NovelToon NovelToon
Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda

Status: tamat
Genre:Fantasi / Pendekar / Perubahan Hidup / Fantasi Timur / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Sigi Tyo

Seorang Dewa Perang yang terbuang dari Alam Dewa karena ulah nya yang dianggap "nakal", hingga membuat kaisar Dewa memohon kepada sang pencipta untuk membuang nya ke alam manusia.

Jalan takdir yang membawa nya ke alam yang baru dengan ingatan yang hilang dan kekuatan yang tersegel.

Mampukah Sang Dewa Perang menemukan jati dirinya..? ikuti kisah ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sigi Tyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengembara

Kelompok Wereng Ireng sudah berada di sebuah ruangan dimana nampak sebuah baju perang berwarna dasar hijau dengan sedikit kuning, merah dan hitam menghiasi di beberapa bagian samping nya.

Hiasan sisik ular di setiap bagian bagiannya dengan warna berkilau dan potongan potongan di tiap sambungan yang sangat pas membuat Zirah tersebut nampak mewah dan gagah, apalagi jika di pakai oleh seseorang maka pasti akan menambah kewibawaan orang tersebut.

Zirah yang merupakan pusaka dengan tingkat Illahi itu, terlihat begitu mempesona dengan segala tampilan nya.

Semua terlihat menganga tak percaya memandang kemewahan Zirah yang seperti di letakkan dengan teratur di bagian gua yang paling tinggi di ruangan itu.

Zirah tersebut nampak berpendar di tempat nya berada dengan di kelilingi oleh ratusan ular yang kali ini berbeda dengan yang ular lain nya.

Ular ular yang terlihat berbeda tersebut, berwarna hitam dengan belang kuning terang, ada juga yang berwarna hitam pekat dengan belang merah menyala, serta hitam dengan belang hijau menyala.

Jika ular ular lainnya sangat ketakutan dengan panas dari jurus para pengguna element Api, tapi tidak dengan ular ular yang menjaga Zirah perang ini, mereka tak bergeming meski hawa panas mendekat.

Begitu hawa panas makin mendekat mereka makin mendesis dengan kian beringas, bergerak cepat untuk melingkupi baju Zirah tersebut, hingga membuat anak buah Wereng Ireng yang berniat mengambilnya menjadi kesulitan.

"Uugh..keparat..!, tanganku terpantuk ular setan ini...!," teriak salah satu anak buah Wereng Ireng yang nekat berniat mengambilnya, sambil memegang tangannya yang terdapat dua titik bekas taring si ular.

Dan belum selesai dia berkata tubuhnya sudah mengisut, timbul keriput di seluruh tubuhnya, seakan cairan tubuhnya terhisap hilang, sebelum akhirnya tubuh itu layu dan mati di tempat.

Semua terbelalak, kaget melihat pemandangan di depannya, betapa sangat jahatnya racun dari ular di sini.

"Hati hati...jangan ada yang bertindak gegabah dan tanpa perhitungan..!," teriak Wereng Ireng menggema memperingatkan anak buahnya, yang kini mematung nampak ngeri melihat keganasan bisa ular tersebut.

Semua begidik melihat keganasan dari bisa ular aneh di hadapan mereka.

"Formasi badai Api Menerjang," teriak Wereng Ireng memberikan komando, untuk mengusir jika perlu memusnahkan ular ular tersebut.

Anak buah Wereng Ireng lalu meloncat membentuk formasi Badai Api Menerjang, mereka kini berjajar sedikit melingkar saling melapisi, bersiap menghantamkan pukulannya.

"Mulaiii....!!."

Teriakan Wereng Ireng memberikan perintah.

"Hiaaaaaa...!!," serentak anak buah Api Suci berteriak bersamaan, memukulkan pukulan tangan kosong yang ber-hawa sangat panas menerjang ke arah ratusan ular yang ada di depan nya.

WOOZZZ...! WOOOZZZ..!!

Pukulan yang di lakukan susul menyusul tersebut terbukti ampuh menyingkirkan ular ular yang melingkupi baju Zirah tersebut.

Perlahan namun pasti ular ular tersebut menyingkir dari baju Zirah yang terlihat sangat menakjubkan tersebut.

Melihat ular ular sudah menyingkir para anggota Api Suci mulai mendekat bahkan ada yang berniat mengambil Zirah nya.

"Tahan...!!, hati hati.!!.," teriak Wereng Ireng, karena ular tersebut tak menyingkir jauh, mereka hanya berada sedikit di samping Zirah itu berada, bersiap meloncat mematuk siapapun yang berani mengambil Zirah pusaka tersebut.

