NovelToon NovelToon
Pembalasan Andara

Pembalasan Andara

Status: tamat
Genre:Petualangan / Selingkuh / Keluarga / Persahabatan / Tamat
Popularitas:524.4k
Nilai: 5
Nama Author: nadyasiaulia

"Aku bukan orang baik buat kamu."


Diputuskan dengan sebuah sms dan dengan alasan superklasik, membuat Andara marah.

Buana Semesta, lelaki yang sudah membagi rasa dengannya selama hampir setahun belakangan tiba-tiba mengiriminya sms itu. Andara sebenarnya sudah tahu kalau peristiwa itu akan terjadi. Dia sudah prediksi kalau Buana akan mencampakkannya, tetapi bukan Andara jika bisa dibuang begitu saja.

Lelaki itu harus tahu siapa sebenarnya Andara Ratrie. Andara akan pastikan lelaki itu menyesal seumur hidup telah berurusan dengannya. Karena Andara akan menjadi mimpi buruk bagi Buana, meskipun cowok itu tidak sedang tertidur.

Banyak cara disusunnya agar Buana menyesal, termasuk pura-pura memiliki pacar baru dan terlihat bahagia.

Tetapi bagaimana jika akhirnya Buana malah terlihat cemburu dan tidak suka dengan pacar barunya?
Juga bagaimana jika Andara bermain hati dengan pacar pura-puranya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadyasiaulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

First Sight

"Dia melakukan sihir, menawanku dari pertama aku melihatnya."

🔥🔥🔥

Tawa nyaring terdengar di pelosok sebuah kedai kopi. Ada dua orang cewek di sana. Satu yang sedang tertawa dan satunya lagi hanya mencibir karena ditertawai. Kin yang baru mengangkat pesanannya dari meja antrean menjadi menoleh. Tawa itu seperti dikenalnya.

"Eh, itu Natha?" Deni, sepupunya yang juga baru menerima kopi dari sang barista menunjuk ke cewek yang tertawa. "Nggak berubah itu orang! Sono, yuk."

Kin mengikuti Deni ke arah Natha. Orang yang mau dihampiri masih sibuk berbicara, tidak memperhatikan kedatangan mereka berdua.

"Perasaan lo aja kali. Lo kadang kan terlalu sensitif kayak testpack." Natha dengan santai membalas ucapan lawan bicaranya. Cewek itu luwes saja menyebut sebuah alat yang seharusnya membuat kaum hawa meringis malu.

Sebuah makian datang dari arah berlawanan ketika Deni dan Kin mendekat. "Bingsit! Nggak gitu, ya!" ujar cewek di hadapan Natha yang menggigit-gigit sedotan plastik.

Deni berjengket dan Kin hampir saja berbalik guna menjauhi meja tersebut, tetapi lawan bicara Natha itu lebih dahulu menyadari kedatangan mereka dan melirik tajam. Tatapan itu terlihat berani dan menantang. Kin merasa Deni sudah salah langkah memutuskan gabung di meja Natha.

"Nath," panggil Deni sambil menepuk bahu Natha.

Natha menoleh. "Lho, lo berdua kok di sini?"

"Boleh gabung nggak? Seru banget kayaknya sampai ketawa lo kedengaran ke meja barista."

Kin dapat melihat Deni memperhatikan teman yang ada di hadapan Natha. Pasti alasan Deni saja mau menghampiri Natha. Jelas sekali kok kalau Deni tertarik dengan lawan bicara Natha.

"Duduk, duduk. Kayak apa aja." Natha lalu perkenalkan mereka berdua dengan teman yang sedari tadi bersama dia. "Kenalin, ini teman gue. Namanya Andara. Ra, ini Deni, yang ini Kin."

Deni mengulurkan tangan lebih dahulu dan disambut Andara. Cewek itu menyalami Kin dengan menyebutkan nama. Selanjutnya Deni dan Natha banyak bercakap-cakap sementara Andara sesekali menyahut cuek sambil menggigit-gigit ujung sedotan dan Kin lebih banyak diam menikmati kopi.

