"Aku merindukan mu"
itulah ungkapan setiap malam. Kanza Mahendra
saat harus berjauhan dengan Rasyi Syakilla.
Gadis ceria yg berhasil mengambil hati manusia dingin. yg bahkan tak tersentuh. namun kini saat berjauhan hati Kanza selalu merindukan nya.
Setelah melewati banyak perjuangan. hingga kini mereka telah benar benar bersama. membuat Kanza ingin selalu bersama dengan wanita yg saat ini telah memenuhi hati nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiia sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 29
*
Hari yg sudah semakin larut. menyadar kan Kanza untuk segera pulang. namun ada rasa tidak tega melihat Rasyi yg akan sendiri di rumah nya.
"Kau yakin tidak apa-apa kalau aku kembali?"
"i-iya aku akan baik-baik saja" jawab Rasyi dengan senyum
Namun Kanza yg masih enggan meninggalkan nya masih terus menggenggam tangan nya.
"Pulang lah" bujuk Rasyi
"baiklah, kalau gitu aku pulang tapi ingat telpon aku kapan saja saat terjadi sesuatu!!" tegas Kanza
"Apa kau lupa tuan Kanza Mahendra, kalau pelayan mu ini tidak punya nomer kontak anda"
Tampak wajah berpikir Kanza. dengan memandang wajah aneh Rasyi.
"Benarkah??"
"kamu pikir aku berbohong"
"bukan itu maksud ku"
"lalu??"
"bukan nya Edo memberikan mu. kartu nama ku??"
"aku sudah mengembalikan nya."
"Pa aku begitu menyebalkan untuk mu. sampai kau tidak ingin menyimpan kartu nama ku???" dengan wajah sedikit sedih Kanza menggoda Rasyi.
Melihat wajah Kanza. Rasyi salah tingkah karena merasa bersalah dengan berpikir keras Rasyi mengeluarkan ponsel nya. untuk memberikan nya pada Kanza.
"Ini, kalau gitu bagaimana kalau kita mulai lagi dari awal"
ucap nya dengan senyuman nya. yg membuat Kanza tersentuh
"Terus lah tersenyum seperti ini."
ucap Kanza setelah mengetikan nomer nya. dan mengembalikan ponsel Rasyi.
"Apa aku terlihat manis??"canda Rasyi
"tidak, justru wajah mu itu seperti anak kucing mencari ibu nya" jawab Kanza dengan mengacak ngacak rambut Rasyi yg mulai terlihat makin panjang.
"Kau ini menyebalkan sekali"
ketus Rasyi dengan merapikan rambut nya. dengan bibir maju nya. yg membuat Kanza tersenyum melihat nya.
"Kalau gitu. aku kembali dulu kau hati-hati ya" ucap Kanza yg kali ini memegang lembut wajah Rasyi dengan mengusapkan ibu jari nya.
"Tentu, hati-hati di jalan" balas Rasyi
hanya dengan anggukan Kanza. terus berlalu menuju mobil meninggalkan Rasyi. yg masih menunggu kepergian nya.
"Bolehkah aku terus merasa nyaman seperti ini Kanza"
ucap Rasyi dengan memegang dada nya yg berdetak kencang.
Senyum terus terlihat di wajah Kanza. selama perjalanan dalam mobil Kanza terus terbayang wajah Rasyi.
"Apa ini rasanya bahagia??"
"kalau memang iya, terima kasih sudah menemukan ku Rasyi Syakilla" imbuh nya sendiri di dalam mobil.
Damian dan Rani yg baru sampai di kediaman Rani. masih terus duduk di dalam mobil tanpa bicara. Damian yg ingin memohon maaf pada Rani atas permintaan Rasyi mengajak nya makan malam.
Namun bukan memperbaiki hubungan nya dengan Rani. Damian malah terdiam dengan pernyataan Rani pada nya.
"Rann" panggil Damian
"ehm" Rani yg sempat melamun terkejut dengan panggilan Damian.
"Boleh gua tanyak sesuatu sama lo??"
"ngomong aja"
Rani yg hanya menjawab tanpa menoleh ke arah Damian. yg sedang memandang lekat dirinya.
"Sejak kapan lo suka sama gua??"
pertanyaan Damian spontan membuat Rani langsung menatap nya.
"I-itu" gugup Rani sambil meremas remas tangan nya
"Rann, gua bukan lagi introgasi lo. gua disini cuma tanyak sama lo doang" dengan lembut Damian berbicara pada Rani dengan menggenggam tangan nya.
"Apa lo bakal benci sama gua??" tanya Rani yg menunduk
"apa ada alasan gua bisa benci sama lo?"
"bukannya perasaan gua salah ya. karena gua tahu lo suka sama Rasyi. tapi gua tetep suka sama lo gua ngerasa jadi orang jahat banget kan??" ucap nya panjang lebar.
