NovelToon NovelToon
Diana Permata Terindah Dari Desa

Diana Permata Terindah Dari Desa

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Balas Dendam / Wanita perkasa / Perubahan Hidup / Balas dendam. / Peningkatan diri -peningkatan kemmapuan / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:77.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: heni

Ivan mengira perjodohan ini hanyalah candaan kakeknya saja, bagaimana dia bisa mengira itu serius, saat kakeknya mengatakan akan menjodohkan dirinya dengan seorang gadis bernama Diana. Dia seorang gadis bisu, tidak berpendidikan. Bahkan kata orang di desanya, gadis itu gila. Hingga dia pun setuju. Ternyata kakeknya benar-benar serius. Seorang gadis dari desa yang bisu, benar-benar datang ke rumahnya dan bertunangan dengannya.

Bagaimana perjodohan mereka? Akankah bisa berlanjut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Ayahmu?

Sudah 15 menit Diana berdiri di depan kantor polisi, menunggu taksi. Tapi sampai detik ini belum juga dia mendapatkan taksi.

Sedang pengacara Nizam sudah selesai dengan kasus yang menyeret Diana. Mulut Santhy yang sedari tadi selalu meluncurkan kata-kata pedas, seketika kehilangan kekuatan kala Nizam balik mengancam dan menekannya, bagai api yang disiram air, seketika padam.

Nizam dengan santai meninggalkan kantor polisi, saat mobilnya keluar dari halaman kantor polisi, dia melihat Diana masih berdiri di tepi jalan. Nizam pun memberhentikan mobilnya di depan Diana. Perlahan Nizam membuka kaca samping mobilnya. "Ingin kembali ke kampus?"

Diana menjawab perntanyaan Nizam dengan anggukkan kepalanya.

"Masuklah, aku akan mengantarmu. Sepertinya sudah lebih 15 menit kamu berjemur dibawah terik matahari.

Diana segera masuk kedalam mobil Nizam.

"Sejak kapan kamu pindah ke Fakultas ternama itu?"

"Baru kemaren."

Nizam menanyakan banyak hal tentang masa kuliah mereka dulu, seperti biasa, Diana hanya menjawab sekenanya.

"Dunia medis adalah impianku, tapi apa daya, keluargaku ingin aku menjadi seorang pengacara. Aku rindu memegang segala perlengkapan medis. Apalagi saat kita koas bersama, aku rindu masa-masa itu, dinas di Rumah Sakit bersamamu dan Mahasiswa yang lain."

"Tapi kamu juga hebat, memotong mimpimu demi membahagiakan papamu, sekarang pasti beliau sangat bangga, seorang Nizam, pengacara paling kondang, dan menjadi pengacara impian untuk membela mereka," puji Diana.

"Hebat apanya? Mereka mendatangiku saat bermasalah, dan pergi begitu saja saat masalah selesai," gerutu Nizam.

"Apa bedanya dengan profesi dokter? Yang datang pada dokter juga mereka yang sakit, dan pergi saat sehat."

Seketika Nizam terdiam.

"Apapun profesi kita, hal bahagianya adalah ketika kita bisa menolong orang lain."

"Bagaimana kabar profesor Hadju?" Nizam berusaha merubah arah bicara mereka.

Diana langsung meraih handphonenya, dan menekan panggil pada nomer yang bertuliskan profesor Hadju Dana. Diana menyalakan speakernya, agar Nizam mendengar langsung jawaban profesor Hadju.

Diana mahasiswi yang sangat disayangi oleh profesor Hadju, kecerdasan Diana, serta pemahamannya tentang segala materi yang profesor berikan, membuat Diana menjadi mahasiswi kesayangan profesor Hadju.

Tutttt ….

"Akhirnya, kamu ingat juga padaku. Ku pikir dalam kepalamu hanya nenek, nenek, dan nenekmu saja, tidak ada tempat untukku di hatimu, atau dipikiranmu untukku."

"Maaf prof," ucap Diana lembut.

"Aku terima nasib saja, aku memang tidak penting bagimu."

"Bukan begitu prof …." ucap Diana lembut.