Deni memang mudah bergaul, tidak sepertinya. Wajar jika sepupunya itu mudah menarik perhatian lawan jenis. Tidak begitu lama bercakap saja, Deni sudah mampu membuat Andara terkekeh. Kin kira cewek seperti Andara itu tidak bisa tertawa, karena jika diam, muka cewek itu terlihat tidak bersahabat.

Di tengah pembicaraan, Andara pamit hendak ke toilet. "Gue ke belakang dulu," selanya. Tanpa menunggu persetujuan yang lain, cewek itu pergi.

Ketika Andara berlalu, baik Kin maupun Deni baru menyadari sesuatu. Cewek itu cukup percaya diri dengan penampilan uniknya. Jaket denim dan kaus kebesaran, sepatu boots hitam setinggi mata kaki, rambutnya dicepol acak sambil menggigit sedotan. Sama sekali tidak peduli apakah dia akan terlihat cantik atau tidak. Gaya cuek dengan muka antagonis, tetapi hal itu yang semakin membuat Andara menarik.

"Biasa aja lihatnya, gue aduin Diska nanti." Natha mendorong kepala Deni yang menontoni Andara menjauh.

Deni menyengir. "Bukan gitu. Kayak pernah lihat. Di mana, ya?"

"Basi alasan lo," sela Kin sambil mengode Natha dan mereka berdua menertawai Deni.

"Serius gue. Kayak pernah lihat." Deni berusaha memutar ingatan sambil menggaruk kepala. "Oh, iya. Kayak pernah dikenalin Rexy. Kalau nggak salah sih, gayanya mirip. Tapi gue nggak ingat mukanya, cuma ingat gayanya aja."

"Kalau yang lo maksud Rexy rapper, berarti benar," ujar Natha menyesap seteguk kopi. "Dia mantannya Rexy."

Deni berseru, "Nah, benerkan gue?! Pantas kayak pernah lihat. Oh, udah mantan?"

"Sebentaran doang." Natha meliriknya. "Apa kabar lo, Kin? Coba panas-panasan sesekali biar nggak mulus-mulus amat."

Belum sempat Kin membalas, Deni terlebih dahulu menyela, "Salah lo, Nath. Dia kan udah main motor sekarang biar hitam."

"Ciye, biar jadi anak motor gitu?" Natha tergelak dan langsung dibalas Kin dengan toyoran.

Pertama kali mengenal Andara, dia sudah tahu kalau Andara adalah mantannya Rexy. Cowok itu cukup populer di lingkar pergaulan mereka. Bisa dibilang semua orang mengenal Rexy. Namun, penyebab pasti mengapa mereka putus, Kin tentu tidak tahu.

Kin menjadi sering bertemu Natha dan Andara karena mereka siaran di Best FM. Kin juga akhirnya mengetahui kalau Andara lucu dan asyik, tidak sedingin mukanya. Hanya saja memang cewek itu tidak gampang akrab dengan orang baru seperti ada benteng yang dibangun.

Jika Kin sedang di Jakarta, mereka sering dugem bertiga. Kin rela-rela saja dijadikan supir oleh mereka berdua. Natha yang ramai sering membuatnya terhibur saat teman-teman yang lain mulai sibuk masing-masing dan Andara terasa lucu dengan cara berbicara yang sering menyindir bahkan ngawur.

Kin akui dia tertarik dengan Andara. Berbicara dengan cewek itu enak sampai-sampai Kin tidak tahu jika Andara memiliki pacar. Berbeda dengan Natha yang pernah mengenalkan Putra, Andara tidak pernah bersama dengan pacarnya jika dugem. Kin baru tahu Andara taken ketika cewek itu mengungkapkan mosi tidak percaya kepada sang pacar saat tipsy di meja Splash.

