Kehidupan sempurna bak putri kerjaan yang Inez rasakan mendadak berubah total ketika Rara menjalankan misi balas dendamnya. Rasa sakit hati kehilangan Papanya membuat Rara ingin membuat Inez merasakan apa yang Ia rasakan.
Tanpa Inez sadari, Rara selalu memakai topeng. Baik di depan dan busuk di belakang. Satu persatu kebahagiaan yang Inez miliki perlahan hilang, termasuk kesuciannya. Apa lagi yang akan Rara renggut lagi dari Inez?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan Sebenarnya
⚘⚘⚘⚘ Makasih buat semuanya yang udah setia nungguin Up novel ini. Yuks kita lanjutin cerita Inez dan Rara. Jangan lupa vote dan like yang banyak oke? ⚘⚘⚘⚘
Inez menyimak setiap kata dari cerita yang Rio sampaikan padanya. Kisah malam tragedi itu terjadi. Malam yang membuat segala dalam hidupnya jungkir balik.
"Lo serius semua Rara yang rencanain?" tanya Inez untuk yang kesekian kalinya.
"Serius, Nez. Wah lo mah bener-bener gak percayaan sama gue. Nanya berkali-kali kayak lagi makan nasi pake mie instan aja, bawaannya mau nambah terus." Rio sengaja mengajak Inez bercanda agar dapat mencairkan suasana yang terlanjur tegang.
"Gue serius, Yo!" tatap Inez sinis.
"Lah lo pikir gue gak serius? Lo sendiri kan yang inget malam itu lo gigit gue? Tangan berotot kayak gini lo bilang daging ayam? Mana gigitnya gak pake permisi lagi. Nih berbekas nih. Lo liat aja sendiri." ujar Rio kesal.
"Iya sih gue inget sampai pas gigit lo doang. Tapi sisanya gue gak inget. Jadi si Jepri yang udah bikin kissmark di leher gue?" tanya Inez lagi untuk yang kesekian kalinya.
"Jerry, Nez. Bukan Jepri. Kalo Jepri tuh tukang cilok." sahut Rio kesal. Dari tadi Inez nanya melulu seakan gak percaya dengan Rio.
"Kenapa lo mau ngelakuin semuanya?" selidik Inez. Kali ini pertanyaan yang sejak tadi belum Inez tanyakan.
"Nah gitu dong. Nanya yang bener. Gue ngelakuin semuanya karena gue suka sama Rara. Udah itu aja." jawab Rio serius.
"Kalo Rara suruh lo buat lompat dari gedung, bakalan lo lakuin?" tanya Inez seolah tak percaya dengan perkataan Rio.
"Hmmm... kalau dulu sih mungkin, tapi sekarang nggak lagi." jawab Rio dengan yakin.
"Kenapa?"
"Karena gue udah sadar siapa Rara yang sebenarnya."
"Lo yakin semua Rara yang rencanain?" tanya Inez untuk yang kesekian kalinya.
"Yaelah Inez.... Nanya kayak gini udah berapa kali, enggak capek apa? Gue aja capek nih jawabinnya." jawab Rio dengan berapi-api.
"Ya habis gue masih nggak percaya kalau ternyata Rara dalang dibalik semua kekacauan dalam hidup gue." kali ini Inez menjawab dengan meneteskan air matanya. Rupanya akal sehatnya sudah kembali pulih. Sejak tadi karena masih shock jadi Ia hanya memutar-mutar pertanyaan disitu-situ aja.
"Gue masih gak nyangka Yo kalau ternyata Rara itu tega ngelakuin semua ini sama gue." kata Inez lagi sambil menangis dengan terisak.
Merasa Tak Tega dengan kesedihan yang dirasakan oleh Inez, Rio pun mendekat dan menepuk-nepuk pundak Inez. Rio berusaha memberikan dukungan pada Inez yang sangat bersedih karena dikhianati oleh sahabatnya sendiri.
"Sekarang lo pikirin deh dengan pikiran yang lebih terbuka. Dengan pikiran lo yang udah tenang. Pikiran yang netral. Untuk apa Gue ngelakuin itu ke lo? Untuk apa gue jahatin lo? Kita aja nggak saling kenal Nez. Kita baru ketemu sekali hari itu, tujuan gue apa ngejahatin lo? Itu yang membuat gue memberontak dari rencana yang sudah disusun Rara."
"Gue nggak mau jadi orang bodoh yang hanya bisa disetir setiap langkah gue sama Rara. Gue tahu apa yang Rara lakukan salah dan ini masuk ke dalam tindakan kriminal, karena itu gue nggak menuruti semua keinginannya dia. Alasan lainnya adalah ... karena lo nggak seperti yang Rara bilang." kata Rio panjang lebar.
Inez mengelap air matanya. Perkataan Rio terakhir membuat rasa penasaran dalam dirinya untuk bertanya. "Emang apa yang Rara bilang tentang gue?"
