Satu malam yang dia habiskan bersama seorang pria yang baru dikenalnya setelah dia memergoki tunangannya berselingkuh.
Setelah kejadian itu, dia mempunyai dua anak kembar yang lucu bernama Langit dan Bulan. Bertahun tahun hidupnya tenang dan bahagia bersama anak anaknya hingga datanglah Zen Abraham Malik ayah biologis dari si kembar.
Lovely sangat takut jika rahasia yang dia pendam diketahui oleh CEO atau bosnya sendiri Zen. Zen yang tahu pasti akan mengambil anak dari tangannya. Apa yang tidak bisa dilakukan dengan kekuasaan dan uang ditangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Hutabarat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29 Jika sesuatu hilang
Lima belas menit sebelum waktu pulang, Lovely sudah bersiap keluar dari ruangannya. Roy yang duduk disampingnya melirik pada bawahannya itu.
"Masih lima belas menit lagi Love."
"Jika berkenan pecat saya saja Pak, dengan senang hati saya akan menerimanya." Lovely langsung keluar dari meja kerjanya dan pergi menuju lift. Roy segera menelfon Zen perihal kepulangan Lovely yang lebih cepat.
"Mister Zen you're women has come home first."
"Shits..." terdengar umpatan dari bunyi telephon sebelah. Dua detik kemudian pintu ruangan Zen dibuka dengan kasar dan lelaki itu berlari menuju ke arah lift. Lift hendak tertutup rapat tapi sebuah tangan menghentikannya. Lovely yang tahu bahwa itu adalah tangan Zen segera munuju pojok lift. Dadanya sudah berdetak tidak karuan.
Mata Zen terlihat lebih gelap dari biasanya. Zen menatap Lovely dengan tatapan membunuh.
"Bisakah kau tak membantahku."
Lovely hendak keluar dari lift tapi Zen malah mengungkungnya. Melawan pun percuma pintu lift sudah tertutup rapat. Lovely terdiam ditempatnya dan menundukkan kepalanya, alarm bunyi tanda siaga telah berbunyi di kepalanya.
Nafas Zen menerpa wajah Lovely. "Love bisakah kali ini berbicara dengan nyaman."
kata Zen dengan nada lembut. Waktu telah berlalu tapi Lovely masih saja terdiam tidak menjawabnya. Zen mulai melepas kungkungannya dan membalikkan badannya merapikan kembali pakaiannya.
Pintu lift mulai terbuka Zen langsung menggenggam tangan Lovely erat dan menariknya keluar dari lift. Semua mata memandang ke arah mereka. Bisik bisik mulai terdengar. Zen menariknya hingga masuk ke dalam mobil. Zen segera menutupnya, dan dia berlari masuk ke kursi kemudi. Lovely yang akan keluar langsung ditarik lagi oleh Zen. Dan pintu mobil segera dikunci kembali. Mobil segera keluar dari parkiran dan melewati pelataran, Lovely melihat Rudy yang telah menunggunya di lobby. Tatapan mata mereka bertemu. Nampak Rudy yang terlihat kesal.
Zen yang melihat Lovely yang memandang Rudy hingga tidak terlihat mulai mengepalkan tangannya. Ada rasa tidak terima jika wanitanya memikirkan pria lain disaat berada bersamanya.
"Kau akan membawaku kemana?" Zen masih terdiam, dia juga tidak tahu tempat yang tepat untuk menyelesaikan urusannya kali ini. Mungkin juga ada sedikit pertengkaran, jadi dia ingin tempat yang privasi tidak mungkin di tempat umum. Perjalanan hampir memakan waktu yang lama. Kini mereka memasuki sebuah rumah di kawasan elit.
Seorang pelayan datang untuk menyambut kedatangan tuannya. Zen segera keluar dari mobil. Sambil berjalan ke arah pintu Lovely Zen memerintahkan pegawainya untuk mengosongkan rumah ini segera.