Setelah Kin coba mengorek lebih dalam, barulah Andara bercerita kalau sang pacar bernama Buana. Dari penuturan Andara, dia menangkap cewek itu bermasalah dengan pacarnya, sama seperti dia dan Ririn. Bedanya Andara masih mencintai pacarnya. Karena itu juga meski ada kesempatan, Kin memilih mundur. Dia memosisikan diri sebagai teman yang memberi masukan dan bantuan jika diperlukan. Termasuk menjemput Andara tepat waktu saat cewek itu butuh bantuan melarikan diri setelah menyiram Buana dengan Coca-Cola.

Kin sendiri belum pernah berhadapan langsung dengan Buana hingga malam itu tiba, saat Buana mengadang dia dan Andara di parkiran Best FM. Dengan penuh kepercayaan diri si Buana mengenalkan diri sebagai mantan Andara. Andai Kin tidak menghargai Andara, mungkin dia akan mengajak cowok itu berduel.

Sebagai cowok, Kin paham sekali tatapan Buana menunjukkan kecemburuan karena melihat dia dengan Andara. Maka, Kin dengan sengaja mengatakan bahwa dia adalah masa depan dan Buana hanyalah masa lalu Andara.

Satu yang tidak Kin prediksi adalah dicium Andara. Sejak saat itu Kin merasa beda. Rasa sukanya kembali lagi, pilihan mundur mendadak ingin berusaha maju, dan Kin bersusah payah berusaha membabat perasaan yang berkembang itu. Walaupun sudah putus, Andara terlihat masih juga belum bisa melupakan Buana.

Kin hanya berani bertanya kabar Andara melalui Natha sampai Andara sendiri yang protes.

"Kenapa tanya ke orang kalau bisa tanya ke gue langsung, Beb?"

Kalimat itu adalah cikal bakal perubahan gerak Kin. Jika dulu harus mencari alasan untuk bisa berbicara atau mengirim pesan, Kin mulai menghubungi Andara tanpa alasan. Dia nekat memesan tiket untuk cewek itu saat Andara menyambut tawaran acara di Pantai Palawan.

Harapan Kin tumbuh lagi.

***

Kesal. Iya, jelas Kin kesal. Dia merasa telepon Natha terlalu lama, mengganggu mereka yang hendak makan. Andara menerima panggilan video sampai meninggalkan kursi seperti ada pembicaraan yang dirahasiakan, dan baru kembali karena ponselnya habis baterai. Diam-diam, Kin berniat akan menyembunyikan charger portable yang ada di mobil.

Sakunya bergetar, Natha menelepon dia tetapi Kin yakin kalau Natha hanya ingin melanjutkan pembicaraan dengan Andara. "Belum selesai tukar kabar sama Natha?" tanyanya kepada Andara sebelum mengangkat telepon.

"Ya, Nath. Belum selesai juga? Kami mau ma ..."

Ucapannya dipotong oleh Natha. "Kin, sori ganggu. Ini urgent, gue harus ngomong sama Andara. Dia dari dicari Buana soalnya. Gue mau sampaikan pesan aja."

Satu nama itu berhasil membuat Kin makin kesal. Tanpa berbicara lagi, dia arahkan ponsel ke Andara. Lagi-lagi, Andara menjauh dari tempat duduk. Sebenarnya apa sih yang dibicarakan cewek itu? Bukannya Andara sendiri yang bilang dia jomlo? Kin mengamati cewek itu dari jauh. Muka itu tertawa dan Kin tidak suka, sekejap Andara menoleh dan tatapan mereka bertemu.

Tidak sudi melihat tawa itu, Kin memalingkan pandangan ke laut. Masa sih Andara tidak merasa ada sesuatu yang beda dari interaksi mereka berdua? Rasa-rasanya mustahil Andara tidak sadar, tetapi kenapa cewek itu biasa saja?

Ada keberatan di diri Kin begitu mengetahui Buana masih saja mengganggu Andara. Seharusnya cowok itu tahu diri. Buana sudah berselingkuh lalu memutuskan Andara secara sepihak hanya lewat sms. Kurang sadis apalagi caranya? Namun, kenapa Buana masih saja selalu berusaha ada di kehidupan Andara? Hanya karena mereka pernah sama-sama jadi yang pertama? Alasan paling nggak masuk akal yang pernah Kin dengar.

