Sebuah kerajaan terbesar punya misi menangkap semua petarung liar untuk kedamaian. Namun semua perguruan seni bertarung pedang menolaknya. Karena mereka tahu kalau kerajaan ingin mengatur masyarakat dengan menguasai sumber daya.
Sepasang pendekar pedang ini menjadi penyelamat untuk melawan sebuah kerajaan besar. Mereka melakukan perjalanan bersama untuk mengumpulkan rahasia teknik pedang tersembunyi dan dua pedang Sakti.
Pedang Zen Xi di Desa Win, lalu pedang Zoi Chu di Desa Hon. Namun mereka harus melewati rintangan dan tempat untuk bisa sampai di tujuan. Lalu mereka kembali untuk mengalahkan Kerajaan Sinpor.
Setelah masalah Kerajaan Sinpor selesai, kisah cinta mereka berdua sempat mendapatkan penolakan dari orang tua perempuan, karena perbedaan kelas sosial. Namun mereka berdua punya cara agar mereka berdua bisa menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Firdaus Rangkuti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pimpinan Musuh
"Hey, kalian berdua, serang aku sekarang!" Zoi berdiri melihat mereka berdua sedang bisik memegang pedang.
"Sudah mengerti kan?" tanya Rio. Jinsin dan Rio mulai berlari ke arah Zoi secara zig zag. Zoi menangkis serangan Rio. Lalu Jinsin menebas bagian lengan kanannya.
"Aaaah...." darah muncrat keluar dari lengan Zoi. Lalu Zoi melepas tangkisan pedang oleh Rio. Lalu hendak memegang lengan kanan berjalan mundur beberapa langkah. Rio langsung mundur dari tangkisan Zoi dan berdiri dari kejauhan.
"Sial, hei kalian cepat bantu." ucap Zoi menyuruh bawahan. Jinsin berlari menjauhi pria besar, ke empat bawahan berlari mengikutinya. Dia menangkis ke empat serangan musuh secara bergantian.
"Kuat juga kalian. Jangan remehkan aku!"
"Aaaaaah!"
Dia menebas lengan kanan satu musuh yang sudah terlungkup mengeluarkan darah. Jinsin menebas ketiga musuh dengan pedang kecil, berputar cepat sampai bagian tubuh mereka terluka di punggung, perut dan leher.
"Selesai." ucap Jinsin bergaya jongkok selesai menyerang.
"Aaaa.."
"Aaa..."
"Iih.."
"Oou.."
Ke empat musuh jatuh memegang luka mereka sampai berteriak menahan rasa sakit. Rio masih berdiri melihat Zoi kesakitan.
"Jinsin cepat ke sini." Jinsin bergegas berlari cepat menghampiri Rio di depan Zoi.
"Bagaimana, Rio. Kita harus menyerang lagi?" tanya Jinsin berdiri di sampingnya.
"Tunggu biar kan saja."
Zoi terduduk memegang lengan kanan terus mengeluarkan banyak darah menahan rasa sakit di wajah, sampai pakaian di lengan basah berwarna merah. Lalu melepas genggaman pedang besar menutupi goresan luka yang cukup besar menggunakan lengan kiri sampai telapak tangan membasahi darah yang tidak mampu menutup luka. Kemudian Rio berlari tanpa memberitahu Jinsin mendekati Zoi. Dia mengarahkan pedang ke leher Zoi sampai kaget.
"Apa, yang kau lakukan Rio." tanya Jinsin teriak dari jauh.
"Sekarang ku tanya pada kamu." Rio menatap wajah mengacam. Zoi membalas ekspresi kasihan.
"Hey, apa yang kau lakukan?" teriak Jinsin.
"Diam saja kau di sana. Ada yang mau ku tanyakan padanya." teriak Rio menjawab suara lantang.
"Heh." Jinsin kaget mendengar ocehan Rio, lalu berlari mendekati Rio.
"Sekarang ku tanya pada kamu, apa benar babi itu tergantung di pohon, kau yang melakukannya?" Rio membuat pedang itu menyentuh ke leher Zoi dengan tatapan tajam.
"Kau masih penasaran dengan babi hutan itu, Rio?" Jinsin melipat kedua tangan wajah cemberut melihat Rio berdiri di sampingnya. Rio tidak menanggapi ocehan Jinsin, tapi penasaran mendengar jawaban Zoi sudah terpojok.
"Soal babi itu, ya kami menggantung di pohon. Lalu jebakan itu sengaja kami pasang untuk memberitahu kalau ada serangan musuh." ucap Zoi ekspresi sedih. Setelah Zoi menjawab, Rio menyimpan pedang di saku pinggang, lalu menghela napas.
"Rio selanjutnya apa?" Jinsin bertanya penuh penasaran. Rio melihat langit, menghela napas, berperasaan pertarungan telah selesai. Jinsin menarik kerah baju Zoi, lalu bertanya dengan mendekatkan wajahnya.
"Hey kau, apa misi kalian?" Jinsin bertanya dengan tatapan tajam.
"Kami punya misi mengamankan kawasan hutan dan menangkap para pemberontak siapa pun itu." Zoi menjawab ketakutan.
"Lalu apa tujuan babi itu?" tanya Rio.