"Kalian pergilah ke rumah belakang dan jangan ada yang berani untuk menghubungi orang tuaku. Jika tidak kalian akan tahu akibatnya. Dan kunci pintu gerbang, jangan biarkan orang masuk dan keluar dari tempat ini. "
Zen segera menarik tangan Lovely dan memasuki rumah itu. Sesampainya di ruang tengah baru Zen melepaskannya.
"Buatkan aku coffee seperti biasanya."
"Kau minta saja pada pelayanmu, jam kantor telah usai kau tidak bisa memerintah diriku seenaknya."
"Aku mohon Love, kau telah membuat kepalku pening dari tadi."
"Dimana dapurnya?"
"Di situ, " tunjuk Zen.
Setelah beberapa menit Lovely masuk kembali dengan dua cangkir kopi panas. Harum bau kopi segera memenuhi ruangan. Zen yang duduk menumpu pahanya diatas paha satunya terlihat elegan dan rupawan, tangan satunya bersandar pada sandaran kursi hingga kesan maskulin terpampang nyata.
"Ini kopimu..." Zen mengambil kopi dan menyesapnya. Melebur kepeningan di kepalanya saat ini. Zen memberi tanda kepada Lovely untuk duduk di sampingnya. Lovely lalu duduk di kursi yang sama hanya menjauhkan tubuhnya dari Zen.
"Love... apa hubunganmu dengan Rudy."
"Kukira kita tidak akan mencampuri urusan pribadi masing masing,"
"Love..."
"Aku tidak pernah bertanya padamu tentang hubunganmu dengan wanita manapun dan aku harap kaupun melakukan itu juga padaku. Bukankah dari awal sudah kukatakan lupakan hubungan kita malam itu. Kau malah mendekat dan masih saja melakukan sekehendak hatimu sendiri tanpa memikirkan perasaanku."
"Perasaanmu... aku merasakan bahwa kaupun menyambutnya..." kata Zen enteng. Lovely membulatkan mulutnya. "Kau..."
"Katakan saja kau juga menikmati sentuhanku Love, kau juga merindukanku."
"Tidak...."
"Apa aku perlu membuktikannya lagi." kata Zen menarik tubuh Lovely mendekat.
"Pak Zen aku ingin pulang,"
"Tidak kita belum menyelesaikan urusan kita."
"Urusan apalagi... bukankah kau sudah bertunangan aku tidak keberatan... jika aku bertunangan dengan Rudypun tidak jadi masalah kan?"
"Aku tidak menyukainya itu sangat menggangguku..."
"Kau lucu... aku juga punya kehidupan sendiri kaupun juga. Rudy selama ini sangat baik padaku, dia juga yang menjaga anak anak kita selama ini. Kau harus berterimakasih padanya."
"Apa kau menyukainya?"
"Aku menyukainya sebagai sahabat baikku... tapi soal rasa aku juga belum tahu... aku nyaman bersamanya dan juga anak anak."
"Bagaimana kalau dengan ku..."
"Karaktermu itu terlalu dominan aku tak menyukainya..."
"Kau keterlaluan..."
"Bukankah kau sendiri punya seorang tunangan Pak Zen."
"Yah... aku tidak akan menutupinya darimu... Namanya Julie dia baru pulang dari London, dia sedang menyelesaikan studynya disana."
"Apakah kau memberitahu tentang Kembar?"
"Belum...aku belum memberitahunya. Aku saja masih bingung dengan hatiku sendiri."
"Kau harus memberitahukan semuanya pada tunanganmu..."
"Love... jika aku memilihmu apa kau bersedia meninggalkan Rudy?"
"Jangan kau lakukan itu, akan banyak hati yang tersakiti."
"Ini juga demi kebaikan Kembar."