Andara kembali dan menyodorkan ponselnya.

"Udah ngobrolnya?"

Yang ditanya hanya mengangguk tidak peduli. Andara tidak tahu jika dia menganggap spesial hubungan mereka berdua. Panggilan Natha tadi merusak semua harapan dan cita-cita yang Kin punya. Di luar kontrol, keberatan yang Kin punya terbabar begitu saja.

"Hebat banget, sih. Udah jadi mantan masih aja nyariin."

Kin bangkit dari tempat duduk. Dia kehilangan selera makan.

"Gue nganggap kita pacaran lho, Ra."

Kin dapat membaca ekspresi terkejut di wajah Andara, tapi mau bagaimana lagi? Kalimat sialan itu lepas juga. Dia mengusap muka frustasi. Kejadian ini benar-benar memalukan tingkat dewa.

"Eh, mau ke mana?" tanya Andara. Hidangan baru saja tiba dan Kin belum menyentuh satu sendok pun.

"Sori," desis Kin menjauhi meja. Dia mendengar Andara memanggil tetapi rasa malu Kin lebih besar dari rasa lapar. Pasti Andara akan merasa tidak nyaman dengannya, pasti pertemanan mereka jadi janggal setelah ini. Kin mengembus penat, mengeluarkan sebatang rokok lalu membakarnya.

"Makan dulu, nanti ngerokoknya." Rokok di bibirnya ditarik dan diinjak oleh Andara. Cewek itu menggenggam tangan dia, mengajak kembali ke meja. "Kalau lo anggap kita pacaran berarti lo harus dengarin gue. Makan."

"Apa tadi?" Bibir Kin terasa geli. Dia bahkan menurut duduk mengikuti Andara.

"Makan," jawab Andara sambil menunjuk hidangan.

"Bukan yang itu." Kin kembali tersenyum. Rongga dadanya plong sekali. Dia yakin tidak salah dengar, telinganya masih berfungsi dengan baik.

"Jadi yang mana?"

"Anggap apa tadi?"

Muka memerah Andara terlihat dari samping. Cewek itu tampak salah tingkah yang membuat Kin semakin senang. Setidaknya perasaan malu yang ada bukan milik dia sepihak saja.

"Ra... Jawab, dong. Mogok makan, ah, kalau nggak dijawab."

Cewek itu melengos tanpa memandang Kin, tidak memberikan jawaban tetapi memukul lengan dia. Kin menjadi semakin terpancing untuk menggoda.

"Ra, kalau diajak ngomong sama orang, tatap mukanya dong. Aduh!" Tulang kering Kin terasa berdenyut. Andara menendangnya dan tanpa merasa bersalah cewek itu menyantap makanan. "Dasar KDRT," tukasnya terkekeh.

Dia langsung merangkul bahu dan mencium pelan kepala Andara. Cewek itu tidak menolak dirangkulnya tetapi berusaha tidak melihat dia. Kin tahu kalau Andara jengah. Ada bias-bias malu yang tampak lucu sekali di muka yang berusaha biasa itu. Tak apa. Meski tidak Andara ulangi perkataannya, Kin sudah lega.

"Ra," panggilnya yang hanya dijawab kemaman cuek Andara. "Kita lagi kencan, lho. Candle light dinner. Masa pacarnya dicuekin, sih?"

Kin hanya mendengar dengkusan dari muka Andara yang membelakanginya. "Pacarnya duduk di sini. Bukan di sana," bisik Kin merapat ke telinga Andara.

Andara berkelit menjauh tetapi rangkulan Kin menahan tubuh cewek itu. "Apa, sih? Geli tahu," desis Andara menoleh sekilas lalu membuang pandangan lagi ke mana saja yang jelas bukan ke arah Kin.