Salah satu anak buah Wereng Ireng sudah terlanjur maju menjamah Zirah pusaka tersebut berniat menarik nya dari tempat nya, namun saat itu juga seekor ular meloncat melesat menggigit tangan kanan anggota Api Suci tersebut.

"Aaaaachhh..!."

Akibat nya sama seperti korban yang tadi, badannya mengerut, keriput, layu mengering lalu mati hanya dalam hitungan beberapa tarikan nafas saja.

"Arch...hati hati...!," teriak Wereng Ireng mulai frustasi dengan apa yang ada di depan matanya.

**

Rombongan Randu Sembrani sudah tiba di kota terdekat, sepanjang jalan Jaya Sanjaya banyak bertanya tentang apa apa yang di lihatnya, memetakan tempat tempat tersebut di dalam otak dan ingatan nya.

"Kakek itu ada warung makan lumayan ramai, kita bisa makan disana dan sekalian beristirahat." seru Jaya Sanjaya.

Mereka masih berada di wilayah Kerajaan Agung Karang Kadempel, tepatnya kerajaan Ngarsopuro bagian ujung selatan, dan sebentar lagi akan memasuki wilayah Kerajaan Agung Karang Pandan.

Nampak suasana percampuran berbagai budaya sudah terlihat jelas, itu bisa dilihat dari logat bahasa yang terdengar di telinga juga pakaian yang di gunakan orang orang tersebut.

"Ya kita makan dan istirahat di sana," sahut Rindu Sembrani, mengangguk menatap ke arah warung makan yang lumayan besar tersebut.

Kedatangan keempat orang yang terlihat mencolok itu cukup menarik perhatian, keempat nya nampak tampan dan cantik di usia nya masing masing, karena Randu Sembrani dan Nyai Nilam Sari dahulu Sewaktu muda juga sangat tampan dan cantik.

Beberapa orang bahkan terlihat menatap keempat nya dengan pandangan tajam, menilai dan menelisik, kemudian berbisik bisik.

Jaya yang sangat tajam pendengaran nya mendengar bisikan tersebut dengan jelas, " Hmm.. kelompok perampok rupanya." gumamnya pelan.

"Ada apa..?," tanya Randu Sembrani menatap Jaya Sanjaya, meminta penegasan.

"Orang orang itu berniat merampok kita nanti kek, jika kita sudah meneruskan perjalanan."

Randu Sembrani yang juga bertelinga tajam, sebenarnya juga tau akan hal itu.

"Pendengaran mu hebat juga Jaya..," puji Randu Sembrani, membuat Jaya sedikit kikuk, tersenyum kecil.

"Hanya kebetulan saja kek.."

Randu Sembrani makin kagum dengan Jaya Sanjaya, dan berfikir pasti jaya bukan pemuda sembarangan, karena banyak hal tak terduga selalu di dapatkan dari pemuda tampan di depannya itu.

Mereka sudah mendapat kan meja di sudut ruangan, kemudian Nyai Nilam Sari memesan makanan bersama Pelangi, mengajar kan adab adab di dunia persilatan dan kehidupan ini, karena Nyai Nilam Sari tahu jika Pelangi lama di pengasingan ( jurang).

Nyai Nilam Sari ingin mengajarkan berbagai tata Krama kepada Pelangi, karena itu juga termasuk pelajaran di kehidupan termasuk bagaimana sepatutnya seorang gadis bertingkah laku dan bersikap sopan santun.

Jaya Sanjaya hanya menatap interaksi guru dan murid itu, sekalian juga belajar karena dirinya juga tak memiliki ingatan tentang adab adab yang ada di alam ini.

"Ayo kita makan..," ajak Randu Sembrani kepada semuanya.

Semua makan dengan lahap, tanpa menggubris orang orang yang masih menatap tajam ke arah mereka.

**

Para orang orang yang masih mengepung sang Prabu, Pelangi dan yang lainnya terlihat kaget saat mereka tiba tiba menyadari jika sasaran nya sudah tak ada di tempat.

Mereka hanya melihat sekelebatan bayangan putih membawa orang orang yang di kepung nya.

Semua itu akibat dampak dari Mata Dewa, bagi penguna jurus Mata Dewa lawannya nampak melambat gerakannya, namun bagi lawan dari pengguna Mata Dewa akan melihat sebaliknya, yaitu lawan yang bergerak sangat cepat sekali.

