Di balik gaun megah bertabur mawar merah dan dansa yang begitu mesra, tersimpan sebuah rahasia yang mematikan.
Melanie mengira ia telah menemukan cinta sejatinya pada diri Glen, seorang pria menawan yang memperlakukannya bak seorang ratu tanpa cela, seperti mawar merah yang indah tanpa duri (Thornless Red Rose). Namun, Melanie tidak pernah tahu bahwa di balik tatapan penuh kehangatan itu, Glen sedang merajut jaring balas dendam yang kejam terhadap keluarganya.
Ketika kebenaran perlahan mulai terkuak, Melanie harus menghadapi kenyataan pahit: apakah cinta Glen kepadanya murni nyata, ataukah ia hanya sekadar bidak dalam permainan balas dendam yang dirancang untuk menghancurkan hidupnya?
Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di atas bara dendam, di mana batas antara ketulusan dan pengkhianatan menjadi begitu tipis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gemuruh yang Menuntut Jawab
Langkah kaki Glen yang terburu-buru membawanya menembus rintik gerimis yang kian menderu di pelataran parkir belakang kampus. Jaket denimnya kini sepenuhnya basah, namun rasa dingin yang menusuk kulit sama sekali tidak sebanding dengan gemuruh yang berkecamuk di dalam dadanya. Kalimat Melanie di taman tadi terus berdengung, menghantam dinding kesadarannya seperti ombak yang memecah karang.
"Kamu hanya seorang anak laki-laki yang kesepian dan terluka yang bersembunyi di balik jubah pangeran kegelapan."
"Sialan," umpat Glen lirih, memukul setir motor matic-nya begitu ia sampai di area parkir yang sepi.
Ia mencengkeram kepalanya sendiri, mencoba mengusir bayangan tatapan Melanie yang tidak menyiratkan kebencian sama sekali, melainkan sebuah rasa simpati yang tulus. Mengapa gadis itu tidak membalas kemarahannya? Mengapa dia justru menatapnya seolah-olah dia adalah pihak yang harus diselamatkan? Hal itu membuat naskah tragedi yang telah disusun Glen selama bertahun-tahun mendadak kehilangan arah.
"Glen!"
Sebuah teriakan yang sangat familier membuat Glen menoleh dengan cepat. Thone berjalan setengah berlari menembus hujan, menggunakan tas ranselnya untuk melindungi kepala. Wajah sahabatnya itu tampak sangat serius, jauh dari kesan santai yang biasa ia tunjukkan di kantin.
"Aku mencarimu ke mana-mana setelah kelas selesai," ujar Thone, napasnya sedikit memburu saat ia ikut berteduh di bawah kanopi tempat parkir motor. Ia menatap Glen, memperhatikan bagaimana tubuh sahabatnya itu sedikit gemetar bukan karena dingin, melainkan karena gejolak emosi yang tertahan. "Kamu baru saja menemui Melanie lagi, kan?"
Glen tidak menjawab. Ia memalingkan wajah, meraba saku jaketnya untuk memastikan foto usang potongan koran dua belas tahun lalu itu tidak basah terkena air.
"Glen, dengarkan aku," Thone melangkah lebih dekat, mencengkeram bahu Glen agar pria itu mau menatapnya. "Tadi Diandra datang menemuiku dengan wajah panik. Dia bilang Melanie keluar kelas dengan terburu-buru dan kembali dengan mata sembab. Apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian berdua? Jangan katakan lagi bahwa ini hanya soal naskah sandiwara. Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar."
Glen melepaskan cengkeraman tangan Thone di bahunya dengan hentakan kasar. "Ini bukan urusanmu, Thone. Sudah kukatakan, jangan ikut campur dalam cerita yang sedang kubuat."
"Ini menjadi urusanku saat aku melihat sahabatku sendiri perlahan-lahan berubah menjadi monster karena dendam masa lalu!" suara Thone meninggi, mengalahkan suara deru hujan yang kian lebat menghantam atap seng pelataran parkir. "Aku tahu apa yang terjadi pada perusahaan tekstil ayahmu dulu, Glen. Aku tahu bagaimana hancurnya keluargamu. Tapi menyalahkan Melanie yang saat itu bahkan belum mengerti apa-apa... apakah itu akan mengembalikan kewarasan ayahmu? Apakah itu akan menghapus semua penderitaan yang sudah lewat?"
Glen tertegun. Kalimat Thone barusan bagai gema dari apa yang diucapkan Melanie beberapa menit lalu di taman belakang. Retakan di balik topeng ketenangannya kian melebar, memaksa sisi rapuh yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat mencuat ke permukaan.
"Lalu aku harus bagaimana, Thone?!" desis Glen, suaranya bergetar hebat, menahan amarah dan keputusasaan yang telah menumpuk selama belasan tahun di dalam dadanya. "Setiap hari aku harus melihat ayahku yang bahkan tidak mengenali anaknya sendiri! Setiap malam aku harus terbangun karena mimpi buruk tentang rumah kami yang disita! Sementara dia... dia tumbuh besar dengan segala kemewahan yang dibeli dari penderitaan keluargaku! Katakan padaku, di mana letak keadilannya jika aku hanya diam saja?!"
Thone terdiam, menatap lekat-lekat kilat kepedihan yang teramat sangat di mata elang sahabatnya. Ia menurunkan nada suaranya, menepuk pelan lengan Glen yang masih menegang. "Keadilan tidak akan pernah lahir dari tangan yang menghancurkan orang yang tidak bersalah, Glen. Kamu membenci orang tuanya, tapi kamu menghukum gadis yang tulus kepadamu. Pikirkan lagi... apakah kamu benar-benar membenci Melanie, atau kamu hanya membenci kenyataan bahwa dia adalah anak dari orang yang menghancurkan hidupmu?"
Pertanyaan terakhir dari Thone menggantung di udara, bersaing dengan suara guntur yang menggelegar di langit Jogja. Glen tidak menjawab. Ia langsung menyalakan mesin motornya, menarik gas dalam-dalam, dan membelah derasnya hujan badai sore itu, meninggalkan Thone yang hanya bisa menghela napas panjang menatap kepergiannya.
Sementara itu, di dalam ruang kelas Teater yang kini sudah sepenuhnya kosong, Melanie masih duduk sendirian di tepi panggung rendah. Ia menatap telapak tangannya yang tadi sempat mencengkeram jaket Glen. Di dalam keheningan ruangan itu, Melanie berjanji pada dirinya sendiri: ia tidak akan lari dari jaring balas dendam ini. Bukan untuk membela kesalahan keluarganya di masa lalu, melainkan untuk memastikan bahwa pria bernama Glen itu tidak akan hancur oleh dendam yang ia ciptakan sendiri.
terlalu mengaitkan kisah fiksinya...