Dafa Mahendra itu kapten basket paling keren se-antero sekolah, tapi otaknya suka agak lemot kalau urusan cinta. Niatnya mau nembak Kinar Kirana (kapten basket putri) pakai cara super romantis di koridor yang gelap, Dafa malah salah sasaran! Akibat salah narik tangan karena panik, dia justru menyatakan cinta ke Lilis Nurmala—kapten cheerleader sekaligus musuh bebuyutannya yang super galak dan hobi adu mulut dengannya.
Sialnya, momen salah tembak itu viral! Demi menjaga gengsi dan menghindari hukuman dari guru karena bikin keributan, mereka terpaksa pura-pura pacaran. Di sisi lain, Kinar yang aslinya naksir Dafa mulai panik dan mencoba merebut Dafa kembali. Belum lagi Azril, kapten futsal yang protektif banget sama Lilis, siap menghajar Dafa kapan saja. Tapi, siapa sangka? Dari yang tadinya hobi bertengkar, saling mengejek, dan pasang jebakan jail tiap hari di kelas, Dafa dan Lilis justru pelan-pelan malah saling bikin baper beneran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Azril Nembak Lilis 29.
Dua jam pelajaran sejarah setelah keributan itu terasa seperti siksaan tanpa akhir.
Atmosfer di baris belakang kelas XII A mendadak berubah jadi zona perang dingin.
Dafa menatap lurus ke papan tulis, tapi otaknya sama sekali tidak merekam penjelasan guru tentang Perang Dingin global.
Karena di sebelahnya, perang dingin yang sebenarnya sedang terjadi.
Lilis benar-benar menganggap Dafa seperti hantu—tidak menoleh, tidak bersuara, bahkan napasnya pun diatur sehalus mungkin seolah berbagi oksigen dengan Dafa adalah sebuah kesalahan besar.
**
Begitu bel istirahat berbunyi, Lilis langsung menyambar dompet kecilnya dan melesat keluar kelas secepat kilat, meninggalkan Dafa yang bahkan belum sempat merapikan bolpoinnya.
Dafa mengacak rambutnya frustrasi. "Sialan," umpatnya lirih.
Kalimat Lilis sebelum bel masuk tadi masih terngiang-ngingang.
Daffa kesal melihat Lilis cuek, dia cemburu melihat Lilis menatapnya dengan pandangan terluka gara-gara Kinar, tapi egonya terlalu tinggi untuk mengakui bahwa skenario 'pura-pura' ini sudah bermutasi menjadi sesuatu yang nyata di hatinya.
Dafa bangkit dari kursi, berniat menyusul Lilis ke kantin.
Namun, langkahnya terhenti saat matanya menangkap pemandangan di koridor luar kelas, tepat di dekat mading sekolah yang agak renggang dari kerumunan anak-anak lain.
Lilis ada di sana. Tapi dia tidak sendiri.
Azril, kapten tim futsal sekolah yang juga cowok paling vokal dalam menunjukkan ketertarikannya pada Lilis sejak kelas sepuluh, sedang berdiri di depan gadis itu.
Langkah Dafa otomatis melambat, lalu berhenti di balik pilar dekat pintu kelas.
Jarak mereka sekitar sepuluh meter.
Cukup dekat untuk melihat gestur mereka, dan cukup sepi untuk mendengar samar-samar apa yang mereka bicarakan.
"Lis, muka lo kenapa ditekuk gitu? Habis berantem sama 'pacar' lo?" Azril membuka obrolan dengan nada santai, tapi ada penekanan sarkas pada kata pacar.
Lilis mendongak, mencoba memaksakan senyum tipis. "Enggak, Zril. Biasa, tugas matematika tadi bikin pusing."
Azril terkekeh, menyandarkan satu bahunya ke dinding koridor.
Matanya menatap Lilis dengan intensitas yang berbeda dari biasanya.
Lebih serius.
Lebih menuntut fokus. "Gak usah bohong. Gue tahu lo habis ribut sama Dafa. Dan jujur, gue bersyukur kalau lo emang lagi berantem sama dia."
Lilis mengerutkan kening. "Maksud lo?"
Azril melangkah maju satu tindak, memangkas jarak di antara mereka. "Gue gak mau lihat hubungan lo sama Dafa terus-terusan begini Lis. Gue mau lu jauhin Dafa mulai sekarang"
"..." Lilis terdiam.
