Pertemuan tidak sengaja antara Nefertiti dan Akmal di dalam kereta api memberikan kesan yang mendalam bagi keduanya.
Nefertiti yang biasa dipanggil Titi ternyata menjadi salah satu pengajar di kampus tempat Akmal menimba ilmu.
Akmal yang biasanya dingin kepada lawan jenisnya, tetapi ketika berhadapan dengan Titi menjadi berubah. Akmal tertarik kepada Bu Dosen Titi sejak pertemuan pertama.
Apakah pantas seorang mahasiswa menginginkan Dosennya?
Apakah ada larangan hubungan asmara antara mahasiswa dan Dosennya?
Mungkinkah seorang mahasiswa bisa menjadi suami Dosennya sendiri?
Bagaimana kelanjutannya.
Ikuti ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofia Hanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Yang Harus Dibayar
Titi segera masuk ke kamar dan menjawab pertanyaan Mbah Uti dengan tersenyum saja. Kadang senyum kita bisa menjawab tanpa harus diungkapkan. Tetapi tidak bisa digeneralisir setiap persoalan ya.
Tadi malam Titi langsung tidur dengan melewatkan makan malam. Badan terasa capek ditambah dalam keadaan tidak salat, sempurna membuat rasa malas tumbuh subur.
Keesokan harinya Titi terbangun dengan kaki yang sulit digerakkan, tetapi tuntutan alam perut yang lapar membuat dirinya bergegas menuju ke dapur. Di dapur sudah ada Mbak Pur yang sibuk dengan kegiatan rutin paginya.
"Mbak Pur sedang apa?" tanya Titi.
"Eh....Mbak Titi bikin orang jantungan saja," pekik Mbak Pur. Untungnya Mbak Pur tidak latah. Tidak terbayang nanti bisa mengabsen nama-nama teman yang ada di kebun binatang, bisa jadi drama menggelikan tentunya.
"Hehehe...maaf Mbak Pur," jawab Titi sambil tersenyum nyengir.
Titi duduk di kursi makan dengan langkah kaki yang terseok-seok. Pemandangan itu tentu tidak luput dari pantauan Mbak Pur.
"Mbak Titi kenapa? Mengapa jalannya seperti itu?" tanya Mbak Pur dengan pandangan menyelidik.
"Ih...Mbak Pur biasa saja nada suaranya, jangan nanyanya seperti penyiar infotainment," jawab Titi dengan tersenyum. Mbak Pur ini gaul juga ternyata.
"Mbak Titi ini, tidak boleh lihat orang sedang gibah begitu," jawab Mbak Pur dengan nada suara seperti biasa.
"Hehehe... habisnya Mbak Pur gitu, ke po gitu!" ucap Titi yang mau tidak mau jadi terbahak juga.
"Apa itu ke po Mbak? Makanan apa itu?" tanya Mbak Pur ingin tahu rupanya.
"Itu lho Mbak... kue atau jajanan yang sering dijual di pasar. Biasanya berwarna hijau ada kelapa parut di atasnya. Di dalamnya ada gula merahnya. Gini nih kalau dimakan," ucap Titi sambil memperagakan orang sedang makan dengan ekspresi muka yang puas karena makanannya enak.
"E....lha dalah....itu namanya klepon. Mbak Titi ini bisa saja bercanda. Aku pikir orangnya sangat serius, karena temannya buku terus," jawab Mbak Pur.
"Hehehe...Mbak Pur ternyata begini," jawab Titi sambil mengacungkan kedua jempolnya. Sudah ya pembahasan tentang kue itu, jangan ditanya lagi apakah itu Islami atau tidak? Kasusnya sudah ditutup.
"Mbak, Titi lapar banget Mbak. Ada makanan Mbak?" tanya Titi dengan muka memelas.
"Oalah....Mbak Titi kencot tho ternyata?" Mbak Pur balik bertanya.
"Lapar banget Mbak...." jawabnya masih dengan mode memelas.
"Iya...lapar itu bahasanya kencot Mbak," jawab Mbak Pur.
"Oo..ooo..." Titi mengangguk sambil mengingat-ingat biar tidak tanya lagi kalau mendengar istilah itu.
"Tadi malam Mbak Titi tidak makan ya? Pantesan lapar. Mbak Titi tetap duduk di situ saja, Aku ambilkan makannya." Mbak Pur jadi sibuk mengambilkan makan. Tadi malam masih ada sayur opor dan sambal goreng.
