NovelToon NovelToon
Musuh Bebuyutan Kok Pacaran?

Musuh Bebuyutan Kok Pacaran?

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Komedi
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Dafa Mahendra itu kapten basket paling keren se-antero sekolah, tapi otaknya suka agak lemot kalau urusan cinta. Niatnya mau nembak Kinar Kirana (kapten basket putri) pakai cara super romantis di koridor yang gelap, Dafa malah salah sasaran! Akibat salah narik tangan karena panik, dia justru menyatakan cinta ke Lilis Nurmala—kapten cheerleader sekaligus musuh bebuyutannya yang super galak dan hobi adu mulut dengannya.

Sialnya, momen salah tembak itu viral! Demi menjaga gengsi dan menghindari hukuman dari guru karena bikin keributan, mereka terpaksa pura-pura pacaran. Di sisi lain, Kinar yang aslinya naksir Dafa mulai panik dan mencoba merebut Dafa kembali. Belum lagi Azril, kapten futsal yang protektif banget sama Lilis, siap menghajar Dafa kapan saja. Tapi, siapa sangka? Dari yang tadinya hobi bertengkar, saling mengejek, dan pasang jebakan jail tiap hari di kelas, Dafa dan Lilis justru pelan-pelan malah saling bikin baper beneran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Taruhan Komedi Akademis 31.

Dafa masih membelakangi Lilis. Bahunya yang lebar naik turun, menyerap sisa-sisa adrenalin yang baru saja meledak di koridor kelas XII.

Kantin siang itu riuh oleh denting mangkuk bakso dan obrolan random anak-anak yang kelaparan, berbanding terbalik dengan hening yang membekukan atmosfer di antara mereka berdua.

Saat Dafa akhirnya berbalik, masker arogansinya sudah kembali terpasang, meski ada sedikit celah yang retak di sudut matanya. Dia menatap Lilis, gusar sekaligus gengsi.

"Lo ngapain masih megang pergelangan tangan lo? Sakit? Azril megangnya kekencangan?" cecar Dafa. Kalimatnya ketus, tapi matanya sibuk memindai kulit tangan Lilis yang sebenarnya baik-baik saja.

Lilis menurunkan tangannya, menatap Dafa datar. "Gak sakit karena Azril. Sakit karena lo tarik-tarik kayak kambing mau dikurbanin, Daf."

Dafa mendengus, mengalihkan pandangan ke deretan stan makanan sebelum kembali menatap Lilis. "Gue menyelamatkan lo dari investasi bodong. Cowok kek Azril tuh cuma manis di mulut. Tipe-tipe yang kalau lo telat bales chat lima menit langsung bikin status galau pakai lagu indie."

"Paling enggak dia gak pulang bareng sama target aslinya terus bikin pacarnya —ah, maksud gue pacar pura-puranya—kelihatan kayak orang tolol di depan satu sekolah," balas Lilis telak menyindir Dafa. Nada suaranya tidak tinggi, namun dingin. Itu jenis nada suara yang paling ditakuti Dafa karena artinya Lilis sedang menggunakan logika nya, bukan pakai perasaannya.

Kata-kata itu menyumpal mulut Dafa. Dia merogoh saku celananya, mendadak salah tingkah. "Gue udah bilang, soal Kinar itu..."

"Gue gak butuh penjelasan soal Kinar, Daf. Kita ini cuma kontrak," potong Lilis cepat, meski dadanya sendiri terasa ngilu saat mengucapkan kata kontrak. "Lo cemburu tadi itu aktingnya kebagusan. Hampir aja gue ngira lo beneran punya perasaan sama gue."

Dafa terdiam. Matanya mengunci tatapan Lilis. Ada jeda beberapa detik di mana kebisingan kantin seolah lenyap. Dafa melangkah satu tapak lebih dekat, mengikis jarak.

"Kalau gue bilang itu bukan akting, lo mau tanggung jawab?" bisik Dafa, suaranya rendah dan serak, mengirimkan sengatan listrik instan ke perut Lilis.

Lilis terpaku. Lidahnya mendadak kelu. Jantungnya berkhianat lagi, berdegup dengan kecepatan yang melanggar hukum fisika.