Rio menggelengkan kepalanya. "Lebih baik nggak usah. Gue nggak mau lo tambah sakit hati. Udahlah lupain aja. Sekarang yang terpenting tuh lo tahu apa yang terjadi di malam itu. Gue jamin lo masih suci karena Jerry nggak sempat melakukan apa-apa sama lo dan gue nggak akan kok ngejahatin lo kayak gitu." jawab Rio dengan tulus.
"Sejujurnya, Gue tahu kok kalo lo nggak ngapa-ngapain gue. Udah sejak lama tahu." aku Inez.
"Lo tau? Tau dari mana?" tanya Rio masih tidak percaya.
"Gue udah periksa ke dokter. Kejadian malam itu terlalu mencurigakan buat gue. Gue nggak yakin, dari apa yang gue baca di internet dan dari pengakuan beberapa teman gue semuanya tuh berbeda banget sama apa yang gue alamin. Jadi gue beraniin diri buat ngecek dan ternyata hasilnya adalah seperti yang lo bilang, gue masih suci karena kalian belum ngapa-ngapain gue." kata Inez dengan jujur.
"Wah....wah.... Ternyata lo lebih pinter dari yang gue pikir ya Nez? Gila! Pantesan aja lo mau temenan sama gue. Dari awal lo udah tau ternyata. Ah kena prank gue!" oceh Rio panjang lebar.
Tanpa sadar seulas senyum mengembang di wajah Inez. Rio yang kesal membuat Ia tak kuasa menahan tawanya. Mungkin nanti Ia akan ngerjain Rio lagi.
"Ya kan gue perlu bukti gak cuma asal ngoceh meski gue tau faktanya gimana. Setelah gue kenal lo, gue jadi tau gimana sifat asli lo. Dan.... walau sulit gue terima tapi gue tau kalau lo tuh jujur. Kejujuran lo akan siapa Rara buat gue gak percaya dan gak yakin. Tapi gue akan mencari tahu sendiri kenapa Rara sampai tega ngelakuin semuanya ke gue." tekad Inez.
"Jangan, Nez. Lebih baik lo gak usah aja berurusan sama Rara. Gue kenal banget siapa Rara. Dia tuh typikal orang yang akan ngelakuin apa aja demi mendapatkan keinginannya." cegah Rio. Ia tak mau Inez sampai terluka lagi.
"Lo gak usah khawatir sama gue, Yo. Kalau Rara bisa bermuka dua, maka gue juga bisa. Gue bisa ngelakuin apa yang Dia lakuin ke gue. Sakit hati gue lihat Dia tega buat bokap gue kayak sekarang. Padahal bokap gue tuh sayang sama Dia kayak sama anaknya sendiri. Itu yang bikim gue makin sakit hati sama Rara." kata Inez serius.
"Tapi Nez-" Inez memotong pembicaraan Rio sebelum Ia sempat menyelesaikannya.
"Udah jam 5 nih, Yo. Pulang yuk. Udah males kerja gue." Inez bangun dari duduknya. Tanpa menunggu jawaban Rio, Ia pun keluar dari ruangan Rio dan merapihkan tasnya lalu bersiap pulang.
"Huft...." Rio menghela nafas berat. "Bodo amat ah. Yang penting Inez udah tau. Mau Dia bergulat langsung sama Rara juga gue gak ikutan." gumam Rio pelan.
*****
Pagi ini Inez memasang senyum terbaiknya. Ia mengenakan cardigan warna hitam yang diberikan oleh Tante Vio. Cardigan yang sama dengan yang Rara gunakan hari ini, hanya beda warna saja. Rara warna kuning dan dirinya warna hitam.
Inez terlihat amat segar dan cantik. Tak terlihat tanda-tanda Ia habis begadang semalaman karena memikirkan kalau ternyata Rara adalah dalang dibalik kehancuran hidupnya.
Inez menghampiri meja Rara. Senyum manis dan polos Ia pasang menghiasi wajah cantiknya.
"Ra." panggil Inez dengan suara pelan. Kedatangan Inez sudah menarik perhatian rekan seruangan Rara. Mereka saling melirik penuh arti.
Inez sadar begitu dirinya keluar dari ruangan Rara Ia akan menjadi bahan omongan. Inez diam-diam mengamati dan mencari tahu kira-kira siapa yang mengerjainya.
"Kenapa Nez?" tanya Rara heran karena tidak biasanya Inez datang menghampirinya apalagi saat jam kerja ini.
"Ini." Inez menyerahkan sebuah paper bag berisi sarapan pagi yang Mama Olive buatkan untuk Rara.
"Apa ini?" Rara melirik isi paper bag yang Inez bawa.
"Mama aku nitipin buat kamu sarapan." jawab Inez.