"Terima kasih Mbak Pur. Kapan-kapan kita jalan yuk Mbak?" ucap Titi ingin menyenangkan hati Mbak Pur. Mbak Pur sudah baik kepada Titi, ya walaupun itu tugasnya, tetapi Titi ingin berusaha membalas kebaikan orang lain.
"Mbak Titi tidak jalan-jalan sama temannya saja. Saya sudah tua Mbak. Nanti bikin malu Mbak Titi," jawab Mbak Pur sambil tersenyum masam.
"Ah... siapa bilang Mbak Pur sudah tua. Mbak Pur masih muda kok. Tua itu kalau sudah 80 tahun. Ini buktinya Mbak Pur masih sanggup beraktivitas dan kerjanya lumayan berat juga kan?" jawab Titi dengan nada seperti menghibur Mbak Pur.
"Mbak Titi bisa saja. Pintar banget menyenangkan hati orang tua seperti saya ini," jawab Mbak Pur sambil meletakkan sepiring nasi yang lengkap dengan lauknya.
"Mbak Titi ingin saya buatkan teh hangat?"
"Tidak usah Mbak. Air putih saja."
Sesudah membaca doa, Titi makan dengan lahap. Perutnya memang sangat lapar. Sepiring nasi tandas dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
"Alhamdulillah....kenyang Mbak," ucap Titi.
"Ya, Mbak Titi memang begitu. Penyakit orang kalau sudah makan." ujar Mbak Pur.
"Penyakit apa Mbak? Baru tahu ada penyakit sesudah makan?" tanya Titi.
"Ya ...Mbak Titi ini, penyakit orang kalau sudah makan ya kenyang Mbak," jawab Mbak Pur dengan tertawa.
"Hahaha....Mbak Pur bisa saja," ucap Titi.
"Mbak Pur, ada atau tidak ya Mbak, tukang pijat yang bisa dipanggil ke rumah. Ini kaki Titi sakit banget Mbak. Digunakan berjalan susah dan lumayan nyeri," kata Titi.
"Ada Mbak... banyak juga. Di dekat patung ikan ada tukang pijat tuna netra Mbak. Biasanya juga dipanggil ke rumah, ada juga yang datang ke rumah orangnya. Ada juga tetangga saya Mbak. Orangnya seusai saya. Perempuan juga, teman saya Mbak," jawab Mbak Pur.
"Boleh itu Mbak... yang tetangganya Mbak Pur saja kalau begitu. Ditelpon atau gimana Mbak?"
"Nanti sesudah Mbah Uti sarapan, Mbak Pur jemput saja ya Mbak Titi," ucap Mbak Pur.
"Oke Mbak Pur. Mbak Pur memang bisa diandalkan. O iya Mbak Pur, jangan bilang Mbah Uti ya, kalau ditanya bilang saja kalau capek habis kerja. Gitu ya Mbak?" pesan Titi kepada Mbak Pur.
"Ya Mbak. Untungnya Mbak Titi tidak ngode hari ini," ucap Mbak Pur.
"Apalagi itu Mbak?"
"Ngode itu kerja Mbak. Mbak Titi hari ini libur kan? Hari Minggu?" ucap Mbak Pur.
"O iya Mbak. Betul. Titi ke atas dulu ya Mbak. Titi tunggu di kamar saja. Nanti kalau Mbah Uti tanya, bilang Titi sudah sarapan dan ingin istirahat di kamar ya Mbak?"
"Iya Mbak Titi. Siap," ucap Mbak Pur.
"Terima kasih Mbak Pur."
Setelah pamit kepada Mbak Pur, Titi segera naik tangga menuju lantai atas di kamarnya. Kakinya masih linu. Dengan sedikit menyeret kakinya, Titi berusaha supaya kakinya bisa diajak kompromi. Ini harga yang harus dibayarnya? Bersepeda kemarin karena belum terbiasa membuat kakinya seperti mau patah saja. Kemarin belum terasa, kalah dengan suasana senang menyaksikan panorama yang memanjakan mata. Sekarang baru terasa sakitnya. Titi tidak boleh putus asa dan kapok. Anggap saja ini latihan pertama kali, kalau sudah terbiasa pasti kakinya akan beradaptasi sehingga tidak nyeri seperti ini.