Namun, sebelum Lilis sempat mencerna keterkejutan itu, sebuah bayangan tinggi tegap memayungi mereka.

Azril sudah berdiri di sana. Entah sejak kapan cowok itu mengikuti mereka dari koridor.

Wajah Azril tidak lagi menunjukkan kekalahan. Kali ini matanya memancarkan tekad yang dingin.

"Drama lo murahan banget, Daf," kata Azril, memecah ketegangan intim di antara Dafa dan Lilis. "Gak usah manipulasi Lilis pake omongan sok puitis lo."

Dafa langsung berbalik, memasang badan di depan Lilis. Otot rahangnya kembali mengeras. "Lo lagi. Gak kapok lo gue peringatin tadi?"

"Gue gak bakal mundur sebelum Lilis sendiri yang bilang dia bahagia sama lo. Dan kita berdua tahu, dia cuma lo jadiin tameng dari Kinar," ujar Azril tenang, namun tajam.

Anak-anak di meja kantin terdekat mulai menyadari ketegangan ini.

Beberapa pasang mata mulai menoleh, sendok-sendok tertahan di udara.

Aroma keributan selalu lebih menarik daripada aroma soto ayam.

"Terus lo mau apa? Ribut? Ayo, ke belakang lab fisika sekarang," tantang Dafa, tangannya sudah mengepal di sisi celana. Dia tidak pernah mundur dari ajakan adu fisik.

Azril tersenyum sinis, menatap kepalan tangan Dafa dengan pandangan merendahkan. "Baku hantam? Norak. Kita udah kelas dua belas, Daf. Otak lo jangan cuma dipake buat ngatur strategi bolos. Kalau lo emang cowok yang layak buat Lilis, buktiin pake sesuatu yang punya nilai."

Dafa menaikkan sebelah alisnya, merasa diremehkan. "Maksud lo?"

"Dua minggu lagi ujian tengah semester," Azril melipat tangan di dada, menatap Dafa lurus-lurus. "Gue tantang lo duel satu lawan satu. Bukan basket, bukan futsal. Tapi nilai UTS Matematika Wajib."

Keheningan instan melanda area sekitar mereka. Bahkan Ibu kantin yang sedang menuang teh es sampai menghentikan gerakannya.

Lilis membelalakkan mata. Matematika Wajib? Azril menantang Dafa—si manusia yang menganggap angka 8 tidur sebagai lambang tak terhingga—untuk duel matematika? Ini bunuh diri massal bagi harga diri Dafa.

"Azril, lo gila ya?" Lilis mencoba menengahi, menarik kaus belakang Azril. "Gak usah kekanak-kanakan deh!"

Namun Azril mengabaikan Lilis, matanya tetap mengunci Dafa. "Siapa pun di antara kita yang nilainya lebih rendah atau kena remedial, harus mundur total dari hidup Lilis. Gak ada lagi pacaran pura-pura, gak ada lagi hak buat nganter pulang, dan gak ada lagi ganggu Lilis. Gimana? Berani gak?"

Dafa tergelak, sebuah tawa hambar yang menyembunyikan kepanikan instan di dalam kepalanya.

Matematika bagi Dafa adalah bahasa alien. Terakhir kali dia mendapat nilai tujuh saja, ibunya mengadakan syukuran potong tumpeng di rumah. Sementara Azril? Cowok itu adalah langganan peringkat tiga besar pararel yang otaknya sudah terprogram dengan rumus sin-cos-tan di luar kepala.

Tapi ini di depan Lilis. Dan yang lebih penting, ini soal hak untuk tetap berada di samping cewek itu. Menolak tantangan ini sama saja dengan mengakui kekalahan dan menyerahkan Lilis begitu saja.

Ego Dafa yang setinggi menara Eiffel jelas menolak opsi itu.

Dafa maju satu langkah, menatap Azril dengan pandangan paling mengintimidasi yang dia punya. "Oke. Siapa takut? Siap-siap aja lo nangis di pojokan kelas sambil megang lembar jawaban lo yang kalah dari gue."