"Oh. Wah ngerepotin kamu aja Nez. Makasih ya." balas Rara sambil tersenyum.
"Huh! Sekarang gue tau kalau selama ini senyum lo cuma palsu, Ra." rutuk Inez dalam hati.
"Iya sama-sama. Jangan lupa dimakan ya Ra. Gue ke ruangan dulu ya." Inez balas tersenyum lalu pergi meninggalkan ruangan Rara.
Inez tidak langsung pergi meninggalkan ruangan Rara namun Ia sengaja bersembunyi di belakang tembok untuk mendengarkan apa yang terjadi setelah Ia pergi. Benar saja dugaannya, beberapa orang teman Rara langsung mengerubungi tempat duduk Rara sambil bergosip.
"Eh, Ra. Ngapain tuh cewek kecentilan pake bawain lo sarapan segala?" celetuk seorang cewek yang Inez tidak tahu namanya itu.
Inez menajamkan telinganya. Ia penasaran apa yang akan Rara katakan pada temennya tentang dirinya. Ini menentukan apakah ucapan Rio benar atau tidak.
"Gak tau. Mau baik-baikin gue kali biar bisa berteman dengan kalian semua." jawab Rara dengan santainya.
Deg....Ternyata Rara tega berkata seperti itu tentang Inez.
"Awas nanti lo diracun Ra sama Dia. Dikasih sihir biar lo nurut lagi sama semua perintah Dia lagi." kata teman cewek lain mengompori.
"Iya juga ya. Yaudah deh gue buang aja. Lagian juga cuma sarapan murah. Gue lupa mereka kan sekarang orang susah. Mana ada uang buat beli sarapan mahal." cibir Rara.
Inez mengepalkan tanganya. Kesal mendengar semuanya. Buku jarinya sampai memerah menahan besarnya rasa amarah dalam dadanya.
Dengan kesal Inez pergi meninggalkan ruangan Rara. Ia langsung masuk ke dalam ruangan Rio.
Rio sedang menyisir rambutnya sambil menatapi penampilannya di cermin. Ia kaget karena Inez tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya.
"Loh kenapa Nez?" tanya Rio bingung melihat yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya sambil menangis.
Inez berlari menghampiri Rio dan langsung memeluknya. Rio kaget melihat sikap spontan Inez.
"Hei.... Kenapa?" Rio mengusap lembut rambut Inez dengan penuh kasih sayang.
Bukannya menjawab Inez malah makin menangis di pelukan Rio. Inez seakan mencurahkan segala kekesalan dan kemarahannya dalam setiap air mata yang Ia keluarkan.
Tak mau memaksa Inez bercerita, Rio membiarkan Inez menangis sepuasnya. Tak Ia hiraukan kemejanya yang basah karena air mata Inez. Rio terus saja menepuk punggung Inez. Berusaha memberikan dukungan dalam pelukannya.
Setelah luapan hatinya sudah dikeluarkan lewat tangisan air mata, Inez pun merasa lega. Ia lalu melepaskan pelukannya. Dihapusnya air mata yang masih tersisa.
Rio menangkupkan tangannya ke wajah Inez. Dihapusnya sisa-sisa air mata yang masih tersisa. Wajah cantik Inez tetap sama meski sempat menangis lama.
"Ada apa? Cerita aja kalau ada masalah. Lo tau kan gue selalu ada buat lo?" tanya Rio dengan sabar.
"Maafin gue ya Yo.... Maaf karena udah berkata kejam sama lo. Maaf udah nuduh lo yang jelek. Maaf....." kata Inez penuh penyesalan.
"Ssstt... Gue gak pernah marah kok sama lo. Sekarang cerita ada apa sampai lo nangis kayak gini?" Rio menggandeng tangan Inez dan mengajaknya duduk di sofa. Rio mengambilkan air mineral untuk Inez minum dan memberikannya pada Inez.
"Makasih, Yo. Lo baik banget sama gue. Gue jadi ngerasa banyak berhutang budi sama lo." Inez merasa malu untuk menatap mata Rio secara langsung.
"Udah ah dari tadi minta maaf sama bilang terima kasih terus. Kayak lagi lebaran dan kondangan aja. Kapan ceritanya?" Rio berusaha mencairkan suasana agar Inez rilex untuk menceritakan semuanya.
"Lo bener Yo. Ternyata selama ini Rara yang udah jahatin gue." kata Inez dengan pandangan sedih.
"Lo tau dari mana?" tanya Rio.
"Gue denger langsung tadi. Jujur aja, awalnya gue gak yakin dengan cerita lo kemarin. Gue ngerasa kalau gue harus buktiin sendiri. Jadinya tadi gue sengaja bawain Rara sarapan. Di depan gue sih Rara baik seperti biasa lalu saat gue keluar dan gue sembunyi gue denger kalau Rara malah ngejelekkin gue. Beda banget dengan sikapnya saat di depan gue tadi. Rara bahkan menjelek-jelekkan sarapan yang Mama gue buat dengan sepenuh hatinya. Hiks.... Gue gak nyangka Rara sejahat itu, Yo." Inez tak kuasa menahan air matanya yang mengalir lagi.