"Kurang Ajar...siapa yang melakukan ini..!," teriak Langeng Darmo dari partai Es Abadi, dia yang sudah merasa lebih baik dari pada saat tadi baru di hantam Jaya Sanjaya, kini berdiri dan memeriksa ternyata orang orang yang telah mereka kepung sudah raib.

Begitupun dengan Rubah Emas, Topo Rubedo dan Raja Tombak yang mengeroyok Jaya Sanjaya, namun berhasil di hantam dan di kalahkan, kini juga sudah bangkit mencari sasaran yang telah menghilang.

"Iblis mana yang telah menculik mereka..?," Topo Rubedo tokoh Api Suci berkata dengan gusar, karena tak melihat gadis yang akan di culik nya.

"Pasti mereka di selamatkan oleh orang hebat, atau bahkan di culik oleh orang lain yang juga menginginkan kekuatan Ndaru Kolocokro." seru Rubah Emas mencoba berasumsi.

Semua orang yang semula terkena kekuatan Mata Dewa, kini juga sudah pulih kembali seperti sedia kala.

Mereka kini baru menyadari jika sasaran nya telah pergi, dengan pelan tapi pasti satu persatu orang orang itu meninggal kan tempat tersebut karena sasaran sudah tak ada lagi.

**

Dunia manusia makin mengkhawatir kan, banyak pihak pihak yang saling intai dan saling lirik untuk mencari celah menaklukkan lawan.

Pun demikian dengan Lima Kerajaan Agung yang saling intai kekuatan masing masing, meskipun di depan terlihat akur namun sebenarnya tersimpan Bara Dalam Sekam.

Sewaktu waktu Bara itu bisa membakar, dan menghasilkan api yang berkobar.

Selain Lima Kerajaan Agung yang di sokong masing masing kerajaan kecil dan sedang yang menjadi kerajaan naungan nya saling intai, banyak nya kelompok kelompok yang bersitegang seperti Api Suci dan partai Es Abadi juga bisa memicu peperangan dahsyat sewaktu waktu.

Kini ditambah lagi dengan kelompok Mata Iblis dan kelompok Mata Dewa, semakin kompleks lah permasalahan di dunia manusia.

Rombongan Randu Sembrani sudah meninggalkan warung makan itu, mereka berkuda langsung menuju ke arah selatan.

Dua pria dan dua wanita itu berkuda dengan kecepatan biasa, mereka masih ingin menikmati suasana karena masih di hinggapi rasa senang bisa mewujudkan impian, yaitu menjadi guru dan murid.

"Kira kira berapa lama perjalanan hingga sampai di tempat Guru..?," tanya Pelangi dengan wajah polosnya.

"Hmm mungkin seminggu lebih, jika kita berkuda dengan cepat."

"A..a.apa seminggu..?." Kali ini Jaya yang terkejut, dia juga sama dengan Pelangi, tak tau apapun dengan alam ini.

"Iya..seminggu itupun jika kita berkuda dengan kesetanan.." kata Nyai Nilam Sari menjelaskan lagi.

Jaya hanya mengangguk mendapatkan ilmu pengetahuan dari sepasang Mata Dewa dari Selatan.

"Waah...luas juga ya alam ini."

Otaknya yang pintar, mencatat semua apa yang di terangkan.

Keempat orang tersebut masih berkuda dengan tenang, bahkan saat mereka akan memasuki wilayah hutan yang cukup lebat, mereka masih sempat bercanda.

____________

Jangan lupa tinggalkan jejak....karena dengan jejak yang kalian tinggal kan menandakan karya ini ada penggemar nya... terimakasih Kaka..

1
On fire
💘💞💞💛🖤💚
On fire
❣️🤎💜💜
On fire
❤️‍🩹❤️‍🩹💙💙💕
On fire
💘🩶🩶🩶🩷
On fire
🤎❣️🩵🩵
On fire
💞💝⭐️💝
On fire
🩶🩷🩷❤️‍🩹
On fire
💕💜💜
On fire
💙⭐️⭐️💝
On fire
🤎❣️❣️❤️‍🩹
On fire
💕🤎🤎🤎
On fire
❣️🤍💘💓💓
On fire
💝💙🩵🩵
On fire
🩷🩷🖤🤎🤎
On fire
⭐️💜💜❤️‍🩹
On fire
🤎🖤🩷🩷
On fire
💛💛💛⭐️💕
On fire
🤎💚💜💜💜💗
On fire
🩶🖤🩷💕
On fire
💛💛⭐️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!