"Kami melakukan untuk sekedar hiburan saja. Karena kami selalu bertugas dalam tekanan dan waktu lama." ucap Zoi menjawab pertanyaan itu melihat Rio sedang menatap langit pagi.
"Hey, Rio haruskah kita menghancurkan markas mereka di hutan?" tanya Jinsin melepas tarikan baju Zoi sampai terlentang.
"Tidak perlu, kita akan pergi melalui rute lain." Rio melihat Jinsin sambil menikmati angin yang mengibas rambutnya. Jinsin langsung terpesona saat Rio menoleh kepadanya, terutama saat rambut bergoyang membentuk poni keren.
"Tapi hanya jalan hutan yang tercepat, lagi pula mereka menghalangi jalan kita di hutan. Kau ingat?" Jinsin menghampiri Rio lalu menarik baju setinggi mungkin.
"Hoi lepas dong. Di saat seperti ini kamu masih bertindak konyol." wajah Jinsin berubah kesal karena tidak menuruti perintahnya.
"Kau berpikir dengan mengalahkan pimpinan musuh. Kita bisa melewati markas musuh di dalam hutan dengan rute tercepat, begitu maksud kamu?" tanya Rio.
"Betul, dia adalah pimpinan musuh. Artinya di markas hanya bawahan saja." ucap Jinsin.
"Hee, kok tau kamu?" Rio kaget mendengar jawaban Jinsin. Lalu Zoi menyela perdebatan mereka.
Markas besar di dalam hutan adalah sebuah tempat di penuhi ratusan prajurit yang bertugas untuk mengamankan sebuah wilayah yang luas atas perintah pemimpin tertinggi dari sebuah pemerintah di pusat kota.
Zoi adalah pemimpin ke 23 dari 26 pemimpin lain yang berada di markas. Ikatan kain di lengan berwarna merah adalah simbol. Jinsin dan Rio kaget mendengar penjelasan informasi tentang kekuatan prajurit.
"Jadi kita melawan prajurit dan pemimpin. Saya pikir itu lemah. Rio berpikir dan tersenyum aneh bangga.
"Macam kuat sekali kau. Melawan dia saja, kau sampai terpental jauh. Jangan sok keren." ucap Jinsin.
"Plaaak. Plaaaak." Jinsin menampar wajah Rio masih di angkat menggunakan tangan kiri.
"Adoh adoh." Rio kesakitan.
"Bukan begitu juga, saat saya melawan bawahan, mereka semua terlihat lemah. Seperti kau melawan empat prajurit sendirian, lalu kau kalahkan mereka sampai terluka. Bagaimana?" Rio menjelaskan kepada Jinsin dengan wajah menantang sambil menaikkan alis mata di kalimat terakhir.
"Gak sekalian kamu main mata samaku." Jinsin menggoda Rio, berperasaan mengejek. Rio terdiam menoleh ke kanan karena malu dengar ucapan Jinsin barusan.
"Kenapa kau, senyum-senyum sendiri?" Jinsin melihat Rio bertingkah aneh.
"Hah. Cepat turun kan aku!" teriak Jinsin menggerakkan kedua kaki.
"Aduh sakit, kebiasaan kali kau memperlakukan ku." Jinsin melepas tarikan tubuh dari tangan kanan hingga terduduk keras dan berteriak kepada Jinsin karena kesal.
"Lalu bagaimana dengan orang ini?" Jinsin bertanya dengan melipat kedua tangan.
"Biarkan saja, yang penting kita akan melanjutkan perjalanan jauh melalui rute lain, ayo pergi." Jinsin berjalan kaki meninggalkan Zoi.
"Hah. Rute lain. Bagaimana kalau ada markas besar lebih kuat lagi." tanya Jinsin menakuti. Rio berhenti melangkah, lalu berpikir sebentar. Dia kembali menghampiri Jinsin masih berdiri melipat kedua tangan di dekat Zoi ekspresi tersenyum menakutinya.
"Lalu bagaimana ya. Aku bingung." Rio berdiri di hadapan Jinsin, menggaruk rambut belakang.
"Hahahahaa....."
Jinsin tertawa lepas, melipat tangan melihat ekspresi konyol Rio. Dia melihatnya tertawa merasa bingung. Selama Jinsin mengikuti Rio sampai satu malam perjalanan. Dia merasakan Rio sangat konyol dalam bertindak. Tapi di sisi lain, Jinsin berpikir kalau Rio sangat berani dalam bertarung walaupun begitu nekat. Jinsin berhenti tertawa, tersenyum tipis menatap Rio kelihatan bingung.
"Ayo ikut aku." Jinsin merangkul tangan Rio berjalan bersama.
"Kita mau kemana?" tanya Rio.
"Hutan. Ayo jangan takut." ucap Jinsin merangkul tangan Rio sambil tertawa kecil mengingat wajah Rio sangat bingung tadi.
Akhirnya Rio dan Jinsin meninggalkan prajurit Zoi, untuk melanjutkan perjalanan menuju tempat pedang dan gulungan itu di simpan di sebuah gedung di desa. Mereka masuk kembali ke dalam hutan, namun Jinsin berdiri melihat sekeliling untuk membaca petunjuk jalan melalui insting penglihatan.
"Kita lewat sini, ayo jalan." Jinsin merangkul tangan kanan Rio, berjalan ke arah kiri di dalam hutan.