Damian yg hanya mendengarkan Rani bicara. dengan terus menggenggam tangan Rani. membuat nya makin sulit ambil sikap.
"Gua seneng lo bisa jujur sama gua" ucap Damian
"lo enggak marah?"
"kenapa gua mesti marah"
"i-tu"
"Rann, lo dengerin gua. selain Rasyi lo juga termasuk penting bagi gua. meskipun kita sering ribut. tapi kadang kadang gua juga kangen sama sikap konyol lo tau"
Damian yg menunjukan senyum nya. dan membelai lembut kepala Rani. ingin mengurangi rasa gugup Rani yg Damian tahu dari sejak masuk dalam lestoran.
"Kita masih temenan kan??" tanya Rani dengan mata yg mulai berkaca kaca.
"Gua enggak bisa, maaf" ucap Damian dengan terus mengelus kepala Rani.
"Ok, gua ngerti" ucap Rani mulai menjatuhkan air mata nya yg tertahan. Rani yg merasa perasaan nya kacau memilih ingin keluar mobil. namun baru akan membuka pintu mobil.
Damian memeluk erat pundak Rani. menahan nya agar jangan pergi.
"Dam" panggil Rani dengan air mata yg terus membasahi pipi chuby nya.
"Gua enggak nyuruh lo pergi"
"tapi lo bilang kita gak bisa jadi temen lagi"
"iya, tapi lo belum denger sepenuh nya kata kata gua"
Rani mulai berbalik. menatap wajah Damian yg semakin dekat dengan wajah nya. terlihat mata nya yg mulai terlihat sembab karena air mata nya. Damian langsung memegang wajah nya. dan mengusap sisa air mata Rani dengan kedua ibu jari nya.
"Mau lo apa sih,Dam?? tanya Rani yg menatap lekat mata Damian.
"Lo beneran suka sama gua??"
"i-iya"
"boleh gua minta sesuatu??" tanya Damian serius
"apapun"
"menangin hati gua"
"haah"
"gua serius Rann, gua pengen lo menangin hati gua"
"tapi bukannya lo sukanya sama Rasyi"
"gua tahu, tapi gua belum terlambat buat nyerahkan"
Rani yg gak percaya dengan apa yg di dengar nya. kembali meneteskan air mata nya. Rani yg tidak tahu harus bahagia atau bersedih sekarang hanya bisa menangis.
Damian yg makin merasa bersalah langsung menarik Rani dalam pelukan kan.
"Kenapa lo nangis cobak??'
"gak, gua enggak pa-pa"
jawab Rani masih dengan tangisan nya. dalam pelukan Damian.
"Makasih Rann" ucap Damian
"untuk??" Rani yg melepaskan pelukan Damian dan kembali pada duduk nya.
"Karena lo udah mau suka sama orang kek gua"
Rani yg hanya tersenyum melihat ke arah Damian. yg di balas senyuman ramah juga oleh Damian.
"Kalau gitu gua masuk dulu ya" ucap Rani
"iya, selamat malam Rann"
"malam Dam" dengan senyuman Rani keluar dari mobil Damian.
Namun baru akan masuk dalam rumah nya. mobil Damian yg sudah berjalan. kini kembali mundur mendekati Rani.
"Rann" panggil Damian dengan menurun kan kaca mobil nya.
"i-iya"
"besok lo ada acara enggak??"
"besok pagi gua harus ke kantor cabang papa. buat mulaj magang emang kenapa??"
"Ooh, pulang jam berapa??"
"mungkin agak sorean"
"gua jemput ya,"
" emang gak ngerepotin"
"enggak, yaudah besok gua jemput jangan lupa kirim ke gua alamat nya"
"Ta-tapi Dam"
belum sempat Rani selesaikan kata katanya Damian sudah berlalu dengan mobil nya. meninggalkan Rani yg masih berdiri di depan rumah.
"Dasar" keluh nya namun masih ada senyum di wajah nya.
masuk dalam rumah. masih terlihat mama dan papa nya yg masih duduk berdua di ruang tengah menunggu nya.
"Ma, Pa" panggil Rani dengan langsung berhambur ke pelukan mamanya.
"kamu ini, darimana sih kenapa lam sekali pulang nya??"
tanya mama pada Rani.
"maaf, Ma"
"Yasudah, ayo masuk kekamar ini sudah malam" tegas papa Admajda
"siap komandan"ucap Rani lalu berjalan menuju kamar nya.
"Rann" panggil papa
"iya Pa,"
"besok pagi ingat jangan telat"
"siap" dengan senyum ramah nya dan tangan yg memberi hormat. Rani berlari kecil di tangga menuju kamar nya.
"Anak itu" ucap pak Admajda melihat putri nya.
"apa papa gak lihat mata nya??"
