Sekuel of "My Bos CEO"
Note : Novel ini hanya hiburan semata. Don't Judge oke, jika tak suka skip saja.
Disebuah rumah yang selalu bising dengan kejahilan dan juga keusilan Triplets, anak dari "Della dan Aiden". Usia mereka sudah menginjak di bangku Sekolah Menengah Atas, namun sifat mereka selalu hangat jika dirumah tapi berbeda 100 bahkan 1000% jika diluar rumah mereka. Kecuali si bontot.
Sifat dingin, kejam, dan tak tersentuh dominan dengan dua anak laki-laki tampan yang bernama "Azlan Delbert Abhivandya" dan "Erland Drake Abhivandya"
Sedangkan bertolak belakang dengan sifat kedua kembarannya, "Edrea Dwyne Abhivandya" justru memiliki sifat yang bar-bar, centil dan cerewet. Apa yang ia mau harus bisa ia miliki termasuk dengan seorang laki-laki yang ia incar. Dengan halangan apapun ia akan berusaha untuk mendapatkan hati orang tersebut. Tapi di balik sifatnya yang terlalu feminim, didalam dirinya mengalir darah seorang Aiden William Abhivandya yang artinya ia juga bisa lebih kejam dibanding dengan kedua saudara kembarnya di saat ia merasa nyawanya akan terancam.
Welcome to story penuh dengan misteri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Erlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 30
Azlan kini baru keluar dari salah satu toko buku di kota tersebut. Ia menghela nafas saat mengetahui cuaca diluar sekarang tengah tak bersahabat. Hujan deras di sertai angin kencang dan sesekali kilatan petir terdengar.
Namun dengan langkah malas dan berlari cepat ia menghampiri mobilnya yang terparkir tak jauh dari depan toko buku tersebut. Saat sudah berada di dalam mobil, ia mengacak rambutnya yang sedikit basah. Setelah itu ia menjalankan mobilnya membelah cuaca ekstrem itu.
Ia terus fokus dengan jalan di depannya yang jarak pandangnya sangat minim. Hingga matanya tak sengaja menatap seseorang yang tengah meneduh di salah satu halte yang berada tak jauh dari dirinya saat ini. Ia pun mengerutkan keningnya dan menatap lebih tajam lagi kearah orang tersebut. Sepertinya ia kenal dengan motor yang berada di depan orang tersebut.
Dengan perlahan Azlan meminggirkan mobilnya tak jauh dari orang tersebut. Ia kini bisa melihat dengan jelas motor itu yang tak lain adalah motor milik Zea dan kemungkinan orang yang masih samar di pandangannya itu adalah Zea.
Azlan kini mengambil payung yang berada di kursi belakang mobilnya yang selalu ia bawa walaupun ia berpergian pakai mobil. Setelah itu ia segera keluar dari mobil tersebut dengan menggunakan payung untuk melindungi dirinya dari derasnya hujan saat ini.
Zea yang dari tadi hanya terdiam sembari memeluk tubuhnya sendiri pun terkaget saat ada sebuah jaket terpasang di tubuhnya. Ia kini mengalihkan pandangannya ke orang yang sudah memasangkan jaket tersebut dan ia membelalakkan matanya saat tau jika orang tersebut adalah Azlan.
"Gak usah dilepas. Gue tau lo kedinginan," tutur Azlan menghentikan Zea yang tadinya berniat untuk melepaskan jaket milik Azlan itu.
Zea pun kini membenarkan lagi jaket tersebut.
"Lo gak bawa jas hujan?" tanya Azlan sembari melihat tubuh Zea yang sudah basah kuyup. Zea pun menggelengkan kepalanya.
Azlan berdecak setelah itu ia meraih tangan Zea. Zea terpaku dan menatap Azlan seakan-akan ia bertanya apa yang akan Azlan lakukan kepada dirinya.
"Jangan berfikir negatif tentang gue. Mulut lo tinggal diam aja," ucap Azlan setelah itu ia membawa tubuh Zea di bawah payung yang sama dengannya dan tanpa Zea duga, Azlan merangkul dirinya dengan satu tangan untuk melindungi Zea dari air hujan.
Zea menatap sesaat tangan Azlan yang menempel pada lengannya namun setelahnya ia mengalihkan pandangannya ke arah wajah Azlan yang jika semakin ia lihat akan semakin tampan saja.
Azlan tak mengetahui jika dirinya tengah ditatap intens oleh Zea. Ia terus berjalan hingga berada disamping mobilnya. Setelah itu ia melepaskan tangannya tadi dan segera membuka pintu untuk Zea.
"Masuk!" perintah Azlan. Zea mengerjabkan matanya.
"Jangan bawel dulu," cegah Azlan saat Zea sudah siap protes dengannya.
"Buruan masuk!" Zea akhirnya menuruti ucapan dari Azlan tadi dan ia segera masuk ke dalam mobil tersebut. Kini Azlan memutari mobilnya untuk menuju pintu di samping kemudi.
Saat dirinya sudah berada di dalam mobil, ia melirik sekilas kearah Zea yang menggigil kedinginan dengan bibir yang sudah pucat pasi.