"Yang penting adalah, sandiwara ini harusnya udah selesai. Lo gak capek, Lis? Lo tipe cewek yang selalu jujur sama perasaan lo sendiri. Tapi sekarang lo bela-belain sakit hati, cemburu liat Dafa bareng Kinar, cuma demi status palsu yang gak ada untungnya buat lo?"
Lilis masih terdiam. Kata-kata Azril menghantam sisi logisnya yang paling dalam.
Benar. Mengapa dia harus sesakit ini melihat Dafa pulang bersama Kinar kemarin sore? Mengapa dia harus repot-repot mematikan ponsel dan menangis sendirian di kamar hanya karena cemburu pada cowok yang statusnya hanya 'rekan kerja' dalam hubungan palsu ini?
"Dafa gak berhak bikin lo kayak gini, Lis," lanjut Azril lagi. Cowok itu tiba-tiba meraih pergelangan tangan Lilis.
Gerakannya tidak kasar, justru sangat protektif, seolah ingin meyakinkan Lilis bahwa ada tempat berlindung yang lebih aman daripada hubungan toksik penuh kepalsuan yang sedang dijalaninya.
Lilis tersentak, mencoba menarik tangannya pelan, tapi Azril menahannya dengan lembut. "Zril, lepasin dulu..."
"Lis, dengerin gue kali ini aja," Azril menatap langsung ke manik mata Lilis yang mulai berkaca-kaca akibat tekanan emosi yang menumpuk sejak pagi. "Gue gak mau liat lo jadi badutnya Dafa lagi. Kalau lo butuh alasan buat keluar dari permainan bodoh ini... biar gue yang kasih alasannya."
Napas Lilis tertahan. "Maksud lo apa, Zril?"
"Ayo pacaran sama gue. Yang beneran. Bukan pura-pura," tembak Azril langsung, tanpa basa-basi, tanpa metafora berbelit-belit. Suaranya yang berat terdengar sangat yakin di koridor yang mendadak terasa senyap itu. "Gue suka sama lo udah lama, lo tahu itu. Gue gak akan pernah jadiin lo pilihan kedua kayak yang Dafa lakuin ke lo dengan tetep nemuin Kinar. Gue bakal jagain lo, Lis. Beneran."
Lilis terpaku di tempatnya. Penembakan yang begitu mendadak dan jujur itu membuat otaknya mengalami blank sesaat.
Di satu sisi, ada harga dirinya yang terluka oleh Dafa yang menuntut disembuhkan. Di sisi lain, ada sebuah realita pahit bahwa hatinya ternyata tidak menanggapi pernyataan cinta Azril dengan getaran yang sama.
Pikiran Lilis justru terbang kembali ke Dafa—ke bagaimana menyebalkannya cowok itu tadi pagi saat memaksanya naik ke atas motor, dan bagaimana paniknya mata cowok itu saat memintanya untuk tidak berubah menjadi asing.
Sementara itu, dari balik pilar koridor kelas XII A, Dafa menyaksikan seluruh adegan itu tanpa terlewat satu detik pun.
Dia mendengar dengan jelas setiap kata yang keluar dari mulut Azril.
Rahang Dafa mengeras seketika.
Pendengarannya berdenging memekakkan telinga saat melihat tangan Azril menggenggam pergelangan tangan Lilis.
Ada rasa panas yang luar biasa menjalar dari ulu hatinya, naik ke dada, lalu berkumpul di kedua lengannya.
Rasa cemburu yang tadinya berupa percikan kecil, kini meledak menjadi kemarahan yang absolut. Dafa merasa wilayahnya diinvasi. Dia merasa kepemilikannya—meski dia selalu menyebutnya 'pura-pura'—sedang dicoba direbut secara paksa di depan matanya sendiri.
Dafa menurunkan pandangannya ke bawah.
Kedua tangannya yang menggantung di sisi tubuh otomatis mengepal sangat kuat, hingga buku-buku jarinya memutih dan urat-urat di punggung tangannya menyembul tegang.
Kukunya menekan telapak tangannya sendiri sampai menimbulkan rasa sakit yang nyata, tapi rasa sakit itu kalah jauh dibandingkan rasa sesak yang bergemuruh di dalam dadanya saat ini.
Egonya seketika hancur, Daffa tidak mau menyesal seperti para laki-laki yang hobi sia-siakan wanita. Daffa melangkah menuju ke arah mereka.
......................
...****************...
Tbc,