"Ra... Kalau dicuekin gini, nggak jadi deh pacarannya. Pulang aja." Kin mulai merenggangkan rangkulan untuk mengetes reaksi Andara.

Andara langsung mencengkeram lengan Kin. "Coba diam, dan habisin makannya!"

Kin terkekeh sambil menaruh telapaknya di atas kepala Andara. "Pacar Kin galak."

"Makan!"

"Galak!" ulang Kin sekali lagi dan Andara kembali menendang betisnya. Biarlah nyeri, yang jelas dia sudah menang.

🔥🔥🔥

Aku tahu pembaca pasti penasaran dengan sudut pandang Kin dan Buana, tapi aku sengaja kasihnya belakangan biar kalian KZL. 🤧🤧

Ada satu fun fact tentang cerita Andara yang bakal aku kasih tahu ketika cerita ini sudah selesai. WKWKWK. KZL nggak? 🤧🤧

1
HaniHiko
Nemu lagi karya yg bagus senengnya pake bnget..tulisanmu keren Thor👍
Me mbaca
ikut mewek aku kak...hiks...
Me mbaca
wah kereeen ini novelnya
Me mbaca
wah kereeen ini novelnya
Imas Karmasih
mampir thor kayanya seru
Dialodila
weyyy gue nangisss iniiii, nyesek bangetttt😭😭😭
Ninik Roichanah
Benar benar manusia berbulu srigala si ocha iki
Arin Minty
Bagus bgt novelny...Semua tokohny bikin emosi ...😘
Rossana Ardian
Kapan ya ini dibukukan. Udah lama aku baca ini sampe tamat, mau baca ulang lagi.
Pocut
Ga jelas bgt si buana ni
Pocut
Naga2nya kim mulai naksir nih
Risma Wati
sumpah ini cerita bagus bangeeeeeettttt,sayang yg like sedikit yaa,tetep semangat buat authornya..di tunggu cerita2 laennya💪💪💪
miarty ayus
jujur aku ngos-ngosan banget baca ini. kerasa banget drama kehidupan sis Ara, sampai ga bisa baca banyak bab sekaligus (ada untungnya jg baca Andara telat, jadi udah selesai ditulis hehehe). tapi seperti tulisan2mu yang lain (Sabda dan Hablur), aku puassss banget bacanya. seru, cerdas, alurnya ga bisa ketebak.
keep on writing yaaa.. pasti bisa jadi one of the best Indonesian author deh, yaqiinn.. thank you for sharing this roller coaster story of Andara, Buana dan Kin :)
nadyasiaulia: Ih, sister. Bisaaaa ajuaaah. Hahahaha.
Makasih ya, sis. Komenmu menguatkan aku yang mager mengetik ini.

love love,

Si Tukang Roller Coaster
total 1 replies
Nurul Hidayah Msi Mencirim
aku suka cerita nya Thor ,tp ntah kenapa aku msh gak terima klu buana mati Thor,walaupun aku suka Andara jd sama kin.
Asti Anastasia
kin sama Rosa??? huekkkk
Asti Anastasia
q gak pernah ngebayangin Buana "pergi"
Asti Anastasia
di part ini q menangis...q seperti ikut merasakan apa yg Andara rasakan🥺🥺😭😭
🐝 Kim Jihan 🦋
novel terkeren dan ter the besttt 😘😘😘😘🥰🥰🥰🤩🤩🤩😍😍😍💜💜💜💜💐💐💐💐🤗🤗🤗
🐝 Kim Jihan 🦋
woww 17 tahun ba ciptain cerita begini.. sini dekk duduk sama Tante.. ehh mba aja dehh kuy kita ngopi dimana gt secara kita sama2 org Medan gt dek 🥰🤩
nadyasiaulia: Ampooon, Tante. Wkwkwkwk. Boong kok saya, boong. 🥺🙏
total 1 replies
🐝 Kim Jihan 🦋
ya lord pendakian ku hanya sampai dsini 😭 GK rela bgt udh end walau aku blm baca epilognya 😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!