"kenapa??Ma"
"Rani seperti abis menangis" ucap mama marsha yg melihat ke arah anak nya berlari tadi.
"Mungkin perasaan Mama saja"
"mungkin Pa"
"yasudah. ayo kita masuk"
Pak Admajda pun menarik lembut tangan istri nya menuju kamar mereka.
Rasyi yg sudah menyegarkan dirinya dari kamar mandi. kini menghempaskan tubuh nya di atas ranjang dengan menatap langit langit kamar nya.
"Ibu, Rasyi kangen" ucap nya sendu
tak terasa air mata nya mengalir. mengingat ibu nya yg tidak ada di sisi nya. apa lagi jika Rasyi teringat ibu nya sedang menanggung pikirin soal hutang nenek nya.
"Ibu pasti kesulitan disana kan. apa lagi ibu sendirian disana" ucapnya
Rasyi pun mengambil ponsel nya. berniat untuk menelpon ibu namun saat sudah menemukan kontak ibu nya. Rasyi ragu untuk menelpon karena melihat jam di dinding menunjukkan sudah tengah malam.
"Ibu pasti sudah tidur"
ucap nya dengan melihat layar ponsel nya. yg menggunakan wallpaper poto nya dengan ibu Sila.
Rasyi yg berniat untuk istirahat. dan ingin meletakkan ponsel nya kembali ke meja. tiba-tiba terhenti karena bunyi dering ponsel nya.
"E-ech" ucap nya melihat siapa yg menghubungi nya
"makhluk astral, dia membuat nama nya dengan ini"
ucap Rasyi dengan menahan senyumnya.
"Iya" ucap Rasyi dengan lembut
"kenapa lama sekali mengangkat nya??"
"maaf,tadi aku lagi di kamar mandi" bohong Rasyi
"kau belum tidur"
"aku tidak bisa tidur" jawab Rasyi lirih
"apa masih memikirkan ibu mu??"
"ehm, aku kangen ibu"
Rasyi yg kini duduk di ranjang dengan memeluk kaki nya. terdengar mulai lirih karena merasa kesepian saat tidak ada ibu nya.
"Rass" panggil Kanza. namun hanya terdengar suara terisak dari sana.
"Rass, kamu kenapa??" tanya Kanza cemas
"aku tidak pa-pa" dengan nada sedih Rasyi coba menjawab
"kenapa kau menangis, apa ini sisi cengeng mu"
Kanza yg berniat menggoda Rasyi.
"Jangan panggil aku begitu" ucap kesal Rasyi
"kenapa??"
"terasa aneh saja saat kau yg memanggil nya. bukan nya biasa nya kau tidak pernah memanggil nama ku dengan ramah seperti ini. biasa nya hanya dengan sebutan bocah''
Kanza yg sedang di balkon. sambil melihat lampu malam ibukota. memasang wajah senyum mendengar kan protes Rasyi dari sebrang telpon nya.
"Apa sudah selesai" tanya Kanza dengan suara paling lembut nya. Rasyi yg merasa nada suara Kanza yg mulai berbeda dari biasa nya. mengukir senyum di wajah cantik nya. dengan detakan dada yg mulai tidak biasa lagi.
"Kenapa diam??"
"ti-tidak"
"ada yg ingin kau ucapkan"
"bukan begitu, hanya saja aku bingung ada berapa jiwa sebenar nya padamu"
"apa ini termasuk pertanyaan"
"tentu saja"
"kalau begitu aku tidak tahu. harus menjawab apa"
"kalau begitu boleh aku ubah pertanyaan nya"
"tentu"
"mana sebenar nya sosok asli seorang Kanza Mahendra??"
Pertanyaan Rasyi langsung membuat Kanza terdiam. dan tidak tahu harus menjawab apa.
"Kau tahu, selama bekerja dengan mu aku sudah melihat berbagai emosi dirimu dengan ekspresi yg berbeda beda. tapi sampai sekarang aku bingung mana sosok asli mu yg sebenar nya" imbuh Rasyi panjang lebar.
"Kalau begitu, terus lah dengan ku agar kau tahu siapa sosok asliku" ucap Kanza.
"Tentu saja, makhluk astral ku" ucap Rasyi yg mulai dengan nada ceria nya.
"Makhluk astral" ucap Kanza
"ehm, karena kau itu memang makhluk astral. yg kadang susah orang menebak nya"
"Apa kau tau, tidak ada yg berani mengganti namaku dengan yg lain selain dirimu"
"Be-benarkah" Rasyi yg mulai gugup
"heii, tenang lah aku tidak marah"
"ehm" ucap Kanza
"Apa kau tidak mengantuk??" tanya Kanza
"belum, seperti nya aku tidak bisa tidur"
"mau aku lakukan sesuatu?"