"Ada masalah? Tumben kamu meneleponku saat masih jam pelajaran."

"Tidak ada masalah prof, tapi ada yang kangen sama profesor."

"Siapa? Semoga bukan nenekmu yang rindu padaku, kalau kamu sudah jelas tidak pernah merindukanku. Karena nenekmu seperti semesta kamu."

"Nizam. Dia ingin berbicara dengan profesor."

Nizam seketika kehilangan kata-kata, dia tidak tahu harus berbicara apa dengan profesor Hadju. Begitu pula profesor Hadju, dia juga ikut diam.

Hening, tidak ada siapapun yang bicara.

"Diana."

Panggilan profesor dari loudspeaker handphonenya memecah kebisuan

"Iya prof."

"Ada seseorang yang mencarimu, dia mengundangmu untuk melakukan operasi. Apa kamu bersedia?"

"Maaf prof, untuk saat ini saya tidak bisa melakukan tugas saya."

"Kan, kan!" Profesor terdengar kesal.

"Semua ini pasti karena permintaan nenekmu. Apa nenekmu tidak bisa merasakan, bahwa saat kau memegang peralatan bedah, kamu sangat bahagia, seperti seorang penyanyi dengan mic-nya, seperti seorang gitaris dengan gitar kesayangannya. Kamu mulai melepas semua ini demi nenekmu."

Diana bingung harus membalas apa.

"Semua ini salah nenekmu, kamu terpaksa rehat dari dunia medis hanya demi memenuhi impian nenekmu. Semoga saja tunangan kamu nanti tidak menyebalkan seperti nenekmu."

"Tapi, mengingat dia pilihan nenekmu, tidak menutup kemungkinan dia juga menyebalkan seperti nenekmu," omel profesor Hadju

Sontak kedua bola mata Nizam seakan melompat, kala mengetahui Diana sudah bertunangan.

"Maafkan saya profesor. Jangankan pertunangan. Hidup saya pun akan berikan untuk nenek."

Obrolan Diana dan profesor Hadju terus berlanjut, setelah Diana menutup menyudahi panggilan telepon mereka, Nizam pun segera melajukan mobilnya menuju kampus Diana. Banyak hal yang ingin dia katakan, namun dia tidak tau harus memulai berbicara mengenai apa.

Perlahan mobil Nizam berhenti di depan gedung fakultas tempat Diana kuliah.

"Terima kasih, Nizam." ucap Diana.

Nizam hanya menganggukkan kepalanya, mendengar Diana sudah bertunangan dia masih syok.

****

Sampai di lingkup kampus, Diana memilih menuju Asrama, dia ingin istirahat sebelum memasuki mata kuliah selanjutnya.

Tidak terasa, menit demi menit berlalu, Diana pun segera menuju tempat mata kuliah selanjutnya.

Sesampai di kelas, semua orang sudah dengan Manekin phantom mereka masing-masing. Sedang Diana tidak mendapatkan benda tersebut, karena dia mahasiswi baru, yang tidak terhitung saat profesor mempersiapkan semua.

"Mahasiswi pindahan baru?" Tanya profesor.

Diana menganganggukkan kepalanya.

"Karena ini kesalahan saya, saya persilakan kamu berbagi 1 Manekin phantom dengan mahasiswi lain."

Diana bingung, ikut yang mana. Dia hanya berdiri menunggu mahasiswa atau mahasiswi lain yang mau berbagi dengannya.

"Anak-anak, adakah yang bersedia berbagi dengan teman baru kalian?" Tanya profesor.

Terlihat salah satu mahasiswi mengangkat tangannya ke udara.

"Diana, silakan ke sana, Saras mau berbagi bersamamu."

Diana pun segera bergabung dengan Saras, pelajaran mereka pun berlanjut.

Tidak terasa, materi dari profesor selesai, Diana dan Saras pun berjalan bersama menuju kantin kampus. Keduanya terlihat puas, karena mendapat nilai dan komentar yang bagus dari profesor mereka.

Diana dan Saras terlihat akrab, keduanya terus berbicara mengenai materi barusan.