Rio mengambil tissue di meja lalu menghapus air mata Inez. "Udah jangan nangis melulu. Lo nangis juga Dia gak akan sadar. Gak ada gunanya juga air mata lo. Hanya sia-sia nangisin cewek kayak Dia."
"Terus gue harus apa? Apa gue harus labrak Dia? Apa gue harus mencaci maki semua yang udah Dia lakuin sama gue?" kata Inez masih berurai air mata.
"Pertanyaan gue cuma satu: Apa yang lo dapet dengan lo ngelakuin semua itu? Coba lo pikirin."
"Maksud lo lebih baik gue diem aja gitu tanpa melakukan sesuatu?" tanya Inez dengan menaikkan sedikit nadanya.
"Tenang dulu Nez. Lo gak bisa gegabah dalam ngelakuin sesuatu. Lo punya bukti apa kalau Rara ngelakuin semua itu sama lo? Kalau lo gak punya bukti, Rara bisa memutar balikkan keadaan. Bisa aja kan lo yang dituduh menyebarkan fitnah? Yang ada lo makin dibully lagi lebih dari kemarin." kata Rio.
Perkataan Rio ada benarnya juga menurut Inez. Kalau Ia salah langkah maka Ia seperti menggali lubang kuburnya sendiri. Ingat, yang Ia hadapi adalah Rara. Cewek cerdas yang bahkan untuk masuk ke B-Company mendapat undangan tanpa harus susah-susah melamar kerja keluar masuk perusahaan seperti Inez.
"Kenapa lo diem aja?" tanya Rio lagi.
"Gue lagi mikirin perkataan lo. Lagi-lagi lo bener, Yo. Gue terlalu gegabah dalam membuat keputusan. Gak seharusnya gue ceroboh ngadepin Rara. Makasih atas saran lo. Gue balik kerja dulu ya. Gue akan pikirin langkah apa yang sebaiknya akan gue ambil." Inez lalu beranjak meninggalkan ruangan Rio.
Rio akhirnya bisa tersenyum lega. Setidaknya sekarang Inez sudah tau siapa musuh yang sebenarnya. Tak perlu lagi Ia memasang topeng. Biarkan Inez VS Rara yang beraksi.
****
Andrew memandangi setumpuk berkas ada di pangkuannya. Jika orang melihatnya mungkin mengira kalau Ia sedang sibuk bekerja, namun kenyataannya tidak demikian.
Pikiran Andrew sedang melayang entah kemana. Jenny sekretaris pribadinya yang duduk di kursi depan sejak tadi diam-diam memperhatikannya. Bosnya tersebut sejak pagi hari hanya diam saja seperti sedang galau. Ia kenal betul sikap bos sekaligus orang yang Ia cintai tersebut. Ia tahu sang bos sedang memikirkan sesuatu bukan fokus pada kerjaannya.
Jenny merasa tidak nyaman sejak tadi bolak-balik melirik. Ia pun memberanikan diri bertanya langsung pada bosnya tersebut. "Maaf, Pak. Ada yang Bapak tidak mengerti dari laporan yang saya buat?" tanya Jenny sekedar berbasa-basi. Ia ingin bosnya tersebut segera tersadar akan lamunannya.
Andrew pun tersadar dari lamunannya tersebut. "Oh, iya. Maksudnya saya udah ngerti semua kok. Laporan kamu nggak ada masalah." jawab Andrew agak tergagap.
"Syukurlah, Pak. Saya pikir laporan saya kurang bagus makanya Bapak sejak tadi memeriksanya terus." kata Jenny berbohong. Ia jelas-jelas tahu kalau Andrew sejak tadi melamun.
"Bagus kok. Saya hanya mau lebih mempelajarinya aja." kata Andrew beralasan.
Jenny kembali menghadap ke depan. Ia sudah tidak ada topik pembicaraan lagi. Setelah Jenny berbalik badan Andrew melanjutkan lagi memeriksa laporan yang Jenny buat. Kali ini beneran periksa ya bukan hanya melamun saja.
Mobil yang ditumpangi Andrew berjalan lambat karena padatnya lalu lintas di jalanan ibukota siang ini. Meeting di B-Company siang ini membuatnya sedikit berharap. Akankah Ia akan bertemu dan bekerja sama dengan Inez lagi?
****
Ayo yang kemarin minta Up mulai gunakan like dan vote novel ini ya. Kita lanjutkeennn... Gasss..... Pollll.... 😘😘😘😘
terima kasih ya kak 😍😍😍😍