilas ke arahnya, lalu tersenyum kecil.
"Gue jago loh main ini."
Penjaga stan menyerahkan senapan angin kecil kepada Dirga. Setelah menerima beberapa peluru, Dirga mengangkat senapan itu lalu membidik balon-balon yang tertempel di papan.
"Dor!"
Balon pertama pecah, kemudian disusul balon kedua dan balon ketiga. Oca yang berdiri di sampingnya ikut memperhatikan dengan serius.
"Wih...keren," gumamnya pelan.
Dirga hanya tersenyum kecil tanpa mengalihkan fokusnya.
Begitu permainan selesai, penjaga stan langsung menyerahkan sebuah boneka beruang kecil berwarna cokelat kepada Dirga.
"Selamat, Mas. Dapet hadiahnya."
Dirga menerimanya sambil tersenyum tipis, lalu tanpa ragu menyodorkan boneka itu ke arah Oca.
"Ini buat lo."
Oca tampak terkejut. "Hah? Buat gue?"
Dirga mengangguk santai. "Kan dari tadi lo ngeliatin boneka itu."
Oca menatap boneka itu beberapa saat sebelum akhirnya menerimanya.
"Makasih..."
Dirga tersenyum kecil. "Sama-sama pacar."
Oca hanya mendengus pelan, tetapi sudut bibirnya kembali terangkat.
Sambil membawa boneka itu, keduanya kembali menikmati suasana festival. Sesekali mereka berhenti melihat berbagai permainan, sesekali juga mencicipi jajanan yang menarik perhatian Oca.
Saat sedang berjalan, perhatian Oca tiba-tiba teralihkan oleh kerumunan orang yang berkumpul tidak jauh dari pintu keluar festival. Langkahnya pun tanpa sadar melambat.
"Itu ada apa? Rame banget."
Dirga ikut menoleh ke arah yang sama, lalu mengangkat bahu. "Nggak tahu."
Beberapa orang tampak mengangkat ponsel mereka ke udara. Dari kejauhan terlihat beberapa lampu sorot besar menyala terang, lengkap dengan kamera dan kru yang sibuk mondar-mandir.
"Kayaknya lagi ada syuting," gumam Dirga.
Mata Oca langsung berbinar.
"Eh... kita lihat bentar, yuk."
Dirga mengikuti arah pandangan Oca, lalu mengangguk kecil.
"Boleh."
Keduanya pun berjalan mendekati kerumunan. Semakin dekat, suara kru mulai terdengar jelas.
"Semua siap, ya!"
"Kamera rolling!"
Beberapa detik kemudian terdengar suara lantang dari seorang pria yang berdiri di belakang monitor.
"Action!"
Oca yang dari tadi berusaha berjinjit untuk melihat ke depan akhirnya berhasil menemukan sosok pemeran pria yang berdiri membelakangi kerumunan.
Tubuhnya mendadak membeku.
Laki-laki itu…
Anthony.
Di depannya berdiri Emma, aktris yang juga Oca kenal. Perlahan, wanita itu mengangkat kedua tangannya hingga menyentuh wajah Anthony.
Oca terpaku di tempat dengan jantung berdetak kencang, tatapannya tidak lepas sedikit pun dari dua orang yang kini berdiri saling berhadapan.
Dan di detik berikutnya…
Anthony membalas sentuhan itu, lalu mencium Emma tepat di bibirnya.
Napas Oca seolah tertahan. Ia hanya bisa berdiri diam, tak percaya dengan apa yang dia lihat di depannya.
Hingga beberapa saat kemudian, tatapan Anthony perlahan beralih ke arah kerumunan…
Dan mata mereka bertemu.