"Apa kau berfikir atas egomu sendiri. Pernikahan tanpa cinta akan rentan dengan perpisahan. Okeylah jika kita akhirnya menikah demi kembar, tapi jika suatu saat kau atau aku menemukan cinta pada orang ketiga apakah itu tidak lebih melukai kembar? Akhirnya hanya ada pertengkaran dan perpisahan. Aku tidak ingin memberikan masa depan seperti itu kepada kembar."
"Jika kita saling mencintai..."
"Itu juga tidak akan mudah, aku belum tentu diterima baik dikeluargamu. Kita harus melihat semua kenyataan Zen. Ibu dan ayahku menikah karena perjodohan, tiba tiba ayah membawa seorang wanita dan anaknya, ibu dan ayah lalu bertengkar hebat hingga kami diusir dari rumah kami sendiri. Cinta ibu pada ayah tidak berharga lagi ketika ada cinta ketiga. Dan buruknya aku yang masih kecilpun ikut menjadi korban keegoisan orang tua. Prinsipku aku lebih baik dicintai dari pada mencintai... aku tidak ingin bernasib sama seperti ibuku."
"Makanya kau memilih Rudy...."
"Ya... kita harus menjalankan segala sesuatu dengan realita yang ada bukan hanya mimpi semata."
"Bukankah indah bila kita bersama Love, aku menyukai kebersamaan kita dan anak anak."
"Itu egomu Zen... kau hanya baru merasakannya berbeda jika kau sudah bosan dan melihat pada yang lain. Kau sudah bertunangan tapi berbuat lebih padaku. Aku jadi bertanya sendiri kau itu tipe pria brengsek atau kau tidak mencintai tunanganmu sendiri, karena aku yakin jika kau mencintai seseorang kau tidak akan bisa menyentuh orang lain selain orang yang kau cintai."
"Sepertinya aku tipe lelaki brengsek Love, taoi aku tidak pernah menyentuh wanita manapun selain dirimu... apakah kau juga Love..." kata Zen serak dan menatap mata Lovely.
Lovely langsung memalingkan wajahnya, pertanyaan itu kini malah berbalik padanya.
"Aku juga tak pernah membiarkan orang lain menyentuhku, hanya dirimu yang telah mengobrak abrik diriku" tubuh Lovely mulai menegang, wajah Zen mendekatinya dan mencium bibirnya lembut...Love ikut terbuai perasaannya dan membalas ciuman itu. Entah mulai kapan... tapi tangan Zen sudah memasuki dadanya dan bermain disana hingga timbullah desahan desahan yang terucap dari bibir Lovely ketika bibir Zen mulai turun mengecap leher jenjang Lovely.
"Zen... ini salah... akh...."
"Katakan... kau tidak merindukan ini Love... aku sangat merindukannya. Hanya... kau satu satunya yang bisa membuat tubuhku bergetar bila bersamamu..." kata Zen sambil menghentikan aksinya dan menatap wajah Lovely yang mulai terbakar rasa. Zen kembali menciumi wajah Lovely mengecup mata pipi hidung dan bibir itu...
"Ini... milikku... hanya milikku... ini juga... ini juga... ini juga..." teriak Zen sambil menciumi seluruh tubuh Lovely...
"Aku tidak akan membiarkan seseorang mengambilnya dariku..." Sejenak mereka melepaskan hasrat mereka bergumul dalam peraduan rindu yang terpendam, entah itu cinta atau hanya karena hasrat semata. Hingga ketika Zen mulai menyentuh inti tubuh Lovely, wanita itu mulai tersadar. Dia langsung mendorong tubuh Zen yang sedang bergairah.
"Zen... ini salah... tidak.... jangan lakukan ini padaku lagi... aku tidak mau berbuat dosa yang sama." Lovely langsung mengambil kembali bajunya dan memakainya. Zen segera mengumpat kesal, dia pergi ke kamar mandi menuntaskan keinginnannya disana.
ceritanya bagus, keren banget 👍
semoga sukses selalu