Titi rebahan sambil membaca buku tentang sejarah Islam. Diletakkan kepalanya sambil bersandar di tempat tidur. Kakinya diluruskan biar peredaran darahnya lancar. Masih nyeri dan sakit banget ketika digunakan bergerak.
Sekitar pukul 10.00 WIB tukang pijat yang dipanggil Mbak Pur datang. Tukang pijat itu masih kelihatan muda dan energik. Terbiasa olahraga dan mengeluarkan tenaga untuk memijat bisa jadi salah satu faktor dirinya masih terlihat muda.
Setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk. Tukang pijat itu duduk di kursi belajar dalam kamar Titi. Mbak Pur pamit ke dapur dan membawakan minum serta camilan.
"Neng, bajunya dibuka saja ya!" perintah tukang pijat itu.
"Buka baju Buk?" ulang Titi seperti burung beo. Titi masih bengong. Masa iya harus buka baju segala. Dirinya belum pernah telanjang di depan orang lain. Kalau waktu kecil tentu perkecualian.
"Iya neng, buka baju. Pakai dalaman saja!" usulnya.
"Tetapi, Titi malu Buk. Yang sakit kakinya, bukan badannya," tawar Titi.
"Iya neng biar sekalian reparasi bodinya," jawabnya.
Titi seketika tertawa terbahak-bahak. Nenek-nenek jaman sekarang ternyata gaul. Korban sinetron rupanya. Hahaha.
Titi akhirnya membuka bajunya dan hanya memakai dalaman saja. Seumur-umur baru kali ini pijat, ternyata harus dalam keadaan setengah telanjang. Entahlah..akan ada lain kali atau cukup satu kali ini saja.
"Kenalkan nama saya Sumi neng," ucap Ibu tukang pijat sebelum memulai prakteknya. Sebagai mukadimah biar Titi agak santai mungkin.
"Iya Buk Sumi. Aaa ....aaa....aaa...aduh....," jerit Titi.
"Tahan Neng, pasti sakit, ini kakinya sampai mrengkel begini. Otot-ototnya kaku neng. Kalau tidak segera ditangani bisa tambah parah Neng," ucapnya sambil mengoleskan minyak. Entah minyak apa yang dipakai, tetapi cukup familiar di hidung.
"Pelan-pelan Buk Sumi, sakit banget ini," ucap Titi sambil meringis. Sakit banget ternyata. Harga mahal yang harus Titi bayar.
"Iya Neng, ini sudah pelan-pelan. Dipakai tidur saja Neng, biar tidak terasa sakitnya," ucap Buk Sumi. Beliau sudah terbiasa menangani pasien seperti Titi rupanya, jadinya santai saja.
"Boro-boro bisa tidur, ini rasanya mau patah semuanya," gumam Titi dalam hati sambil terus meringis menahan sakit. Sepertinya air matanya ikutan turun sebagai bentuk setia kawan terhadap anggota tubuh lainnya yang merasakan sakit.
Hampir satu jam lebih sesi memijat ini berakhir. Semula memang sakit banget. Tetapi lama-kelamaan jadi enak. Badan terasa enteng. Titi menggerakkan kakinya. Sudah tidak sakit lagi seperti tadi.
"Terima kasih Buk Sumi," kata Titi sambil menyerahkan amplop yang berisi uang sebagai balas jasa kepada Bu Sumi.
Iya... tidak semua orang mempunyai keahlian memijat, jadi kita harus menghargai jasa mereka. Pekerjaan apapun kalau ditekuni, tentu akan menghasilkan.
Buk Sumi pamit. Titi tidak mengantar sampai bawah. Badannya masih lemas sehabis pijat tadi. Titi segera memakai bajunya kembali, tetapi lengket semuanya. Tadi pesan Bu Sumi supaya tidak langsung mandi, menunggu beberapa saat lagi. Tetapi kok baunya aneh. Seperti bau...
Bau apa ayo?
Bagaimana kelanjutannya??
Ikuti terus ceritanya..
Minta tolong kepada pembaca agar setelah selesai membaca, mohon berkenan untuk menekan tombol like dan memberikan komentar dll. Terima kasih semuanya.
Tetap jaga kesehatan. Selamat hari libur.
..
kacau euy, sd aku udah tutup hahaha
sampai materi tes detail gitu. sering nya kalau cerita tes, pokoknya ikut tes lalu tahu-tahu lulus. di sini sampai isi paparan dan durasi presentasi juga dibahas.
keren.