"Gue pegang kata-kata lo, Daf. Sampai ketemu di papan pengumuman nilai," ucap Azril puas. Dia memberikan tatapan terakhir yang lembut pada Lilis sebelum berbalik dan berjalan meninggalkan kantin dengan langkah penuh kemenangan teoretis.

Begitu Azril hilang dari pandangan, keheningan di meja mereka pecah. Dafa masih berdiri tegak, mencoba mempertahankan sisa-sisa karismanya.

Lilis menatap Dafa dengan pandangan tidak percaya yang teramat sangat. Dia mengangkat tangan kanan, lalu menepuk jidatnya sendiri dengan suara plak yang cukup nyaring.

"Dafa. Lo. Bego. Banget," desis Lilis, misuh-misuh kesal sambil menunjuk dada Dafa dengan jari telunjuknya.

"Apaan sih? Gue kan demi mempertahankan lo!" bela Dafa, mulai panik sendiri.

"Mempertahankan kepala lo peyang! Nilai harian matematika lo aja kalau dikali dua belum tentu nyampe KKM, Dafa! Lo itu remedial berjalan! Dan lo baru aja nantangin juara olimpiade sains tingkat kecamatan buat duel nilai?!" Suara Lilis naik, frustrasi sekaligus gemas melihat kepongahan cowok di depannya.

Dafa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, matanya bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri. "Ya... ya kan nanti gue bisa belajar. Lo kan pinter, lo tinggal les-in gue tiap malem. Lagian, rumus matematika paling cuma tinggal masuk-masukin angka doang, kan?"

Lilis memutar bolanya malas, hampir menangis karena kelakuan ajaib dua cowok di hidupnya ini. "Masuk-masukin angka mbah lo! Itu logaritma sama matriks, Dafa, bukan kalkulator warung sembako!"

Lilis berbalik badan, menghentakkan kakinya kesal dan berjalan cepat meninggalkan kantin tanpa memedulikan Dafa yang berteriak memanggil namanya.

"Lis! Lilis! Tadi katanya mau es teler dua porsi jumbo?! Lis, jangan tinggalin gue! Ini integral maksudnya apa, Lis?!" seru Dafa panik, menyadari bahwa taruhan kali ini tidak membutuhkan otot, melainkan keajaiban sel otak yang selama ini dia telantarkan.

Di sepanjang jalan menuju kelas, Lilis terus merutuki nasibnya.

Hubungan yang awalnya hanya sandiwara untuk menghindari gosip, kini resmi berubah menjadi ajang kompetisi akademis paling absurd di SMA Wahidin.

......................

...****************...

Tbc,

1
Gege Mas
yaaah pikir plotnya lilis hilang ingatkan..trus jadi berpuluh puluh episode buat kembali ingat dafa..🤣
Gege Mas
apik Dan epic
Gege Mas
perasaan di bab berapa sudah di perjelas..disini di putar balik lage.. othor memainkam durasi ini..🤣🤭
Rofiwan: satu bab doang /Sob/🤣
total 1 replies
falea sezi
makanya jangan bego dava.. ayo lis putusin hubungan pura2 kalian
falea sezi
makanya jd cowok jangan serakah suka lilis malah nemenin mantan gebetan🤣🤣 plin plan elu🤣
falea sezi
abis ne bodoh amat m dava donk lis jual. mahal putusin hubungan pura2🤣 berjuang apanya pret si dava
mars-venus
ceritanya gak bosenin asliii
mars-venus
jujur ini gimana caranya berenti baca novel.. berasa males kerja pen baca sampe akhir😫
falea sezi
lanjut
falea sezi
jual mahal lis ngapain ngejar cowok duluan🤣 ogah amat mending di cintai Dripada mencintai
falea sezi
biarin aja lis dava ma Kinar 🤣 nanti jg dia nyesel tp uda telatt🤣
falea sezi
lanjut q kirm hadiah
Gege Mas
luncurkan 10k kata Thor...gasskeun
Nita Nita
wekwekwekwek 😄
Queen Aisyah
woy, sampe keselek siomay saya baca ginian/Sob//Curse/
Nita Nita
😄😄😄😄😄🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!