"Aku senang mengenalmu Diana, bersamamu ... aku bisa melatih kesabaranku, menanti jawaban yang kamu tulis."

Diana hanya tersenyum, dia menuliskan kata maaf untuk Saras.

"Santai saja Diana, aku suka kok."

"Kalau dilihat tadi, rasanya aku melihat seorang profesional saja," puji Saras.

Diana hanya bisa tersenyum.

"Kalau nilaiku nanti bagus, sepertinya itu berkat kamu."

Diana menulis di kertas yang ada di sakunya.

...Mana ada, itu usaha kamu sendiri....

Mata Saras tertuju pada seorang laki-laki dengan setelan jas lengkap, tubuh tegapnya, serta garisan wajahnya nyaris sempurna, Saras tidak bisa berhenti menatap kearah laki-laki itu.

"Kampus ini kedatangan Tom Cruise."

Diana pun menoleh kearah Saras memandang. Ternyata itu adalah Ivan.

Saras segera mengumpulkan kesadarannya, kala ciptaan Tuhan yang begitu menawan itu berhenti di dekatnya.

Laki-laki itu menatap Diana dengan tatapan mata yang penuh kekecewaan. 

"Kamu memukuli orang lagi?" Tanya Ivan pada Diana.

Diana hanya diam, rasanya sangat malas menanggapi Ivan.

"Apa kamu lupa dengan perjanjian kita?" ucap Ivan penuh penekanan, dia mengingatkan Diana tentang 3 perjanjian mereka.

Diana balas menatap Ivan dengan tatapan sinis dan penuh penekanan, seakan sorot mata Diana mengingatkan perjanjian darinya yang lain, juga seakan mengatakan 'Bukan Urusanmu!'

"Dia siapa, Diana?" 

Pertanyaan Saras seketika membuyarkan kebisuan yang terjalin.

Diana ingin menjawab, kalau Ivan adalah saudaranya, mengingat kejadian di kantor polisi kalau dirinya tak diakui, Diana pun batal menuliskan siapa Ivan. Diana memilih bungkam.

"Apakah dia Ayahmu?" tanya Saras.

"What?!" Ivan sangat kesal, karena dikira Ayah Diana. Wajah Ivan pun sangat muram, setua itukah dirinya?

1
Nur Khaya
udah tegang mlh ngakak ma Nizam 🤣
Nur Khaya
na gitu Ivan ya harus tegas
Nur Khaya
Dillah kn nyesel.
Nur Khaya
kasihan Diana ini itu sendiri, Ivan gak pernah ada buat Diana kalo kesusahan.
Nur Khaya
keren 👍
apajalah
👌🤔🍂
apajalah
/Doge//Rose//Ok/
apajalah
🍂🍁👌🤔/Doge/
ARSAD ACHMAD BETHAN
Luar biasa
ARSAD ACHMAD BETHAN
LUAR BIASA
Listiatie Utami
denakin seru bikin penasaranoʻ
Listiatie Utami
d7h semakin rumoy
Efsa Lestari
kapan sih ketauan identitas nya jadi enek sendiri bacanya. yg ada malah menampilkan kejahatan terus
Efsa Lestari
tapi anehnya desy, Rani yg ada di situ diam aja dan tetap menerima aja tuh sih veronika jadi kurang greget aja bacanya kalau yg jahat selalu menang
Efsa Lestari
yg aku heran udah tau veronika yg jahat tapi Ivan pun masih dgn senang hati berbicara dengan veronika
Efsa Lestari
please kapan identitas nya kebongkar
Efsa Lestari
di novel ini tidak dijelaskan dulu awal. mulanya muncul masalah tu gimana jadi kadang agak bingung sendiri
Efsa Lestari
aku masih bingung Diana kuliah S3 kh atau apa sih. kan dia udah jadi dokter bedah yg hebat bahkan satu kampus dgn veronika lagi bearti veronika juga calon dokter....ini yg dari tadi jadi pertanyaan aku
Efsa Lestari
tapi semoga Diana dan yudha bisa membuat Ivan cemburu dan merasa dianana tu berharga pasti lebih seru
Efsa Lestari
pasti si ivan tu terkaget-kaget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!