"Motor gue gimana?" tanya Zea yang masih saja memikirkan motor kesayangannya itu.
"Nanti ada orang yang akan nganterin motor lo itu ke rumah lo," jawab Azlan sembari meraih paper bag yang berada di kursi belakang. Setelah mendapatkannya ia segera mengeluarkan isi paper bag tersebut yang ternyata adalah sebuah hoodie miliknya yang juga sengaja ia bawa untuk berjaga ketika ia lupa tidak memakai jaket lainnya dari rumah. Karena menurut Azlan kemana pun dia pergi, ia harus memakai yang namanya jaket, hoodie dan sebagainya yang sama jenisnya.
Ia pun kini menyerahkan hoodie hitamnya kearah Zea yang langsung di terima oleh Zea tapi dengan tatapan bingung.
"Lo ganti baju basah lo sama hoodie itu," tutur Azlan yang seakan-akan tau maksud kebingungan dari Zea.
"Hah? ganti baju? Dimana?" tanyanya.
"Serah lo mau dimana aja," tutur Azlan yang tak melihat wajah Zea.
"Ya udah deh kita nanti mampir di SPBU aja buat ganti baju," ucap Zea.
"SPBU masih lama," tutur Azlan yang memang benar adanya.
"Lha terus dimana dong? masak iya disini sih."
"Kalau lo mau ganti diluar juga gak papa."
"Tapi diluar masih hujan Az dan kalau gak hujan pun gue juga gak bakal ngelakuin itu yang ada tar dilihatin banyak orang lagi," ucap Zea.
"Ck, ya udah sih ganti di sini aja. Repot banget." Zea kini memelototkan matanya saat mendengar ucapan sarkas dari Azlan tadi.
"Gila ya lo nyuruh gue ganti baju di dalam mobil sedangkan lo juga ada di mobil yang sama dengan gue," tutur Zea dengan mengarahkan kedua tangannya untuk menutup bagian depan tubuhnya.
"Ck, emang kenapa sih? apa masalahnya coba?"
"Ya masalah banget lah buat gue. Kalau tar gue pas ganti baju terus lo khilaf gimana coba," jawab Zea.
"Ck, pikiran lo kotor banget. Udah lah sana ganti baju di belakang. Gue gak ngintip lo tenang aja," tutur Azlan.
"Gak usah lah. Gue gak percaya sama lo," ucap Zea sembari melempar hoodie tadi kearah Azlan.
Azlan yang sudah mulai geram pun menatap tajam kearah Zea.
"Gue bilang ganti ya ganti, Zea!!! Kalau lo gak mau ganti sendiri, biar gue yang gantiin lo," tutur Azlan yang melemparkan kembali hoodie tadi ke arah Zea.
"Enak aja. Oke-oke gue ganti sendiri tapi awas kalau lo ngintipin gue. Gue sumpahin mata lo bintitan sebesar bola basket sampai satu tahun gak sembuh-sembuh," ucap Zea sembari melangkahkan kakinya menuju kursi belakang mobil.
Azlan tak menggubris ucapan dari Zea tadi ia memilih untuk diam dan mengalihkan pandangannya keluar kaca mobilnya.
"Awas jangan lihat," tutur Zea sembari bersembunyi di balik kursi Azlan dan membuka satu persatu kancing baju seragamnya.
"Azlan jangan ngintip," peringatan dari Zea lagi.
"Lo bawel banget. Gue ngadep keluar kaca ini, gak ngadep depan, sampaing apalagi belakangan. Kalau sekali lagi lo masih bawel gue pastiin saat itu juga gue nengok ke arah lo," geram Azlan.
Zea pun dengan cepat langsung mengganti bajunya dengan hoodie Azlan yang kebesaran untuk ukuran tubuhnya.
"Azlan," panggil Zea yang sudah mengganti bajunya sembari memunculkan kepalanya kesamping kursi Azlan. Azlan yang merasa dirinya dipanggil pun segera memalingkan wajahnya kesamping yang membuat hidung mancung Azlan menyentuh hidung Zea.
Keduanya sempat membeku dengan tatapan mata mereka yang saling beradu, namun sesaat setelahnya Zea langsung memundurkan kepalanya.
"Apa?" tanya Azlan yang sudah berubah menjadi seperti biasanya.
"It---itu hmmm lo punya paper bag lagi gak, buat taruh baju gue. Kalau gue masukin ini baju ke tas gue tar buku-buku yang didalam ikut basah lagi," jawab Zea.
"Ambil paper bag yang tadi buat naruh hoodie gue. Baju lo masukin kesana," ucap Azlan. Zea pun mengangguk dan segera mencari keberadaan paper bag tadi dan setelah menemukannya ia langsung memasukkan baju basahnya kedalam paper bag tadi.
Setelah semuanya selesai ia segera berpindah tempat lagi ke kursi depan.
Azlan yang melihat Zea mengenakan hoodienya itu tersenyum tipis. Entah gemas dengan Zea atau ia merasa lucu saja saat tubuh Zea tenggelam di hoodie tersebut.
...*****...
Yuk 200 like sebelum jam 5 sore bisa gak 🤭
Stay safe, stay healthy and stay with me 🤭 SEE YOU NEXT EPS BYE 👋