"apa yg akan kau lakukan??" Rasyi yg mulai panik
"heii, tenang lah bahkan jarak kita terlalu jauh untuk aku melakukan sesuatu" ketus Kanza
"Hahaha, iya iya maaf"
"apa pikiran mu selalu mesum saat memikirkan aku?"
"si-siapa yg memikirkan mu"
"Rasyi, Rasyi kau mungkin bisa membantah ku. tapi kau tidak bisa membohongiku" ucap Kanza dengan menggoda Rasyi
"Apa tuan es balok sekarang. memiliki sikap kepedean yg berlebihan" elak Rasyi
"Baiklah, malam ini aku mengalah tapi tidak dengan lain kali"
"apa kau menelpon ku cuma untuk bertaruh dengan ku??"
"tidak, aku hanya takut kau kesepian"
"kau bisa merasakan nya??"
"ntahlah, aku hanya mengikuti feelling ku saja"
"Ooh, kalau begitu terima kasih" ucap Rasyi tulus
" untuk apa??"
"semuanya"
"baiklah, kalau begitu sebaiknya kau istirahat saja. ini sudah benar benar larut malam"
"Tapi aku tidak bisa tertidur" ucap Rasyi yg merebahkan tubuh nya dengan ponsel yg berada tepat di depan wajah nya.
Namun panggilan berubah langsung menjadi panggilan vidio. Rasyi mengangkat nya. terlihat jelas wajah Kanza yg membiarkan rambut nya sedikit acak acakan dengan memakai baju kaos putih lengan pendek. yg terlihat suasana malam di belakang Kanza.
"Rass" panggil Kanza yg melihat Rasyi seperti melamun.
"Rass, ada apa??" panggil nya lagi
"ech, tidak ada"
"kenapa melamun, apa aku terlalu tampan" goda Kanza
"Tidak, hanya saja penampilan mu berbeda sekali dengan yg biasa ku lihat" ucap Rasyi
"Benarkah" ucap Kanza yg kini berjalan masuk dalam unit nya
"kenapa melakukan panggilan vidio?"
"tidak ada, aku hanya ingin menunjukan sesuatu"
"apa??"
"buat lah posisimu nyaman untuk tidur. aku akan menunjukan sesuatu"
Rasyi pun menuruti kata kata Kanza. tanpa bertanya lagi Kanza yg kini sudah duduk di depan piano yg ada di sudut kamar nya meletakkan ponsel nya tepat di depan nya.
"Dengarkan lah baik baik" ucap Kanza yg hanya di jawab anggukan oleh Rasyi.
Dengan memainkan piano dengan lihai nya. Rasyi sedikit terpesona. dengan irama piano yg Kanza tunjukan.
"Aku tidak tahu ada piano di sana"
seketika Kanza terhenti dan menatap layar ponselnya yg masih ada Rasyi disana.
"Ini sudah lama ada di sudut kamar ku. mungkin karena kau tidak pernah masuk makanya tidak tahu"
"Benar juga, lalu apa kau pernah memainkan nya untuk orang lain??"
"Nada ini aku ciptakan sendiri, untuk seseorang yg dulu belum pernah mendengar nya" terlihat wajah Kanza yg mulai sedih
"Apa dia orang yg sangat special bagimu?"
''ehm, dia dulu bagian dari hidupku"
"lalu, apakah dia Aiden"
spontan pertanyaan Rasyi membuat Kanza terkejut mendengar nya.
"Kau mengenalnya??"
"tidak, aku hanya pernah mendengar mu memanggil nya"
dengan membuang arah terlihat Kanza manaikan sudut bibir nya.
"Ku harap suatu hari kau akan mengenalnya"
"apa dia wanita??"
"tidak dia lakilaki"
"benarkah." jawab Rasyi antusias
"Ada apa dengan mu??"
"tidak"
"dasar bocah" ejek Kanza yg membuat Rasyi kembali memajukan bibir nya.
Dengan mencoba mengabaikan wajah Rasyi. Kanza kembali memainkan piano nya. tanpa melihat ke arah Rasyi yg sudah kesal.
Namun secara perlahan mainan piano Kanza seperti menghipnotis Rasyi. yg membuat nya langsung tertidur dengan Kanza yg masih bisa melihat nya dengan layar ponsel mereka.
"Melihat mu tertidur seperti ini, membuat aku semakin gemas" ucap Kanza yg sudah menghentikan mainan nya mendekat kan layar ponsel nya.
"Selamat malam, bocah nakal ku" ucap Kanza yg membelah wajah Rasyi dari layar ponselnya.
Kanza lalu mematikan panggilan nya. kini menuju ranjang nya untuk istirahat. dengan senyum bahagia yg masih terlihat jelas di wajah nya.
happy reading😊
mampir juga yuk keceritaku
RAIN BUKAN HUJAN
terimakasih